LANGITKU ATAPKU

4:56 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Malam sudah sangat larut ketika bis yang membawaku dari Bandung memasuki terminal harjamukti, the only one bus terminal di kota Cirebonku tercinta. Meskipun kampung halamanku ini terkenal panas, tapi angin malamnya cukup bisa membuatku kembali ”segar” setelah lama tertidur diperjalanan dengan dinginnya yang tidak menusuk tapi lumayan merayap menggelitik kulit wajahku. Aku memang terlalu terlambat sampai di Cirebon, biasanya paling lambat jam 11 malam tapi kali ini jam 12 malam aku baru sukses menginjakkan kaki di myhometown. Sebenarnya tak ada masalah buatku mau nyampe di Cirebon semalam apapun, toh orangtuaku dengan sigap langsung menjemput anak mereka the one and only. Penumpang yang turun bersamaku sudah tidak banyak lagi, karena sudah berhamburan sebelum tiba di terminal yang merupakan pool terakhir bis ini.
Aku berjalan dengan santai sambil mencoba menikmati hawa Cirebon di tengah malam. Biasanya aku berjalan cepat bahkan langsung berlari kedepan pos polisi yang berada dipintu keluar terminal sisi samping, tempat biasa bapak dan ibu menunggu aku. Tapi kali ini aku malas berjalan cepat, alasannya karena kali ini ”bawaanku” lumayan banyak. Tas ransel dipunggungku yang cukup berat ini memaksa kakiku untuk tidak dapat bergerak bebas.
Sebenarnya suasana terminal sudah lumayan sepi tapi seketika bisa langsung menjadi ramai jika ada bis yang baru datang. Maklumlah, bis-bis yang memasuki terminal selalu menjadi sasaran pengejaran para tukang becak yang saling berebut penumpang. Termasuk bisku tadi. Baru saja memasuki terminal, langsung diserbu para penggemar. Para tukang becak itu begitu semangat berlari dan tak lelah menawarkan jasanya. Wajah mereka begitu antusias setiap melihat ada objek empuk yang datang. Sayangnya, bis yang aku tumpangi sudah sepi penumpang ketika tiba diterminal. Aku pun bisa segera menangkap raut muka kekecewaan mereka ketika melihat hanya sedikit sasaran yang bisa ”ditembak”. Kalau saja aku sampai di Cirebon siang atau sore, aku pasti akan dengan senang hati memanfaatkan tawaran mereka untuk mengantarkanku sampai rumah. Namun berhubung aku selalu tiba di Cirebon malam hari, alhasil orangtuaku tidak pernah memberikan izin untuk naik kendaraan umum.
Kadang-kadang mereka juga pantang menyerah. Tidak cukup sekali aku harus menolak tawaran mereka. Bahkan ada diantara mereka yang terus ”menguntit” aku. Akhirnya setelah aku jelaskan kalau sudah ada yang menjemput, barulah mereka menyingkir.
Pemandangan ini sebenarnya sudah sangat tidak asing buatku. Tapi yang membuatnya tak biasa untukku karena saat itu jam 12 malam. Waktu dimana sebagian orang sudah terlelap dipembaringannya, sementara mereka masih ”aktif” mencari rejeki untuk sesuap nasi. Untuk keluarga mereka. Untuk menyambung hidup. Mereka adalah segelintir orang yang mencoba terus bertahan ditengah kerasnya kehidupan.
Sambil masih mempertahankan langkah ”lemot”ku, mataku tiba-tiba tertuju pada sesosok tubuh tua yang sedang terlelap tidur dibecaknya. Sangat tua. Rambutnya putih. Badannya terlihat sangat renta. Dia tertidur dengan pulasnya tanpa terganggu oleh aktivitas rekannya yang masih mencari ”mangsa”. Entah kenapa hatiku selalu lemah kalau melihat ”manula” yang seolah terlantar dan ditelantarkan dunia. Tapi aku begitu tertegun melihat tidurnya yang teramat nyenyak. Begitu menikmati, seolah tanpa beban. Seolah tak perlu memikirkan apa yang akan terjadi esok. Meskipun hanya beratapkan langit dalam tidurnya. Ataukah memang langit ini sudah menjadi rumahnya?
Andaikan mereka-mereka itu boleh memilih, tentu tak akan pernah mau mengambil pilihan hidup seperti yang mereka jalani sekarang. Tapi hidup harus bisa menerima apapun. Orang harus menyayangi hidup. Hidup untuk berjuang. Dan aku melihat perjuangan-perjuangan mereka ditengah malam dengan BERATAPKAN LANGIT.

No comments: