KAU ATAU KEBEBASANKU
8:26 PM Posted In ABOUT CHOICE Edit This 0 Comments »
Kau adalah lelaki pertamaku..........
Banyak bahkan terlalu banyak, peristiwa, kejadian, memori yang tercatat dalam perjalanan kita.
Mengapa terlalu banyak? Karena kau terlalu ”intens” ada disetiap waktuku.
Semua begitu indah pada awalnya, tapi lama-kelamaan kau membuatku ”sesak”. Kau memaksaku untuk tidak bisa bergerak banyak. Kau memenjarakan kemerdekaanku. Kau menyelimutiku dengan proteksimu yang berlebihan. Kau menjerumuskan aku dalam kungkunganmu. Kau menjeratku dalam atmosfer kasih sayangmu. Kau menyebabkan aku kesulitan bernafas. Bernafas untuk sekedar bercengkerama dengan teman-temanku. Bernafas untuk sekedar lepas dari pandanganmu. Bernafas untuk sekejap menikmati keriangan beliaku. Menikmati pergaulanku. Menikmati waktu-waktuku. Menikmati hidup yang pada saat itu memang belum pantas terikat dan belum saatnya diikat.........
Maafkan jika aku harus MEMILIH......Memilih kebebasanku. Memilih menyingkirkan tanganmu. Memilih ketidakterikatanku. Memilih menyingkir dan berlari darimu. Memilih berjuang dalam kesendirian. Memilih melepaskan penjaraku. Memilih membuang semua perlindunganmu. Memilih sakit kehilanganmu untuk memilih senyum kebebasanku.
Aku dan semua orang tahu yang kau lakukan semata-mata karena kau takut kehilanganku. Kehilangan aku seperti yang kau inginkan. ”Hanya yang kau inginkan, tanpa memperdulikan apa yang sebenarnya aku inginkan”.
Kau selalu ”menguntit” langkahku. Kau selalu mencurigai kebersamaanku dengan lelaki manapun, siapapun. Kau selalu takut aku diculik oleh lingkunganku dan mengindahkanmu. Kau selalu takut aku berpindah hati dan mencampakkanmu. Dan akhirnya kau pernah membuatku ”terisolir” dari duniaku, dari teman-temanku.
Aku memang ’liar’. Aku memang ’egois’. Aku memang ’keras’. Dan tipe lelaki sepertimu tak akan bisa menghadapiku. Kau salah memaknai arti kesetiaan. Kau keliru memahamin makna kesetiaan. Kesetiaan bagiku bukan berarti hanya kau satu-satunya lelaki diduniaku. Sama seperti perempuan lain, aku juga bergaul dengan teman lelaki, dan kebersamaanku dengan mereka bukan berarti aku mencoreng kesetiaanku.
Ketakutanmu menyulutkan kecemburuanmu. Kecemburuanmu menyulutkan marahmu. Marahmu menyulutkan emosimu. Emosimu menyulutmu untuk menyakiti dirimu sendiri.
Apapun itu, saat itu aku sudah putuskan untuk MEMILIH.........untuk berpisah..........
Apapun itu kau tetap lelaki pertamaku.........
Lelaki pertama yang memperkenalkan aku pada seluruh dunia sebagai perempuan yang kau inginkan......
Aku tak akan pernah lupa.....Bagaimana kau membawaku dan menceburkan aku pada keluargamu diusia kebersamaan kita yang masih seumur jagung. Terlalu banyak kejadian ’aneh’ dipengalaman percintaanku yang pertama itu.
Apapun itu kau tetap lelaki pertamaku.........
Lelaki pertama yang memberiku mawar. Lelaki pertama yang menggenggam tanganku. Lelaki pertama yang menculikku dari duniaku. Lelaki pertama yang pernah membunuh karakterku. Lelaki pertama yang mengisi jiwaku. Lelaki pertama yang kucaci maki. Lelaki pertama yang membelai rambutku. Lelaki pertama yang mengiringi hari-hariku. Lelaki pertama yang membuatku menangis dan lelaki pertama yang kubuat menangis. Kau memang bukan lelaki pertama yang mencuri hatiku tapi kau adalah lelaki pertama yang sanggup mencuri pikiranku. Kau memang bukan lelaki pertama yang kusuka tetapi kau adalah lelaki pertama yang kusayangi.
Banyak bahkan terlalu banyak, peristiwa, kejadian, memori yang tercatat dalam perjalanan kita.
Mengapa terlalu banyak? Karena kau terlalu ”intens” ada disetiap waktuku.
Semua begitu indah pada awalnya, tapi lama-kelamaan kau membuatku ”sesak”. Kau memaksaku untuk tidak bisa bergerak banyak. Kau memenjarakan kemerdekaanku. Kau menyelimutiku dengan proteksimu yang berlebihan. Kau menjerumuskan aku dalam kungkunganmu. Kau menjeratku dalam atmosfer kasih sayangmu. Kau menyebabkan aku kesulitan bernafas. Bernafas untuk sekedar bercengkerama dengan teman-temanku. Bernafas untuk sekedar lepas dari pandanganmu. Bernafas untuk sekejap menikmati keriangan beliaku. Menikmati pergaulanku. Menikmati waktu-waktuku. Menikmati hidup yang pada saat itu memang belum pantas terikat dan belum saatnya diikat.........
Maafkan jika aku harus MEMILIH......Memilih kebebasanku. Memilih menyingkirkan tanganmu. Memilih ketidakterikatanku. Memilih menyingkir dan berlari darimu. Memilih berjuang dalam kesendirian. Memilih melepaskan penjaraku. Memilih membuang semua perlindunganmu. Memilih sakit kehilanganmu untuk memilih senyum kebebasanku.
Aku dan semua orang tahu yang kau lakukan semata-mata karena kau takut kehilanganku. Kehilangan aku seperti yang kau inginkan. ”Hanya yang kau inginkan, tanpa memperdulikan apa yang sebenarnya aku inginkan”.
Kau selalu ”menguntit” langkahku. Kau selalu mencurigai kebersamaanku dengan lelaki manapun, siapapun. Kau selalu takut aku diculik oleh lingkunganku dan mengindahkanmu. Kau selalu takut aku berpindah hati dan mencampakkanmu. Dan akhirnya kau pernah membuatku ”terisolir” dari duniaku, dari teman-temanku.
Aku memang ’liar’. Aku memang ’egois’. Aku memang ’keras’. Dan tipe lelaki sepertimu tak akan bisa menghadapiku. Kau salah memaknai arti kesetiaan. Kau keliru memahamin makna kesetiaan. Kesetiaan bagiku bukan berarti hanya kau satu-satunya lelaki diduniaku. Sama seperti perempuan lain, aku juga bergaul dengan teman lelaki, dan kebersamaanku dengan mereka bukan berarti aku mencoreng kesetiaanku.
Ketakutanmu menyulutkan kecemburuanmu. Kecemburuanmu menyulutkan marahmu. Marahmu menyulutkan emosimu. Emosimu menyulutmu untuk menyakiti dirimu sendiri.
Apapun itu, saat itu aku sudah putuskan untuk MEMILIH.........untuk berpisah..........
Apapun itu kau tetap lelaki pertamaku.........
Lelaki pertama yang memperkenalkan aku pada seluruh dunia sebagai perempuan yang kau inginkan......
Aku tak akan pernah lupa.....Bagaimana kau membawaku dan menceburkan aku pada keluargamu diusia kebersamaan kita yang masih seumur jagung. Terlalu banyak kejadian ’aneh’ dipengalaman percintaanku yang pertama itu.
Apapun itu kau tetap lelaki pertamaku.........
Lelaki pertama yang memberiku mawar. Lelaki pertama yang menggenggam tanganku. Lelaki pertama yang menculikku dari duniaku. Lelaki pertama yang pernah membunuh karakterku. Lelaki pertama yang mengisi jiwaku. Lelaki pertama yang kucaci maki. Lelaki pertama yang membelai rambutku. Lelaki pertama yang mengiringi hari-hariku. Lelaki pertama yang membuatku menangis dan lelaki pertama yang kubuat menangis. Kau memang bukan lelaki pertama yang mencuri hatiku tapi kau adalah lelaki pertama yang sanggup mencuri pikiranku. Kau memang bukan lelaki pertama yang kusuka tetapi kau adalah lelaki pertama yang kusayangi.