ARTI DARI SEBUAH UCAPAN LELAKI

7:51 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Apa yang kau pegang dari seorang lelaki? Jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu pastilah semua ucapannya. Sebuah pertanyaan yang sederhana. Jawabannya pun sangat sederhana. Yang sulit adalah realisasinya dalam dunia nyata. Wacana ini bukan berarti menunjukkan bahwa hanya lelaki yang harus dipegang ucapannya. Namun karena sang penulis seorang wanita, dan mendapatkan banyak kasus dalam dunia nyata bahwa yang paling sering berperan sebagai korban dari tajamnya sebuah ucapan adalah WANITA, maka wacana ini menjadi sangat sah dan terbukti absah. Kasus yang dimaksud adalah masalah cerita dua insan berbeda jenis itu dalam hal cinta.
Bukankah lelaki ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Bagaimana seseorang lelaki dapat menjadi pemimpin yang baik jika tidak dapat memegang setiap ucapannya?
Penulis tidak memposisikan dirinya sebagai wanita yang anti pria. Atau tidak percaya ucapan seorang lelaki. Hari gini tidaklah bijaksana bersikap apatis. Bukankah kodrat seorang perempuan adalah disamping seorang lelaki? Bukankah kodrat seorang lelaki adalah melindungi perempuan?
Begitu banyak cerita indah tentang perempuan dan lelaki. Tapi kali ini yang ingin diangkat bukan cerita indah itu. Begitu banyak lelaki didunia ini yang memiliki sifat tanggung jawab. Tapi yang harus menjadi perhatian kita kali ini adalah lelaki yang tidak memiliki sifat itu.
Ucapan seorang lelaki kepada seorang wanita bagaikan sebuah pedang. Yang memiliki mata dengan hunusnya yang perih. Jika pedang itu digunakan tidak pada tempatnya dan hanya menjadi alat untuk tipu daya, maka pedang itu akan menorehkan banyak luka.
Anda-anda wanita yang sudah dekat, akan atau sedang didekati oleh teman lelakimu, perhatikanlah satu hal. Bibir manis bisa menjadi racun. Kalimat indah bisa menjadi sembilu. Janji cantik bisa saja tersulap menjadi sekedar mimpi. Lindungilah pikiran anda dengan rasio yang masuk akal. Pagari hati anda dengan pemikiran yang bersih.
Lelaki sejati adalah lelaki yang kuat memegang setiap lisannya. Lelaki sejati adalah lelaki yang menghargai tinggi nilai seorang perempuan. Lelaki sesungguhnya adalah lelaki yang sigap menjaga dirinya dari sikap pengecut. Lelaki yang berhak disebut lelaki adalah lelaki yang mengagungkan wanita seperti ia mengagungkan harga dirinya. Lelaki yang sepatutnya adalah lelaki yang mampu membuktikan setiap ucapannya. Lelaki yang memang lelaki adalah yang menempatkan wanita dalam posisi yang terhormat. Lelaki yang sebenarnya adalah lelaki yang sanggup melindungi kata-katanya dari kebohongan. Kebohongan tetaplah kebohongan. Apapun itu alasannya. Semanis apapun kebohongan tetap akan meninggalkan pahit. Jika kautemukan satu kali saja ketidakjujuran maka bukan tak mungkin itu akan terjadi dan terjadi lagi. Apalagi jika ketidakjujuran itu telah dijadikan sebagai suatu kebiasaan. Jika kau lihat itu, jika kau dapatkan itu, maka selamatkan dirimu dengan segera. Jangan ikhlaskan sebagian dirimu untuk mentoleransinya. Jangan lepaskan sebagian jiwamu dengan menerimanya. Jangan berikan ragamu untuk memakluminya. Sayangilah hatimu sebelum terpuruk. Cintailah hatimu sebelum tertipu. Kasihilah hatimu sebelum terluka. Jagalah hatimu agar tidak tidak mudah tergores. Rawatlah hatimu agar tak mudah layu. Kuatkanlah hatimu agar setia dengan tegar. Sediakan tameng dihatimu agar tak mudah terbuai........Terbuai oleh ucapan seorang lelaki.
Terjemahkan setiap ucapan lelaki dengan menegakkan logika. Jangan biarkan kelemahan dan kelembutan hati anda menangkap bulat ucapan lelaki sehingga anda terperosok dalam mengartikannya.

1 comment:

adjis said...

Wah!... yang ini perempuan sekali, neh!.. penimpaan "kesalahan" pada 'pihak' lain jenis, jd terasa kental -menegaskan, keperempuan-annya. A bit 'attacking enough' to those men who read this subjective experience of a broken heart at a time.
Aku pikir sih, Perempuan-laki, jantan-betina pada dasarnya hanya kata benda/sifat dari perbedaan fisik yang berlanjut ke psikis. Namun, ketika mereka larut dalam 'sintesa' manusia maka yang ada bukan lagi perempuan-laki dengan beberepa perbedaan textur tubuh dan alat reproduksi. Jiwa, ruh! Itu yang ada. Sedang ia tak berjenis kelamin. Tak ber-BH ataupun koteka.
Dan, bermunculan lagia beberepa kosa kata lama yang diperbarui tentang Emansipasi, kesetaraan gender, persamaan hak, patrimonial-paternal, konsep keluarga primordial dan segala hal yang kadang telinga ini 'gatel' mendengarnya. Feodal? Bisa jadi.
Karena, inti dari pertemanan/perseteruan keduanya ialah bagaimana menciptakan kenyamanan ketika mengarungi kebersamaan. Namun ketika muncul “mahluk” 'untung-rugi' dalam ''perdagangan'' romance ini, kembali perempuan mengaduh-aduh keluar dari ruh manusia menuju ke 'kemanjaan' seorang perempuan. Then, merasa terkalahkan, tertipu, tercampak.. seolah laki itu sumber “kebuayaan”, “kegombalan”, dan segala yang bersifat “Arjuna” genit. Jadilah ia sebenar perempuan dengan atribut feminisnya.
Jahatnya laki juga, sih!.. Merasa superior dengan segala atribut kemaskulinitasnya. Hierarkhy patrimony yang tertanam dan berurat akar, mendarah daging, ditambah lagi dengan membekal 'ayat sakti' ''lelaki di atas perempuan'' membuat mereka belum siap ketika angin kesetaraan gender datang membadai.
'Prestise' sebagai ''pusat peradaban sosial'' yang mulai tergeser terasa sangat menyakitkan dan menghasilkan langkah-langkah yang membabi buta dalam menyikapi 'pergerakan' perempuan: lawan jenis, berbentuk srikandi gagah perkasa.
Btw, aku iki ngomong opo, yo?
Anyhow, dikotomi laki-perempuan dengan segala perniknya memang sangat mengundang interest untuk dikupas di segala zaman dengan kedinamisan yang bergerak terus dan terus ber’evolusi’ dalam berbagai dimensi. Wah!... tambah mbablas ae, yo…kqkqkqkq!......
poinku: dekati laki sebagai human-being, it won't make you pain nor cry!...