KAU ATAU KEBEBASANKU

8:26 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Kau adalah lelaki pertamaku..........
Banyak bahkan terlalu banyak, peristiwa, kejadian, memori yang tercatat dalam perjalanan kita.
Mengapa terlalu banyak? Karena kau terlalu ”intens” ada disetiap waktuku.
Semua begitu indah pada awalnya, tapi lama-kelamaan kau membuatku ”sesak”. Kau memaksaku untuk tidak bisa bergerak banyak. Kau memenjarakan kemerdekaanku. Kau menyelimutiku dengan proteksimu yang berlebihan. Kau menjerumuskan aku dalam kungkunganmu. Kau menjeratku dalam atmosfer kasih sayangmu. Kau menyebabkan aku kesulitan bernafas. Bernafas untuk sekedar bercengkerama dengan teman-temanku. Bernafas untuk sekedar lepas dari pandanganmu. Bernafas untuk sekejap menikmati keriangan beliaku. Menikmati pergaulanku. Menikmati waktu-waktuku. Menikmati hidup yang pada saat itu memang belum pantas terikat dan belum saatnya diikat.........

Maafkan jika aku harus MEMILIH......Memilih kebebasanku. Memilih menyingkirkan tanganmu. Memilih ketidakterikatanku. Memilih menyingkir dan berlari darimu. Memilih berjuang dalam kesendirian. Memilih melepaskan penjaraku. Memilih membuang semua perlindunganmu. Memilih sakit kehilanganmu untuk memilih senyum kebebasanku.

Aku dan semua orang tahu yang kau lakukan semata-mata karena kau takut kehilanganku. Kehilangan aku seperti yang kau inginkan. ”Hanya yang kau inginkan, tanpa memperdulikan apa yang sebenarnya aku inginkan”.
Kau selalu ”menguntit” langkahku. Kau selalu mencurigai kebersamaanku dengan lelaki manapun, siapapun. Kau selalu takut aku diculik oleh lingkunganku dan mengindahkanmu. Kau selalu takut aku berpindah hati dan mencampakkanmu. Dan akhirnya kau pernah membuatku ”terisolir” dari duniaku, dari teman-temanku.
Aku memang ’liar’. Aku memang ’egois’. Aku memang ’keras’. Dan tipe lelaki sepertimu tak akan bisa menghadapiku. Kau salah memaknai arti kesetiaan. Kau keliru memahamin makna kesetiaan. Kesetiaan bagiku bukan berarti hanya kau satu-satunya lelaki diduniaku. Sama seperti perempuan lain, aku juga bergaul dengan teman lelaki, dan kebersamaanku dengan mereka bukan berarti aku mencoreng kesetiaanku.
Ketakutanmu menyulutkan kecemburuanmu. Kecemburuanmu menyulutkan marahmu. Marahmu menyulutkan emosimu. Emosimu menyulutmu untuk menyakiti dirimu sendiri.

Apapun itu, saat itu aku sudah putuskan untuk MEMILIH.........untuk berpisah..........
Apapun itu kau tetap lelaki pertamaku.........
Lelaki pertama yang memperkenalkan aku pada seluruh dunia sebagai perempuan yang kau inginkan......
Aku tak akan pernah lupa.....Bagaimana kau membawaku dan menceburkan aku pada keluargamu diusia kebersamaan kita yang masih seumur jagung. Terlalu banyak kejadian ’aneh’ dipengalaman percintaanku yang pertama itu.

Apapun itu kau tetap lelaki pertamaku.........
Lelaki pertama yang memberiku mawar. Lelaki pertama yang menggenggam tanganku. Lelaki pertama yang menculikku dari duniaku. Lelaki pertama yang pernah membunuh karakterku. Lelaki pertama yang mengisi jiwaku. Lelaki pertama yang kucaci maki. Lelaki pertama yang membelai rambutku. Lelaki pertama yang mengiringi hari-hariku. Lelaki pertama yang membuatku menangis dan lelaki pertama yang kubuat menangis. Kau memang bukan lelaki pertama yang mencuri hatiku tapi kau adalah lelaki pertama yang sanggup mencuri pikiranku. Kau memang bukan lelaki pertama yang kusuka tetapi kau adalah lelaki pertama yang kusayangi.

KAU ATAU DUNIAKU

8:21 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Duniaku kini memang sempit. 80%nya berkutat dengan kehidupan kantor. Duniaku adalah pekerjaanku. Pekerjaanku adalah duniaku. Duniaku adalah kehidupanku. Kehidupanku adalah ilmuku. Ilmuku adalah kebanggaanku. Kebanggaanku adalah kemandirianku. Kemandirianku adalah kepercayaan diriku. Kepercayaan diriku adalah kemampuanku. Kemampuanku adalah pengetahuanku. Pengetahuanku adalah otakku. Otakku adalah pekerjaanku. Pekerjaanku adalah duniaku.

Ketika kau memintaku melepaskan ”duniaku”. Saat itu aku tersentak. Kau adalah orang pertama yang memintaku untuk ”menghempaskan” pekerjaanku. Kau adalah orang pertama yang memintaku untuk ”mencampakkan” duniaku.

”Waktu” memaksaku untuk menjawab PILIHAN yang tak mudah bagiku.
Saat itu aku masih terlalu bimbang untuk bisa mencerna dengan baik permintaanmu. Dimataku, itu bukan sekedar permintaan, tapi PILIHAN yang sulit. Dan aku sebenarnya belum siap untuk mengambil keputusan.....untuk memilih.
Saat itu aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kau memberikan syarat untuk ”kita”. Saat itu aku masih terlalu gagap menghadapi suatu PILIHAN. Pilihan yang terdengar asing.
Tak ada yang istimewa dengan ”duniaku”. Tapi itu adalah duniaku. Setidaknya saat itu.....

Ketika PILIHAN harus dibuat. Ketika masa depan kita ada ditanganku. Ketika prinsipku masih belum tergoyahkan. Ketika duniaku masih aku butuhkan. Aku galau.......Aku harus mengambil keputusan ditengah atmosfer kebimbangan. Aku memilih melepaskanmu..........

Andai kamu tahu, kala itu, sangat tidak mudah menghempaskanmu.....Andai kamu juga tahu, kini, terlintas penyesalan dibenakku karena menyiakanmu.........

Aku tahu kau dan keluargamu mengharapkan konsep rumahtangga yang sesungguhnya. Yang tidak terpisah jarak........
Aku sadar kau dan keluargamu menginginkan aku yang bisa seutuhnya menjadi bagian dari kalian........
Aku tahu kau sudah mampu mencukupiku dengan sangat layak tanpa aku harus berkutat dengan duniaku.......
Maafkan aku karena memilih mempertahankan duniaku........Dengan mengorbankan ”kita”. Dengan menyakitiku........Dengan melukaimu........Dengan mengecewakan keluargaku dan keluargamu........

Saat itu......PILIHAN itu mungkin terlalu gegabah kuambil........

ABOUT MY FATHER

8:14 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Kami memanggilnya ”bapak”, padahal aku merasa panggilan ”ayah” lebih keren. Tapi sekarang aku lebih suka memanggilnya ”babeh”.
Dengan tampang yang sedikit garang, tak jarang temanku yang mengira kalau bapakku adalah tentara. Wajar saja, kumis yang agak lebat memang nyaris tak pernah absen dari wajahnya. ”Seram” itu kata yang pernah terlontar menurut pengakuan beberapa temanku sewaktu sekolah. Bisa jadi itu merupakan senjata dan strategi bapakku untuk menghalau para cowok mendekati dua putrinya semasa sekolah, tapi toh buktinya kedua putrinya memang tidak pernah ”pacaran” sewaktu masih kumpul dengan orangtua.
Karakter keras diwajahnya sedikit banyak merepresentasikan karakter sifatnya. Tapi semakin usianya bertambah, ”keras”nya semakin berkurang. Dulu semasa kedua anak perempuannya masih kecil (sampai SMU kita masih dianggap kecil), tentu saja seorang ”bapak” selalu memiliki hak apapun untuk mengatur anaknya. Tapi tidak pernah lagi kurasakan itu setelah aku sudah bisa mandiri dikedua kakiku sendiri.
Beliau seorang Pegawai Negeri Sipil. Abdi pemerintah yang lurus, jujur, sederhana, cenderung polos, dan rajin. Saking rajinnya, setahuku tak pernah kulihat bapakku ”absen” masuk kantor kecuali benar-benar sakit. Dan itu dia terapkan pada anak-anaknya. Tapi sayangnya tidak menetes sempurna padaku.
Beliau selalu membanggakan kecerdasan anaknya sebagai titisan dan warisannya (kecuali si bungsu he...he....). Maklumlah meskipun otak kami tak terlalu spesial tapi semasa kami kecil sudah cukup membuat bapakku ”terkenal” karena tak terhitung ”dipanggil” sekolah lantaran prestasi anaknya.
Tidak aneh kalau bapakku terkadang ingin sekali melihat anak bungsunya mengikuti kedua kakaknya dalam bidang akademis. Memang kuakui, sampai sekarang belum berhasil. ”But who knows”.
Bapakku sedikit ”jago” tidur. Dirumah lebih sering ber”action” laksana tarzan, karena tidak kuat panas. Tapi anehnya kadang-kadang juga tidak kuat dingin.
Sifat ”jago” tidurnya lumayan berkorelasi dengan pola hidupnya yang ”nihil” olahraga. Satu-satunya olahraganya adalah catur. Olahraga yang bagiku tidak mendorong kesehatan fisik. Padahal aku ingin setidaknya bapakku itu mengikuti olahraga ringan ”senam” seperti ibuku, atau olahraga apa saja, yang penting baik buat kesehatan. Ingin sekali saja melihat bapakku berolahraga, meskipun itu hanya berjalan kaki keliling kompleks dipagi hari. Tapi impianku itu tak pernah terwujud.
Sebenarnya pola hidupnya sangat sehat (kecuali antiolahraga) seperti tidak merokok, menghindari makanan yang mengandung kolesterol dan hobi minum air putih. Beliau lebih memilih menyingkirkan semua yang serba nikmat yang serba tak sehat.
Beliau sangat ”kreatif”. Benda tak terpakai bisa disulap menjadi sesuatu yang terpakai. Barang rumah yang rusak, mayoritas bisa diperbaikinya. Kemampuannya merakit sesuatu menjadi berguna merupakan kelebihan yang menguntungkan buat ibuku. Semua jenis perkakas dimilikinya, seperti layaknya tukang bangunan atau kolektor. Sayangnya tingkat kreativitasnya yang tinggi sama sekali tidak menurun pada anak lelaki satu-satunya.
Pendidikannya yang sarjana mendorong kami ketiga anaknya untuk memiliki gelar akademis yang baik. Berhubung indikator kesuksesan anaknya dilihat setelah menyelesaikan tugasnya untuk beres kuliah lalu mendapatkan pekerjaan maka hanya adikku yang belum dapat dinilai sukses atau tidak. Makanya yang menjadi sasaran empuk untuk melancarkan aksi ”memberi petuah” hanya tinggal keadikku. Cuma adikku yang masih bisa menjadi ”bulan-bulanan” nasihatnya. Karena entah mengapa, seiring dengan bertambahnya usiaku, bapak lebih menghargai dan menghormatiku sebagai sosok pribadi wanita mandiri. Meskipun sifat melindunginya tidak pernah hilang. Bahkan untuk hal-hal tertentu yang dimataku beliau masih berhak ”complain” padaku, toh tidak beliau lakukan.
Dilihat dari kesetiaan dan pengabdian pada keluarga, bapakku sangat ”jempolan”. Sepintas memang pantas menjadi anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), tapi aku menemukan ada faktor lain yang melatari awetnya pernikahan keduaorangtuaku. Bukan ”takut” tapi menjunjung wanita. ”TAK PERNAH BOSAN” pada istri, itu merupakan faktor utama. ”Menghormati” pasangan juga merupakan hal penting lainnya. Pertengkaran dan keributan itu adalah hal yang wajar dalam setiap rumah tangga, tapi bagaimana bapakku menyikapinya, itu yang luar biasa. Kalau ibuku lagi marah dan ”cuap-cuap”, bapakku lebih memilih diam. Soalnya berdasarkan penglihatanku, kalau sekali saja bapakku ”ngomong” atau ”jawab” saat ibuku sedang panas, maka emosi ibuku malah semakin meledak. Nah, resep diam dan menerima ocehan istri adalah resep mujarab untuk meredakan setiap amarah dan percekcokan yang mewarnai perjalanan rumah tangga mereka.
Orang pernah bilang padaku bahwa kebanyakan pria mengalami masa puber kedua, tapi nyatanya tak pernah kutemukan masa itu pada bapakku. Dimatanya hanya ada satu wanita dalam hidupnya, yaitu ibuku. Indah kan.........Meskipun sejak dahulu mereka sama sekali tak terlihat sebagai pasangan suami istri yang romantis, tapi toh mereka berdua abadi dalam membangun dan menjaga ikatan pernikahan mereka sampai akhirnya sekarang sudah menjadi kakek dan nenek dari seorang cucu.

ABOUT MY SISTER

8:13 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Seorang wanita yang bekerja dan ibu rumah tangga. Karirnya tidak terlalu istimewa tapi berhubung jaminan pekerjaannya cukup baik karena bekerja disebuah bank pemerintah daerah, maka dirasa sayang untuk melepaskannya, apalagi bidang pekerjaannya juga sangat sesuai dengan keilmuan sarjana yang ditempuhnya, yaitu sarjana ekonomi.
Tugas rumah tangganya nyaris lebih banyak didelegasikan pada 2 orang pembantunya. Satu pembantu untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga dan pembantu satunya sebagai “baby sitter” atau pengasuh anak.
Sifatnya lebih galak dariku. Lebih “jutek”, lebih judes. Tidak bisa dibilang pendiam, tidak bisa juga dibilang cerewet. Persamaannya denganku adalah sama-sama “keras”.
Jalan hidupnya terlihat begitu simpel, dibanding aku, saudara perempuannya yang hanya berjarak 1,5 tahun. Tidak mengalami lika-liku hidup serumit aku. Selesai kuliah lalu pulang kerumah orangtua di Cirebon, mendapat pekerjaan di Cirebon, mendapatkan jodoh juga di Cirebon. Kuliah, bekerja, menikah dan akhirnya mempunyai anak. Terlihat begitu mudah. Tidak ruwet. Keluar dari rumah orangtua hanya untuk kuliah di Bandung. Selebihnya dihabiskan dikota asal muasal. Hanya mengenal satu tempat kerja yang sekarang menjadi kantornya. Hanya mengenal satu kali pacaran dengan satu lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Suatu langkah hidup yang terkesan sederhana, tidak sekompleks aku yang mengepakkan sayap paling jauh, terpisah dari keluargaku.

ABOUT MY MOTHER

8:13 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Ibu rumah tangga. Itulah adalah status pekerjaan ibuku. Tak ada yang istimewa. Tapi bagiku cukup istimewa. Bayangkan saja, melakukan aktivitas dan rutinitas yang sama selama puluhan tahun. Bagiku itu tidak mudah. Meskipun akupun memiliki rutinitas kekantor sehari-hari tapi aktivitas yang dikerjakan pastinya tidak pernah sama. Selalu ada hal yang baru, mengerjakan dokumen baru, bahan baru, tantangan baru, ilmu baru dan semua yang serba tidak monoton. Karena dunia kerja memang cukup dinamis.
Setiap pekerjaan ada seninya dan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda, termasuk ”pekerjaan” yang digeluti ibuku.
Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga meskipun terlihat sederhana tapi sebenarnya sangat kompleks. Sepintas lalu mungkin hampir semua wanita memiliki basic sebagai ibu rumah tangga, setidaknya kemampuan alamiah dan dorongan kodrati sudah tertanam pada setiap wanita. Tapi dimataku pekerjaan itu belum tentu bisa dijalankan dengan BAIK oleh semua wanita. Karena diperlukan bumbu bumbu seperti ketulusan, kesabaran, pengabdian dan tentu saja keterampilan, meskipun tak memerlukan pendidikan khusus untuk itu.
Sepengetahuanku, aktivitas ibuku tak beda dengan ibu rumah tangga yang lain. Memasak, mencuci, pergi ke pasar, menyapu, menyetrika dan semua hal yang berbau pekerjaan rumah tangga lainnya. Dulu sewaktu seluruh anggota keluarga masih kumpul semua, memang sempat menggunakan jasa pembantu untuk hal-hal tertentu, tapi itupun tidak berlangsung lama. Tapi sejak isi rumah mulai berkurang, jasa pembantu sudah tidak dirasakan perlu lagi.
Dulu ketika aku dan kakakku kuliah dan terbang ke Bandung, pekerjaan ibuku adalah meng”handle” dua lelaki dirumahku, bapakku dan adikku. Sekarang setelah adikku juga kuliah dan tidak bisa lagi ”stay” di Cirebon, praktis tugas ibuku hanya mengurus suaminya ”the one and only” alias bapakku, setelah ketiga anaknya beterbangan menepak sayap.
Aku mulai memahami kenapa ibuku sekarang selalu girang kalau aku pulang ke Cirebon. Maklumlah demam ”kesepian” mulai sering melanda ibuku sejak ditinggal adikku, sang anak cowok satu-satunya yang merupakan anak bungsu kecintaannya itu. Sayangnya, ”cabut”nya adikku dari rumah untuk kuliah tak beda jauh dengan kepindahan aku kepuncak. Lokasiku yang sekarang menyebabkan aku tidak bisa lagi leluasa pulang kerumah, karena jarak puncak-cirebon yang lumayan jauh.
Ibuku memang wanita biasa, seperti kebanyakan ibu rumah tangga lainnya. Yang berbeda adalah keinginannya yang cukup besar agar kedua anak perempuannya tidak hanya berkutat dirumah. Apalagi kedua putrinya memiliki prestasi akademis yang cukup lumayan sejak kecil (he...he...). Dimatanya, melayani dan mengurus keluarga adalah mulia, tapi beliau berharap anaknya menjadi wanita cerdas yang produktif, mandiri, ”berisi” otaknya, memiliki karir diluar rumah, menghasilkan uang sendiri, dan intinya adalah tidak bergantung pada laki-laki. Mungkin karena beliau merasa sepanjang hidupnya hanya menerima uang dari suami. Tangan dibawah tak pernah menjadi lebih baik daripada tangan diatas. Hal itu memang benar terwujud, meskipun karirku dan kakakku terbilang biasa-biasa saja tapi itu sudah membuatnya bangga.

ABOUT MY SISTER

8:13 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Seorang wanita yang bekerja dan ibu rumah tangga. Karirnya tidak terlalu istimewa tapi berhubung jaminan pekerjaannya cukup baik karena bekerja disebuah bank pemerintah daerah, maka dirasa sayang untuk melepaskannya, apalagi bidang pekerjaannya juga sangat sesuai dengan keilmuan sarjana yang ditempuhnya, yaitu sarjana ekonomi.
Tugas rumah tangganya nyaris lebih banyak didelegasikan pada 2 orang pembantunya. Satu pembantu untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga dan pembantu satunya sebagai “baby sitter” atau pengasuh anak.
Sifatnya lebih galak dariku. Lebih “jutek”, lebih judes. Tidak bisa dibilang pendiam, tidak bisa juga dibilang cerewet. Persamaannya denganku adalah sama-sama “keras”.
Jalan hidupnya terlihat begitu simpel, dibanding aku, saudara perempuannya yang hanya berjarak 1,5 tahun. Tidak mengalami lika-liku hidup serumit aku. Selesai kuliah lalu pulang kerumah orangtua di Cirebon, mendapat pekerjaan di Cirebon, mendapatkan jodoh juga di Cirebon. Kuliah, bekerja, menikah dan akhirnya mempunyai anak. Terlihat begitu mudah. Tidak ruwet. Keluar dari rumah orangtua hanya untuk kuliah di Bandung. Selebihnya dihabiskan dikota asal muasal. Hanya mengenal satu tempat kerja yang sekarang menjadi kantornya. Hanya mengenal satu kali pacaran dengan satu lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Suatu langkah hidup yang terkesan sederhana, tidak sekompleks aku yang mengepakkan sayap paling jauh, terpisah dari keluargaku.

ABOUT ME, IN MY FAMILY............

8:11 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Sebagai anak tengah, yaitu anak kedua dari tiga bersaudara. Sama seperti kakak dan adikku, menghabiskan masa kecil dan pendidikan hingga SMA di Cirebon. Mulai berpisah dengan orangtua sejak kuliah di UNPAD Jatinangor. Setelah itu tak pernah lagi kembali ke Cirebon untuk menetap. Nyaris tak pernah singgah di Cirebon lebih dari satu minggu, kecuali lebaran idul fitri. Tak heran kalau ibuku sering ”merengek-rengek” supaya anak perempuannya yang satu ini lebih sering pulang menjenguk mereka dikampung halaman, sekedar untuk istirahat, “nginep” di rumah orangtua (tidur dikamarku yang kutiduri sejak kecil), berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Diantara anak yang lain, aku memang bisa disebut sebagai anak yang paling “ngilang”. Aku dianggap anak yang paling aktif “terbang”. 7 tahun di Bandung (tepatnya Jatinagor he....he…), 1,5 tahun di Jakarta dan sudah 1,5 tahun aku dipuncak, tempat kerjaku sekarang.
Tak terasa sudah 10 tahun aku hidup sendiri, berpisah dari keluarga. Tapi baru 4 tahun aku benar-benar menjadi seorang perempuan MANDIRI, karena 6 tahun kuliah tak kuanggap sebagai kemandirian karena masih “fully” bergantung “sumbangan uang” dari orangtuaku.
Semasa sekolah hingga SMA bisa dibilang termasuk anak yang kurang gaul dan rajin berkutat dengan pelajaran, karena aktivitas rutinnya cuma sekolah, langsung pulang kerumah, les, privat, sekolah, les dan hanya itu-itu saja. Makanya lumayan kaget ketika harus berpisah dengan orangtua tanpa pengawasan. Tidak aneh kalau tiba-tiba berubah dan masa kuliah dikenal menjadi mahasiswa pemalas.
Dulu sewaktu ujian apoteker, aku pernah bilang pada ibuku ingin sekali menjadi ”real pengangguran” untuk beberapa waktu setelah lulus. Kelelahan kuliah membuatku ingin langsung pulang ke Cirebon untuk sekedar menikmati “kerehatan” dan “menyusu” pada ibuku. Sebagai anak bungsu yang “ngga jadi”, wajarlah kalau aku adalah anak yang paling lama “menyusu”. Kalau aku tidak salah ingat ketika aku sudah duduk dibangku SD pun aku masih menyusu pada ibuku, sampai akhirnya adikku lahir.
Alasanku untuk “istirahat” karena melihat kakakku yang juga sempat menganggur tiga bulan setelah lulus kuliah, sambil menunggu mendapatkan pekerjaan. Tapi ternyata keinginanku itu jauh panggang dari api. Belum lagi wisuda apoteker, aku sudah diterima kerja disebuah perusahaan farmasi di Bandung atas bantuan dosen pembimbing skripsiku. Setelah aku resmi dinyatakan lulus apoteker, beberapa hari setelahnya aku “langsung” merasakan yang namanya bekerja didunia industri ditengah teman-temanku yang masih merasakan euphoria kelulusan.
Berbeda dengan kakakku yang semasa kuliah tidak pernah pacaran, aku dua kali pacaran. Tidak berlebihan kan....Baru setelah kerja kakakku mengalami pacaran dan akhirnya menikah, sedangkan aku semasa kerja dua kali pacaran. Masih lumrah kan.....Diakui atau tidak, mereka, lelaki yang pernah dekat denganku, adalah pewarna hidupku. Tidak hanya warna suka, tapi juga warna duka. Semuanya berkesan. Karena semuanya berperan dalam hidupku. Disadari atau tidak, mungkin aku tidak akan menjadi aku yang sekarang tanpa mereka. Karena sedikit banyak mereka telah banyak memberi corak dalam naik turun hidupku, jatuh bangun langkahku. Mereka juga telah memunculkan karakter-karekter baru padaku. Aku pernah menjadi orang yang paling jahat dalam hidup mereka, begitupun sebaliknya. Aku pernah menjadi orang yang berarti dalam hidup mereka, begitupun sebaliknya. Dengan sifat-sifat mereka yang sangat berbeda, telah memaksaku untuk tahu rasanya menyayangi, membenci, merindu, membodohi diri. Hanya kekuatanku yang merupakan hadiah Sang Khalik yang membuatku tetap berdiri tegak sampai sekarang. Hanya kehangatan dan kedamaian keluarga yang membuatku selalu fokus dan bertanggung jawab.
Prioritasku kini adalah keinginanku untuk membahagiakan keluargaku dan melihat senyum orangtuaku. Karena aku selalu merasa belum berbuat banyak untuk mereka............

ABOUT MY BROTHER

8:07 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Sebagai anak bungsu dan anak lelaki satu-satunya, sebenarnya sifat manja tak begitu tampak padanya. Masih jelas diingatanku sewaktu dia kecil, aku sering kena ”imbas” untuk mengasuhnya. Terutama menyuapinya makan. Paling susahhhhh makan. Pokoe paling merepotkan waktu kecil, karena paling sering keluar masuk rumah sakit.
Alhamdulillah semuanya berubah setelah beranjak remaja. Badannya cukup OK untuk ukuran lelaki seusianya. Meskipun sepintas kurus tapi sangat berisi dan sehat. Mungkin karena hobi olahraganya. Dalam hal tinggi badan, Allah benar-benar maha adil. Kami yang perempuan terbentuk menjadi wanita mungil (mengelak dari kata ”pendek”), sedangkan adikku terus memanjang keatas, hingga memaksaku menengadah hanya untuk sekedar melihat wajah ”seram”nya. Kenapa aku bilang ”seram” karena sudah tidak ada sisa-sisa kejayaan kulit putihnya. Aku juga bingung kenapa kulitnya bisa berubah menjadi hitam total sekujur badan. Padahal sewaktu kecil kulitnya sangat putih. Bapakku juga kulit muka dan tangannya hitam, tapi tubuhnya tetap memperlihatkan kulit aslinya yang putih. Namun itu tidak berlaku untuk adikku.
Sebenarnya orang banyak menilai wajahnya unik. Karena matanya yang cenderung ”sipit” (tak jauh berbeda denganku) bercampur dengan kulit mukanya yang hitam. Dulu sewaktu kulit putihnya masih bersemayam banyak yang menyebutnya seperti orang Jepang.
Sepintas orang melihatnya sebagai cowok ”cool”. Tapi memang dia ”cool”. Tak terlalu banyak bicara, lebih banyak bicara lewat mata. Tidak aneh kalau dia selalu pusing melihat kecerewetanku yang luar biasa.
Meskipun dia sangat “cool” tapi banyak cewek yang mengidolakannya. Bahkan sejak SD sudah mendapatkan surat cinta dari teman cewek sekelasnya yang paling cantik.
Mungkin karena dia anak bungsu sekaligus anak LELAKI, maka bapak ibuku tidak menerapkan penjagaan dan pengawasan yang ketat untuknya. Sepenglihatanku, orangtuaku menerapkan padanya “bebas yang bertanggung jawab”. Dalam beberapa hal dia bisa memelihara kepercayaan orangtua, kecuali dalam satu hal yaitu bidang akademis.
Adikku memang nyaris tidak pernah memberikan hasil yang memuaskan dalam prestasi sekolah. Dan itu berlanjut sampai kuliah. Syukurnya dia bisa masuk perguruan tinggi negeri seperti kedua kakaknya. Tapi sifat ”labil”nya kembali terbukti ketika satu tahun perkuliahannya di jurusan pertanian disia-siakannya karena dia memilih untuk pindah ke jurusan hukum masih di universitas yang sama.
Tak aneh kalau bapak ibuku masih sering dibuatnya kecewa, karena di mata mereka kesuksesan pendidikan akademis merupakan ”start” awal untuk mengayuh kehidupan kedepan. Sementara adikku lebih banyak bersantai ketimbang bekerja keras.
Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya dengan harapan tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan orangtuaku.

FENOMENA POLIGAMI

8:07 PM Posted In Edit This 2 Comments »
Wacana poligami yang merupakan wacana yang sudah usang nampaknya telah memaksaku untuk akhirnya mengungkapkan opiniku menanggapi fenomena itu. Fenomena klasik tapi tetap menggelitik.
Opini hanyalah sekedar opini. Tidak harus selalu benar. Semua orang bebas mengeluarkan pendapatnya dalam koridor pemikirannya.
”Issue” poligami dianggap menjadi suatu kewajaran oleh sebagian lelaki yang memanfaatkan ”kebolehan” perbuatan itu dalam agama. Mereka seolah-olah menampik alasan sebenarnya kenapa ”kebolehan” itu ada.
Poligami menjadi fakta yang sangat tidak elegan ketika digunakan untuk hal-hal yang melenceng dari hakikat poligami sebenarnya. Suatu realitas yang ”miris” ketika hak lelaki atas perempuan ditempatkan terlalu tinggi melebihi kemampuan lelaki itu untuk menghargai perempuan dalam perspektif keadilan dan kemanusiaan.
”Kebolehan” belum bisa dan tidak akan bisa menjadi suatu tradisi rasional jika selalu ada pihak yang ”teraniaya” dan ”tersakiti”.
Suatu kondisi yang kritis ketika komoditas ”perasaan” perempuan digadaikan. Suatu polemik yang memprihatinkan ketika hak-hak wanita begitu mudah diabaikan.
Adanya tendensi kesalahan ”penafsiran” ditengarai menjadi penyebab mengapa poligami dijadikan alasan untuk seenaknya ”memperistri” perempuan yang dikehendaki. Apalagi latar belakang keinginan untuk ”menikah lagi” banyak yang perlu dipertanyakan. Yang lebih konyol adalah ketika kekurangan dan ketidaksempurnaan istri digunakan sebagai senjata untuk ”mendapatkan” perempuan lain. Apakah ketidaksempurnaan hanya boleh dimiliki oleh lelaki dan apakah kesempurnaan harus mutlak dimiliki oleh perempuan? Apakah ’hak” hanya dipunyai oleh lelaki dan apakah perempuan hanya mempunyai kewajiban? Apakah itu yang disebut adil? Hanya logika sehat yang bisa menjawabnya dengan sehat.
Perspektif yang salah dalam membaca makna poligami menjadikannya tak lebih sebagai bentuk penindasan terhadap perempuan. Secara fakta, kuantitas perempuan sangat jauh lebih banyak daripada lelaki. Begitu banyak wanita ”bertebaran”. Tapi apakah itu dapat dijadikan alibi untuk ”memungut” dua, tiga, atau empat selain ”satu” istrinya. Keinginan suami untuk berpoligami tak jarang memaksa mahligai rumah tangga hancur dan dikorbankan, karena akan sangat sulit untuk wanita manapun menerima kenyataan bahwa cinta dan perhatian suaminya harus dibagi pada wanita lain.
Poligami mungkin tidak akan menjadi ikon penindasan dalam perusakan ”hati” wanita jika semua wanita memiliki kemuliaan untuk benar-benar ”ikhlas”. Tapi apakah kemuliaan hati seorang wanita pantas dihadiahkan pada pria yang menyalahgunakan ”keikhlasan” itu untuk sebuah kata ”kesenangan”.
Tak jarang pula poligami dijadikan ”dalih” untuk melindungi diri dari dosa. Memang tidak salah. Tapi bukankah akan sangat berdosa ketika perlakuan itu ditimpakan pada seorang istri yang telah mengabdi, mendampingi dan melayani dengan tulus? Tanpa disadari atau tidak, poligami merupakan salah satu bentuk ”penganiayaan”. Dan apakah penganiayaan menjadi hal yang disahkan oleh agama? Apakah ketidakadilan menjadi perbuatan yang tidak berdosa?

PERNIKAHAN DINI

8:06 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Terdefinisi sebagai pernikahan yang dilakukan di usia ”dini”. Usia yang dianggap masih terlalu muda untuk mengarungi sebuah ikatan suci yang dinamakan PERNIKAHAN.
Pernikahan dini selama ini selalu identik dengan latar belakang ”kecelakaan”. Seolah-olah hanya merefleksikan suatu jalan yang harus ditempuh sebagai suatu ”konsekuensi” dari suatu ”kekhilafan”. Seakan-akan merepresentasikan suatu ikatan pernikahan yang ”terpaksa” atau ”dipaksakan” hanya untuk menutupi dan menambal sulam ”kesalahan” yang sudah ”terlanjur” dibuat. Bahkan masyarakat dengan mudah merekam pernikahan dini sebagai pernikahan yang sangat ”rentan” kegagalan, atau begitu mudah diprediksi akan ”berhenti” ditengah jalan. Namun bukan berarti bisa dipastikan pernikahan yang dikesankan ”dadakan” itu selalu ”terhempas” dan ”tersungkur”. Faktor keluarga menjadi faktor yang teramat penting untuk men”support” pernikahan dengan modus ini. Memang terdengar ”merepotkan”. Tapi dalam beberapa kasus, penulis menemukan bahwa peran orangtua dengan dukungan ”ekonomi” terbukti mampu mempertahankan keutuhan pernikahan dini. Sangat lucu melihat mereka-mereka yang masih menjelma sebagai ”benalu” ketika pernikahan sudah dijalani, tapi apa lacur, faktanya aroma ”ketidaksiapan” sudah sangat kental tercium sejak ikatan itu diresmikan. Tak aneh pula jika kebanyakan orang mudah meragukan ”kelanggengan” pernikahan dini karena tanpa dukungan lingkungan dan orang-orang terdekat, tak sedikit yang akhirnya harus ”menyerah”.
Pada kenyataan yang lain, tak jarang pula ditemukan pernikahan dini yang didasari oleh niat yang “jujur” dan ”bersih”. Terdengar sebagai wacana yang mewakili tindakan sangat ”berani”. Bagaimana tidak, kemampuan finansial masih jauh, kesiapan mental juga masih dipertanyakan, kedewasaan bertindak masih diragukan, kemandirian masih belum tergapai, dan kematangan berpikir masih belum terkantongi.
Umur memang tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator untuk mencerminkan “kedewasaan” dan ”kematangan” seseorang. Toh pernikahan orang dewasa pada usia kematangannya pun belum bisa dijamin 100% “keamanannya”. Semua berpulang pada individunya masing-masing. Semua orang memiliki sisi kedewasaan dan kekanakan yang tidak dapat diterka.
Pernikahan identik dengan “tanggung jawab”. Dan usia dini memiliki kecenderungan “miskin” tanggung jawab. Tetapi karena usia tak dapat digunakan sebagai ukuran dan tolak ukur tinggi rendahnya tangung jawab seseorang, maka banyak pula orang dewasa yang “kaya” umur tapi “miskin” tanggung jawab. Pada akhirnya, ada opini yang berkembang tentang “pernikahan dini” bergantung sepenuhnya dari karakter dan pribadi yang menjalankannya, sehingga tak melulu diwarnai ”kegagapan”.
Fenomena pernikahan dini sebenarnya sangat beragam diluar dari faktor ”accident”. Dengan alasan yang bermacam-macam, lingkungan yang beragam dan kondisi yang beragam.
Ada yang ”murni” karena faktor kurangnya pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan berkorelasi dengan kebodohan dan kebodohan umumnya identik dengan kemiskinan. Kondisi seperti itu biasanya menjauhkan pola pikir tentang kemajuan. Penulis sebagai seorang perempuan, dapat dengan mudah menemukan realita dimasyarakat yang melukiskan sempitnya kehidupan perempuan-perempuan yang sempit pengetahuan dan minim pendidikan. Diusia-usia yang masih sangat belia, perempuan-perempuan itu sudah “menggendong” anaknya. Tidak ada yang salah dengan cuplikan itu. Itulah kesederhanaan hidup. Kesederhanaan “otak”, keterkungkungan “wawasan”, krisis kemandirian, dan kecenderungan kebergantungan pada lelaki lebih tinggi. Perempuan dengan segenap kesederhanaan “daya” itu akan sangat dirugikan ketika dimanfaatkan oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab.
Pernikahan dini ada juga yang dialami oleh beberapa pasangan muda yang dijodohkan oleh orang tua mereka (Seperti cerita jaman orang tua kita he...he....).
Ada pula yang karena latar belakang keyakinan dengan prinsip menikah muda atau menikah ”cepat” lebih baik daripada memperbanyak dosa. Mereka meyakini pernikahan akan senantiasa membawa ketenangan hati, kedamaian dan berkah tersendiri, sekalipun pada prakteknya banyak yang perlu diperjuangkan. Mereka meyakini pernikahan sebagai suatu bentuk keindahan yang nyata bukan semu, dan suatu kebaikan yang tidak perlu ditunda.
Apapun persepsi tentang pernikahan dini, esensi yang harus tertangkap adalah inti dari ”pernikahan”. Suatu keputusan yang mudah buat sebagian orang dan akan sangat sulit untuk sebagian orang lainnya. Sistematika dan problema pernikahan yang ”multikompleksitas” memaksa orang untuk melakukannya dalam waktu yang tepat dan kesiapan dari ”multikomponen”.
Jika konsep pernikahan dini masih diragukan sebagian orang, itu sangat dimaklumi. Karena semua yang berbau ”terlalu dini” mencerminkan ketidaksiapan. Tak dapat dipungkiri bahwa usia dini juga berbanding lurus dengan ”kelabilan”. Jiwa anak muda memiliki tendensi “bergejolak”. Gejolak anak muda masih kental dengan ikon “freedom”, masih aktif bersenang senang dan cenderung gagap dalam memaknai kedewasaan, menentukan sikap, mengambil keputusan, me”manage” emosi dan menegakkan logika.


DIVORCE CASE

8:05 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Dari hasil observasi penulis tingkat awal tentang kasus perceraian yang terjadi dimasyarakat, umumnya disebabkan oleh faktor - faktor berikut : 1. Alasan ekonomi, 2. Tingkat kesetiaan (WIL / PIL), 3. Ketidakcocokan, 4. KDRT, 5. Kelabilan (Pernikahan dini), 6. Faktor keluarga.
”Perceraian”.....Satu kata yang bukan lagi merupakan hal yang aneh dikehidupan kita, meskipun masih selalu terlihat ”tabu” untuk kultural masyarakat kita. Rasanya semua orang juga akan mengamini bahwa meskipun ”perceraian” dihalalkan tapi merupakan hal yang dibenci Allah dan tidak direstui sebagai jalan terbaik oleh agama manapun, sudut pandang manapun. Zaman memang semakin gila. Tapi perceraian tetap saja menjadi ”momok” yang menyeramkan dan kita selalu terdorong untuk ”antipati” terhadapnya.
Alasan ekonomi merupakan hal yang paling sering dijadikan latar belakang tercetusnya perceraian. Terdengar sangat manusiawi dan cukup masuk akal, meskipun tak akan pernah ada alasan yang dapat dibenarkan untuk suatu ”perceraian”. Kasus perceraian untuk alasan ini sangat beragam. Umumnya pihak wanita atau pihak istri yang mengajukan tuntutan perceraian. Tapi tidak tertutup kemungkinan sebaliknya. Nampaknya keras dunia, logika dan realita semakin menunjukkan ”gigi”nya tatkala kehidupan rumah tangga harus dikorbankan karena alasan ekonomi.
Tingkat kesetiaan yang rendah dari pasangan suami istri merupakan alibi yang paling tidak dapat ditoleransi, tidak dapat diterima dan tidak dapat dimaafkan. Dalam kasus ini umumnya pihak lelaki menjadi ”biang keladi” dalam merusak kesucian mahligai rumah tangga. Memang tidak dapat digeneralisasi bahwa lelaki selalu ”identik” dengan sifat buruknya yang ”sulit setia”, karena virus itu bisa milik siapa saja dengan gender apa saja. Namun jika dikalkulasi dan dibuat ”summary”, rasanya kita semua dapat melihat faktanya langsung dimasyarakat. Wanita lebih sering menjadi korban tingkah suami yang bermain ”api”, bermain lidah, bermain hati dan semua penyulut konflik rumah tangga yang berbau pengkhianatan. Banyak faktor yang menyebabkan ”kesetiaan” menjadi pudar dari suatu pasangan, dari mulai faktor ”bakat selingkuh”, ketidakpuasaan akan pasangan dari berbagai aspek, faktor lingkungan, kesenangan dan hawa nafsu sampai faktor ”kebosanan” pada pasangan. Ketika kesetiaan tidak lagi dipuja, dipelihara, diagungkan dan dijaga kelestariannnya dalam berumahtangga niscaya bahteranya akan sulit dipertahankan.
Alasan ketidakcocokan sering dijadikan dalih yang paling ”mudah” untuk mengungkapkan adanya ketidaknyamanan dalam pernikahan. Sedikit mengada-ada dan lumayan bodoh ketika alasan ketidakcocokan dialami oleh pasangan yang sudah menjalin masa perkenalan dan pendekatan (pacaran) dalam waktu yang cukup lama. Manusia memang sangat bisa dimungkinkan memiliki sifat tersembunyi atau karakter yang tak mudah tersurat dan tersirat karena sifat manusia yang amat kompleks. ”Ketidakcocokan” merupakan alibi yang paling ”klise” ketika pasangan suami istri memutuskan berpisah. Karena pada dasarnya tidak akan pernah ada dua karakter manusia yang benar-benar cocok atau ”compatible”. Semuanya bergantung dari bagaimana setiap pasangan menyikapi setiap perbedaan menjadi sesuatu yang indah dan dijadikan alat untuk saling ”melengkapi”. Sikap saling menghargai, saling mengerti dan saling memaklumi merupakan kunci utama untuk menghindarkan alasan ini muncul ditengah pernikahan.
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) menjadi salah satu penyebab perceraian. Kekerasan yang terjadi dapat berupa fisik maupun kekerasan non fisik. Kekerasan verbal maupun non verbal. Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari kekerasan yang “nyata” seperti kekerasan yang melukai fisik sampai kekerasan yang “tak nyata” yang melukai batin. Perselingkuhan dapat menjadi salah satu contoh kekerasan psikis. Yang sangat konyol adalah ketika banyak kasus kekerasan fisik dilakukan suami pada istrinya. Suatu ironi yang mengerikan dan menyedihkan karena pria “obvious” ditakdirkan memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih kuat dari wanita. Suatu perbuatan yang memalukan kodrat karena hakikatnya lelaki adalah pelindung dan pengayom perempuan.
Kelabilan (Pernikahan dini) ”ikut-ikutan” menjadi salah satu penyebab diantara sekian banyaknya alasan ditempuhnya perceraian. “Kegagapan” finansial dan ketidaksiapan mental merupakan faktor utama yang berperan.



JAMU KIMIA

8:03 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Hasil penelitian BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang menemukan adanya kandungan BKO (Bahan Kimia Obat) dalam komposisi jamu memang bukan ”isu” baru, tapi nampaknya kian menjamur ditemukan dimasyarakat.
Jamu pada hakikatnya adalah produk alami, berbau tradisonal, ”murni” menggunakan bahan-bahan alam sehingga notabene miskin efek samping. Keamanannya akan selalu lebih baik jika dibandingkan dengan bahan obat yang berbau kimia dan sintesis.
Faktanya, masyarakat Indonesia masih sangat banyak yang mempercayakan jamu sebagai konsumsi lazim untuk menjaga dan memelihara kesehatan. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai sutu tradisi dan kebiasaan. Sehingga sangat disayangkan ketika inspeksi BPOM menemukan banyak beredarnya JAMU KIMIA. Yaitu jamu yang dicampurkan dengan zat-zat kimia untuk meningkatkan efektifitasnya. Zat kimia yang umumnya digunakan oleh para produsen jamu adalah paracetamol, antalgin/metampiron, dexamethasone, phenilbutazone, prednison, furosemide, piroxicam, allopurinol, sibutramin dan masih banyak zat kimia lainnya. Tentu saja hal itu sangat merugikan konsumen karena bahan-bahan kimia tersebut dapat menimbulkan banyak efek samping bila digunakan dalam jangka waktu lama, apalagi dengan takaran dan dosis yang ”seenaknya”.
Sudah saatnya para konsumen jamu untuk lebih berhati-hati dalan memilih jamu. Jamu yang memberikan efek ”instant” patut dicurigai, karena pada hakikatnya daya kerja jamu tidak akan sekuat dan sehebat zat kimia.
Jamu diharapkan tetap menjadi salah satu cirikhas ”indigenous” Indonesia. Alangkah baiknya jika jamu terebut tetap dilestarikan dengan ”keasliannya” dan ”kemurniannya”.

KEINDAHAN PEREMPUAN

8:03 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Keindahan hakikatnya merupakan ”ikon” untuk merefleksikan perempuan. Apalah jadinya dunia ini tanpa perempuan.
Tidaklah bijak melihat ”keindahan” perempuan dalam sudut pandang yang sempit. Makna ”keindahan” menjadi terbatas bila mengambil pola ukur berupa keindahan fisik semata. Keindahan yang tidak langgeng. Keindahan yang belum tentu jujur. Keindahan yang hanya tertangkap panca indera. Keindahan dengan ruang gerak yang tidak leluasa memaksa kita untuk kurang menghargai keindahan dibalik artinya yang sebenarnya sangat luas.
Bagiku, dimataku, dalam pemahamanku, semua wanita memiliki keindahan. Keindahan dalam dimensi yang berbeda-beda.
Seorang istri yang setia kepada suaminya, menggambarkan keindahan perempuan.
Seorang wanita yang berdiri tegak dalam kemandirian, mengindikasikan keindahan perempuan.
Seorang perempuan yang menjunjung tinggi ”virginitas”, merepresentasikan keindahan perempuan.
Seorang ibu yang pergi kepasar, memasak, mencuci, menyapu, juga memendarkan keindahan perempuan.
Seorang wanita yang sedang menyusui bayinya, merefleksikan keindahan perempuan.
Seorang istri yang ”melayani” dan patuh pada suaminya, memperlihatkan keindahan perempuan.
Seorang wanita yang memperjuangkan emansipasi, memancarkan keindahan perempuan.
Seorang perempuan yang mamapu memelihara dirinya dengan baik, melukiskan keindahan perempuan
Seorang ibu yang merawat dan membesarkan putra putrinya, mencerminkan keindahan perempuan.
Seorang wanita karir yang mengembangkan otak dan mengaplikasikan ilmunya, menampilkan keindahan perempuan.

KECANTIKAN WANITA

8:01 PM Posted In Edit This 2 Comments »
Teori tentang kecantikan wanita adalah teori yang melingkupi 3B, ”Beauty, Brain, Behaviour”. Teori tentang kecantikan itu menyentuh makna kesempurnaan, padahal sebenarnya tak akan pernah ada manusia yang sempurna.
Entah mengapa wanita dituntut untuk ”cantik”. Ataukah dunia memang memaksa dan selalu meminta wanita untuk ”cantik”?
Hakikat cantik yang abadi adalah cantik ”dalam”, bukan cantik ”luar”. Kecantikan ”luar” akan luntur dengan berjalannya waktu. Kecantikan luar akan pudar dengan bertambahnya usia. Tapi kecantikan ”dalam” niscaya akan selalu ”exist” tanpa terpendar masa.
Wanita siapapun, dimanapun, akan selalu memiliki kecantikan dari sisi yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana wanita itu memanfaatkan, me”manage”, mengembangkan, dan memelihara apapun yang telah dihadiahkanNya.
Ada yang diberkahi dengan kecantikan fisik semata.
Ada yang diberkahi dengan kecantikan otak dan pemikiran.
Ada yang diberkahi dengan kecantikan pribadi dan karakter.
Anugerah kecantikan fisik akan terlihat “murah” jika menjadikan dirinya sebagai objek “lumrah”. Akan terlihat “basi” jika tidak menjunjung “harga diri” dan tidak bisa menjaganya dengan baik..
Anugerah kecantikan otak akan terlalu “mahal” dan sia-sia jika melebihi porsi dan kodratnya. Akan menjadi kosong tanpa nilai kehidupan jika tidak menjadikannya bermanfaat untuk orang lain.
Anugerah kecantikan pribadi akan menjadi terlalu “polos” tanpa dipoles dengan ”isi” ilmu, pengembangan otak untuk harmonisasi jati diri dan memelihara diri dari jangkauan ”perusak”.

TAKUT MEMILIKI

8:00 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Aku takut MEMILIKI.......karena aku takut merasa kehilangan........
Tajuk singkat bahwa ”merasa kehilangan hanya akan ada bila kita merasa MEMILIKI”, cukup familiar aku dengar. Tapi tidak pernah benar-benar aku mengerti maknanya sebelum aku mengalaminya sendiri. Jargon yang hanya sepintas lalu tanpa arti. Hanya lewat dibenak tanpa pemahaman. Hanya singgah diotak tanpa bekas. Hanya masuk ketelinga tanpa tercerna.
Sehebat apapun teori ternyata akan sia-sia ketika teori itu enggan menjelma dalam nyataku. Selogis apapun teori ternyata akan sia-sia ketika teori itu belum sempat membidikku. Dan ketika teori itu menggeliat memaksaku untuk tidak menyepelekan keberadaannya, aku tersibak oleh realita.
Kala itu, aku benar-benar tak kuasa mengindahkan cedera hanya karena telah merasa MEMILIKImu. Saat itu aku terbenam dalam penyesalan akibat terlalu MEMILIKImu.
Aku pernah memiliki senyummu. Aku pernah memiliki bijaksanamu. Aku pernah memiliki kedamaianmu. Aku pernah memiliki indahmu. Kau pernah membuatku memiliki waktumu. Kau pernah membuatku memiliki hatimu. Kau pernah membuatku memiliki jemarimu. Kau pernah membuatku memiliki langkahmu. Kau berhasil memaksaku untuk memiliki rapuhmu. Kau berhasil memaksaku untuk memiliki belaianmu. Kau berhasil memaksaku untuk memiliki tatapan matamu. Kau berhasil memaksaku untuk memiliki separuh jiwamu.
Aku takut memiliki lagi............Karena kita tak pernah tahu apakah yang termiliki itu akan abadi...........
Aku takut memiliki lagi............Karena aku tahu rasanya melepaskan sesuatu yang pernah sangat termiliki...........

TAKUT MENYAKITI

8:00 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Aku takut mencintai.....Karena aku takut menyakiti.
Aku akan sangat mudah menyakiti, ketika aku mencintai.
Kesalahan kecilmu tak akan menjadi besar, jika aku tidak mencintaimu.
Khilafmu tak akan menjadi apiku, jika aku tidak mencintaimu.
Marahku akan lebih menjadi, jika aku mencintai.
Kerasku akan lebih mengeras, jika aku mencintai.

TAKUT KEHILANGAN

7:58 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Aku tahu rasanya kehilangan. Pengalaman itu membuatku takut akan kehilangan.
Aku baru tahu artinya kehilangan. Arti itu membuatku takut kehilangan.
Seperjalananku hingga kala itu, tak pernah kumerasa kehilangan ”seseorang”. Dan aku merasakan kehilanganmu...............
Akhirnya aku paham makna KEHILANGAN.
Akhirnya aku mengerti esensi KEHILANGAN.
Aku sadar pentingmu setelah aku kehilanganmu.
Aku tersentuh nilaimu setelah aku kehilanganmu.
Aku kehilangan suaramu disela hari-hariku. Aku merindukan itu.
Aku kehilangan setiap marah-marahmu menghadapi kenakalanku. Aku butuh itu.
Aku kehilangan setiap maklummu mendampingi keliaranku. Aku butuh itu.
Aku kehilangan sabar-sabarmu diantara ulahku. Aku inginkan itu lagi.
Aku kehilangan tanganmu yang selalu menguatkanku. Aku perlu itu.
Aku kehilangan semua ekspresimu yang menyertai semua kelakuanku. Aku kehilangan itu.
Pincang karena kehilangan memaksaku tak berani menghadapi kehilangan lagi.....
Limpung karena kehilangan memaksaku tak siap menghadapi kehilangan lagi......