TIGA HATI

4:44 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Kau menemukanku lagi dan aku menemukanmu lagi, dalam waktu yang tidak tepat.............

Tahun telah berganti tahun ketika mataku secara tidak sengaja menangkap sosok tak asing yang sedang tersenyum menatapku. Sesaat setelah aku menangkap pandangan itu, aku tersenyum simpul. Sorot mata itu tidak asing untukku. Guratan wajah yang tidak asing untukku. Bahkan senyum itupun sangat tidak asing untukku. Semuanya pernah ada dalam hari-hariku. Dimasa lalu. Aku membiarkan langkahku terhenti dan membiarkan langkahmu yang perlahan namun pasti datang menghampiriku. Satu kalimat pertama yang kau ucapkan setelah pandangan kita sudah bertemu sangat dekat adalah ”Apa kabar?”. Kalimat selanjutnya mengalir dan mengalir begitu saja. Masih sama seperti dulu, percakapan kita selalu hangat dan renyah.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Waktu terus berjalan seiring dengan kedekatan kita yang berjalan cepat. Tidak ada hari yang bersih dari komunikasi antara kita berdua. Sejujurnya aku mampu menangkap sinyal yang berbeda dari ke”agresif”anmu kali ini. Kau sedikit lebih berani dibanding dulu meskipun tidak pernah bisa menyembunyikan sifat aslimu yang pemalu dan terkadang dingin. Kau terlihat jauh lebih percaya diri dibandingkan kau yang kukenal dulu. Mungkin karena kini kau sudah jauh lebih matang dari segala hal. Tidak membutuhkan waktu lama untuk kita kembali dekat. Mungkin karena kita memang pernah dekat....Dahulu.....Hanya saja kala itu tak pernah ada ”momen” yang tepat untuk kita dalam pengungkapan kejujuran ”rasa”, hingga akhirnya kita berpisah tanpa pesan. Berpisah kota, berpisah dunia.......Bodohnya kita tidak pernah memanfaatkan tekhnologi komunikasi untuk ”melacak” satu sama lain. Kesibukan kita pada dunia baru membuat kita sama-sama menghilang.
Pertemuan kita menjahit kembali kenangan-kenangan kebersamaan pertemanan yang pernah terputus. Setiap pertemuan selalu bermakna, bahkan menjadi suatu ”adiksi”. Obrolanmu masih gurih dan kenyal. Gaya bicaramu masih asyik tapi begitu sederhana. Bahasamu masih ”cuek” tapi tetap santun, lembut tapi sangat lelaki, terkadang menggelitik tapi serius. Kau tetap mengguratkan kau yang dulu. Kau yang menyenangkan. Sampai akhirnya kau merusaknya dengan sangat tidak menyenangkan. Kau mengungkapkan keberadaan ”dia” tepat bersamaan dengan ketika kau ingin menjadikan ”kita’ satu. Suatu kejadian yang teramat langka bagiku.
Sudah bisa kutebak bahwa cepat atau lambat kau akan ”menembak”ku. Dan akhirnya hari itu tiba. Pernyataanmu dan pertanyaanmu menjadi satu. Hal yang kau akui pernah ingin kau lakukan dulu sekali. Sinar matamu melukiskan harapanmu yang besar untuk sebuah jawabanku yang sesuai dengan keinginanmu. Tapi belum lagi sempat aku menjawab, kau mengungkap suatu kejujuran. Kejujuran bahwa kau tidak sedang sendiri. Kau telah bersama yang lain. Kau telah dimiliki perempuan lain, meskipun entah berapa kadar kepemilikannya. Sesaat itu juga, aku tidak bisa menutupi aku yang memang aku. Aku yang terlalu ekspresif untuk memendarkan apa yang ada. Adanya aku saat itu adalah aku yang kecewa. Aku yang marah. Aku yang sangat membencimu. Aku yang berlalu dari hadapanmu, untuk tak mau membiarkan diriku lebih lama ”tercebur” dalam suasana yang panas.
Sudah kuduga apa yang akan kau lakukan untuk menyikapi keadaan ini. Kau tak lelah dan tak pernah berhenti menghubungiku. Semua sarana untuk meninggalkan pesan telah kau lakukan untuk mengeluarkan isi hatimu. Atau hanya untuk membuat hatiku lebih baik?. Semua kalimat yang kau tuliskan hanya memiliki satu inti. Ungkapan bahwa kau tidak ingin kehilangan aku lagi. Untuk yang keduakali. Suatu pembelaan yang cantik. Namun tetap saja klise bagiku.
Hari berganti hari. Dan akhirnya daya tahanku runtuh juga. Amarah yang sempat memuncak itu perlahan mereda. Mungkin karena aku sudah cukup lama mengenal pribadimu. Kau orang yang baik. Semua orang juga mengakuinya. Dan kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Seharusnya aku tidak bisa memaafkan apupun dan karena alasan apapun itu yang berbentuk ketidakjujuran. Dan kau telah ”telak” membohongiku. Anehnya semua alasanmu perlahan-lahan memasuki ruang pikirku. Tapi kau memang benar, kita mungkin tidak akan pernah bisa dekat seperti kemarin jika saja kutahu keberadaan ”dia”. Aku pasti akan sangat menjaga jarak denganmu kalau saja aku tahu lebih awal. Entah kenapa hati kecilku akhirnya bisa mentolerirmu. Aku merasa menjadi perempuan yang bodoh. Tapi lebih bodoh lagi jika aku terus marah padamu. Marahku tidak bisa menampik kenyataan yang sudah terjadi. Kenyataan bahwa kita dipertemukan kembali. Kenyataan kau mengulurkan hatimu dan aku meyambutnya. Kenyataan bahwa kau sudah terlanjur ”menitipkan” hatimu pada hati yang lain. Kenyataan bahwa kita sudah menikmati kebersamaan kita yang manis.
Dilema itu muncul. Terkadang aku merasa harus mengagungkan harga diri dengan mempertahankan kemarahan ini, tapi disisi lain aku juga merasa tidak mungkin membiarkan amarah berkecamuk berkepanjangan dibatin ini, karena itu hanya akan menunjukkan bahwa aku memang sangat mengharapkanmu. Aku tak mau kau menganggap besarnya emosiku ini berkorelasi dengan besarnya ”rasa” yang sudah terlanjur tumbuh.
Aku merasa harus bisa menang mengalahkan amarah ini. Dan akhirnya kitapun bertemu dalam hawaku yang sudah tidak berselimut ”api”. Kali ini kau tak lagi memberikan terlalu banyak alibimu. Mungkin karena alibi-alibimu itu sudah banyak yang aku muntahkan, meskipun banyak pula yang kutelan. Kuakui bahwa kau memang sudah terlalu mahir membaca diriku. Hingga kau sampai harus membohongiku untuk sekedar mengambil hatiku. Hati yang tidak akan pernah bisa kau ambil jika saja aku lebih dini mengetahui keberadaannya. Kali ini kau pun lagi-lagi menunjukkan kemahiranmu membaca sikapku, dengan wacanamu yang masih berani mengungkapkan ”pertanyaan”. Pertanyaan itu masih ”setia” dalam bentuk pertanyaan, karena belum ada jawaban apapun dariku. Kau masih konsisten berkutat pada keinginanmu untuk menjadikan dirimu sebagai pendampingku. Walaupun itu berarti kau harus melepaskan ”dia”. Yah, kau dengan yakin menegaskanku bahwa kau memang ingin berpisah dengannya. Kau memberikan alasan yang hanya bermotif untuk menenangkanku. Bahwa kalaupun realita yang ada mengharuskan kau dan dia sudah tidak bisa bersama lagi, itu bukan karena diriku, tapi memang itu yang terbaik untuk dia. Kau tidak ingin menyakitinya lebih dalam dengan membohongi kenyataan bahwa hatimu tidak memiliki rasa yang cukup kuat padanya dan kau belum bisa membuka hatimu lebar-lebar untuknya. Alibimu kali ini sangat berani dan cukup manis. Tapi tetap saja sangat pahit dan beraroma pengkhianatan, karena sebelum aku muncul kau masih bersamanya. Sebuah cerita cinta yang usang dan basi. Tapi aku tidak pernah menyangka harus mengalaminya sendiri. Kau mencoba memanfaatkan ”keperempuananku”. Tapi senjata terakhirmu itu malah membuatku kecewa padamu. Untung saja aku sudah jauh mengenal pribadimu sebelum ”tragedi” ini terjadi, sehingga aku tidak bisa menghakimimu sepenuhnya bersalah. Sebenarnya aku percaya padamu. Sangat percaya. Kau tak pernah mencatat sejarah kebohongan dalam pertemanan kita, kecuali ”keterlambatan”mu mengungkapkan dia. Dan ”keterlambatan”mu itu aku catat sebagai cacat. Namun entah mengapa ”cacat”mu tidak bisa menutupi pesonamu. Kau tetap mempesonakan banyak orang dengan daya tarikmu. Meskipun dimataku pesona itu telah kau kacaukan tapi harus aku akui pesonamu belumlah luntur karena semua ini. Mungkin hal ini bukan sebuah tragedi dalam perjalanan hidupmu tapi merupakan tragedi bagiku. Aku berharap hanya mengalaminya sekali dalam lembaran kisahku. Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau menjadi perempuaan ketiga bagi perempuan manapun. Meskipun kau sudah dan selalu menyangkal keberadaanku sebagai pemicu goyahnya hatimu padanya. Bahkan menyingkirkan keberadaan dirinya dari hatimu. Kau masih teguh dengan pendirianmu untuk meyakinkanku seolah-olah dia hanya mengetuk hatimu sesaat dan tidak pernah berhasil memasuki ruang hatimu secara utuh. Sayangnya aku juga tetap teguh pada pendirianku menganggap dia pasti tidak sekedar ”mampir” dihidupmu, meskipun tidak pernah kau iyakan dalam pengakuanmu. Yang ada dalam inti ungkapanmu justru hanya tentang keyakinanmu bahwa keraguanmu padanya sudah hadir dibenakmu sebelum aku benar-benar hadir dihidupmu.
Aku berusaha bersikap bijak tapi tetap saja tindakan yang konyol. Dengan sedikit ancaman, aku meminta padamu untuk tidak memutuskan dia. Setidaknya beri waktu untuk ”kekagetan” kita. Bisa saja semua ini hanya ”euforia”mu atau justru emosimu yang gegabah. Hati bisa berubah, meskipun tidak sepantasnya. Dengan tidak menunjukkan ekspresi kekecewaanku, aku memintamu untuk menjadikan situasi kita tidak rumit. Mungkin memang bukan hal yang rumit bagimu tapi sangat rumit bagiku. Kau meluncurkan jalan keluar yang terbaik hanya menurut jalan pikiranmu saja. Tidak menurutku. Aku perempuan yang sudah menjadi wanita. Wanita yang bisa merasakan hati wanita lain. Wanita yang sudah seharusnya menggunakan logika, meskipun tidak bisa sepenuhnya. Wanita yang sudah tidak sepantasnya lagi mengalami cinta buta atau dibutakan cinta. Dengan tenang aku merangkai kalimat yang bisa masuk keotakmu dengan cepat. Karena aku tahu terkadang kalimatku mudah membuat orang pusing. Tapi kali ini aku berusaha berucap singkat dan jelas. Bahwa kita lebih baik tetap memposisikan diri sebagai teman. Sama seperti dulu, kemarin, hingga hari dimana kau menyatakan perasaanmu padaku. Kali ini akulah yang berusaha memanfaatkan sifat aslimu yang sebenarnya paling susah menyakiti orang. Untuk itulah aku meminta bahkan dengan sedikit memaksa dirimu untuk mentoleransi keadaan ini dengan membiarkan kita apa adanya sebagai teman dan mempertahankan dia sebagai kekasihmu. Sejujurnya, aku tidak tahu apakah tindakanku ini benar atau salah tapi setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan saat itu. Aku bahkan tetap berusaha menampilkan adanya diriku yang selalu ceria, meskipun hatiku sangat tidak ceria. Aku bisa membaca kekecewaan yang tertulis jelas diraut wajahmu yang sebenarnya sangat teduh. Aku tahu kau masih bingung. Untuk itulah aku segera mengambilalih kebingunganmu dengan melanjutkan kalimatku dengan lebih lugas. Bahwa sebaiknya kita tidak perlu berhubungan atau bertemu lagi sampai kau sanggup meluluskan permintaanku. Mulutmu akhirnya mengeluarkan ekspresinya lagi. Meskipun ekspresi yang penuh tekanan. Kau mau merestui mauku. Itu kalimat yang aku tangkap keluar dari bibirmu dengan hanya sedikit nyawa hingga hampir tak terdengar. Hanya dengan cara itulah aku memperbolehkan kita untuk masih bisa saling berhubungan. Tidak ada yang salah dengan berteman. Untuk itulah kita masih bisa berteman, itu pikirku kala itu. Seharusnya orang berteman tanpa syarat. Tapi diakhir pembicaraan kita, aku masih meminta syarat padamu. Kalaupun kurang bagus disebut syarat, anggaplah itu suatu permohonan. Agar kau tidak mengungkap keberadaanku yang selalu kau yakini sudah masuk ke dalam hatimu. Kau hanya boleh menyibak diriku pada dia dengan menyebut statusku sebagai teman. Teman yang tidak pernah kau tawarkan cinta. Teman yang tidak pernah kau berikan perhatian dengan rasa. Sebutlah aku sebagai teman lama. Yang menjadi teman baru. Hanya itu. Tidak lebih.
Waktu berjalan begitu cepat. Dalam perkembangannya ternyata kita tenggelam pada situasi yang kurasakan tidak sehat. Aku tidak menyangka begitu sulitnya lepas dari perhatianmu. Kita masih ”rajin” berhubungan meskipun tidak pernah menyinggung soal hati. Kau membuatku terjebak dalam pertemanan kita yang semu. Pertemanan yang palsu. Karena kita tetap bukanlah teman. Teman yang jujur teman, hakikatnya tidak menggunakan hati. Dan kita secara sembunyi-sembunyi namun terang-terangan melibatkan ”hati” dalam pertemanan ini. Kau memaksaku terkubang dalam pertempuran ”tiga hati”. Kau, aku dan dia. Ingin aku keluar dari lingkaran itu. Namun kesendirianku saat itu membuatnya tak mudah. Tak mudah untuk membuangmu begitu saja. Kau adalah satu-satunya teman lelaki terdekatku yang ”rutin” mengisi hari-hariku. Menemani penatku dalam aktivitas. Menemani sepiku dalam rehat. Menemani setiap sedihku. Mendengarkan setiap ceritaku. Mendengarkan setiap keluhku. Mendengarkan setiap kebahagiaanku.
Aku kini berada diujung limit. Aku tidak bisa lagi membiarkan diriku berkutat dalam ketidakjujuran. Aku juga tidak bisa membiarkan dirimu bersahabat dengan kebohongan. Membohongi dirimu sendiri. Membohongi dirinya.
Sekali lagi pertahananku runtuh. Namun kali ini runtuh untuk tegar. Aku tidak mau lebih lama lagi berada dilingkaran yang ”sakit” ini. Aku memutuskan untuk mengetahui ”dia”. Sosok yang tidak pernah kuketahui dengan jelas. Kadang aku tidak mau peduli siapa dia. Kadang aku begitu peduli padanya. Tak banyak yang kuketahui tentangnya karena kaupun begitu enggan membicarakannya. Sampai akhirnya acara pernikahan temanmu yang juga temanku, ingin kujadikan momen untuk mengetahui seperti apa dirinya. Aku memintamu untuk mempertemukan aku dan dia. Aku sudah menduga pada awalnya kau pasti akan menolak kemauanku. Tapi lagi-lagi aku berhasil memaksakan kehendakku padamu. Kau tidak berkutik, meskipun terlihat begitu banyak pertanyaan berterbangan dikepalamu.
Hari itu aku datang keacara teman kita bersama temanku. Mataku mencoba menerawang isi gedung untuk dapat menemukan sosokmu. Tapi kau belum hadir. Sesaat setelah aku bercengkerama dengan teman-temanku, kau akhirnya muncul bersama seorang perempuan. Entah mengapa mataku seakan tak mau lepas dari objek itu. Kini tatapanku terfokus pada perempuan disebelahmu. Sudah bisa dipastikan dialah perempuan yang selalu membuatku menjadi perempuan yang jahat. Ternyata dia seorang yang manis. Wajahnya tidak terlalu berekspresi meskipun sesekali tersenyum. Kelopak mataku tiba-tiba enggan berkedip melihat kau dan dia. Bagaimana kalian berjalan, bagaimana kau memperlakukan dia dan bagaimana dia memperlakukan dirimu. Pertemuan yang hanya sekali ini memang tidak bisa mewakili. Namun aku bisa merasakan kesabarannya menghadapimu. Meskipun kau bersikap ”dingin” padanya tapi dia sepertinya sudah sangat terbiasa dengan dinginmu itu. Aku memang tidak bisa menangkap kehangatan sepasang kekasih dari ”gesture” kau dan dia. Tapi aku bukan hakim atas apapun. Dan aku tidak punya hak untuk menentukan nilai kau dan dia.
Pandanganku tiba-tiba pecah ketika teman-teman disebelahku memanggilmu agar ikut bergabung bersama untuk sekedar ”reuni kecil”. Aku merasa kikuk dalam sekejap. Kau tersenyum membalas sahutan teman-teman kita sembari berjalan kearah ”gerombolan”ku. Seketika kau sampai, seketika itu pula kau menyodorkan tanganmu bersalaman dengan mereka, tentu saja termasuk bersalaman denganku. Kau memanfaatkan adegan itu untuk melemparkan tatapan yang menohok kemataku. Aku tidak tahu maknanya. Atau aku hanya berpura-pura gagap menangkap sinyalmu. Seketika itu pula mereka memojokkanmu untuk memperkenalkan ”dia” yang ada disebelahmu kepada mereka semua. Tak dapat dielakkan lagi, tanganku dan tangannya saling berpelukan. Aku tertegun merasakan kelembutan tangannya. Tercetus ”minder” sesaat, karena kedua tanganku tidak memiliki kelembutan itu. Aku dan dia saling mengguratkan senyum. Suasana berubah sedikit ”gaduh” dengan keramaian kecil dari obrolan sekelompok teman yang memang sangat jarang bertemu itu. Diselingi gelak tawa. Kau dan mereka begitu larut dalam kehangatan yang tercipta. Tapi tidak bisa menutupi ekspresimu yang tidak lepas. Ada guratan ”pressure” diwajahmu.
Aku putuskan untuk pergi dari kumpulan ini. Aku berusaha menikmati acara dengan menghampiri sudut-sudut gedung yang lain bersama temanku. Tapi ternyata itu malah membuatku merasa ganjil. Itu karena aku terlalu sering merasakan sepasang mata yang seolah-olah mengulitiku. Ingin rasanya aku memaki kebodohanmu karena kau banyak meluncurkan tatapanmu kearahku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berharap agar kau tidak melakukan ketololan apapun. Kau tak sepantasnya melakukan itu. Aku tahu sisi hatimu ingin memperlihatkannya pada semua orang kenyataan hatimu, tapi kau juga tahu aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu bila kau benar-benar melakukannya. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa kau adalah kau yang pasti mampu mempertahankan sikapmu yang bijak. Bijak untuk tidak akan menunjukkan yang tidak perlu dipertunjukkan. Bijak untuk menyadari bahwa tidak akan pernah ada saat yang tepat untuk mempertunjukkan realita hatimu didepan orang lain. Hanya kita berdua yang tahu. Dan kita harus pandai menyimpannya.
Seiring dengan tidak pudarnya keaktifan pandanganmu padaku, aku memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Kau sangat kusesali karena kau yang kukenal adalah kau yang selalu menghargai orang lain. Sudah sangat jelas ada sosok disebelahmu yang patut kamu hargai harga dirinya dan kamu lindungi perasaannya. Aku sedih melihat sedikit perubahanmu itu. Padahal kalau kau tidak bisa menghargainya berarti kau juga tidak menghargaiku.
Semalaman aku berpikir. Keputusan harus dibuat. Aku....Hanya aku yang bisa meluruskan semua kebengkokan ini. Dan ingin kumantapkan bahwa keputusan harus kuambil. Tapi kapasitas otakku membuatku ”lemot” berpikir. Keputusan yang berat. Dalam konteks cinta lelaki dan perempuan, seharusnya hanya mengikat dua hati. Karena ruang hati tidak akan cukup luas untuk menampung lebih dari satu cinta. Nyata-nyata kau sudah masuk ke dalam hatiku, meskipun belum lagi menetap. Pertimbangan hati dan logika. Keduanya saling bertabrakan. Keduanya saling bersebrangan. Jika mempertimbangkan hatiku, aku pasti membiarkanmu menetap untuk tidak sekedar singgah di dalam hati ini. Menetap dengan leluasa. Karena hati ini memang sedang kosong. Bukankah semua orang berhak bahagia? Dan aku juga memiliki hak itu. Tak ada yang salah jika aku menerimamu, karena aku sedang berada dalam statusku yang ”sendiri”. Apalagi aku baru saja sembuh dari lukaku. Luka yang masih membutuhkan perawatan. Dan aku yakin kau bisa merawatnya dengan baik. Kau hadir dengan indahnya kasih sayang yang baru saja hilang dari hidupku. Tidak pernah ada kewajiban yang mengharuskanku untuk memperhatikan ”dia”. Kau yang selama ini kukenal adalah kau yang tidak pernah memperjuangkan cinta. Dan ketika kini ku melihat kau memperjuangkannya, apakah adil untukmu bila aku tidak menghargai perjuanganmu? Itu bila hatiku yang berbicara. Hati yang sedang membutuhkan tambatan. Tapi logikaku berkata sebaliknya. Aku tidak boleh bersikap egois menghadapi cinta. Cinta yang sudah termiliki orang lain adalah cinta yang tak layak untuk diraih. Bagaimana bila aku memposisikan diriku sebagai ”dia”?. Logikaku juga tidak mungkin menerima dirimu yang begitu mudah goyah hanya karena kehadiranku. Bukankah aku harus mencari lelaki yang kuat?. Lelaki yang kuat menjaga hatinya. Usia kita bukan lagi saatnya berhubungan dengan nuansa main-main atau ”iseng” dan kenyataannya kau menerima dia disisimu sebelum kehadiranku. Aku tak pernah tahu alasan apa yang membuat kalian bisa bersama. Aku juga tidak mungkin lebih lama bertahan dalam hubungan ini. Gelap tanpa harapan, tanpa masa depan. Meskipun harapan itu ada ditanganku, aku yang bisa membuatnya menjadi penuh harapan. Meskipun aku tahu kau bisa memberikanku masa depan, tapi masa depan yang dimulai dengan sesuatu yang salah bukankah tidak baik? Sekalipun kau selalu berusaha tidak pernah melibatkan ”kesalahan” padaku, tapi aku tetap merasa bersalah. Dimataku, aku berada diantara kau dan dia. Dimatamu, dialah yang berada diantara kau dan aku. Pertarungan hati dan logika ini benar-benar menyita pikiranku. Ingin aku meyakini bahwa tak ada yang bersalah antara kita. Aku, kau dan dia. Aku dan kamu pun tidak pernah minta dipertemukan. Takdirlah yang telah mengantarkan kita pada pertemuan.
Sebenarnya aku tak ingin mengulur waktu lebih lama untuk membuat semuanya menjadi ”clear”. Aku hanya perlu menunggu kau menghubungiku, karena aku tahu pasti banyak yang ingin kau bicarakan tentang kita. Mencari ”solusi” terbaik untuk hati sangat tidak mudah. Aku tidak pernah tahu apa aku bisa menghadapimu. Yang aku tahu aku harus menutupi baik-baik kerapuhanku. Aku masih diliputi kebimbangan ketika akhirnya kau menghubungiku. Dugaanku tak keliru. Kau meminta kita untuk bertemu.
Akhirnya kita bertemu lagi ditempat ”kita”. Belum lagi mulut aktifku ini terbuka. Kau sudah terlebih dahulu membuka percakapan. Percakapan yang ”to the point”. Kali ini kau yang memohon padaku. Kau merasa selama ini sudah berusaha memenuhi keinginanku dan sekarang giliranku mengabulkan permohonanmu. Kau memang masih belum merusak permohonanku dan kepercayaanku untuk tidak ”mengungkap” aku padanya. Kini ternyata kau sudah ingin menyerah kalah. Kau tak sanggup lagi menahan kebohongan hati. Bendunganmu telah luluh lantah. Aku sangat sedih melihatmu harus begini. Ternyata kau tak setegar yang aku bayangkan. Kau ingin segera membuat semua kegelapan ini menjadi terang benderang. Kau ingin menyulap semua kebohongan menjadi kejujuran. Aku membaca jelas kelelahanmu atas ”tiga hati” ini. Dengan terbata-bata kau mengungkapkan keinginanmu untuk bisa menjadikan ”dua” yang ”tiga” itu. Hanya dua. Kau dan Aku. Kau ingin melepaskan dia untuk bersamaku. Bersama dalam proporsi yang kau inginkan, kebersamaan yang bukan sebagai teman.
Tanpa disadari aku meneteskan airmata. Bahkan airmataku ini tak bisa berhenti. Kenyataan bahwa aku menyayangimu, kau pasti tahu itu. Untuk itu aku tidak bisa egois. Aku sedih melihatmu terlihat ”capek” untuk semua ini. Aku dapat merasakan lelahmu. Dan yang membuatku bertambah sedih adalah ketidakmampuanku untuk memenuhi permohonanmu. Aku minta maaf. Kalimat itu meluncur dengan segenap ketulusanku. Aku bosan minta maaf, meskipun hanya lebih sering di dalam hati, tapi ternyata aku kembali dan kembali mengucapkan maaf. Apa aku adalah orang yang mudah berbuat kesalahan sehingga harus terus meminta maaf. Kita berdua mungkin saja sama-sama bersalah. Tapi biarkan aku yang memohon maafmu. ”Maaf” karena aku harus tegas dan keras padamu. Tegas untuk menolakmu. Keras untuk melatihmu kuat.
Kali ini aku hanya bisa berusaha ”extra” untuk meyakinkanmu bahwa untuk menyelesaikan semua ini, harus ada yang mengalah. Yang menjadikan ”tiga” adalah diriku. Kalaupun ada yang harus terlempar dari ”tiga”, itu harus aku. Dia seorang yang manis, andai saja dia tidak semanis itu. Aku tidak menyangka ternyata kau yang kunilai pandai ternyata tidak sepandai yang kubayangkan, karena kau tak pandai menjaga hatimu untuknya. Semua alibimu aku resapi. Tapi apapun itu alasanmu, logikaku tetap bejalan di”rel”nya.
Aku ingin melihatmu damai. Untuk itu aku putuskan untuk pergi secara konsisten.
Aku belum pernah melihat tanganmu bergetar. Dan aku jelas melihatnya saat ini. Aku cukup mengenalmu untuk cukup mengenalku. Aku pasti berusaha untuk memenuhi keinginanku sampai benar-benar berhasil. Keinginanku kali ini adalah seutuhnya menyingkir dari hidupmu. Keinginanku adalah sungguh-sungguh menghilang dari hari-harimu.
Sedih kita begitu jelas. Kesedihanku yang utama adalah kenyataan bahwa untuk bertemanpun kita tidak diperbolehkan oleh logika. Kepedihanku yang terbesar adalah kehilangan salah satu teman terbaikku. Sampai kapanpun dimataku kau tetap orang baik diluar kesalahanmu tentang ”tiga hati” ini. Aku berusaha meyakinkan dirimu dan diriku bahwa kau pasti bisa memberikan ”space” lebih banyak untuk dia bersemayam dihatimu.
Kalaupun bukan dia, siapapun dia yang akan kau simpan setulusnya dihatimu, kuharap dia akan membuatmu bahagia. Karena kau pantas mendapatkannya.

”Tiga hati” adalah suatu pengalaman dan pembelajaran ”lagi” dalam hidupku. Juga pembelajaran untuk semua orang. Siapapun dan dimanapun. Aku tidak pernah mengerti mengapa harus terlalu banyak pelajaran yang aku terima untuk aku bisa lulus dan mahir melewati hidup? Padahal aku tetap saja tidak pernah bisa lihai menjalaninya dengan mulus.
”Tiga hati” semoga hanya sekali ini saja aku mengalaminya. Berharap tak akan pernah terulang. Karena kita hanya punya satu hati. Jikapun ingin kita berikan, tentunya hanya bisa diberikan pada ”satu” hati yang lain. Sepatutnya kita menjaga kesucian hati dengan hanya mengkontaminasikannya oleh ”satu” hati yang lain.
”Tiga hati”, catatan hidup yang memaksaku untuk mencatatnya dalam lembaran kisahku. Kita semua hanya punya satu hati dan sepantasnya kita merawatnya dengan baik. Catatan ”Tiga hati”adalah sebuah harapan agar dapat memperlakukan hati dengan lebih adil, untuk itulah aku menulisnya.

1 comment:

The Unknown said...

Another way to living your life. I like the way you express yourself. So, so intensive and expressive.

NB: pernahkah kamu mengalami cinta segilima? belum? try it! it tastes so delightful. hehehehehe.......