MATA..HATI

8:36 PM Posted In Edit This 2 Comments »
Harusnya, kita sepaham untuk tidak sepaham lagi
Mestinya, kita sepakat untuk tidak sepakat lagi
Benarnya, kita sehati untuk tidak sehati lagi
Bijaknya, kita seiring untuk tidak sejalan lagi
Baiknya, kita seiya sekata untuk tidak bersama lagi

Tapi kenyataannya kita masih enggan berjarak
Tapi kenyataannya kita masih malas berpisah
Tapi kenyataannya kita masih bodoh berpikir
Tapi kenyataannya kita masih sendu berhati
Tapi kenyataannya kita masih buta melihat

Suatu saat mata kita harus mengesampingkan hati
Suatu saat hati kita tak lagi harus bermata
Suatu saat mata kita tak juga harus berhati

Aku yakin ada saatnya kita menyerah
Aku tahu ada waktunya kita tersadar
Aku mau ada masanya kita membuka mata

Bahwa kita adalah dua....yang tak pernah bisa menjadi satu
Sekalipun kita satu hati dihati kita yang satu

Bahwa kita adalah beda....dimata semua mata
Karena seluruh dunia memiliki mata

BERMUSUH REALITA

8:35 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Aku mencintaiku realitaku
Aku mensyukuri realitaku
Aku menerima realitaku

Aku selalu bersahabat dengan realitaku
Aku berusaha berlapang dengan realitaku
Aku bergerak mengikuti realitaku

Tapi kini kurasakan realita mentertawakanku
Tapi kini kurasakan realita ingin menyudutkanku
Tapi kini kurasakan realita begitu senang mencandaiku

Sekarang kumerasa realita mengajakku bermain
Sekarang kumerasa realita mau mengadudombaku
Sekarang kumerasa realita mulai MEMUSUHIKU

PERBEDAAN YANG MENGISI

8:30 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Realitamu yang mudah ”anxios” justru terkadang berperan sebagai “anxiolitis” untukku
Realitamu yang nampaknya mudah rigor dan tremor terkadang mampu melisis konvulsiku
Realitaku yang mudah tereksitasi justru terkadang dpt memperindah peristaltik nafasmu
Realitaku yang kaya adrenalin malah terkadang mampu memperlancar sirkulasi darahmu

Kau dapat melarutkan trombiku
Aku dapat menjadi habituasi untukmu
Kau dapat melemahkan sifat karsinogenku
Aku dapat meluruskan desorientasimu

Kau bersifat tegas dihal mana aku tak pernah sanggup tegas
Dan aku bisa tegas dihal mana kau tak pernah mampu tegas

Karaktermu lemah dihal-hal yang aku selalu kuat
Dan karakterku lemah dihal-hal yang kau mampu kuat

Kau jenius disisi hidup yang aku selalu tak bisa pandai
Dan aku jenius disisi hidup yang kau tak pernah bisa pandai

HARAPAN YANG SINIS

8:29 PM Posted In Edit This 1 Comment »
“Akan selalu ada harapan selama kita berusaha”
Kalimat itu sering kali tertangkap telingaku

”Akan selalu ada harapan selama kau bersabar”
Kalimat petuah yang tak asing singgah dibenakku

“Tak ada yang tak mungkin didunia ini”
Kalimat singkat yang menyingkirkan pesimistis

Kini…....
Kalimat-kalimat cantik itu tak lagi kurasakan bersahabat
Kalimat-kalimat elok itu tak lagi kunilai menyejukkan
Kalimat-kalimat bijak itu tak lagi mau kuajak bermesraan

Sekarang........
Kalimat-kalimat sederhana itu menjadi kalimat yang sangat rumit
Kalimat pengharapan itu menjadi enggan membangkitkanku
Kalimat-kalimat manis itu menjadi begitu sinis terhadapku

OPTIMISTIS YANG KELIRU

8:28 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Ketika aku pasrah.......itu tandanya aku berserah
Ketika aku ”diam”.......aku diselimuti temaram
Ketika aku statis.......mungkin aku ingin mengalah

Ketika mataku bersinar......itu berarti aku optimis
Ketika kakiku menghentak.....itu berarti aku selalu berharap
Ketika jiwaku menggeliat......itu berarti aku ingin giat

Namun……
Saat takdirku terasa begitu bergerak lambat
Saat tanganNya masih ingin menguji kekuatanku
Saat pencerahanNya masih enggan membuka tabir abu-abuku

Optimisku membuatku tak ingin diam, dan kini membuatku bungkam
Optimisku membuatku semangat, dan kini membuatku rehat
Optimisku membuatku tak ragu, tapi kini membuatku termangu
Optimisku membuatku bersinar, tapi kini membuatku layu

Apa yang salah dengan optimisku.......
Apa yang keliru dengan optimisku.......

CITA-CITA YANG SERAKAH

8:27 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Hmm, cita-cita adalah mimpi……
Mimpi adalah cita-cita…..

Cita-cita yang serakah? Wajarkah?
Sangat wajar untuk suatu masa yang masih terlalu gagap untuk menentukan
Cita-cita yang serakah? Bolehkah?
Sangat boleh untuk suatu usia yang masih dini untuk paham kehidupan

Aku begitu memuja cantiknya bunga-bunga…...
Mimpiku kala itu pun melambung tinggi : ingin memiliki perkebunan bunga yang indah semerbak, luas membentang, elok mempesona…..Hidup dengan bunga dan membungakan hidup, hidup dengan keharuman dan mengharumkan hidup……

Aku begitu menyukai fashion……
Mimpiku kala itu pun menjulang tinggi : ingin menjadi seorang desainer sukses, yang tak hanya “merubah” orang dengan caraku, tapi juga menciptakan rasa percaya diri pada semua orang dengan “performance” hasil rancanganku. Dengan percaya diri, manusia dapat menghargai dirinya, dengan menghargai dirinya maka manusia akan dapat membangun dirinya…..Suatu rentetan pencapaian yang mulia……

Aku begitu senang menari……
Mimpiku kala itu pun melayang tinggi : ingin menjelma sebagai penari profesional. Menari di”stage” yang maha megah, menggerakkan tubuh dengan kebebasan yang cantik, dikagumi para penikmatnya dan dipuja para penontonnya. Menghidupkan hidup dengan melentikkan jari-jemari sesuai alunan musik, dengan liukan tubuh yang genit mencandai setiap nada, dengan rangkaian ekspresi laksana bunglon menyelimuti suasana, dengan kecentilan tubuh yang elegan mengikuti kata hati, dengan hentakan kaki yang lembut tapi dinamis mengiringi melodi.

Aku begitu ingin keliling dunia.......
Mimpiku kala itu pun membumbung tinggi : ingin menjadi seorang diplomat, atau entah bidang pekerjaan apa dan jalan hidup apa saja yang penting bisa mengantarkan aku berwisata keseluruh dunia, mungkin seorang biologist, pemandu wisata atau ahhh saat itu yang terbayangkan hanya tak mau melewatkan dan ingin menikmati setiap lekuk tubuh bumi yang diciptakan tangan Tuhan dengan cantik. Modal utamaku saat mimpi itu terjahit adalah hasrat keingintahuanku yang tinggi, bakat petualanganku yang besar, keliaranku yang terisolir, jiwa penjelajahku yang gatal untuk selalu mencari sesuatu baru, dan ingin mengembangkan kemampuan ”adaptasi”.

Aku begitu suka menulis meskipun tak pandai menulis……
Mimpiku kala itu pun merangkak tinggi : ingin menjadi seorang penulis yang selalu ditunggu setiap hasil karyanya, penulis jenius yang misterius. Tak hanya menulis cerpen, novel dan berbagai jenis tulisan lainnya tapi juga ingin mejadi seorang penulis skenario film! Hmm, untuk yang satu itu aku mengandalkan naluri karakterku yang berwarna-warni, tawa dan tangis, sedih dan bahagia, senyum dan airmata, semuanya akan menjadi kombinasi unik yang manis dan romantis, menarik dan fantastik, menggelitik tapi heroik, logis dan bukan mistis, perjuangan yang menawan, manusiawi dan rasional. Meskipun saat itu aku pemimpi tapi aku tak akan menulis mimpi, tak akan menjual mimpi....Yang akan aku goreskan adalah cerita yang tak akan kujauhkan dari kehidupan nyata berdasarkan khayalku yang riil, daya imaginasiku yang membumi, semua yang tertangkap pancainderaku, semua pengalaman yang menggetarkan hingga mimpiku saat itu adalah menggetarkan setiap hati yang ”hidup”......dengan tulisanku.

MIMPI YANG RAMAH

8:27 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Dulu…..aku bermimpi ingin menjadi wanita mandiri
Dan mimpi itu ramah menggapai nyataku......

Dulu…..aku bermimpi tak pernah mau jadi benalu
Dan mimpi itu ramah menyelimuti kiniku

Dulu......aku bermimpi menjadi putri yang tangguh
Dan mimpi itu tak lagi ramah menghampiriku

Dulu......aku bermimpi menjadi perempuan yang kokoh
Dan mimpi itu tak lagi sepenuhnya ramah menyentuhku

Dulu......aku bermimpi ingin menjadi makhluk ”manis”
Dan mimpi itu tak sepenuhnya ramah memelukku lagi

MIMPI YANG RAMAH

8:27 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Dulu…..aku bermimpi ingin menjadi wanita mandiri
Dan mimpi itu ramah menggapai nyataku......

Dulu…..aku bermimpi tak pernah mau jadi benalu
Dan mimpi itu ramah menyelimuti kiniku

Dulu......aku bermimpi menjadi putri yang tangguh
Dan mimpi itu tak lagi ramah menghampiriku

Dulu......aku bermimpi menjadi perempuan yang kokoh
Dan mimpi itu tak lagi sepenuhnya ramah menyentuhku

Dulu......aku bermimpi ingin menjadi makhluk ”manis”
Dan mimpi itu tak sepenuhnya ramah memelukku lagi

MESIN WAKTU

8:26 PM Posted In Edit This 1 Comment »
”Ah, andai waktu kuasa kutarik balik.......”
Suatu pengandaian konyol yang klise

”Ah, andai waktu dapat kuminta berdiskusi......”
Suatu pengharapan semu yang ’unriil’

”Ah, andai waktu dapat kuhentikan sejenak......”
Suatu khayalan lucu yang kekanakan

”Ah, andai waktu bisa kupanjangkan dalam sehari......”
Suatu perumpamaan bodoh yang mewabah

”Ah, andai waktu sanggup kuajak berkompromi......”
Suatu mimpi tolol yang masih saja kuharapkan

Terkadang......
Merasa ingin membodohi diri karena pernah siakan waktuNya
Merasa terlalu sedikit yang tergapai dikiniku
Merasa seharusnya banyak yang sudah teraih dikiniku

DIAN YANG BERDEBAT

8:24 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Keinginan dan kenyataan tak selalu dapat kita atur untuk sejalan
Mimpi dan fakta tak pernah mampu kita paksakan untuk bercumbu
Harapan dan realita tak selalu sanggup berteman karib
Logika dan hati tak selamanya bisa bergenggaman

Saat perbedaan pendapat tak lagi menjadi sesuatu yang indah
Saat perbedaan kemauan menjadi sesuatu yang menakutkan
Saat perbedaan persepsi sudah mulai mengiris-iris
Saat perbedaan pandangan sudah mulai menyakitkan

Jika sikap dan ucap tak lagi seiya sekata
Jika hitam putih sudah bercampur aduk
Jika api masih menyala ditengah air yang mengalir
Jika bara masih membara diterpaan salju yang sejuk

Ketika pikiran selalu berdebat dalam mengambil tindakan
Ketika perasaan selalu berdebat dalam menentukan
Ketika tangan selalu berdebat dalam menyentuh
Ketika kaki selalu berdebat dalam melangkah

Dan perdebatan itu akan tetap menjadi PERDEBATAN sengit
Bila tak ada yang mau MENGALAH...........

DILEMA

8:24 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Waktu ternyata berjalan terlalu cepat dari yang kukira
Waktu ternyata berputar lebih dinamis dari yang kubayangkan

Tapi aku…….
Aku masih terpaku dalam sebuah dilema
Dilema yang ingin kuakhiri namun belum lagi kumampu
Dilema yang ingin kusudahi tapi belum juga kusigap

Tapi kini........
Kenapa aku harus berjibaku dengan kepasrahan yang tak seharusnya kulakukan
Kenapa aku harus berjibaku dengan kekalahan yang sebenarnya tak kuinginkan
Kenapa aku harus berjibaku dengan sikap mengalah menghadapi keadaan

Seharusnya aku........
Mampu melawan kelemahan hati yang sedang asyik menggoda
Mampu keluar dari kesalahan yang kerap berulang
Mampu bangun dari keterpurukan situasi yang tak menyehatkan

Terkadang aku ingin kepalaku selalu dalam posisi ”berisi”
Tapi terkadang aku juga ingin mengosongkan semua isi kepalaku

Terkadang aku ingin menyibukkan jiwa ragaku
Tapi terkadang aku begitu ingin melepaskan semua kerapatan

Terkadang aku ingin memenuhi hariku dengan padat
Tapi terkadang aku ingin membuang semua kepenatan

Terkadang aku ingin bersahabat dengan kenyataan
Tapi terkadang aku terpaksa menolak kenyataan itu

ASA SEMU

8:23 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Kaki ini kebingungan melangkah.........
Tangan ini kebingungan meraih..........
Wajah ini tak jelas menoleh.........
Mata ini tak jelas menatap..........

Andai saja.....Andai saja.....Andai saja......
Terlalu banyak perandaian yang hanya membuang waktu
Tak sedikit perandaian yang hanya membuang energi

Sebenarnya…….
Tidak sepantasnya hidup disiakan dalam kesemuan
Tidak seharusnya tenggelam dalam keabu-abuan
Tidak selayaknya bergumul dalam ketidakpastian
Tidak semestinya bergulat dalam keragu-raguan

Teori-teori fisika akan tetap menjadi sesuatu yang pasti
Tapi tidak dengan hidup.........
Akan selalu ada yang semu dari yang nyata

Rumus-rumus kimia lebih suka berwujud menjadi sesuatu yang rigid
Tapi tidak dengan hidup.........
Akan selalu ada abu-abu diantara hitam dan putih

Perhitungan matematis akan tetap menjelma menjadi sesuatu yang baku
Tapi tidak dengan hidup.........
Akan selalu ada redup diantara gelap terang

PERSIMPANGAN

8:21 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Aku berada dipersimpangan............
Ketika hatiku yang selalu kusetting tegar tiba-tiba menjadi ”rapuh”.
Hati yang selalu kubangga-banggakan sebagai hati yang ”eksklusif”....Hati yang selalu aku yakini sebagai hati yang ”kokoh”....Hati yang selalu aku sumbarkan sebagai hati yang kuat. Hati yang selalu aku gadangkan sebagai hati yang tegas....Hati yang selalu kubangun sebagai hati yang ”berkelas”.....Kini hanya bisa terpaku dan terkakukan oleh situasi dan keadaan dalam makna sebuah PERSIMPANGAN.

Persimpangan yang membuatku tak bergerak maju
Persimpangan yang menjebakku tergerus waktu
Persimpangan yang menyungkurkanku untuk termangu
Persimpangan yang terkadang memintaku untuk berpacu
Persimpangan yang terpaksa memaksaku menelan pil pahit

KERAPUHAN AKUT

8:21 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Kau membentangkan waktumu untukku tanpa batas
Waktumu yang tak pernah kikir untuk menyelimutiku

Kau mengucurkan perhatian disetiap dahagaku
Perhatian yang membuatku akhirnya teradiksi adamu

Kau memanjakanku bak seorang putri
Putri yang terlarut dalam pujianmu

Kau mencerna setiap metabolismeku bak pualam
Pualam yang terbuai dalam belaianmu

Kau membanjiriku dengan lambaian puitismu
Puitis yang terpena disukmaku tanpa tersortir

Semoga ini hanya kelalaianku yang akut
Akut yang tak kuinginkan menjadi kronis
Semoga ini hanya kelengahankuyang akut
Akut yang tak kuharapkan menjadi kronis
Semoga ini hanya kerapuhanku yang akut
Akut yang harus kuhindarkan menjadi kronis

INERT

8:20 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Otakku terkadang tiba-tiba menjadi ”inert”
Logikaku terkadang tiba-tiba menjadi beku
Langkahku menjadi sering membutuhkan katalisator
Daya tangkapku menjadi tak sekokoh ikatan hidrogen

Aku menjadi kerap bertindak ”inert”
Aku menjadi mudah jatuh
Aku menjadi sering keluar dari strukturku
Aku menjadi lamban bergerak

Aku bagaikan konfigurasi molekul yang tidak menuruti aturan oktet
Aku bagai unsur kimia dengan keelektronegatifan yang keluar dari skala pauling
Aku bagaikan kation yang selalu kehilangan elektron
Aku bagai basa bronsted lowry yang enggan menerima proton

Aku seperti sistem orbital atom yang selingkuh dari prinsip aufbau
Aku seakan-akan reaksi eksoterm yang harus saja melepaskan energi
Aku seperti asam bronsted lowry yang selalu kehilangan ion hidrogen
Aku seolah dipol-dipol yang yang berantaraksi tanpa tunduk pada gaya van der waals

Hanya kekuatanNya yang masih membuatku masih tegak, meski sering terperososk
Hanya kasihsayangNya yang membuatku tetap kokoh, walaupun acap aku terseok
Hanya kebaikanNya yang membantuku tetap gigih, meskipun sering aku menyerah
Hanya peganganku yang membantuku masih tangguh, walau tak jarang terkoyak

FRIABILITAS HATI

8:18 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Entah mengapa airmata ini menetes lagi.......

Apa salah jika bayang-bayangnya masih menguntit diotakku
Meskipun tak secuilpun aku mengharapkannya lagi
Apa salah bila aura dan kepribadiannya masih mendekap sisiku
Walaupun tak pernah hilang dan memudar kebencianku padanya
Apa salah bila kelembutannya masih terngiang diruangku
Sedangkan tak pernah sedikitpun terkikis kekecewaanku padanya

Aku yang membuang dirinya tapi aku juga yang meratapi kebodohannya
Aku yang melempar dirinya namun aku juga yang menyesali keadaan kita

Yang kutahu aku hanya berusaha konsisten dengan kerasku.....saat itu
Yang kumau aku hanya ingin mendepaknya dan memakinya.....saat itu

Kini, aku berdiri tegak dengan mengangkat daguku
Kini, aku bahkan nyaris tak ingin mengingatnya lagi

Tapi entah mengapa setiap namanya tiba-tiba muncul, memoriku kembali menerawang
Tapi entah mengapa setiap situasi yang mengkondisikan sosoknya melintas, memaksaku terhanyut

MY LIFE

10:29 AM Posted In Edit This 1 Comment »
Hidupku kini adalah mengalir……Natural tapi terkadang artifisial. Sederhana tapi terkadang kompleks. Kehidupanku adalah pembelajaranku. Pembelajaranku adalah pengalamanku. Pengalamanku adalah kisahku. Kisahku adalah perjalananku. Perjalananku adalah jatuh dan bangunku. Jatuh dan bangunku adalah warnaku. Warnaku adalah tawa dan sedihku. Tawa dan sedihku adalah ekspresiku. Ekspresiku adalah karakterku. Karakterku adalah kekuatanku. Kekuatanku adalah ketegaranku. Ketegaranku adalah keceriaanku. Keceriaanku adalah pencitraanku. Pencitraanku adalah kedinamisanku. Kedinamisanku adalah pelangiku. Pelangiku adalah langkahku. Langkahku adalah kepercayaan diriku. Kepercayaan diriku adalah kemampuanku. Kemampuanku adalah pengetahuanku. Pengetahuanku adalah ilmuku. Ilmuku adalah otakku. Otakku adalah takdirku. Takdirku adalah realitaku. Realitaku adalah kerikilku. Kerikilku adalah sayapku. Sayapku adalah hidupku. Hidupku adalah gelombangku. Gelombangku adalah kerumitanku. Kerumitanku adalah hatiku. Hatiku adalah kelemahanku. Kelemahanku adalah logikaku. Logikaku adalah kebingunganku. Kebingunganku adalah kegagapanku. Kegagapanku adalah kebodohanku. Kebodohanku adalah manusiawiku. Manusiawiku adalah keplin-plananku. Keplin-plananku adalah keraguanku. Keraguanku adalah emosiku. Emosiku adalah egoisku. Egoisku adalah kemauanku. Kemauanku adalah kebebasanku. Kebebasanku adalah kenyataanku. Kenyataanku adalah.....hidupku yang kubiarkan mengalir..........

EUFORIA “LASKAR PELANGI”

10:16 AM Posted In Edit This 0 Comments »
“Laskar Pelangi” !! sebuah kalimat singkat yang cukup fenomenal....Tidak hanya novelnya yang sukses besar, tapi juga ”pengejawantahannya” dalam bentuk karya ”audiovisual” berupa film yang akhirnya juga mendulang sukses yang sama. Keraguan beberapa orang pencinta novel Laskar Pelangi akan kemampuan dan kelihaian sineas Indonesia dalam ”menterjemahkan” dan menuangkan ”arti” serta ”jiwa” yang kental tersurat dan tersirat dalam novel karya Andrea Hirata itu, akhirnya sedikit banyak terbantahkan dengan kesanggupan Mira Lesmana dan Riri Reza ”sang empunya” penggarap film Laskar Pelangi dalam menciptakan sebuah karya film yang mampu menyamai ”skor” karya novelnya yang oleh sebagian orang dinilai ”extraordinary”.

Disebut sebagai novel yang ”tak biasa” karena dinilai begitu ”inspiratif”, menggugah dan menyentuh. Faktanya ternyata memang karya novel tersebut telah sanggup merasuki dan menyentil ”semangat perjuangan”, ”sisi kemanusiaan” dan ”sudut nurani”. Makna yang terukir dalam novel tersebut telah mampu menyihir ”soul” yang kuncup menjadi mekar dengan menyemburkan aroma kebencian pada KEBODOHAN, kebencian akan keterbelakangan dan kemalasan. Kata-kata yang terangkai dalam novel tersebut juga telah mampu menggambarkan esensi dari pengabdian dan ketulusan serta menabur benih pengorbanan dan cinta kasih.

”Booming” novel Laskar Pelangi yang ”diaransemen” dalam bentuk berbeda menjadi sebuah karya film juga telah berhasil dikemas menjadi tontonan yang menarik dan tidak sekedar ”saduran” karena sanggup ”menghidupkan” aura yang tersebar dalam novelnya. Meskipun tidak sepenuhnya dapat mewakili keseluruhan deskripsi yang meluncur bebas dalam kalimat yang tergores dalam novelnya, namun film Laskar Pelangi mampu merepresentasikan inti ceritanya. Kemunculan film Laskar Pelangi disadari telah mampu menyedot perhatian masyarakat yang haus akan tayangan yang edukatif dan inovatif. Terbukti sudah bahwa ternyata kita masih sangat ”lapar” untuk menikmati karya anak bangsa berbobot yang diharapkan dapat meningkatkan bobot setiap penikmatnya. Tokoh dan pemeran-pemerannya yang multiusia juga telah ikut membantu kesuksesan film tersebut, karena ”anak-anak” yang biasanya ”kebingungan” untuk mencari bahan dan objek tontonan dibioskop, kini berbondong-bondong ikut merasakan”kehebohan” Laskar Pelangi.
Antusias yang sangat tinggi dalam menikmati film Laskar Pelangi dapat dijadikan parameter bahwa masyarakat akan dan telah bosan bergumul dengan tayangan tidak bermutu yang jauh dari realitas, berbau imitasi, tidak otentik, destruktif dan tidak rasional.

Kehadiran Laskar Pelangi telah menggiring keingintahuan positif dan memunculkan ”euforia” yang bermanfaat.
EUFORIA Laskar Pelangi menjadi ajang untuk mendengungkan kembali euforia dalam menyelimuti hidup dengan PERJUANGAN.
EUFORIA Laskar Pelangi menjadi arena dan salah satu sarana untuk menghidupkan kembali euforia dalam manciptakan KEBANGKITAN.
Laskar Pelangi diakui dapat menjadi “bengkel” bagi onderdil hati yang penat, menjadi ”rumah sakit” untuk raga-raga yang disfungsi, menjadi ”taman bunga” bagi jiwa-jiwa yang layu, sebagai ”pembangkit” untuk jiwa-jiwa yang sakit, dan sebagai ”langit” bagi pemikiran-pemikiran yang sempit. Tidak hanya itu, karya tersebut juga sanggup menjelma sebagai ”penggugah” bagi orang-orang yang kalah, kalah dalam menghadapi hidup, kalah dalam mematikan keterpurukan, kalah dalam menyikapi cobaan, kalah dalam mentoleransi kerumitan, kalah dalam membasmi kegelapan, kalah dalam memaknai anugerah dan bersyukur, serta kalah dalam mengalahkan setiap bentuk kesulitan.

GORESAN SEPTEMBER

2:16 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Aku tak menyangka akhirnya kesombonganku runtuh juga….Meskipun sedikit, tak banyak….Tapi itu sudah bisa membuatku bernafas lega....Karena aku sudah mulai bisa “menetralisir” pikiranku yang sangat jarang memiliki kemampuan untuk “berkompromi”. Kompromi dengan kenyataan, kompromi dengan keadaan. Kompromi dengan realita yang seolah-olah mengaturku.


Dulu, keputusanku untuk tidak bisa ”berkompromi” dengan kebodohanmu membuatku kehilanganmu selamanya. Aku membatalkan rencana pernikahan kita tanpa suatu kompromi. Aku menghempaskan semua angan kita tanpa suatu kompromi. Suatu kekerasan hati yang berbuah penyesalan. Penyesalan yang sepantasnya memberiku banyak pelajaran. Pembelajaran yang seharusnya tidak dilewatkan dan disia-siakan dengan percuma. Pembelajaran diluar semua teori-teori ”science” yang pernah kukuliti hingga diluar kepala, meskipun sekarang sudah banyak hilang dari memori. Tapi memori tentang kita masih memiliki ”space” yang belum bisa tergusur oleh segala jenis peraturan tentang kebersihan dan ketertiban otak.
Banyak saat, kejadian, peristiwa yang ”melibatkan” kebodohanku yang teramat sangat. Kebodohan yang akhirnya aku jadikan isu dan polemik untuk mulai meragukan ”kepandaian otakku” yang kini sering kupertanyakan, karena ketidakmampuannya dalam ”memfilter” apa yang harus dan tidak harus aku lakukan. Apa yang pantas dan tidak pantas aku lakukan.
”Kau” aku masih suka memanggilmu dengan sebutan kau bukan ”Dia”.
”Dia” adalah kata yang kugunakan untuk dia-dia yang ”tak sengaja hadir” dan ”kuhadirkan” untuk menggantikan posisimu. ”Dia-dia”, Jamak? Iya. Karena tidak hanya ada satu dia. Tapi kejamakan itu masih saja membuatku ”gagu” untuk dapat membunuh keangkuhanku. Keangkuhanku untuk bisa ”mentolerir” dia-dia yang tak sesempurna dirimu.
Sempurna? ”Tak pernah ada manusia yang sempurna”, suatu ungkapan klise yang sering memancing kita untuk menjadi orang bijak ditengah ”kebijakan” yang sering tak bisa seiring sejalan dengan ”nafsu”. Nafsu untuk hanya mendapatkan ”kesempurnaan” dalam kacamata manusia, norma, lingkungan, persepsi, budaya, tradisi dan nilai kepatutan sekumpulan ekosistem tempat kita hidup, bernafas, bersosialisasi dan berinteraksi.
Penilaian ”Kau yang sempurna” seharusnya kujadikan bahan ujian yang dapat membuatku ”naik kelas” dalam realistis hidup, karena sesungguhnya kau juga begitu tidak sempurna dengan bukti dan fakta yang menganga tentang ketololanmu yang tidak bisa ”berkompromi” dengan diriku yang kala itu hanya mengagumimu dan membutuhkanmu. Kekagumanku dan pemujaanku akan kebaikanmu yang berhasil dianalisa oleh laboratorium hatiku memberikan hasil kadar sempurna 100% ternyata BELUM cukup mampu memunculkan ”hasrat” untuk mencintaimu. BELUM adalah kata yang tepat, karena ”hasrat” itu aku yakini pasti akan tumbuh subur jika kupupuk dan kusirami dengan ”rajin”. Sesaat itu aku menjadi begitu membenci satu kata. Yaitu ”cinta”. Kata yang kau tuntut aku ucapkan untukmu hanya SEKALI saja. Sekali untuk selamanya. Entah kenapa diriku mesti terlalu jujur untuk tidak mau mengungkapkan kata yang belum kuyakini betul eksistensinya. Kata yang begitu sombongnya aku simpan rapat dan aku jaga untuk tidak mudah keluar dari bibirku. Aku terlalu sering menggunakan kata BODOH untuk menggambarkanmu dalam ”perkara” yang satu ini, tapi sesungguhnya aku juga memiliki kebodohan yang sama denganmu ketika aku tak mau mengobral kata cinta mengapa juga air mata terlalu mudah mengalir setiap menyadari kehilanganmu. Rapuhku melawan setiap bentuk emosi yang tersenggol sensitivitas hatiku dalam memaknai kepergianmu yang mungkin telah kelelahan menghadapiku.


Dia yang pertama adalah dia yang hadir setelah kau terbang oleh angin kehidupan. Dia yang bukan orang asing untukku. Dia yang pernah satu keluarga denganku dalam konteks ”alumni sekolah”. Dia yang ramah dan menyenangkan. Dia yang kocak dan menggelitik. Dia yang supel dan penghidup suasana. Dia yang “smart” dan “cerah”. Suatu deskripsi yang cukup mempesona. Tapi kehadirannya yang TEPAT setelah kepergianmu membuatku selalu menjadikan kau sebagai pembanding. Meskipun beberapa “kriteria”ku telah jelas menempel pada dirinya.
Saat itu bayang-bayangmu masih terlalu “kental” menghinggapiku, hingga mejadikan dirimu “kiblat” dan “parameter” pria yang layak dikasihi. Bahkan mampu menodai dan merancukan pemahaman sikap “subjektivitas” dan “objektivitas” dalam menilai dia. Aku masih belum sanggup mengencerkanmu dalam cairan otakku dan mengikiskanmu dalam setiap neuron sarafku. Saat itu aura indahmu masih mengkabuti ruang pikiranku dalam konsentrasi tinggi.
Semua mata yang melihat “bahasa tubuh” dia dalam “hadir” dan “menyusup” dihidupku memaknainya dengan arti yang seragam. Arti suatu pengharapan untuk dapat menyelinap dan masuk dalam rongga-rongga hampaku. Semua waktunya yang dia sisihkan untukku. Semua perhatian yang dia curahkan dalam setiap hari-hariku. Semua tentang “semua” yang dia lakukan telah memancingku untuk “menerawang” hatiku. Hasilnya : dia hadir memberi “hidup” baru, tapi belum sanggup sedikit saja mematikan hidupmu dikepalaku. Sangat tidak mungkin mematikan sosokmu dihidupku, aku tak bisa dan belum bisa menemukan lelaki yang sanggup mematikanmu, karena itu aku hanya butuh yang SEDIKIT saja bisa membantu usahaku dalam “menyicil” proyekku untuk menipiskanmu dalam langkahku. Kugunakan alasan beragam untuk memberikan penjelasan pada orang-orang terdekatku untuk memahami penyebab kepergian “dia” yang mungkin letih menyerbu hatiku dengan hatinya, yang sesungguhnya tak pernah “tersurat” jelas dalam kalimat meskipun sangat jelas “tersirat” dalam sikap.


Dia yang kedua adalah “dia” yang kusimpan rapih dalam cerita hidupku. Disimpan untuk dihilangkan dan dihapus secara perlahan namun pasti. Hanya “terukir“ dalam tulisanku. “Kekosongan”ku yang nyata saat itu menyebabkan “dia” bisa masuk dalam hidupku dengan mudah. Apalagi “dia” yang memang “menarik” juga lagi-lagi bukan orang asing bagiku. “Dia” mengulurkan tangannya dengan hangat ditengah kejenuhanku bergumul dalam “performance”mu yang semu. Bahkan “dia” dengan sangat “gamblang” menyatakan keinginannya untuk menjadi orang “terpenting” dalam hidupku.
Dunia yang berhubungan dengan “kata yang pernah kubenci” kembali tidak berpihak padaku ketika kenyataan memaksaku untuk melepaskanmu dalam “bongkahan” prinsipku yang tak ingin menyakiti sesosok wanita yang ternyata telah lebih dulu hadir menemanimu meskipun belum terikat. Padahal realita yang ada saat itu adalah aku merasakan makna kehadiran “dia” telah nyata mengisiku dengan suatu pertanda yang baik yaitu menerima indahnya dengan mulus tanpa membandingkan dengan indahmu. “Kriteria”ku juga telah ”otentik” terformasi dalam sosok “dia”. Tapi egoku kali ini terkalahkan oleh suatu “etika” dalam menempatkan hati.
Aku lagi dan lagi harus berjibaku dengan satu kata ”melepaskan”. Harus ”melepaskan”. Karena aku tidak ingin menjalin ”relationship” dalam bentuk apapun dengan orang yang telah berhasil mencuri hatiku.


Dia yang ketiga adalah ”dia” yang asing. Satu-satunya kata “dia” yang merupakan orang “asing” dalam hidupku. Dia yang sangat jauh dari ”kriteria”ku. Tidak satupun dari penampilannya yang ”menarik”. Yang MENARIK perhatianku justru karena ”dia” dapat memberiku banyak ”peluang” untuk melancarkan aksi dan kebiasaan burukku dalam ”mencaci” orang dalam konteks yang tentu saja kuselimuti dan kusetting ”bercanda” tapi ”bicara fakta”.
Gairah nakalku dalam menjatuhkan orang lagi-lagi menjadi ter”ekspose” ketika semua yang ada pada sosok dirinya ”memancing” untuk itu. Begitu banyak objek dan ”bahan” yang menempel pada ”dia” dapat aku cetuskan dan kusaranakan untuk melancarkan proyek ”hina dina” tak lebih dalam rangka ”kepuasaan”ku, menggelak tawaku sendiri atau sekedar menghilangkan penatku. Anehnya tindakan ”penghinaan” yang kadang-kadang menjadi kegiatan biasa untukku menjadi suatu ”tradisi” ketika berinteraksi dengan dia yang nampaknya juga sangat ”pasrah” dengan ”penjatuhan” dirinya. Nampaknya ”dia” yang ini memang ”dia” yang murni menarik perhatianku justru karena ”asing”nya dan ”image” dirinya yang sangat mudah untuk DIANIAYA. Kegemaranku ”menonjok” orang tidak akan terakomodasikan bila tidak berhadapan dengan “korban” yang “strategis”. Dan ”dia” adalah sosok yang teramat asyik untuk kupaksa ”berkaca”. Nampaknya aku begitu senang memaksa orang seperti ”dia” untuk ”berkaca” untuk menutupi diriku yang juga memang sangat malas ”berkaca”.
Entah apa yang membuat “dia” yang masih “orang baru” dalam “list” temanku menjadi “seru” untuk ”kusentil”. Mungkin karena memang sejak pertama kali bertemu ”dia” begitu gampang dibuat ”kikuk”, dibuat ”bungkam” tapi ingin ”teriak”, ”diam” atau sekedar ”menahan” tapi terkadang ”berontak”, campuran ekspresi yang ”bodoh” itu yang kusuka meskipun akhirnya aku tahu ”dia” bukan orang yang ”kosong” otak. Tapi toh kepuasanku terkadang tersalurkan tatkala melihat makhluk ”pria” kubuat ”speechless” dan menyerah kalah.
Perjalanan waktu memaksaku untuk kehilangan satu persatu ”teman” berbagi. Kehilangan karena kodrati. Dimiliki atau Memiliki. Dua pilihan itu telah mengantarkanku secara alamiah dipaksa untuk kehilangan ”teman”. Dan dia ”tiba-tiba” terbidik untuk kujadikan sasaran ”keluh kesah”ku meskipun awalnya ”gambling” untukku, apakah ”dia” dapat menjadi ”oknum” yang kubutuhkan itu.
Dia yang awalnya hanya kujadikan ”objek penganiayaan” malah berdwi fungsi menjadi ”tong sampah”ku ketika ingin bercerita tentang ”hidup”. Kesenangan berbagi, terbahak, atau sekedar ”rewind” atau ”recollect” kisah diri yang jika terluncur dari mulut dan kepalaku tak akan bisa cukup untuk kujadikan novel hingga puluhan jilid.
Dia dapat menjadi ”pendengar” yang baik yang mampu ”menyamai” posisi temanku yang sudah lebih dulu dan lebih lama menjadi pendengar setiaku. Dan ketika posisiku kini terkadang dituntut dan tertuntut untuk menjadi pendengar untuk mendengarkan temanku maka aku membutuhkan pendengar yang lain untuk mendengarkanku. Kau adalah ”orang asing” yang tak sengaja ”muncul” namun memberikan ”ide” untukku agar dapat kuformat menjadi teman baruku ditengah kelangkaan teman yang kadang kubutuhkan.
Ternyata sosok yang awalnya akan kujadikan ”mainan” baruku ternyata tak sepenuhnya hanya bisa dijadikan ”objek”. ”Dia” ternyata menjadi sosok yang lumayan ”berisi” dengan pola pemikirannnya dan bahan pembicaraannya yang cukup renyah untuk aku ”tindaklanjuti”. Tak butuh waktu lama untukku dapat merasa ”terkoneksi” dengan ”dia”. Meskipun begitu banyak ”polaku” yang sangat tidak sejalan dengan ”polanya”. Justru dengan perbedaan itu dapat terlihat sisi penyikapan yang lain, yaitu ”menghargai perbedaan” itu. Meskipun terkadang aku tetap selalu ”protes” jika ”kebiasaan buruknya” mulai menggangguku atau menggelitikku untuk tak bisa ”diam”. Kebiasaannya memang sangat banyak yang tidak ”masuk” dalam kewajaranku, dan ”dia” cukup demokratis meskipun lebih sering tak peduli. Kenyataannya ”cerewetku” yang notabene untuk kebaikannya sendiri itu hanya terbang melayang tanpa sempat sebentar saja singgah ditelinganya.
”Dia” tak memiliki kesulitan untuk dapat menangkap sinyal lincahku dalam berdebat dan berargumen dalam banyak ”wacana”. Bahkan terkadang wacana itu menjadi lebih luas dan ”beragam” dari yang biasa terangkat dalam acara ”gossip”ku dengan teman-temanku. Dia bisa menjelma menjadi ”recorder” jejak langkahku yang terkadang tak bisa ”menggelinding” dalam obrolan dengan teman-teman kantor. Cetusannya dapat segera kusambar dan cetusanku juga dapat dengan mudah dia tangkap. Semua ”topik” dapat dijadikan ”materi” celotehan yang cukup menarik. Suatu interaksi komunikasi yang ”dua arah”, meskipun tak selalu ”searah setujuan” tak selalu ”seiya sekata”. Banyak pertentangan dan kadang ”debat kusir”. Toh, perbedaan-perbedaan itu menggiring kita pada obrolan yang sehat dan dinamis, saling bersilat kata dan kalimat, terkadang menyebalkan tapi terkadang menyenangkan. Satu hal yang pasti adalah bahwa ”dia” dapat memposisikanku sebagai ”manusia” wajar meskipun dengan beribu dan bertumpuk cerita kompleks. Setidaknya ”dia” masih ”tahan” mendengarkan semua cerita-ceritaku yang tidak penting sekalipun. Dia mampu menyikapi setiap keluh kesah dan kebisinganku, meskipun tidak selalu, karena acap kali ”dia” melakukan aksi ”geleng kepala”. Tak jarang keherananmu padaku membuatku merasa menjadi manusia yang aneh ditengah kewajaran, ”kelurusan” dan ”kemudahan”ku dalam sisi kehidupan yang lain. Tapi setidaknya ”dia” cukup mampu menghargai ”pundi-pundi” sisi kemanusiaanku, selayaknya teman-temanku yang sudah lama kukenal dan mengenalku.
Aku hanya memiliki kriteria tunggal dalam memilih teman yaitu ”berisi”, dan ”dia” setidaknya memiliki itu. Mungkin karena usianya yang memang sudah sangat pantas memahami, mengalami, memaknai, mendalami, menjalani dan menyikapi segala sesuatu dengan bijak, meskipun ”bijak” masih belum ”identik” dengannya bahkan masih sangat ”jauh panggang dari api” ketika akhirnya aku tahu masa lalunya.
Aku sempat terhentak dan ingin memcampakkannya dalam daftar ”temanku” saat ”history”nya tercuat. Bagiku pengalaman hidupnya itu terlalu ”mengerikan” dan ”menyeramkan”. Apalagi aku masih ”sangat amat” ALERGI dengan sosok pria ”labil”, sekalipun hanya sebagai teman. Kegagalan ”kelelakiannya” yang terulang hingga dua kali membuatku terperangah dengan sosoknya yang seharusnya sudah pantas menjadi ”imam”. ”Penolakanku” pada ”dia” saling tarik-menarik dengan ”penerimaanku” atas ”kesalahan”. Manusia memang rentan berbuat ”kesalahan”. Dan ”kesalahan” bisa mudah ”dikonsumsi” dan dibuat oleh semua manusia, termasuk aku. Tapi rasanya untuk jenis ”kesalahan” yang ”dia” lakukan, masih sangat rentan ”pencibiran”. Suatu bentuk ”kesalahan” yang sulit diterima sebagian orang. Aku belum bisa menangkap sinyal ”kebodohan”nya mengapa dia bisa ”mengulang” kesalahan. Nampaknya dia termasuk lelaki yang masih mudah diatur ”api” dan belum sigap ”memanage” emosi, padahal usianya sudah cukup tertuntut untuk itu.
Sisi penolakanku memang lebih menonjol bahkan sempat tak ada ”maklum” untuk itu. Tapi pertemanan yang sudah terlanjur berjalan mengalirkan realita untuk tidak membuangnya dan menjadikannya ”kakak laki-laki” yang tak pernah kumiliki dengan ”hitamnya” yang sudah cukup membuat dia ”tersudut” dalam lembah ketidakpercayaan diri. Hal yang terpenting adalah dia begitu menyadari kesalahannya itu. ”That’s the point”. Meskipun tak pernah ada yang tahu apakah besarnya penyesalannya itu bisa dia ”alihkan” dalam bentuk semangat ”pembenahan diri” dan ”pembersihan diri”nya. Padahal sangat berkorelasi antara penyesalan dan penggubahan. Apalah artinya ”penyesalan” tanpa ”perbaikan”. Kalaupun akhirnya aku tidak men”stop” pertemanan dan ”mengalirkan” hubungan, hanya dengan satu harapan bisa berbuat sesuatu buat orang lain yang notabene cukup ”rusak” dimataku. Meskipun aku tidak pernah tahu caranya, karena aku bukan ”ketok magic”. Pada akhirnya aku masih belum cukup ”berani” dan tidak pernah memiliki ”kapasitas” untuk ”membangunkannya”.
Aku selalu dan selalu ”gatal” ingin mengoreksi kehidupannya yang dikacamataku sangat ”weird” meskipun sebenarnya juga SANGAT BANYAK yang aku harus koreksi dari hidupku sendiri. Tapi fakta bahwa aku tak pernah memiliki teman ”seganjil” dia membuatku ingin ”menggenapkannya” menjadi ”lelaki” yang lebih baik meskipun tidak mungkin bisa aku lakukan selama ”dia” hanya berkubang pada ”keminderannya”, bermesraaan dengan ”kesukaannya”, dan berkutat dengan ”keras kepalanya” tanpa bangkit agar bisa sedikit saja mengurangi egonya untuk hanya hidup di ”jalan” yang dia mau tanpa berkompromi dengan orang lain.
Aura ”gelap” dan sedikit ”sesat” yang sempat terukir diawan sosoknya pernah membuat aku ”takut” tapi ternyata justru terkadang membuatku menjadi ”leluasa” untuk bercerita apapun tanpa berpikir tentang ”etika”, ”batasan” atau ”barrier” yang pantas atau tidak untuk aku ”share”. Pribadinya yang ”ganjil” justru membuatku ”bebas” mengemukakan wacana untuk terlempar tanpa perlu ”diedit”. Penerimaan dia yang natural atas naik-turun, sedih-bahagia, jatuh-bangun, airmata-tawaku telah menyicil kedekatanku dengan dia, disadari maupun tidak disadari.........
Sedikit ”perasaan” aneh secara lamban merangkak ketika ”dia” memberikan perhatian lebih dengan meluangkan waktu dan harinya untuk sekedar menemaniku dalam beberapa ”momen”. Aku ingin berpura-pura buta, seperti halnya ketika ”dia-dia” yang lain juga melakukan hal yang sama. Tapi hasilnya memang memiliki ”satu garis” yang sama. Ada sesuatu dibalik perhatiannya. Aku bosan dicap ”pura-pura bodoh”, ”gagap” dan ”lamban” dalam menanggapi ”perhatian” yang diberikan ”lelaki”. Tapi untuk ”perhatian”nya padaku masih belum pantas dan terlalu dini untuk aku ”tafsir” berlebih karena hanya ”ada” ketika aku membutuhkannya. Akupun tahu ”dia’ tidak akan memiliki keberanian untuk keluar dari ”belenggu” yang dia ciptakan sendiri. Kenyataannya ”kakak” sekaligus ’kakek” yang mulanya hanya kujadikan ”tong sampah” INSTAN masih kuanggap teman tanpa pernah menutup pintu untuk kemungkinan apapun yang Tuhan tentukan untukku.
Yang jelas kini dia sudah tahu ”penerimaanku” padanya, dengan ”sedikit” harapan agar ”dia” mau menjadi manusia yang lebih baik. Pemakluman dan penerimaanku padanya merupakan ”indikator” bahwa aku ternyata adalah ”aku” yang tidak lagi menempatkan diriku seperti puteri dinegeri dongeng yang menanti uluran tangan dari seorang pangeran yang SEMPURNA...........

KEANGKUHAN HATI

3:19 PM Posted In Edit This 2 Comments »
Konflik percintaan masa lalu memaksaku untuk tidak mudah percaya tawaranmu.
Kegalauan perasaan yang dulu pernah menyergap mendorongku untuk tak lumpuh oleh rayumu
Kemelut percintaan masa silam menyeretku untuk tidak gampang lumer dengan rajukmu

Aku selalu ingin melihatmu pantang menyerah, tapi aku terlalu angkuh untuk sekedar memberimu kesempatan dihatiku
Aku selalu ingin melihatmu loyal dengan rasamu, tapi aku terlalu angkuh karena tidak memberi kelonggaran untukmu bisa bercokol dihatiku
Sekalipun sikapku seolah-olah menerimamu.....Dalam konteks yang berbeda......
Entah mengapa hatiku dan sikapku sangat rentan untuk saling melawan

Aku selalu tak bosan membanggakan kekuranganku hanya untuk membidik keikhlasanmu
Aku selalu tak ragu menunjukkan kejelekanku hanya untuk menguak kesungguhanmu
Aku selalu tak malu memperlihatkan keburukanku hanya untuk mengukur perasaanmu

Aku berharap bisa mengurangi kadar ”sombong”ku dihati
Agar aku bisa membiarkan kalbuku tersentuh binaran kasihmu
Agar aku bisa menangkap sinyal perhatianmu tanpa menduga hal yang buruk
Agar aku bisa menyerap sinar tulusmu dengan menerimamu dengan tulusku
Agar aku bisa menyehatkan hatiku tanpa berpikir tentang kegagalan dan kegagalan

KECURANGAN HATI

3:18 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Aku selalu menginginkanmu sebagai kau yang menerima diriku apa adanya aku.....Tanpa tendesi untuk merubahku.....Merubahku seperti yang kau inginkan......

Tapi apakah ini yang dinamakan ”curang” ketika aku mengharapkan kau seperti yang aku inginkan.....Menyulapmu menjadi pangeran dari negeri dongeng......Untuk mewujudkan mimpiku......
Tapi apakah ini yang dinamakan ”curang” ketika terkadang aku mengeluh dengan kekuranganmu, sementara kau tidak pernah secuilpun mengeluh dengan kekuranganku.......
Tapi apakah ini yang dinamakan ”curang” ketika aku menginginkan kau peduli pada setiap marahku, tanpa peduli dengan setiap marahmu.......
Tuhan, maafkanlah aku......dukunglah keinginanku untuk memberangus kecurangan hati ini.......

Kesabaranmu yang indah masih belum sanggup menciptakan kekokohan hatiku padamu menjadi sekuat baja.....
Kasih sayangmu yang tulus masih belum bisa menghilangkan dahagaku untuk mengenal dunia yang tak selebar daun kelor.....
Bijakmu yang teduh masih belum berkuasa memenangkan egoku yang tak seramah senyumku......
Lembutmu yang rindang masih belum berkutik mengalahkan keakuanku yang tak segurih tawaku.....

Tapi ada yang tak bisa aku pungkiri......bahwa aku sesungguhnya membutuhkanmu.....Meski belum pernah aku ungkapkan lewat bibirku......
Tapi ada yang tak bisa aku sangkal.......bahwa aku merindukan perhatianmu.......Walau tak pernah terurai lewat mulutku......
Tapi ada yang tak bisa aku ragukan......bahwa aku akan selalu setia.......Jika kelak aku benar-benar telah menjadi milikmu atas nama kesucian penyatuan........

PILIHAN HATI

4:03 PM Posted In Edit This 2 Comments »
Aku ingin memilihmu karena hatimu yang masih ”bersih” dari aroma percintaan. Aku ingin memilihmu karena hatimu yang masih suci dari ”permainan”. Aku ingin memilihmu karena ”formasi” hatimu yang masih utuh. Aku ingin memilihmu karena kesederhanaan hatimu. Aku ingin memilihmu karena hidupmu yang masih jauh dari ”modernitas”. Aku ingin memilihmu karena hidupmu yang ”sepi” kemelut hati. Aku ingin memilihmu karena kemampuanmu untuk membimbingku agar selalu lurus. Aku ingin memilihmu karena hidupmu yang jauh dari keresahan. Aku ingin memilihmu karena kepolosan hatimu. Aku ingin memilihmu karena kesombongan merupakan barang langka untukmu. Aku ingin memilihmu karena harmoni hidupmu yang seimbang. Aku ingin memilihmu karena kecintaanmu pada-Nya.

Aku ingin memilihnya karena hidupnya yang penuh warna. Aku ingin memilihnya karena pelangi hidupnya yang menggoda. Aku ingin memilihnya karena gemerlap hatinya yang merayu. Aku ingin memilihnya karena keromantisannya yang menggelitik. Aku ingin memilihnya karena dunianya yang dinamis. Aku ingin memilihnya karena berhasil mengantongi secuil rasaku. Aku ingin memilihnya karena kesanggupannya mengobati sedihku. Aku ingin memilihnya karena kerenyahannya membuka cakrawalaku. Aku ingin memilihnya karena kepandaiannya mencetuskan tawaku. Aku ingin memilihnya karena kelihaiannya menculik perhatianku. Aku ingin memilihnya karena kebisaannya memberangus sepiku. Aku ingin memilihnya karena kesuksesannya melelehkan kerasku.

Kau atau Dia..........Tak seharusnya mengusikku berbarengan………
Kau atau Dia..........Tak semestinya menggangguku bersamaan...........

KERAGUAN DIUJUNG PENYATUAN

4:02 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Jangka waktu selama 9 tahun kau mengenalku ternyata masih belum membuatmu ’pandai’ untuk memahamiku.......
Lamanya perjalanan pertemanan kita ternyata masih membuatmu ’gagap’ mengerti sifatku.......
Kau seharusnya tahu kekerasan batuku yang bisa muncul kapan saja. Kau semestinya sudah hafal dengan ketinggian egoku yang bisa hadir sesukanya.
Selama 8 tahun aku memang hanya menganggapmu teman, tak pernah lebih. Kau adalah teman yang ”ada” jika aku membutuhkanmu. Ketika aku sedang sedih dan galau. Ketika aku sedang jatuh dan rapuh.

Saat aku membiarkan persahabatan kita berjalan jauh melebihi batas teman. Saat aku membiarkan hatiku tersentuh oleh semua kebaikanmu. Saat kita memutuskan untuk selalu bersama. Saat aku mengizinkan kau untuk ”memintaku” pada orangtuaku. Saat perjalanan kita sudah beberapa langkah lagi berujung diPENYATUAN. Mengapa kau masih saja selalu memintaku untuk sekedar mengatakan satu kalimat bahwa aku mencintaimu.....Suatu pertanyaan bodoh yang anehnya tak pernah mau aku jawab.....Suatu permintaan bodoh yang tak seharusnya lagi kau pinta setelah aku sudah mempersilahkanmu ’bicara’ pada orangtuaku. Suatu pertanyaan yang tak aku pedulikan ditengah skema dan rencana pernikahan yang kau gadangkan untuk kita. Suatu pertanyaan yang selalu aku abaikan.....
Kau membuatku amat kecewa. Aku tak menyangka jika keliaranku membuatmu ragu akan perasaan yang aku punya untukmu. Aku memang tidak pernah membalas semua pernyataan-pernyataan cintamu. Aku memang tidak pernah menanggapi pertanyaanmu yang satu itu. Tapi seharusnya kau tahu kalau pernyataan perasaanku tidaklah menjadi penting setelah aku sudah memutuskan akan mempercayakan sisa hidupku padamu.
Aku memang belum mencintaimu, tapi kau seharusnya bisa membaca rasa ’sayang’ku....Mencintai dan menyayangi adalah dua kata yang berbeda untukku.
Apa salah jika aku belum memiliki ’cinta’ itu. Apa salah menjadi orang yang terlalu jujur. Aku tidak bisa mengatakan kata itu karena aku memang belum memilikinya, tapi aku yakin akan bisa memilikinya untukmu. Sepenuhnya untukmu. Itu janjiku, atas nama surgaku. Karena kau kupilih sebagai penuntun kearah surga-Nya.

Ketika keraguanmu padaku akhirnya ’menular’ pada keluargamu. Aku semakin merasa tersudut. Aku merasa harga diriku sebagai perempuan ”dewasa” telah dihempaskan.
Ketika KERAGUAN tentang penyatuan kita tiba-tiba ”merayap” dikeluargamu, kau seperti manekin culun yang kebingungan.
Ketika KERAGUAN tentang keseriusan kita tiba-tiba ”menghinggapi” keluargamu, kau seperti lelaki yang tiba-tiba kehilangan kelelakiannya.
Ketika KERAGUAN tentang perjalanan kita tiba-tiba ”menghinggapi” keluargamu, kau sekejap itu menjadi boneka tolol yang mudah dikendalikan oleh perubahan ekosistemmu.
Ketika KERAGUAN tentang kemantapan kita tiba-tiba ”menghantui” keluargamu, kau berubah wujud menjadi lelaki terlemah yang berkutat dengan kebodohannya.

Ketika kau memintaku untuk memperjuangkan kita didepan orangtuamu. Seharusnya aku mau membantumu. Tapi kau dan keluargamu telah melukai harga diriku. Harga diri yang kuhargai sangat mahal untuk sekedar mentoleransi keadaanmu yang sebenarnya juga sedang tersudut kala itu. Maaf jika aku tidak menggubris permintaanmu untuk menghilangkan egoku.
Jika kau membaca tulisan ini, kau tentu masih ingat kalimat-kalimat terakhirmu sebelum aku memilih untuk melepaskanmu; tak lebih dari permohonan dan permohonan agar menunjukkan rasaku padamu pada keluargamu, demi KITA.....demi KITA.....demi KITA......
Suatu permohonan terbodoh yang pernah ditujukan padaku.

Keyakinanmu padaku kau suratkan dengan keberanianmu melibatkan keluargaku dan keluargamu dalam rencana-rencana indah dalam otakmu. Rencana indah tapi belumlah rapih. Belum rapih ketika begitu mudahnya keraguanmu padaku muncul ditengah-tengah ”persiapan” kita yang sudah terlalu jauh.
Kau dan keluargamu masih menganggap ”mauku” padamu sebagai suatu ”kompromi”.......
Kau dan keluargamu masih menilai ”iyaku” padamu sebagai keterpaksaan karena waktu dan keadaan.....
Kau dan keluargamu menyangka ”rasaku” padamu tidak cukup kuat dan belum cukup teruji......
Kau dan keluargamu mengira ”hatiku” padamu masih terlalu rapuh dan lemah.......

Keluargamu....Aku tak bisa menyalahkan semua KERAGUAN mereka padaku. Tapi kamu.....Aku tak akan pernah bisa memaklumimu karena MERAGUKAN keputusanku menerimamu.....
Aku memang kekanakan, tapi kau adalah orang TERBODOH didunia yang hanya dapat menaksir keseriusanku sebagai suatu PERMAINAN anak kecil......
Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu bukan karena menyakitiku tapi karena menyakiti orangtuaku......

Ketika ”penundaan” rencana penyatuan kita dianggap sebagai solusi temporari oleh keluargamu, maka ”pembatalan” mutlak aku putuskan sebagai ”final decision”.......Tidak ada kata maaf bagiku atas kejadian itu........

KERAGUAN DIUJUNG PENENTUAN

4:01 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Aku mungkin bisa saja sedikit memaklumi KERAGUANmu padaku.....
Tapi aku sulit memaafkan KERAGUANmu padaku karena muncul disaat yang tidak tepat.....

Kau ”memintaku” pada keduaorangtuaku atas keinginanmu sendiri
Kau ”meminta” aku untuk mendampingi hidupmu selamanya atas kesadaranmu sendiri
Kau ”memohon” aku menjadi milikmu karena hasratmu sendiri
Kau ”memasukkan” aku ke dalam hatimu karena nalurimu sendiri
Kau ”mengungkapkan” rasamu padaku berdasarkan logikamu sendiri
Kau ”mengisi” pikiranmu tentangku atas inisiatifmu sendiri
Semuanya kau yang berperan penuh......Dan memang begitulah semestinya......
Dan ketika keluargamu meragukan kekuatan kita, bukankah kau yang harus menjelaskannya?
Dan ketika keluargamu masih ”gelap” atas perjalanan kita , bukankah kau yang harus menerangkannya?
Dan ketika keluargamu tidak cukup percaya akan keyakinan kita, bukankah kau yang harus meyakinkannya?

Tapi mengapa akhirnya diujung penentuan kita justru kau membebankan keputusan ditanganku?
Tapi mengapa ketika diujung penentuan kita, kau ”meminta” aku untuk memperjuangkan kita?
Disaat aku berpikir bahwa kau seharusnya bisa menyelesaikannya sendiri.....
Ditengah kepercayaanku yang sangat penuh padamu untuk ”menegakkan” kita dengan usahamu sendiri......

Aku sadar pernah meninggalkanmu.....Aku sadar sering melukaimu.....Aku sadar pernah membuangmu.....
Aku sadar sering menyakitimu......Tapi saat itu apa yang harus aku pertahankan dari kita sementara hubungan kita tidak pernah berstatus?
Seharusnya kau tahu kenapa dulu aku ”berjalan” dengan orang lain sebelum setahun terakhir keseriusan kita. Itu bukan karena aku benar-benar ingin pergi darimu tapi karena kau tidak pernah ”gamblang” mengungkapkan hatimu padaku sebelum akhirnya kau ”sanggup” membuka mulutmu untuk dengan jelas menyuratkannya.
Seharusnya kau tahu alasan sebenarnya ketika aku pernah lari dari jangkauanmu dan lari dari perhatianmu. Itu hanya karena aku mencoba untuk ”setia” pada pilihanku saat itu. Lelaki yang lebih ”berwujud”, tidak semu sepertimu. Lelaki yang lebih ”berani” menguraikan perasaannya padaku, tidak pengecut sepertimu. Lelaki yang ”nyata”, tidak ”patung” sepertimu. Apa salah aku memberi ”kesempatan” pada lelaki lain sementara kau tak pernah bisa menggunakan kesempatan yang ada?
Seharusnya kau paham bahwa sikapku yang menjauh dari hidupmu hanya karena aku harus ”loyal” dengan pria pilihanku saat itu. Aku tak pernah bisa untuk ”mendua” ketika aku sudah tegas memilih.
Seharusnya kau tahu mengapa aku ”bersama” dengan orang lain sebelum kau menyatakan ”inginmu” padaku. Itu bukan karena aku tidak menghargai setiap perhatianmu dan semua kebaikanmu, bukan pula karena aku perempuan jahat yang ”suka” mempermainkan perasaan lelaki, tapi aku adalah perempuan yang tak mungkin meraba hatimu sesukaku sekalipun kau menunjukkan lewat sikapmu. Meskipun kau mengganggap aku tahu hatimu tapi aku hanya bisa berpura-pura ”gelap” sebelum kau bisa membuyarkannya.
Kau sendiri yang meyakinkanku bahwa kau menafikan semua masa lalu itu ketika kau memutuskan untuk memilihku.....

Jatuh bangunnya kita adalah suatu perjalanan.......Dan perjalanan itu sepantasnya kau pahami, kau sadari, kau maklumi dan kau yakini sebagai bekal untuk meyakinkan keluargamu, bukan tergoyah oleh pendapat dan opini diluar ”kita” yang tidak tau banyak tentang ”kita”. Hanya kita yang tahu tentang kita. Dan ketika kau tak mampu menjelaskan ”kita”, maka kau kuanggap kalah. ”Kelelakianmu” kunyatakan layak dipertanyakan.

Keputusanku untuk membatalkan ”kita” memang beraroma emosi.......
Permohonanmu agar aku tak pergi, tak bisa mencabut ”kecewa”ku.......
”Permintaanmu” tak pernah sanggup memasuki ruang logikaku......
Keinginanku untuk bersamamu tak dapat menenggalamkan amarahku......
Untuk mentoleransi KERAGUAN DIUJUNG PENENTUAN.......

KERAGUAN DIUJUNG PENENTUAN

3:59 PM Edit This 0 Comments »
Aku mungkin bisa saja sedikit memaklumi KERAGUANmu padaku.....
Tapi aku sulit memaafkan KERAGUANmu padaku karena muncul disaat yang tidak tepat.....

Kau ”memintaku” pada keduaorangtuaku atas keinginanmu sendiri
Kau ”meminta” aku untuk mendampingi hidupmu selamanya atas kesadaranmu sendiri
Kau ”memohon” aku menjadi milikmu karena hasratmu sendiri
Kau ”memasukkan” aku ke dalam hatimu karena nalurimu sendiri
Kau ”mengungkapkan” rasamu padaku berdasarkan logikamu sendiri
Kau ”mengisi” pikiranmu tentangku atas inisiatifmu sendiri
Semuanya kau yang berperan penuh......Dan memang begitulah semestinya......
Dan ketika keluargamu meragukan kekuatan kita, bukankah kau yang harus menjelaskannya?
Dan ketika keluargamu masih ”gelap” atas perjalanan kita , bukankah kau yang harus menerangkannya?
Dan ketika keluargamu tidak cukup percaya akan keyakinan kita, bukankah kau yang harus meyakinkannya?

Tapi mengapa akhirnya diujung penentuan kita justru kau membebankan keputusan ditanganku?
Tapi mengapa ketika diujung penentuan kita, kau ”meminta” aku untuk memperjuangkan kita?
Disaat aku berpikir bahwa kau seharusnya bisa menyelesaikannya sendiri.....
Ditengah kepercayaanku yang sangat penuh padamu untuk ”menegakkan” kita dengan usahamu sendiri......

Aku sadar pernah meninggalkanmu.....Aku sadar sering melukaimu.....Aku sadar pernah membuangmu.....
Aku sadar sering menyakitimu......Tapi saat itu apa yang harus aku pertahankan dari kita sementara hubungan kita tidak pernah berstatus?
Seharusnya kau tahu kenapa dulu aku ”berjalan” dengan orang lain sebelum setahun terakhir keseriusan kita. Itu bukan karena aku benar-benar ingin pergi darimu tapi karena kau tidak pernah ”gamblang” mengungkapkan hatimu padaku sebelum akhirnya kau ”sanggup” membuka mulutmu untuk dengan jelas menyuratkannya.
Seharusnya kau tahu alasan sebenarnya ketika aku pernah lari dari jangkauanmu dan lari dari perhatianmu. Itu hanya karena aku mencoba untuk ”setia” pada pilihanku saat itu. Lelaki yang lebih ”berwujud”, tidak semu sepertimu. Lelaki yang lebih ”berani” menguraikan perasaannya padaku, tidak pengecut sepertimu. Lelaki yang ”nyata”, tidak ”patung” sepertimu. Apa salah aku memberi ”kesempatan” pada lelaki lain sementara kau tak pernah bisa menggunakan kesempatan yang ada?
Seharusnya kau paham bahwa sikapku yang menjauh dari hidupmu hanya karena aku harus ”loyal” dengan pria pilihanku saat itu. Aku tak pernah bisa untuk ”mendua” ketika aku sudah tegas memilih.
Seharusnya kau tahu mengapa aku ”bersama” dengan orang lain sebelum kau menyatakan ”inginmu” padaku. Itu bukan karena aku tidak menghargai setiap perhatianmu dan semua kebaikanmu, bukan pula karena aku perempuan jahat yang ”suka” mempermainkan perasaan lelaki, tapi aku adalah perempuan yang tak mungkin meraba hatimu sesukaku sekalipun kau menunjukkan lewat sikapmu. Meskipun kau mengganggap aku tahu hatimu tapi aku hanya bisa berpura-pura ”gelap” sebelum kau bisa membuyarkannya.
Kau sendiri yang meyakinkanku bahwa kau menafikan semua masa lalu itu ketika kau memutuskan untuk memilihku.....

Jatuh bangunnya kita adalah suatu perjalanan.......Dan perjalanan itu sepantasnya kau pahami, kau sadari, kau maklumi dan kau yakini sebagai bekal untuk meyakinkan keluargamu, bukan tergoyah oleh pendapat dan opini diluar ”kita” yang tidak tau banyak tentang ”kita”. Hanya kita yang tahu tentang kita. Dan ketika kau tak mampu menjelaskan ”kita”, maka kau kuanggap kalah. ”Kelelakianmu” kunyatakan layak dipertanyakan.

Keputusanku untuk membatalkan ”kita” memang beraroma emosi.......
Permohonanmu agar aku tak pergi, tak bisa mencabut ”kecewa”ku.......
”Permintaanmu” tak pernah sanggup memasuki ruang logikaku......
Keinginanku untuk bersamamu tak dapat menenggalamkan amarahku......
Untuk mentoleransi KERAGUAN DIUJUNG PENENTUAN.......

KERAGUAN DIBALIK KEBUTAAN

3:50 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Kau adalah pribadi terindah yang pernah kukenal....
Tapi kau juga pribadi terbodoh yang kutemui....
Kau adalah lelaki yang paling tinggi menjunjungku
Tapi kau juga lelaki terlemah yang akhirnya menjatuhkanku

Kau adalah pribadi terbaik yang pernah kutahu
Tapi kau juga pribadi tertolol yang pernah singgah
Kau adalah lelaki terbersih yang setia meluruskanku
Tapi kau juga lelaki terjahat yang mengecewakanku

Aku, kau sebutkan sebagai wanita pertamamu....
Aku, kau akui telah mengambil hatimu sejak pertama kita bertemu....
Kau, sekalipun bukan pria pertamaku tapi kuharapkan menjadi lelaki terakhirku....
Kau, meskipun belum mencuri cintaku, tapi telah mencuri sayangku....

Ketika kau ”memintaku”, kau terlihat begitu yakin. Dan akupun memiliki keyakinan yang sama denganmu....
Ketika langkah yang kau ambil telah menuju ”dermaga” perjalanan, kita dipaksa untuk ”bersiap” menghadapi keadaan. Keadaan untuk berpikir kedepan.
Arah kebersamaan kita mengharuskan untuk melibatkan keluarga lebih dan lebih dalam. Keadaanku yang jauh darimu, tidak mendukung ”kelancaran” yang kita harapkan. Kau memang sangat mampu ”bercampur” hangat dengan keluargaku. Tak butuh waktu untuk aku sanggup menangkap kasihsayangmu pada keluargaku. Kasih sayang yang sama dengan yang kau berikan padaku. Itu karena kau dapat mendekatkan diri pada keluargaku dengan ”intensitas” yang fleksibel karena berada dikota yang sama. Sementara aku?.....Kita belum mampu ”mencampur”kan aku pada keluargamu lebih dalam. Hal yang seharusnya tidak KITA abaikan.

”Pengetahuan” keluargamu tentangku yang terbatas memaksa mereka untuk ”mengoreknya” darimu. ”Kebutaan” mereka tentangku menyeret mereka untuk tak mau mengalami kegagalan yang sama seperti ”kejadian” kakakmu. Dan disitulah awal KEBODOHANmu.......
Keputusanmu untuk memilikiku selamanya, tidak kau ”sinkron”kan dengan keluargamu. Bibir mereka memang meng”iya”kan kita, tapi seharusnya kau bisa melihat ”tanda-tanda” yang tak sehat, sehingga kau tidak ”ceroboh” bertindak. ”Ceroboh” karena menyiapkan semua ”persiapan” kita tanpa campur tangan keluargamu. Entah ketololan apa yang kau lakukan............

Keluargamu mungkin masih BUTA tentangku, meskipun telah mengetahui keberadaanku dihidupmu dari dulu. Tapi KAU? Kau tidak buta tentangku, lalu mengapa kau tak cukup kuat untuk mampu menyembuhkan KEBUTAAN mereka?

Sebenarnya aku memahami keluargamu atas sikap mereka. Pengalaman pahit kakakmu telah mendorong mereka untuk bisa mengambil pelajaran. Aku tahu mereka hanya ingin diberikan ”ruang” dan ”waktu” untuk sepenuhnya mengenalku. Kalaupun aku memutuskan perpisahan abadi itu karena kekecewaanku padamu.....
Kau, aku anggap sebagai orang sangat jujur....Lalu mengapa ketika melamarku kau meyakinkan aku bahwa keluargamu telah memberikan ”lampu hijau”? Keteledoran yang berbuah fatal.
Jika orang sejujur kau saja bisa melukaiku lalu pada lelaki mana aku bisa MEMPERCAYAKAN HIDUPKU?

KAU ATAU KEBEBASANKU

8:26 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Kau adalah lelaki pertamaku..........
Banyak bahkan terlalu banyak, peristiwa, kejadian, memori yang tercatat dalam perjalanan kita.
Mengapa terlalu banyak? Karena kau terlalu ”intens” ada disetiap waktuku.
Semua begitu indah pada awalnya, tapi lama-kelamaan kau membuatku ”sesak”. Kau memaksaku untuk tidak bisa bergerak banyak. Kau memenjarakan kemerdekaanku. Kau menyelimutiku dengan proteksimu yang berlebihan. Kau menjerumuskan aku dalam kungkunganmu. Kau menjeratku dalam atmosfer kasih sayangmu. Kau menyebabkan aku kesulitan bernafas. Bernafas untuk sekedar bercengkerama dengan teman-temanku. Bernafas untuk sekedar lepas dari pandanganmu. Bernafas untuk sekejap menikmati keriangan beliaku. Menikmati pergaulanku. Menikmati waktu-waktuku. Menikmati hidup yang pada saat itu memang belum pantas terikat dan belum saatnya diikat.........

Maafkan jika aku harus MEMILIH......Memilih kebebasanku. Memilih menyingkirkan tanganmu. Memilih ketidakterikatanku. Memilih menyingkir dan berlari darimu. Memilih berjuang dalam kesendirian. Memilih melepaskan penjaraku. Memilih membuang semua perlindunganmu. Memilih sakit kehilanganmu untuk memilih senyum kebebasanku.

Aku dan semua orang tahu yang kau lakukan semata-mata karena kau takut kehilanganku. Kehilangan aku seperti yang kau inginkan. ”Hanya yang kau inginkan, tanpa memperdulikan apa yang sebenarnya aku inginkan”.
Kau selalu ”menguntit” langkahku. Kau selalu mencurigai kebersamaanku dengan lelaki manapun, siapapun. Kau selalu takut aku diculik oleh lingkunganku dan mengindahkanmu. Kau selalu takut aku berpindah hati dan mencampakkanmu. Dan akhirnya kau pernah membuatku ”terisolir” dari duniaku, dari teman-temanku.
Aku memang ’liar’. Aku memang ’egois’. Aku memang ’keras’. Dan tipe lelaki sepertimu tak akan bisa menghadapiku. Kau salah memaknai arti kesetiaan. Kau keliru memahamin makna kesetiaan. Kesetiaan bagiku bukan berarti hanya kau satu-satunya lelaki diduniaku. Sama seperti perempuan lain, aku juga bergaul dengan teman lelaki, dan kebersamaanku dengan mereka bukan berarti aku mencoreng kesetiaanku.
Ketakutanmu menyulutkan kecemburuanmu. Kecemburuanmu menyulutkan marahmu. Marahmu menyulutkan emosimu. Emosimu menyulutmu untuk menyakiti dirimu sendiri.

Apapun itu, saat itu aku sudah putuskan untuk MEMILIH.........untuk berpisah..........
Apapun itu kau tetap lelaki pertamaku.........
Lelaki pertama yang memperkenalkan aku pada seluruh dunia sebagai perempuan yang kau inginkan......
Aku tak akan pernah lupa.....Bagaimana kau membawaku dan menceburkan aku pada keluargamu diusia kebersamaan kita yang masih seumur jagung. Terlalu banyak kejadian ’aneh’ dipengalaman percintaanku yang pertama itu.

Apapun itu kau tetap lelaki pertamaku.........
Lelaki pertama yang memberiku mawar. Lelaki pertama yang menggenggam tanganku. Lelaki pertama yang menculikku dari duniaku. Lelaki pertama yang pernah membunuh karakterku. Lelaki pertama yang mengisi jiwaku. Lelaki pertama yang kucaci maki. Lelaki pertama yang membelai rambutku. Lelaki pertama yang mengiringi hari-hariku. Lelaki pertama yang membuatku menangis dan lelaki pertama yang kubuat menangis. Kau memang bukan lelaki pertama yang mencuri hatiku tapi kau adalah lelaki pertama yang sanggup mencuri pikiranku. Kau memang bukan lelaki pertama yang kusuka tetapi kau adalah lelaki pertama yang kusayangi.

KAU ATAU DUNIAKU

8:21 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Duniaku kini memang sempit. 80%nya berkutat dengan kehidupan kantor. Duniaku adalah pekerjaanku. Pekerjaanku adalah duniaku. Duniaku adalah kehidupanku. Kehidupanku adalah ilmuku. Ilmuku adalah kebanggaanku. Kebanggaanku adalah kemandirianku. Kemandirianku adalah kepercayaan diriku. Kepercayaan diriku adalah kemampuanku. Kemampuanku adalah pengetahuanku. Pengetahuanku adalah otakku. Otakku adalah pekerjaanku. Pekerjaanku adalah duniaku.

Ketika kau memintaku melepaskan ”duniaku”. Saat itu aku tersentak. Kau adalah orang pertama yang memintaku untuk ”menghempaskan” pekerjaanku. Kau adalah orang pertama yang memintaku untuk ”mencampakkan” duniaku.

”Waktu” memaksaku untuk menjawab PILIHAN yang tak mudah bagiku.
Saat itu aku masih terlalu bimbang untuk bisa mencerna dengan baik permintaanmu. Dimataku, itu bukan sekedar permintaan, tapi PILIHAN yang sulit. Dan aku sebenarnya belum siap untuk mengambil keputusan.....untuk memilih.
Saat itu aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kau memberikan syarat untuk ”kita”. Saat itu aku masih terlalu gagap menghadapi suatu PILIHAN. Pilihan yang terdengar asing.
Tak ada yang istimewa dengan ”duniaku”. Tapi itu adalah duniaku. Setidaknya saat itu.....

Ketika PILIHAN harus dibuat. Ketika masa depan kita ada ditanganku. Ketika prinsipku masih belum tergoyahkan. Ketika duniaku masih aku butuhkan. Aku galau.......Aku harus mengambil keputusan ditengah atmosfer kebimbangan. Aku memilih melepaskanmu..........

Andai kamu tahu, kala itu, sangat tidak mudah menghempaskanmu.....Andai kamu juga tahu, kini, terlintas penyesalan dibenakku karena menyiakanmu.........

Aku tahu kau dan keluargamu mengharapkan konsep rumahtangga yang sesungguhnya. Yang tidak terpisah jarak........
Aku sadar kau dan keluargamu menginginkan aku yang bisa seutuhnya menjadi bagian dari kalian........
Aku tahu kau sudah mampu mencukupiku dengan sangat layak tanpa aku harus berkutat dengan duniaku.......
Maafkan aku karena memilih mempertahankan duniaku........Dengan mengorbankan ”kita”. Dengan menyakitiku........Dengan melukaimu........Dengan mengecewakan keluargaku dan keluargamu........

Saat itu......PILIHAN itu mungkin terlalu gegabah kuambil........

ABOUT MY FATHER

8:14 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Kami memanggilnya ”bapak”, padahal aku merasa panggilan ”ayah” lebih keren. Tapi sekarang aku lebih suka memanggilnya ”babeh”.
Dengan tampang yang sedikit garang, tak jarang temanku yang mengira kalau bapakku adalah tentara. Wajar saja, kumis yang agak lebat memang nyaris tak pernah absen dari wajahnya. ”Seram” itu kata yang pernah terlontar menurut pengakuan beberapa temanku sewaktu sekolah. Bisa jadi itu merupakan senjata dan strategi bapakku untuk menghalau para cowok mendekati dua putrinya semasa sekolah, tapi toh buktinya kedua putrinya memang tidak pernah ”pacaran” sewaktu masih kumpul dengan orangtua.
Karakter keras diwajahnya sedikit banyak merepresentasikan karakter sifatnya. Tapi semakin usianya bertambah, ”keras”nya semakin berkurang. Dulu semasa kedua anak perempuannya masih kecil (sampai SMU kita masih dianggap kecil), tentu saja seorang ”bapak” selalu memiliki hak apapun untuk mengatur anaknya. Tapi tidak pernah lagi kurasakan itu setelah aku sudah bisa mandiri dikedua kakiku sendiri.
Beliau seorang Pegawai Negeri Sipil. Abdi pemerintah yang lurus, jujur, sederhana, cenderung polos, dan rajin. Saking rajinnya, setahuku tak pernah kulihat bapakku ”absen” masuk kantor kecuali benar-benar sakit. Dan itu dia terapkan pada anak-anaknya. Tapi sayangnya tidak menetes sempurna padaku.
Beliau selalu membanggakan kecerdasan anaknya sebagai titisan dan warisannya (kecuali si bungsu he...he....). Maklumlah meskipun otak kami tak terlalu spesial tapi semasa kami kecil sudah cukup membuat bapakku ”terkenal” karena tak terhitung ”dipanggil” sekolah lantaran prestasi anaknya.
Tidak aneh kalau bapakku terkadang ingin sekali melihat anak bungsunya mengikuti kedua kakaknya dalam bidang akademis. Memang kuakui, sampai sekarang belum berhasil. ”But who knows”.
Bapakku sedikit ”jago” tidur. Dirumah lebih sering ber”action” laksana tarzan, karena tidak kuat panas. Tapi anehnya kadang-kadang juga tidak kuat dingin.
Sifat ”jago” tidurnya lumayan berkorelasi dengan pola hidupnya yang ”nihil” olahraga. Satu-satunya olahraganya adalah catur. Olahraga yang bagiku tidak mendorong kesehatan fisik. Padahal aku ingin setidaknya bapakku itu mengikuti olahraga ringan ”senam” seperti ibuku, atau olahraga apa saja, yang penting baik buat kesehatan. Ingin sekali saja melihat bapakku berolahraga, meskipun itu hanya berjalan kaki keliling kompleks dipagi hari. Tapi impianku itu tak pernah terwujud.
Sebenarnya pola hidupnya sangat sehat (kecuali antiolahraga) seperti tidak merokok, menghindari makanan yang mengandung kolesterol dan hobi minum air putih. Beliau lebih memilih menyingkirkan semua yang serba nikmat yang serba tak sehat.
Beliau sangat ”kreatif”. Benda tak terpakai bisa disulap menjadi sesuatu yang terpakai. Barang rumah yang rusak, mayoritas bisa diperbaikinya. Kemampuannya merakit sesuatu menjadi berguna merupakan kelebihan yang menguntungkan buat ibuku. Semua jenis perkakas dimilikinya, seperti layaknya tukang bangunan atau kolektor. Sayangnya tingkat kreativitasnya yang tinggi sama sekali tidak menurun pada anak lelaki satu-satunya.
Pendidikannya yang sarjana mendorong kami ketiga anaknya untuk memiliki gelar akademis yang baik. Berhubung indikator kesuksesan anaknya dilihat setelah menyelesaikan tugasnya untuk beres kuliah lalu mendapatkan pekerjaan maka hanya adikku yang belum dapat dinilai sukses atau tidak. Makanya yang menjadi sasaran empuk untuk melancarkan aksi ”memberi petuah” hanya tinggal keadikku. Cuma adikku yang masih bisa menjadi ”bulan-bulanan” nasihatnya. Karena entah mengapa, seiring dengan bertambahnya usiaku, bapak lebih menghargai dan menghormatiku sebagai sosok pribadi wanita mandiri. Meskipun sifat melindunginya tidak pernah hilang. Bahkan untuk hal-hal tertentu yang dimataku beliau masih berhak ”complain” padaku, toh tidak beliau lakukan.
Dilihat dari kesetiaan dan pengabdian pada keluarga, bapakku sangat ”jempolan”. Sepintas memang pantas menjadi anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), tapi aku menemukan ada faktor lain yang melatari awetnya pernikahan keduaorangtuaku. Bukan ”takut” tapi menjunjung wanita. ”TAK PERNAH BOSAN” pada istri, itu merupakan faktor utama. ”Menghormati” pasangan juga merupakan hal penting lainnya. Pertengkaran dan keributan itu adalah hal yang wajar dalam setiap rumah tangga, tapi bagaimana bapakku menyikapinya, itu yang luar biasa. Kalau ibuku lagi marah dan ”cuap-cuap”, bapakku lebih memilih diam. Soalnya berdasarkan penglihatanku, kalau sekali saja bapakku ”ngomong” atau ”jawab” saat ibuku sedang panas, maka emosi ibuku malah semakin meledak. Nah, resep diam dan menerima ocehan istri adalah resep mujarab untuk meredakan setiap amarah dan percekcokan yang mewarnai perjalanan rumah tangga mereka.
Orang pernah bilang padaku bahwa kebanyakan pria mengalami masa puber kedua, tapi nyatanya tak pernah kutemukan masa itu pada bapakku. Dimatanya hanya ada satu wanita dalam hidupnya, yaitu ibuku. Indah kan.........Meskipun sejak dahulu mereka sama sekali tak terlihat sebagai pasangan suami istri yang romantis, tapi toh mereka berdua abadi dalam membangun dan menjaga ikatan pernikahan mereka sampai akhirnya sekarang sudah menjadi kakek dan nenek dari seorang cucu.

ABOUT MY SISTER

8:13 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Seorang wanita yang bekerja dan ibu rumah tangga. Karirnya tidak terlalu istimewa tapi berhubung jaminan pekerjaannya cukup baik karena bekerja disebuah bank pemerintah daerah, maka dirasa sayang untuk melepaskannya, apalagi bidang pekerjaannya juga sangat sesuai dengan keilmuan sarjana yang ditempuhnya, yaitu sarjana ekonomi.
Tugas rumah tangganya nyaris lebih banyak didelegasikan pada 2 orang pembantunya. Satu pembantu untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga dan pembantu satunya sebagai “baby sitter” atau pengasuh anak.
Sifatnya lebih galak dariku. Lebih “jutek”, lebih judes. Tidak bisa dibilang pendiam, tidak bisa juga dibilang cerewet. Persamaannya denganku adalah sama-sama “keras”.
Jalan hidupnya terlihat begitu simpel, dibanding aku, saudara perempuannya yang hanya berjarak 1,5 tahun. Tidak mengalami lika-liku hidup serumit aku. Selesai kuliah lalu pulang kerumah orangtua di Cirebon, mendapat pekerjaan di Cirebon, mendapatkan jodoh juga di Cirebon. Kuliah, bekerja, menikah dan akhirnya mempunyai anak. Terlihat begitu mudah. Tidak ruwet. Keluar dari rumah orangtua hanya untuk kuliah di Bandung. Selebihnya dihabiskan dikota asal muasal. Hanya mengenal satu tempat kerja yang sekarang menjadi kantornya. Hanya mengenal satu kali pacaran dengan satu lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Suatu langkah hidup yang terkesan sederhana, tidak sekompleks aku yang mengepakkan sayap paling jauh, terpisah dari keluargaku.

ABOUT MY MOTHER

8:13 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Ibu rumah tangga. Itulah adalah status pekerjaan ibuku. Tak ada yang istimewa. Tapi bagiku cukup istimewa. Bayangkan saja, melakukan aktivitas dan rutinitas yang sama selama puluhan tahun. Bagiku itu tidak mudah. Meskipun akupun memiliki rutinitas kekantor sehari-hari tapi aktivitas yang dikerjakan pastinya tidak pernah sama. Selalu ada hal yang baru, mengerjakan dokumen baru, bahan baru, tantangan baru, ilmu baru dan semua yang serba tidak monoton. Karena dunia kerja memang cukup dinamis.
Setiap pekerjaan ada seninya dan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda, termasuk ”pekerjaan” yang digeluti ibuku.
Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga meskipun terlihat sederhana tapi sebenarnya sangat kompleks. Sepintas lalu mungkin hampir semua wanita memiliki basic sebagai ibu rumah tangga, setidaknya kemampuan alamiah dan dorongan kodrati sudah tertanam pada setiap wanita. Tapi dimataku pekerjaan itu belum tentu bisa dijalankan dengan BAIK oleh semua wanita. Karena diperlukan bumbu bumbu seperti ketulusan, kesabaran, pengabdian dan tentu saja keterampilan, meskipun tak memerlukan pendidikan khusus untuk itu.
Sepengetahuanku, aktivitas ibuku tak beda dengan ibu rumah tangga yang lain. Memasak, mencuci, pergi ke pasar, menyapu, menyetrika dan semua hal yang berbau pekerjaan rumah tangga lainnya. Dulu sewaktu seluruh anggota keluarga masih kumpul semua, memang sempat menggunakan jasa pembantu untuk hal-hal tertentu, tapi itupun tidak berlangsung lama. Tapi sejak isi rumah mulai berkurang, jasa pembantu sudah tidak dirasakan perlu lagi.
Dulu ketika aku dan kakakku kuliah dan terbang ke Bandung, pekerjaan ibuku adalah meng”handle” dua lelaki dirumahku, bapakku dan adikku. Sekarang setelah adikku juga kuliah dan tidak bisa lagi ”stay” di Cirebon, praktis tugas ibuku hanya mengurus suaminya ”the one and only” alias bapakku, setelah ketiga anaknya beterbangan menepak sayap.
Aku mulai memahami kenapa ibuku sekarang selalu girang kalau aku pulang ke Cirebon. Maklumlah demam ”kesepian” mulai sering melanda ibuku sejak ditinggal adikku, sang anak cowok satu-satunya yang merupakan anak bungsu kecintaannya itu. Sayangnya, ”cabut”nya adikku dari rumah untuk kuliah tak beda jauh dengan kepindahan aku kepuncak. Lokasiku yang sekarang menyebabkan aku tidak bisa lagi leluasa pulang kerumah, karena jarak puncak-cirebon yang lumayan jauh.
Ibuku memang wanita biasa, seperti kebanyakan ibu rumah tangga lainnya. Yang berbeda adalah keinginannya yang cukup besar agar kedua anak perempuannya tidak hanya berkutat dirumah. Apalagi kedua putrinya memiliki prestasi akademis yang cukup lumayan sejak kecil (he...he...). Dimatanya, melayani dan mengurus keluarga adalah mulia, tapi beliau berharap anaknya menjadi wanita cerdas yang produktif, mandiri, ”berisi” otaknya, memiliki karir diluar rumah, menghasilkan uang sendiri, dan intinya adalah tidak bergantung pada laki-laki. Mungkin karena beliau merasa sepanjang hidupnya hanya menerima uang dari suami. Tangan dibawah tak pernah menjadi lebih baik daripada tangan diatas. Hal itu memang benar terwujud, meskipun karirku dan kakakku terbilang biasa-biasa saja tapi itu sudah membuatnya bangga.

ABOUT MY SISTER

8:13 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Seorang wanita yang bekerja dan ibu rumah tangga. Karirnya tidak terlalu istimewa tapi berhubung jaminan pekerjaannya cukup baik karena bekerja disebuah bank pemerintah daerah, maka dirasa sayang untuk melepaskannya, apalagi bidang pekerjaannya juga sangat sesuai dengan keilmuan sarjana yang ditempuhnya, yaitu sarjana ekonomi.
Tugas rumah tangganya nyaris lebih banyak didelegasikan pada 2 orang pembantunya. Satu pembantu untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga dan pembantu satunya sebagai “baby sitter” atau pengasuh anak.
Sifatnya lebih galak dariku. Lebih “jutek”, lebih judes. Tidak bisa dibilang pendiam, tidak bisa juga dibilang cerewet. Persamaannya denganku adalah sama-sama “keras”.
Jalan hidupnya terlihat begitu simpel, dibanding aku, saudara perempuannya yang hanya berjarak 1,5 tahun. Tidak mengalami lika-liku hidup serumit aku. Selesai kuliah lalu pulang kerumah orangtua di Cirebon, mendapat pekerjaan di Cirebon, mendapatkan jodoh juga di Cirebon. Kuliah, bekerja, menikah dan akhirnya mempunyai anak. Terlihat begitu mudah. Tidak ruwet. Keluar dari rumah orangtua hanya untuk kuliah di Bandung. Selebihnya dihabiskan dikota asal muasal. Hanya mengenal satu tempat kerja yang sekarang menjadi kantornya. Hanya mengenal satu kali pacaran dengan satu lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Suatu langkah hidup yang terkesan sederhana, tidak sekompleks aku yang mengepakkan sayap paling jauh, terpisah dari keluargaku.

ABOUT ME, IN MY FAMILY............

8:11 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Sebagai anak tengah, yaitu anak kedua dari tiga bersaudara. Sama seperti kakak dan adikku, menghabiskan masa kecil dan pendidikan hingga SMA di Cirebon. Mulai berpisah dengan orangtua sejak kuliah di UNPAD Jatinangor. Setelah itu tak pernah lagi kembali ke Cirebon untuk menetap. Nyaris tak pernah singgah di Cirebon lebih dari satu minggu, kecuali lebaran idul fitri. Tak heran kalau ibuku sering ”merengek-rengek” supaya anak perempuannya yang satu ini lebih sering pulang menjenguk mereka dikampung halaman, sekedar untuk istirahat, “nginep” di rumah orangtua (tidur dikamarku yang kutiduri sejak kecil), berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Diantara anak yang lain, aku memang bisa disebut sebagai anak yang paling “ngilang”. Aku dianggap anak yang paling aktif “terbang”. 7 tahun di Bandung (tepatnya Jatinagor he....he…), 1,5 tahun di Jakarta dan sudah 1,5 tahun aku dipuncak, tempat kerjaku sekarang.
Tak terasa sudah 10 tahun aku hidup sendiri, berpisah dari keluarga. Tapi baru 4 tahun aku benar-benar menjadi seorang perempuan MANDIRI, karena 6 tahun kuliah tak kuanggap sebagai kemandirian karena masih “fully” bergantung “sumbangan uang” dari orangtuaku.
Semasa sekolah hingga SMA bisa dibilang termasuk anak yang kurang gaul dan rajin berkutat dengan pelajaran, karena aktivitas rutinnya cuma sekolah, langsung pulang kerumah, les, privat, sekolah, les dan hanya itu-itu saja. Makanya lumayan kaget ketika harus berpisah dengan orangtua tanpa pengawasan. Tidak aneh kalau tiba-tiba berubah dan masa kuliah dikenal menjadi mahasiswa pemalas.
Dulu sewaktu ujian apoteker, aku pernah bilang pada ibuku ingin sekali menjadi ”real pengangguran” untuk beberapa waktu setelah lulus. Kelelahan kuliah membuatku ingin langsung pulang ke Cirebon untuk sekedar menikmati “kerehatan” dan “menyusu” pada ibuku. Sebagai anak bungsu yang “ngga jadi”, wajarlah kalau aku adalah anak yang paling lama “menyusu”. Kalau aku tidak salah ingat ketika aku sudah duduk dibangku SD pun aku masih menyusu pada ibuku, sampai akhirnya adikku lahir.
Alasanku untuk “istirahat” karena melihat kakakku yang juga sempat menganggur tiga bulan setelah lulus kuliah, sambil menunggu mendapatkan pekerjaan. Tapi ternyata keinginanku itu jauh panggang dari api. Belum lagi wisuda apoteker, aku sudah diterima kerja disebuah perusahaan farmasi di Bandung atas bantuan dosen pembimbing skripsiku. Setelah aku resmi dinyatakan lulus apoteker, beberapa hari setelahnya aku “langsung” merasakan yang namanya bekerja didunia industri ditengah teman-temanku yang masih merasakan euphoria kelulusan.
Berbeda dengan kakakku yang semasa kuliah tidak pernah pacaran, aku dua kali pacaran. Tidak berlebihan kan....Baru setelah kerja kakakku mengalami pacaran dan akhirnya menikah, sedangkan aku semasa kerja dua kali pacaran. Masih lumrah kan.....Diakui atau tidak, mereka, lelaki yang pernah dekat denganku, adalah pewarna hidupku. Tidak hanya warna suka, tapi juga warna duka. Semuanya berkesan. Karena semuanya berperan dalam hidupku. Disadari atau tidak, mungkin aku tidak akan menjadi aku yang sekarang tanpa mereka. Karena sedikit banyak mereka telah banyak memberi corak dalam naik turun hidupku, jatuh bangun langkahku. Mereka juga telah memunculkan karakter-karekter baru padaku. Aku pernah menjadi orang yang paling jahat dalam hidup mereka, begitupun sebaliknya. Aku pernah menjadi orang yang berarti dalam hidup mereka, begitupun sebaliknya. Dengan sifat-sifat mereka yang sangat berbeda, telah memaksaku untuk tahu rasanya menyayangi, membenci, merindu, membodohi diri. Hanya kekuatanku yang merupakan hadiah Sang Khalik yang membuatku tetap berdiri tegak sampai sekarang. Hanya kehangatan dan kedamaian keluarga yang membuatku selalu fokus dan bertanggung jawab.
Prioritasku kini adalah keinginanku untuk membahagiakan keluargaku dan melihat senyum orangtuaku. Karena aku selalu merasa belum berbuat banyak untuk mereka............

ABOUT MY BROTHER

8:07 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Sebagai anak bungsu dan anak lelaki satu-satunya, sebenarnya sifat manja tak begitu tampak padanya. Masih jelas diingatanku sewaktu dia kecil, aku sering kena ”imbas” untuk mengasuhnya. Terutama menyuapinya makan. Paling susahhhhh makan. Pokoe paling merepotkan waktu kecil, karena paling sering keluar masuk rumah sakit.
Alhamdulillah semuanya berubah setelah beranjak remaja. Badannya cukup OK untuk ukuran lelaki seusianya. Meskipun sepintas kurus tapi sangat berisi dan sehat. Mungkin karena hobi olahraganya. Dalam hal tinggi badan, Allah benar-benar maha adil. Kami yang perempuan terbentuk menjadi wanita mungil (mengelak dari kata ”pendek”), sedangkan adikku terus memanjang keatas, hingga memaksaku menengadah hanya untuk sekedar melihat wajah ”seram”nya. Kenapa aku bilang ”seram” karena sudah tidak ada sisa-sisa kejayaan kulit putihnya. Aku juga bingung kenapa kulitnya bisa berubah menjadi hitam total sekujur badan. Padahal sewaktu kecil kulitnya sangat putih. Bapakku juga kulit muka dan tangannya hitam, tapi tubuhnya tetap memperlihatkan kulit aslinya yang putih. Namun itu tidak berlaku untuk adikku.
Sebenarnya orang banyak menilai wajahnya unik. Karena matanya yang cenderung ”sipit” (tak jauh berbeda denganku) bercampur dengan kulit mukanya yang hitam. Dulu sewaktu kulit putihnya masih bersemayam banyak yang menyebutnya seperti orang Jepang.
Sepintas orang melihatnya sebagai cowok ”cool”. Tapi memang dia ”cool”. Tak terlalu banyak bicara, lebih banyak bicara lewat mata. Tidak aneh kalau dia selalu pusing melihat kecerewetanku yang luar biasa.
Meskipun dia sangat “cool” tapi banyak cewek yang mengidolakannya. Bahkan sejak SD sudah mendapatkan surat cinta dari teman cewek sekelasnya yang paling cantik.
Mungkin karena dia anak bungsu sekaligus anak LELAKI, maka bapak ibuku tidak menerapkan penjagaan dan pengawasan yang ketat untuknya. Sepenglihatanku, orangtuaku menerapkan padanya “bebas yang bertanggung jawab”. Dalam beberapa hal dia bisa memelihara kepercayaan orangtua, kecuali dalam satu hal yaitu bidang akademis.
Adikku memang nyaris tidak pernah memberikan hasil yang memuaskan dalam prestasi sekolah. Dan itu berlanjut sampai kuliah. Syukurnya dia bisa masuk perguruan tinggi negeri seperti kedua kakaknya. Tapi sifat ”labil”nya kembali terbukti ketika satu tahun perkuliahannya di jurusan pertanian disia-siakannya karena dia memilih untuk pindah ke jurusan hukum masih di universitas yang sama.
Tak aneh kalau bapak ibuku masih sering dibuatnya kecewa, karena di mata mereka kesuksesan pendidikan akademis merupakan ”start” awal untuk mengayuh kehidupan kedepan. Sementara adikku lebih banyak bersantai ketimbang bekerja keras.
Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya dengan harapan tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan orangtuaku.

FENOMENA POLIGAMI

8:07 PM Posted In Edit This 2 Comments »
Wacana poligami yang merupakan wacana yang sudah usang nampaknya telah memaksaku untuk akhirnya mengungkapkan opiniku menanggapi fenomena itu. Fenomena klasik tapi tetap menggelitik.
Opini hanyalah sekedar opini. Tidak harus selalu benar. Semua orang bebas mengeluarkan pendapatnya dalam koridor pemikirannya.
”Issue” poligami dianggap menjadi suatu kewajaran oleh sebagian lelaki yang memanfaatkan ”kebolehan” perbuatan itu dalam agama. Mereka seolah-olah menampik alasan sebenarnya kenapa ”kebolehan” itu ada.
Poligami menjadi fakta yang sangat tidak elegan ketika digunakan untuk hal-hal yang melenceng dari hakikat poligami sebenarnya. Suatu realitas yang ”miris” ketika hak lelaki atas perempuan ditempatkan terlalu tinggi melebihi kemampuan lelaki itu untuk menghargai perempuan dalam perspektif keadilan dan kemanusiaan.
”Kebolehan” belum bisa dan tidak akan bisa menjadi suatu tradisi rasional jika selalu ada pihak yang ”teraniaya” dan ”tersakiti”.
Suatu kondisi yang kritis ketika komoditas ”perasaan” perempuan digadaikan. Suatu polemik yang memprihatinkan ketika hak-hak wanita begitu mudah diabaikan.
Adanya tendensi kesalahan ”penafsiran” ditengarai menjadi penyebab mengapa poligami dijadikan alasan untuk seenaknya ”memperistri” perempuan yang dikehendaki. Apalagi latar belakang keinginan untuk ”menikah lagi” banyak yang perlu dipertanyakan. Yang lebih konyol adalah ketika kekurangan dan ketidaksempurnaan istri digunakan sebagai senjata untuk ”mendapatkan” perempuan lain. Apakah ketidaksempurnaan hanya boleh dimiliki oleh lelaki dan apakah kesempurnaan harus mutlak dimiliki oleh perempuan? Apakah ’hak” hanya dipunyai oleh lelaki dan apakah perempuan hanya mempunyai kewajiban? Apakah itu yang disebut adil? Hanya logika sehat yang bisa menjawabnya dengan sehat.
Perspektif yang salah dalam membaca makna poligami menjadikannya tak lebih sebagai bentuk penindasan terhadap perempuan. Secara fakta, kuantitas perempuan sangat jauh lebih banyak daripada lelaki. Begitu banyak wanita ”bertebaran”. Tapi apakah itu dapat dijadikan alibi untuk ”memungut” dua, tiga, atau empat selain ”satu” istrinya. Keinginan suami untuk berpoligami tak jarang memaksa mahligai rumah tangga hancur dan dikorbankan, karena akan sangat sulit untuk wanita manapun menerima kenyataan bahwa cinta dan perhatian suaminya harus dibagi pada wanita lain.
Poligami mungkin tidak akan menjadi ikon penindasan dalam perusakan ”hati” wanita jika semua wanita memiliki kemuliaan untuk benar-benar ”ikhlas”. Tapi apakah kemuliaan hati seorang wanita pantas dihadiahkan pada pria yang menyalahgunakan ”keikhlasan” itu untuk sebuah kata ”kesenangan”.
Tak jarang pula poligami dijadikan ”dalih” untuk melindungi diri dari dosa. Memang tidak salah. Tapi bukankah akan sangat berdosa ketika perlakuan itu ditimpakan pada seorang istri yang telah mengabdi, mendampingi dan melayani dengan tulus? Tanpa disadari atau tidak, poligami merupakan salah satu bentuk ”penganiayaan”. Dan apakah penganiayaan menjadi hal yang disahkan oleh agama? Apakah ketidakadilan menjadi perbuatan yang tidak berdosa?

PERNIKAHAN DINI

8:06 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Terdefinisi sebagai pernikahan yang dilakukan di usia ”dini”. Usia yang dianggap masih terlalu muda untuk mengarungi sebuah ikatan suci yang dinamakan PERNIKAHAN.
Pernikahan dini selama ini selalu identik dengan latar belakang ”kecelakaan”. Seolah-olah hanya merefleksikan suatu jalan yang harus ditempuh sebagai suatu ”konsekuensi” dari suatu ”kekhilafan”. Seakan-akan merepresentasikan suatu ikatan pernikahan yang ”terpaksa” atau ”dipaksakan” hanya untuk menutupi dan menambal sulam ”kesalahan” yang sudah ”terlanjur” dibuat. Bahkan masyarakat dengan mudah merekam pernikahan dini sebagai pernikahan yang sangat ”rentan” kegagalan, atau begitu mudah diprediksi akan ”berhenti” ditengah jalan. Namun bukan berarti bisa dipastikan pernikahan yang dikesankan ”dadakan” itu selalu ”terhempas” dan ”tersungkur”. Faktor keluarga menjadi faktor yang teramat penting untuk men”support” pernikahan dengan modus ini. Memang terdengar ”merepotkan”. Tapi dalam beberapa kasus, penulis menemukan bahwa peran orangtua dengan dukungan ”ekonomi” terbukti mampu mempertahankan keutuhan pernikahan dini. Sangat lucu melihat mereka-mereka yang masih menjelma sebagai ”benalu” ketika pernikahan sudah dijalani, tapi apa lacur, faktanya aroma ”ketidaksiapan” sudah sangat kental tercium sejak ikatan itu diresmikan. Tak aneh pula jika kebanyakan orang mudah meragukan ”kelanggengan” pernikahan dini karena tanpa dukungan lingkungan dan orang-orang terdekat, tak sedikit yang akhirnya harus ”menyerah”.
Pada kenyataan yang lain, tak jarang pula ditemukan pernikahan dini yang didasari oleh niat yang “jujur” dan ”bersih”. Terdengar sebagai wacana yang mewakili tindakan sangat ”berani”. Bagaimana tidak, kemampuan finansial masih jauh, kesiapan mental juga masih dipertanyakan, kedewasaan bertindak masih diragukan, kemandirian masih belum tergapai, dan kematangan berpikir masih belum terkantongi.
Umur memang tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator untuk mencerminkan “kedewasaan” dan ”kematangan” seseorang. Toh pernikahan orang dewasa pada usia kematangannya pun belum bisa dijamin 100% “keamanannya”. Semua berpulang pada individunya masing-masing. Semua orang memiliki sisi kedewasaan dan kekanakan yang tidak dapat diterka.
Pernikahan identik dengan “tanggung jawab”. Dan usia dini memiliki kecenderungan “miskin” tanggung jawab. Tetapi karena usia tak dapat digunakan sebagai ukuran dan tolak ukur tinggi rendahnya tangung jawab seseorang, maka banyak pula orang dewasa yang “kaya” umur tapi “miskin” tanggung jawab. Pada akhirnya, ada opini yang berkembang tentang “pernikahan dini” bergantung sepenuhnya dari karakter dan pribadi yang menjalankannya, sehingga tak melulu diwarnai ”kegagapan”.
Fenomena pernikahan dini sebenarnya sangat beragam diluar dari faktor ”accident”. Dengan alasan yang bermacam-macam, lingkungan yang beragam dan kondisi yang beragam.
Ada yang ”murni” karena faktor kurangnya pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan berkorelasi dengan kebodohan dan kebodohan umumnya identik dengan kemiskinan. Kondisi seperti itu biasanya menjauhkan pola pikir tentang kemajuan. Penulis sebagai seorang perempuan, dapat dengan mudah menemukan realita dimasyarakat yang melukiskan sempitnya kehidupan perempuan-perempuan yang sempit pengetahuan dan minim pendidikan. Diusia-usia yang masih sangat belia, perempuan-perempuan itu sudah “menggendong” anaknya. Tidak ada yang salah dengan cuplikan itu. Itulah kesederhanaan hidup. Kesederhanaan “otak”, keterkungkungan “wawasan”, krisis kemandirian, dan kecenderungan kebergantungan pada lelaki lebih tinggi. Perempuan dengan segenap kesederhanaan “daya” itu akan sangat dirugikan ketika dimanfaatkan oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab.
Pernikahan dini ada juga yang dialami oleh beberapa pasangan muda yang dijodohkan oleh orang tua mereka (Seperti cerita jaman orang tua kita he...he....).
Ada pula yang karena latar belakang keyakinan dengan prinsip menikah muda atau menikah ”cepat” lebih baik daripada memperbanyak dosa. Mereka meyakini pernikahan akan senantiasa membawa ketenangan hati, kedamaian dan berkah tersendiri, sekalipun pada prakteknya banyak yang perlu diperjuangkan. Mereka meyakini pernikahan sebagai suatu bentuk keindahan yang nyata bukan semu, dan suatu kebaikan yang tidak perlu ditunda.
Apapun persepsi tentang pernikahan dini, esensi yang harus tertangkap adalah inti dari ”pernikahan”. Suatu keputusan yang mudah buat sebagian orang dan akan sangat sulit untuk sebagian orang lainnya. Sistematika dan problema pernikahan yang ”multikompleksitas” memaksa orang untuk melakukannya dalam waktu yang tepat dan kesiapan dari ”multikomponen”.
Jika konsep pernikahan dini masih diragukan sebagian orang, itu sangat dimaklumi. Karena semua yang berbau ”terlalu dini” mencerminkan ketidaksiapan. Tak dapat dipungkiri bahwa usia dini juga berbanding lurus dengan ”kelabilan”. Jiwa anak muda memiliki tendensi “bergejolak”. Gejolak anak muda masih kental dengan ikon “freedom”, masih aktif bersenang senang dan cenderung gagap dalam memaknai kedewasaan, menentukan sikap, mengambil keputusan, me”manage” emosi dan menegakkan logika.


DIVORCE CASE

8:05 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Dari hasil observasi penulis tingkat awal tentang kasus perceraian yang terjadi dimasyarakat, umumnya disebabkan oleh faktor - faktor berikut : 1. Alasan ekonomi, 2. Tingkat kesetiaan (WIL / PIL), 3. Ketidakcocokan, 4. KDRT, 5. Kelabilan (Pernikahan dini), 6. Faktor keluarga.
”Perceraian”.....Satu kata yang bukan lagi merupakan hal yang aneh dikehidupan kita, meskipun masih selalu terlihat ”tabu” untuk kultural masyarakat kita. Rasanya semua orang juga akan mengamini bahwa meskipun ”perceraian” dihalalkan tapi merupakan hal yang dibenci Allah dan tidak direstui sebagai jalan terbaik oleh agama manapun, sudut pandang manapun. Zaman memang semakin gila. Tapi perceraian tetap saja menjadi ”momok” yang menyeramkan dan kita selalu terdorong untuk ”antipati” terhadapnya.
Alasan ekonomi merupakan hal yang paling sering dijadikan latar belakang tercetusnya perceraian. Terdengar sangat manusiawi dan cukup masuk akal, meskipun tak akan pernah ada alasan yang dapat dibenarkan untuk suatu ”perceraian”. Kasus perceraian untuk alasan ini sangat beragam. Umumnya pihak wanita atau pihak istri yang mengajukan tuntutan perceraian. Tapi tidak tertutup kemungkinan sebaliknya. Nampaknya keras dunia, logika dan realita semakin menunjukkan ”gigi”nya tatkala kehidupan rumah tangga harus dikorbankan karena alasan ekonomi.
Tingkat kesetiaan yang rendah dari pasangan suami istri merupakan alibi yang paling tidak dapat ditoleransi, tidak dapat diterima dan tidak dapat dimaafkan. Dalam kasus ini umumnya pihak lelaki menjadi ”biang keladi” dalam merusak kesucian mahligai rumah tangga. Memang tidak dapat digeneralisasi bahwa lelaki selalu ”identik” dengan sifat buruknya yang ”sulit setia”, karena virus itu bisa milik siapa saja dengan gender apa saja. Namun jika dikalkulasi dan dibuat ”summary”, rasanya kita semua dapat melihat faktanya langsung dimasyarakat. Wanita lebih sering menjadi korban tingkah suami yang bermain ”api”, bermain lidah, bermain hati dan semua penyulut konflik rumah tangga yang berbau pengkhianatan. Banyak faktor yang menyebabkan ”kesetiaan” menjadi pudar dari suatu pasangan, dari mulai faktor ”bakat selingkuh”, ketidakpuasaan akan pasangan dari berbagai aspek, faktor lingkungan, kesenangan dan hawa nafsu sampai faktor ”kebosanan” pada pasangan. Ketika kesetiaan tidak lagi dipuja, dipelihara, diagungkan dan dijaga kelestariannnya dalam berumahtangga niscaya bahteranya akan sulit dipertahankan.
Alasan ketidakcocokan sering dijadikan dalih yang paling ”mudah” untuk mengungkapkan adanya ketidaknyamanan dalam pernikahan. Sedikit mengada-ada dan lumayan bodoh ketika alasan ketidakcocokan dialami oleh pasangan yang sudah menjalin masa perkenalan dan pendekatan (pacaran) dalam waktu yang cukup lama. Manusia memang sangat bisa dimungkinkan memiliki sifat tersembunyi atau karakter yang tak mudah tersurat dan tersirat karena sifat manusia yang amat kompleks. ”Ketidakcocokan” merupakan alibi yang paling ”klise” ketika pasangan suami istri memutuskan berpisah. Karena pada dasarnya tidak akan pernah ada dua karakter manusia yang benar-benar cocok atau ”compatible”. Semuanya bergantung dari bagaimana setiap pasangan menyikapi setiap perbedaan menjadi sesuatu yang indah dan dijadikan alat untuk saling ”melengkapi”. Sikap saling menghargai, saling mengerti dan saling memaklumi merupakan kunci utama untuk menghindarkan alasan ini muncul ditengah pernikahan.
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) menjadi salah satu penyebab perceraian. Kekerasan yang terjadi dapat berupa fisik maupun kekerasan non fisik. Kekerasan verbal maupun non verbal. Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari kekerasan yang “nyata” seperti kekerasan yang melukai fisik sampai kekerasan yang “tak nyata” yang melukai batin. Perselingkuhan dapat menjadi salah satu contoh kekerasan psikis. Yang sangat konyol adalah ketika banyak kasus kekerasan fisik dilakukan suami pada istrinya. Suatu ironi yang mengerikan dan menyedihkan karena pria “obvious” ditakdirkan memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih kuat dari wanita. Suatu perbuatan yang memalukan kodrat karena hakikatnya lelaki adalah pelindung dan pengayom perempuan.
Kelabilan (Pernikahan dini) ”ikut-ikutan” menjadi salah satu penyebab diantara sekian banyaknya alasan ditempuhnya perceraian. “Kegagapan” finansial dan ketidaksiapan mental merupakan faktor utama yang berperan.



JAMU KIMIA

8:03 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Hasil penelitian BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang menemukan adanya kandungan BKO (Bahan Kimia Obat) dalam komposisi jamu memang bukan ”isu” baru, tapi nampaknya kian menjamur ditemukan dimasyarakat.
Jamu pada hakikatnya adalah produk alami, berbau tradisonal, ”murni” menggunakan bahan-bahan alam sehingga notabene miskin efek samping. Keamanannya akan selalu lebih baik jika dibandingkan dengan bahan obat yang berbau kimia dan sintesis.
Faktanya, masyarakat Indonesia masih sangat banyak yang mempercayakan jamu sebagai konsumsi lazim untuk menjaga dan memelihara kesehatan. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai sutu tradisi dan kebiasaan. Sehingga sangat disayangkan ketika inspeksi BPOM menemukan banyak beredarnya JAMU KIMIA. Yaitu jamu yang dicampurkan dengan zat-zat kimia untuk meningkatkan efektifitasnya. Zat kimia yang umumnya digunakan oleh para produsen jamu adalah paracetamol, antalgin/metampiron, dexamethasone, phenilbutazone, prednison, furosemide, piroxicam, allopurinol, sibutramin dan masih banyak zat kimia lainnya. Tentu saja hal itu sangat merugikan konsumen karena bahan-bahan kimia tersebut dapat menimbulkan banyak efek samping bila digunakan dalam jangka waktu lama, apalagi dengan takaran dan dosis yang ”seenaknya”.
Sudah saatnya para konsumen jamu untuk lebih berhati-hati dalan memilih jamu. Jamu yang memberikan efek ”instant” patut dicurigai, karena pada hakikatnya daya kerja jamu tidak akan sekuat dan sehebat zat kimia.
Jamu diharapkan tetap menjadi salah satu cirikhas ”indigenous” Indonesia. Alangkah baiknya jika jamu terebut tetap dilestarikan dengan ”keasliannya” dan ”kemurniannya”.

KEINDAHAN PEREMPUAN

8:03 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Keindahan hakikatnya merupakan ”ikon” untuk merefleksikan perempuan. Apalah jadinya dunia ini tanpa perempuan.
Tidaklah bijak melihat ”keindahan” perempuan dalam sudut pandang yang sempit. Makna ”keindahan” menjadi terbatas bila mengambil pola ukur berupa keindahan fisik semata. Keindahan yang tidak langgeng. Keindahan yang belum tentu jujur. Keindahan yang hanya tertangkap panca indera. Keindahan dengan ruang gerak yang tidak leluasa memaksa kita untuk kurang menghargai keindahan dibalik artinya yang sebenarnya sangat luas.
Bagiku, dimataku, dalam pemahamanku, semua wanita memiliki keindahan. Keindahan dalam dimensi yang berbeda-beda.
Seorang istri yang setia kepada suaminya, menggambarkan keindahan perempuan.
Seorang wanita yang berdiri tegak dalam kemandirian, mengindikasikan keindahan perempuan.
Seorang perempuan yang menjunjung tinggi ”virginitas”, merepresentasikan keindahan perempuan.
Seorang ibu yang pergi kepasar, memasak, mencuci, menyapu, juga memendarkan keindahan perempuan.
Seorang wanita yang sedang menyusui bayinya, merefleksikan keindahan perempuan.
Seorang istri yang ”melayani” dan patuh pada suaminya, memperlihatkan keindahan perempuan.
Seorang wanita yang memperjuangkan emansipasi, memancarkan keindahan perempuan.
Seorang perempuan yang mamapu memelihara dirinya dengan baik, melukiskan keindahan perempuan
Seorang ibu yang merawat dan membesarkan putra putrinya, mencerminkan keindahan perempuan.
Seorang wanita karir yang mengembangkan otak dan mengaplikasikan ilmunya, menampilkan keindahan perempuan.

KECANTIKAN WANITA

8:01 PM Posted In Edit This 2 Comments »
Teori tentang kecantikan wanita adalah teori yang melingkupi 3B, ”Beauty, Brain, Behaviour”. Teori tentang kecantikan itu menyentuh makna kesempurnaan, padahal sebenarnya tak akan pernah ada manusia yang sempurna.
Entah mengapa wanita dituntut untuk ”cantik”. Ataukah dunia memang memaksa dan selalu meminta wanita untuk ”cantik”?
Hakikat cantik yang abadi adalah cantik ”dalam”, bukan cantik ”luar”. Kecantikan ”luar” akan luntur dengan berjalannya waktu. Kecantikan luar akan pudar dengan bertambahnya usia. Tapi kecantikan ”dalam” niscaya akan selalu ”exist” tanpa terpendar masa.
Wanita siapapun, dimanapun, akan selalu memiliki kecantikan dari sisi yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana wanita itu memanfaatkan, me”manage”, mengembangkan, dan memelihara apapun yang telah dihadiahkanNya.
Ada yang diberkahi dengan kecantikan fisik semata.
Ada yang diberkahi dengan kecantikan otak dan pemikiran.
Ada yang diberkahi dengan kecantikan pribadi dan karakter.
Anugerah kecantikan fisik akan terlihat “murah” jika menjadikan dirinya sebagai objek “lumrah”. Akan terlihat “basi” jika tidak menjunjung “harga diri” dan tidak bisa menjaganya dengan baik..
Anugerah kecantikan otak akan terlalu “mahal” dan sia-sia jika melebihi porsi dan kodratnya. Akan menjadi kosong tanpa nilai kehidupan jika tidak menjadikannya bermanfaat untuk orang lain.
Anugerah kecantikan pribadi akan menjadi terlalu “polos” tanpa dipoles dengan ”isi” ilmu, pengembangan otak untuk harmonisasi jati diri dan memelihara diri dari jangkauan ”perusak”.