KACA HATI

8:32 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Tangan kekarmu itu tiba-tiba menarik tanganku, menggenggam dengan eratnya. Sangat erat. Bahkan terlalu erat. Seolah ingin memaksaku untuk menatap matamu. Tapi aku enggan. Entah kenapa ada secuil ketakutan yang menyelimuti mataku untuk menangkap pancaran matamu. Pergelangan tanganku yang kecil, bahkan terlalu kecil, tak bisa bergerak banyak. Telapak tanganmu terlalu luas untuk sanggup membuat jari-jariku tak berkutik.
Lama.....cukup lama tanganmu menguasai tanganku. Namun hanya itu yang terjadi. Bibirmu tak berucap. Tubuhmu tak bergerak. Suatu adegan yang sangat tak biasa. Aku merasa ada yang aneh. Keanehan yang membuatku bungkam. Aku tiba-tiba menyerap kedinginan jiwamu yang begitu bermakna, hingga seketika membuat aku tak menjadi aku. Aku adalah aku yang selalu mencairkan setiap bekumu. Aku adalah aku yang bisa menghidupkan kekakuanmu. Aku adalah aku yang sanggup menyalakan redupmu. Tetapi sesaat aku tidak menjadi aku untukmu. Melukiskan bahwa sebagian diriku mengetahui ada apa dibalik semua ini.
Aku berusaha menarik lenganku. Namun kekuatanmu tak hanya memenjarakan pergelangan tangan dan jemariku, tapi juga sepanjang lenganku. Tanganmu terlalu kokoh untuk kulepaskan. Meskipun kutahu hatimu tak sekokoh itu. Lenganmu terlalu tangguh untuk kukalahkan. Walaupun kuyakin hatimu tak memiliki ketangguhan itu.
Kau diam, itu biasa. Aku diam, itu yang tak biasa. Kau banyak bicara, itu janggal. Aku banyak membisu, itu sangat janggal. Kau memang pendiam, dan selama ini aku menyukai diam itu. Kau memang tak banyak bicara, dan itu salah satu hal yang menarikku kepadamu. Tapi diam kali ini berbeda. Karena selama ini meskipun sikapmu dingin tapi tanganmu selalu hangat, dan itu tak kurasakan saat ini. Sekejap aku berusaha memahami situasi hatimu. Sekejap itu pula aku merasa ada yang salah pada diriku. Aku telah berbuat sesuatu yang mungkin telah melukaimu.
Selama ini……Aku yang selalu tersenyum, dan kau mengatakan itu yang mencuri hatimu. Aku yang selalu ceria, dan kau bilang itu yang memberi pelangi dalam hidupmu. Wajahmu selalu datar sedangkan wajahku terlalu penuh ekspresi. Pribadimu tertutup meskipun aku sangat terbuka. Banyak diammu yang kusuka tetapi banyak juga diammu yang kubenci. Dan kali ini yang kubenci adalah diamku. Sangat tidak semestinya. Disela-sela seharusnya aku ”aktif” seperti biasanya. Setidaknya untuk menutupi kebodohanku menganggap kau tak akan tahu kekhilafanku. Aku hanya menebak bahwa aura gelapmu ini terjadi karena kau telah membaca kebohongan hatiku.
Akhirnya aku memiliki keberanian untuk melempar pandangan mataku padamu. Tubuhmu yang tinggi membuatku harus bersusah payah mengangkat kepalaku dan menengadahkan wajahku. Kedua matamu dengan sigap mencoba menangkap arti sinar dari mataku yang sempit ini. Tatapanmu yang tajam tidak berubah, kecuali kutemukan banyak pertanyaan dibalik kelopak matamu yang menegang. Meskipun kurasakan bola matamu seolah-olah ingin menguliti aku dengan kesalahanku tetapi semakin lama mataku menatap matamu, genggaman tanganmu mulai melonggar.
Tajamnya matamu mulai melunak. Otot tanganmu mulai melemahkan urat-uratnya, meskipun tetap tidak melepaskanku seakan-akan takut aku akan pergi meninggalkanmu selamanya. Aku memang sering meninggalkanmu bila kumarah, tapi kau selalu membuatku kembali. Aku memang sering membuang tanganmu jika kubenci, tapi kau selalu membuat kita kembali bergenggaman. Tak perlu ada yang ditakutkan dengan naik turunnya kita, karena kita saling yakin dan percaya. Lalu kenapa kini aku melihat ketidakpercayaanmu padaku?
Saat ini yang kulihat adalah ketakutanmu akan runtuhnya ”kita”. Aku memang berbuat salah. Salah karena membiarkan orang lain sesaat muncul diantara kita. Tapi itu tidak akan menyulutku untuk merubuhkan jalinan kita. Aku memang sudah berbohong. Meskipun bohongku hanya karena tidak ingin menyakitimu. Dan itu terpancing karena keinginanku untuk menjaga keutuhan kita.
Kuakui hatiku sempat goyah. Namun bukan goyah dari tegakku berdiri dihatimu. Hanya goyah sesaat karena kehadiran ”dia” yang mengagetkanku. Dia adalah teman lama yang pernah kukagumi. Teman lama yang pernah kusukai. Sisi hatiku pernah terpenuhi olehnya. Sosok yang sudah lama hilang dari hidupku seiring hilangnya rasaku untuknya. Seiring hadirmu dihari-hariku. Seiring setiamu disaat sedihku. Seiring airmu disetiap apiku. Seiring sabarmu disetumpuk kerasku. Seiring kokohmu diwaktu-waktu jatuhku. Seiring ikhlasmu disegudang kekuranganku.
”Dia” hadir dengan ungkapan perasaannya padaku. Hal yang pernah kuinginkan terjadi, tapi untuk dulu, bukan sekarang. Dia hadir dengan dia yang kuinginkan waktu dulu, tapi tidak lagi untuk waktu kini. Dia dengan cintanya untukku. Dia dengan hatinya untukku. Menawarkan keindahan yang dulu pernah ada dimimpiku. Menyuguhkan kebersamaan yang pernah ada dianganku. Tapi itu usang, karena ”kita” sudah terlebih dahulu ada ketika dia datang memintaku.
Aku memang sempat memberikan waktuku untuknya. Aku memang sempat membuka sesaat hatiku padanya. Namun hanya untuk sekedar mengetahui maknamu dihatiku dan memaknai pesonanya dihatiku. Hasilnya, kau tetap bermakna dihidupku dan dia tetap mempesona dimataku. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk meyakinkanmu bahwa seluruh daya tariknya tidak bisa menggantikan posisimu dihatiku. Aku tidak menyalahkanmu untuk tidak mempercayaiku dalam menyikapi kehadirannya karena kau yang paling tahu arti dia bagiku dulu. Tapi dulu adalah masa lalu. Kau adalah masa sekarangku dan masa depanku......
Kau selalu mengandaikan hati kita bagai kaca.....Kaca ini masih belum pecah. Kau selalu memintaku untuk menjaganya agar tidak retak. Kaca ini masih tetap utuh karena kita selalu merawatnya. Kita selalu meyakini bahwa kaca ini hanya bisa hancur karena hati yang mendua. Sudah banyak noda yang kita kanvaskan pada kaca ini karena perbedaan karakter, sifat, dan pertengkaran yang menyertai jejak langkah kita. Namun kita selalu bisa membersihkan setiap noda yang terukir karena tidak pernah melibatkan orang ketiga.
Kita masih larut dalam keheningan ketika genggaman tanganmu semakin dan semakin melemah. Sebenarnya kakiku terasa kelu, seakan tak sanggup lagi menopang badanku. Tapi aku berusaha kuat. Tubuh kecilku masih terpancang tegar, seiring tegapmu yang mulai merunduk. Tatapan matamu sudah tidak tebal lagi. Sebenarnya sekarang aku pasti bisa melepaskan selimut tanganmu dengan hanya sekali hentakan. Ingin aku membiarkan tanganku bernafas dengan melemparkan tanganmu karena secuil hatiku menganggap sikapmu tidak perlu begini. Tetapi sekarang justru aku yang mendramatisir situasi ini. Aku menjadi salah tingkah. Seharusnya aku bisa mengakhiri ketegangan ini dengan membuka sebuah percakapan bijak dan santai. Entah mengapa bibirku terkunci sangat rapat, padahal begitu banyak yang ingin aku jelaskan padamu, dan aku tahu kau menunggu penjelasan itu. Tumpukan kalimat-kalimat sudah mengantri diotakku untuk aku keluarkan. Tapi mataku terlalu jelas melihat kekecawaanmu padaku yang teramat besar. Hal itu membuatku ragu untuk berbicara. Kau pasti hanya menganggap semua penjelasanku adalah pembelaan. Harus aku akui bahwa ucapan apapun yang akan bergulir dari bibirku memang tak lebih dari sebuah pembelaan. Tapi bukankah semua orang bahkan yang sudah jelas bersalah sekalipun berhak membela dirinya?
Bahasa tubuhmu kali ini sudah menggambarkan semuanya. Meskipun tidak ada satu kata pun terlontar, tapi kita berdua seakan sudah bisa menangkap sepasang kebekuan hati. Kepalamu yang mulai menunduk membuat sisi tanganku yang lain ingin mengangkatnya dan berucap satu kalimat ”maafkan aku”. Tapi itupun tak kuasa kulakukan. Sepanjang perjalanan kita, kau memang tidak pernah melakukan kesalahan seperti kesalahan yang telah kubuat. Semua orang tahu kesetiaanmu padaku, dan kenyataan itu membuatku semakin tersudut. Ketika kutahu kau menyadari kesalahanku, itu membuatku seperti manekin dihadapanmu. Kalaupun aku harus memecah keheningan ini kalimat yang bisa aku gulirkan hanyalah memberikan waktu padamu untuk memaafkanku.......Aku pasrah.


No comments: