APOTEKER…….APOTEKER

5:03 PM Posted In Edit This 2 Comments »
I guess everyone know what’s mean of “Apoteker”….but I wrong….Not everyone really2 know with this profession......
This my profession, and I proud of this….or try to proud, because not easy for me to through this education he….he…...
Tidak mudah untukku karena aku orang yang sedikit rajin dan banyak malas untuk urusan TEKUN belajar….Orang bilang kita akan menikmati apa yang kita pelajari kalau kita menyukai dan mencintainya (kata orang bijak) atau ada istilah “tak kenal maka tak sayang”..…Tapi tetap saja “not easy things for me”…Bagiku bukan hal yang mudah pada awalnya untuk melewati proses menjadi APOTEKER…Pendidikan untuk akhirnya disebut apoteker aku lewati selama kurang lebih 6 tahun. 5 tahun untuk pendidikan farmasi yang mengantarkan aku mendapatkan embel-embel “S.Si” (Sarjana Science) dibelakang namaku, hadiah titel untuk sarjana farmasi yang kata orang penciptanya atau sejarahnya termasuk dalam ruang lingkup ilmu pasti (semua yang serba pasti2 lebih mantep kan!), that’s way jurusan kuliahku yaitu jurusan Farmasi masuk kedalam Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Alkisah dulu berasa keren jadi orang science karena dikira cerdas dan pasti “smart”. Yah orang2 jadul bilang sih diprediksi otaknya pasti encer, padahal tidak berlaku 100% coy, perkecualian untukku yang viscositas otakku kadang2 terasa semakin bertambah seiring dengan bertambahnya waktu dan usia (Nah loh ngerti ga neh everybody tentang istilah viscositas, kalau orang science pasti tau he2, ga ko I guess banyak orang yang paham meski bukan orang science, istilah umum kan yee...kalo ga tau tanya aku he2, aq jelaskan sekalian aq kasih rumus2 nya..…gratis). Actually, bisa aku simpulkan bahwa siapa aja yang mau menempuh pendidikan sarjana farmasi tidak hanya dibutuhkan ketertarikan semata. Tapi lebih dari itu yang terpenting adalah KETELITIAN. Nah, yang satu itu itu merupakan myweakness point. Ketelitian teramat penting karena mayoritas ilmu-ilmu farmasi menuntut kita untuk cermat berpikir, tidak salah menghitung, tepat menakar, teliti mencampur. Ketelitian aku anggap sebagai faktor bawaan, sedangkan aku orang yang bawaannya lebih sering ceroboh. Faktor lain yang lebih penting adalah KETEKUNAN, kalau faktor yang satu ini sih merupakan kunci yang paling umum untuk dapat sukses disemua hal. Apapun bidang yang kita geluti kalau mau tekun pasti bisa berhasil, setuju?.
Aku sempat surprise melihat teman-teman sejawatku hampir 99% memiliki basic otak yang cerdas. Fenomena itu sempat membuat aku takut. Tidak hanya itu, mayoritas mereka juga memiliki tingkat KERAJINAN yang cukup tinggi. Lengkaplah penderitaanku. Bagi mereka yang rajin dan tekun aja masih dibilang susah, apalagi untuk orang santai sepertiku yang agak alergi untuk baca buku2 pintar kefarmasian. Bukan salahku kalau aku sering mendadak ”ngantuk” membaca buku2 pintar itu. Salah buku2 pintar itu kenapa tebalnya bisa dijadikan bantal atau guling yang begitu lihai menjadi ”penggoda” untuk tertidur. Belum lagi otakku yang terkadang mendadak amnesia kalau terlalu banyak beban teori-teori yang menumpuk diotakku he...he...Repot kan........
Lulus sarjana farmasi tak membuatku bisa langsung ”santai“ dan ”lepas”. Karena masih ada satu step lagi yang harus aku selesaikan. Yaitu pendidikan profesi Apoteker yang kalau ”mulus” bisa ditempuh hanya dengan 1 tahun saja (Kecuali dinyatakan lain....). Kalau yang merasa sudah cukup dengan sarjana farmasinya, memang tidak ada kewajiban untuk melanjutkan kuliah lagi. Tapi hampir 98%nya melanjutkan sampai pendidikan profesi. Mungkin karena dirasa belum ”afdol” atau ”tangggung”. Semua yang serba lengkap pasti lebih baik kan? Dan semua yang serba setengah-setengah biasanya kurang memuaskan. Sebenarnya tidak sulit melewati pendidikan profesi Apoteker yang setahun itu. Yang sulit dan terkenal menyeramkan adalah ujian apotekernya. Bikin kita semua ”merinding disco”. Tapi akhirnya semua bisa aku lewati dengan sukses, bahkan memberikan hasil akhir yang sangat memuaskan, meskipun harus banyak ”jatuh bangun” dalam perjalanannya. Tentu saja aku merasa aneh dengan keberhasilan itu, karena aku memiliki banyak julukan yang beraroma negatif. Jago terlambat masuk kelas, miss lazy, jago nyontek tugas2 kuliah, (tapi nyontek tugas doank lho, kalau ujian sih jarang tuch, kecuali kepepet........)
Sekarang 4 tahun sudah aku bekerja diduniaku. Dunia kerja yang sesuai dengan ilmuku. Terasa tak sia-sia ”terseok-seoknya” aku dulu, karena ilmunya terpakai juga, setidaknya dunia pekerjaanku tidaklah melenceng dari dunia yang kepelajari.
Meskipun terlambat menyadarinya, but finally I know exactly about ”apoteker”, that’s way I choose this profession for my future, my life….Sarana aq menggunakan otakku alias memanfaatkan anugerah otak (yang sedikit cerdas tapi banyak bolot) dengan sebaik2nya sehingga ga kosong tapi penuh dengan ilmu, sarana aq mengais rejeki alias mencari duit dengan spesifikasi ilmuku ini (yang sedikit gampang tapi banyak bikin pusing kalau lagi mentok), sarana aq bersosialisasi alias mengenal orang-orang baru (tapi kadang2 aq merasa dunia farmasi begitu sempit, meskipun ada jargon “dunia tak selebar daun kelor”) dan sarana aq memuaskan kebutuhan jiwaku alias meningkatkan kepercayaan diriku, cieeee……....
Btw kemarin ada teman lamaku yang menanyakan isi zat aktif dari suatu nama produk dagang. Nama produknya terdengar masih baru. Belum terlalu familiar, maklum saja ratusan nama dagang produk baru bermunculan dan kita tidak mungkin menghafal nama dagang, yang kita pelajari adalah nama ingredientnya atau nama zat aktifnya. Terpaksalah aku harus menengok buku pintar untuk mengetahui isinya. Banyak sih nama dagang yang jelas bisa merepresentasikan isi yang terkandung didalamnya, tapi tak sedikit pula yang tidak terlalu berkorelasi dengan isinya. Yah begitulah masih banyak orang-orang yang menyamakan kita dengan asisten apoteker yang pada jago menghapal nama-nama merk dagang. Itulah juga mungkin yang menjadi salah satu alasan sekarang ada peraturan yang mengharuskan untuk mencamtumkan nama zat aktif tepat dibawah pencantuman nama dagang disetiap bentuk kemasannya.
Btw lagi dengan profesiku sekarang aku juga selalu dijuluki “tukang obat” oleh teman-temanku yang tidak sebidang denganku……..(yah mas2 mba2 kalo cuma mau jadi tukang obat mah kaga usah cape-cape kali yaaaa…….)

2 comments:

Anonymous said...

aku baru lulus S1 farmasi, mau ujian masuk apoteker tapi bljarnya bingung. gimana sih tips belajar atau untuk menghadapi ujian masuk apoteker supaya sukses. Terimakasih.

Anonymous said...

aku baru lulus S1 farmasi, mau ujian masuk apoteker tapi bljarnya bingung. gimana sih tips belajar atau untuk menghadapi ujian masuk apoteker supaya sukses. Terimakasih.