3:19 PM
Posted In
ABOUT ARROGANCY
Edit This
Konflik percintaan masa lalu memaksaku untuk tidak mudah percaya tawaranmu.
Kegalauan perasaan yang dulu pernah menyergap mendorongku untuk tak lumpuh oleh rayumu
Kemelut percintaan masa silam menyeretku untuk tidak gampang lumer dengan rajukmu
Aku selalu ingin melihatmu pantang menyerah, tapi aku terlalu angkuh untuk sekedar memberimu kesempatan dihatiku
Aku selalu ingin melihatmu loyal dengan rasamu, tapi aku terlalu angkuh karena tidak memberi kelonggaran untukmu bisa bercokol dihatiku
Sekalipun sikapku seolah-olah menerimamu.....Dalam konteks yang berbeda......
Entah mengapa hatiku dan sikapku sangat rentan untuk saling melawan
Aku selalu tak bosan membanggakan kekuranganku hanya untuk membidik keikhlasanmu
Aku selalu tak ragu menunjukkan kejelekanku hanya untuk menguak kesungguhanmu
Aku selalu tak malu memperlihatkan keburukanku hanya untuk mengukur perasaanmu
Aku berharap bisa mengurangi kadar ”sombong”ku dihati
Agar aku bisa membiarkan kalbuku tersentuh binaran kasihmu
Agar aku bisa menangkap sinyal perhatianmu tanpa menduga hal yang buruk
Agar aku bisa menyerap sinar tulusmu dengan menerimamu dengan tulusku
Agar aku bisa menyehatkan hatiku tanpa berpikir tentang kegagalan dan kegagalan
3:18 PM
Posted In
ABOUT ARROGANCY
Edit This
Aku selalu menginginkanmu sebagai kau yang menerima diriku apa adanya aku.....Tanpa tendesi untuk merubahku.....Merubahku seperti yang kau inginkan......
Tapi apakah ini yang dinamakan ”curang” ketika aku mengharapkan kau seperti yang aku inginkan.....Menyulapmu menjadi pangeran dari negeri dongeng......Untuk mewujudkan mimpiku......
Tapi apakah ini yang dinamakan ”curang” ketika terkadang aku mengeluh dengan kekuranganmu, sementara kau tidak pernah secuilpun mengeluh dengan kekuranganku.......
Tapi apakah ini yang dinamakan ”curang” ketika aku menginginkan kau peduli pada setiap marahku, tanpa peduli dengan setiap marahmu.......
Tuhan, maafkanlah aku......dukunglah keinginanku untuk memberangus kecurangan hati ini.......
Kesabaranmu yang indah masih belum sanggup menciptakan kekokohan hatiku padamu menjadi sekuat baja.....
Kasih sayangmu yang tulus masih belum bisa menghilangkan dahagaku untuk mengenal dunia yang tak selebar daun kelor.....
Bijakmu yang teduh masih belum berkuasa memenangkan egoku yang tak seramah senyumku......
Lembutmu yang rindang masih belum berkutik mengalahkan keakuanku yang tak segurih tawaku.....
Tapi ada yang tak bisa aku pungkiri......bahwa aku sesungguhnya membutuhkanmu.....Meski belum pernah aku ungkapkan lewat bibirku......
Tapi ada yang tak bisa aku sangkal.......bahwa aku merindukan perhatianmu.......Walau tak pernah terurai lewat mulutku......
Tapi ada yang tak bisa aku ragukan......bahwa aku akan selalu setia.......Jika kelak aku benar-benar telah menjadi milikmu atas nama kesucian penyatuan........
4:03 PM
Posted In
ABOUT CHOICE
Edit This
Aku ingin memilihmu karena hatimu yang masih ”bersih” dari aroma percintaan. Aku ingin memilihmu karena hatimu yang masih suci dari ”permainan”. Aku ingin memilihmu karena ”formasi” hatimu yang masih utuh. Aku ingin memilihmu karena kesederhanaan hatimu. Aku ingin memilihmu karena hidupmu yang masih jauh dari ”modernitas”. Aku ingin memilihmu karena hidupmu yang ”sepi” kemelut hati. Aku ingin memilihmu karena kemampuanmu untuk membimbingku agar selalu lurus. Aku ingin memilihmu karena hidupmu yang jauh dari keresahan. Aku ingin memilihmu karena kepolosan hatimu. Aku ingin memilihmu karena kesombongan merupakan barang langka untukmu. Aku ingin memilihmu karena harmoni hidupmu yang seimbang. Aku ingin memilihmu karena kecintaanmu pada-Nya.
Aku ingin memilihnya karena hidupnya yang penuh warna. Aku ingin memilihnya karena pelangi hidupnya yang menggoda. Aku ingin memilihnya karena gemerlap hatinya yang merayu. Aku ingin memilihnya karena keromantisannya yang menggelitik. Aku ingin memilihnya karena dunianya yang dinamis. Aku ingin memilihnya karena berhasil mengantongi secuil rasaku. Aku ingin memilihnya karena kesanggupannya mengobati sedihku. Aku ingin memilihnya karena kerenyahannya membuka cakrawalaku. Aku ingin memilihnya karena kepandaiannya mencetuskan tawaku. Aku ingin memilihnya karena kelihaiannya menculik perhatianku. Aku ingin memilihnya karena kebisaannya memberangus sepiku. Aku ingin memilihnya karena kesuksesannya melelehkan kerasku.
Kau atau Dia..........Tak seharusnya mengusikku berbarengan………
Kau atau Dia..........Tak semestinya menggangguku bersamaan...........
4:02 PM
Posted In
ABOUT DOUBT
Edit This
Jangka waktu selama 9 tahun kau mengenalku ternyata masih belum membuatmu ’pandai’ untuk memahamiku.......
Lamanya perjalanan pertemanan kita ternyata masih membuatmu ’gagap’ mengerti sifatku.......
Kau seharusnya tahu kekerasan batuku yang bisa muncul kapan saja. Kau semestinya sudah hafal dengan ketinggian egoku yang bisa hadir sesukanya.
Selama 8 tahun aku memang hanya menganggapmu teman, tak pernah lebih. Kau adalah teman yang ”ada” jika aku membutuhkanmu. Ketika aku sedang sedih dan galau. Ketika aku sedang jatuh dan rapuh.
Saat aku membiarkan persahabatan kita berjalan jauh melebihi batas teman. Saat aku membiarkan hatiku tersentuh oleh semua kebaikanmu. Saat kita memutuskan untuk selalu bersama. Saat aku mengizinkan kau untuk ”memintaku” pada orangtuaku. Saat perjalanan kita sudah beberapa langkah lagi berujung diPENYATUAN. Mengapa kau masih saja selalu memintaku untuk sekedar mengatakan satu kalimat bahwa aku mencintaimu.....Suatu pertanyaan bodoh yang anehnya tak pernah mau aku jawab.....Suatu permintaan bodoh yang tak seharusnya lagi kau pinta setelah aku sudah mempersilahkanmu ’bicara’ pada orangtuaku. Suatu pertanyaan yang tak aku pedulikan ditengah skema dan rencana pernikahan yang kau gadangkan untuk kita. Suatu pertanyaan yang selalu aku abaikan.....
Kau membuatku amat kecewa. Aku tak menyangka jika keliaranku membuatmu ragu akan perasaan yang aku punya untukmu. Aku memang tidak pernah membalas semua pernyataan-pernyataan cintamu. Aku memang tidak pernah menanggapi pertanyaanmu yang satu itu. Tapi seharusnya kau tahu kalau pernyataan perasaanku tidaklah menjadi penting setelah aku sudah memutuskan akan mempercayakan sisa hidupku padamu.
Aku memang belum mencintaimu, tapi kau seharusnya bisa membaca rasa ’sayang’ku....Mencintai dan menyayangi adalah dua kata yang berbeda untukku.
Apa salah jika aku belum memiliki ’cinta’ itu. Apa salah menjadi orang yang terlalu jujur. Aku tidak bisa mengatakan kata itu karena aku memang belum memilikinya, tapi aku yakin akan bisa memilikinya untukmu. Sepenuhnya untukmu. Itu janjiku, atas nama surgaku. Karena kau kupilih sebagai penuntun kearah surga-Nya.
Ketika keraguanmu padaku akhirnya ’menular’ pada keluargamu. Aku semakin merasa tersudut. Aku merasa harga diriku sebagai perempuan ”dewasa” telah dihempaskan.
Ketika KERAGUAN tentang penyatuan kita tiba-tiba ”merayap” dikeluargamu, kau seperti manekin culun yang kebingungan.
Ketika KERAGUAN tentang keseriusan kita tiba-tiba ”menghinggapi” keluargamu, kau seperti lelaki yang tiba-tiba kehilangan kelelakiannya.
Ketika KERAGUAN tentang perjalanan kita tiba-tiba ”menghinggapi” keluargamu, kau sekejap itu menjadi boneka tolol yang mudah dikendalikan oleh perubahan ekosistemmu.
Ketika KERAGUAN tentang kemantapan kita tiba-tiba ”menghantui” keluargamu, kau berubah wujud menjadi lelaki terlemah yang berkutat dengan kebodohannya.
Ketika kau memintaku untuk memperjuangkan kita didepan orangtuamu. Seharusnya aku mau membantumu. Tapi kau dan keluargamu telah melukai harga diriku. Harga diri yang kuhargai sangat mahal untuk sekedar mentoleransi keadaanmu yang sebenarnya juga sedang tersudut kala itu. Maaf jika aku tidak menggubris permintaanmu untuk menghilangkan egoku.
Jika kau membaca tulisan ini, kau tentu masih ingat kalimat-kalimat terakhirmu sebelum aku memilih untuk melepaskanmu; tak lebih dari permohonan dan permohonan agar menunjukkan rasaku padamu pada keluargamu, demi KITA.....demi KITA.....demi KITA......
Suatu permohonan terbodoh yang pernah ditujukan padaku.
Keyakinanmu padaku kau suratkan dengan keberanianmu melibatkan keluargaku dan keluargamu dalam rencana-rencana indah dalam otakmu. Rencana indah tapi belumlah rapih. Belum rapih ketika begitu mudahnya keraguanmu padaku muncul ditengah-tengah ”persiapan” kita yang sudah terlalu jauh.
Kau dan keluargamu masih menganggap ”mauku” padamu sebagai suatu ”kompromi”.......
Kau dan keluargamu masih menilai ”iyaku” padamu sebagai keterpaksaan karena waktu dan keadaan.....
Kau dan keluargamu menyangka ”rasaku” padamu tidak cukup kuat dan belum cukup teruji......
Kau dan keluargamu mengira ”hatiku” padamu masih terlalu rapuh dan lemah.......
Keluargamu....Aku tak bisa menyalahkan semua KERAGUAN mereka padaku. Tapi kamu.....Aku tak akan pernah bisa memaklumimu karena MERAGUKAN keputusanku menerimamu.....
Aku memang kekanakan, tapi kau adalah orang TERBODOH didunia yang hanya dapat menaksir keseriusanku sebagai suatu PERMAINAN anak kecil......
Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu bukan karena menyakitiku tapi karena menyakiti orangtuaku......
Ketika ”penundaan” rencana penyatuan kita dianggap sebagai solusi temporari oleh keluargamu, maka ”pembatalan” mutlak aku putuskan sebagai ”final decision”.......Tidak ada kata maaf bagiku atas kejadian itu........
4:01 PM
Posted In
ABOUT DOUBT
Edit This
Aku mungkin bisa saja sedikit memaklumi KERAGUANmu padaku.....
Tapi aku sulit memaafkan KERAGUANmu padaku karena muncul disaat yang tidak tepat.....
Kau ”memintaku” pada keduaorangtuaku atas keinginanmu sendiri
Kau ”meminta” aku untuk mendampingi hidupmu selamanya atas kesadaranmu sendiri
Kau ”memohon” aku menjadi milikmu karena hasratmu sendiri
Kau ”memasukkan” aku ke dalam hatimu karena nalurimu sendiri
Kau ”mengungkapkan” rasamu padaku berdasarkan logikamu sendiri
Kau ”mengisi” pikiranmu tentangku atas inisiatifmu sendiri
Semuanya kau yang berperan penuh......Dan memang begitulah semestinya......
Dan ketika keluargamu meragukan kekuatan kita, bukankah kau yang harus menjelaskannya?
Dan ketika keluargamu masih ”gelap” atas perjalanan kita , bukankah kau yang harus menerangkannya?
Dan ketika keluargamu tidak cukup percaya akan keyakinan kita, bukankah kau yang harus meyakinkannya?
Tapi mengapa akhirnya diujung penentuan kita justru kau membebankan keputusan ditanganku?
Tapi mengapa ketika diujung penentuan kita, kau ”meminta” aku untuk memperjuangkan kita?
Disaat aku berpikir bahwa kau seharusnya bisa menyelesaikannya sendiri.....
Ditengah kepercayaanku yang sangat penuh padamu untuk ”menegakkan” kita dengan usahamu sendiri......
Aku sadar pernah meninggalkanmu.....Aku sadar sering melukaimu.....Aku sadar pernah membuangmu.....
Aku sadar sering menyakitimu......Tapi saat itu apa yang harus aku pertahankan dari kita sementara hubungan kita tidak pernah berstatus?
Seharusnya kau tahu kenapa dulu aku ”berjalan” dengan orang lain sebelum setahun terakhir keseriusan kita. Itu bukan karena aku benar-benar ingin pergi darimu tapi karena kau tidak pernah ”gamblang” mengungkapkan hatimu padaku sebelum akhirnya kau ”sanggup” membuka mulutmu untuk dengan jelas menyuratkannya.
Seharusnya kau tahu alasan sebenarnya ketika aku pernah lari dari jangkauanmu dan lari dari perhatianmu. Itu hanya karena aku mencoba untuk ”setia” pada pilihanku saat itu. Lelaki yang lebih ”berwujud”, tidak semu sepertimu. Lelaki yang lebih ”berani” menguraikan perasaannya padaku, tidak pengecut sepertimu. Lelaki yang ”nyata”, tidak ”patung” sepertimu. Apa salah aku memberi ”kesempatan” pada lelaki lain sementara kau tak pernah bisa menggunakan kesempatan yang ada?
Seharusnya kau paham bahwa sikapku yang menjauh dari hidupmu hanya karena aku harus ”loyal” dengan pria pilihanku saat itu. Aku tak pernah bisa untuk ”mendua” ketika aku sudah tegas memilih.
Seharusnya kau tahu mengapa aku ”bersama” dengan orang lain sebelum kau menyatakan ”inginmu” padaku. Itu bukan karena aku tidak menghargai setiap perhatianmu dan semua kebaikanmu, bukan pula karena aku perempuan jahat yang ”suka” mempermainkan perasaan lelaki, tapi aku adalah perempuan yang tak mungkin meraba hatimu sesukaku sekalipun kau menunjukkan lewat sikapmu. Meskipun kau mengganggap aku tahu hatimu tapi aku hanya bisa berpura-pura ”gelap” sebelum kau bisa membuyarkannya.
Kau sendiri yang meyakinkanku bahwa kau menafikan semua masa lalu itu ketika kau memutuskan untuk memilihku.....
Jatuh bangunnya kita adalah suatu perjalanan.......Dan perjalanan itu sepantasnya kau pahami, kau sadari, kau maklumi dan kau yakini sebagai bekal untuk meyakinkan keluargamu, bukan tergoyah oleh pendapat dan opini diluar ”kita” yang tidak tau banyak tentang ”kita”. Hanya kita yang tahu tentang kita. Dan ketika kau tak mampu menjelaskan ”kita”, maka kau kuanggap kalah. ”Kelelakianmu” kunyatakan layak dipertanyakan.
Keputusanku untuk membatalkan ”kita” memang beraroma emosi.......
Permohonanmu agar aku tak pergi, tak bisa mencabut ”kecewa”ku.......
”Permintaanmu” tak pernah sanggup memasuki ruang logikaku......
Keinginanku untuk bersamamu tak dapat menenggalamkan amarahku......
Untuk mentoleransi KERAGUAN DIUJUNG PENENTUAN.......
3:59 PM
Edit This
Aku mungkin bisa saja sedikit memaklumi KERAGUANmu padaku.....
Tapi aku sulit memaafkan KERAGUANmu padaku karena muncul disaat yang tidak tepat.....
Kau ”memintaku” pada keduaorangtuaku atas keinginanmu sendiri
Kau ”meminta” aku untuk mendampingi hidupmu selamanya atas kesadaranmu sendiri
Kau ”memohon” aku menjadi milikmu karena hasratmu sendiri
Kau ”memasukkan” aku ke dalam hatimu karena nalurimu sendiri
Kau ”mengungkapkan” rasamu padaku berdasarkan logikamu sendiri
Kau ”mengisi” pikiranmu tentangku atas inisiatifmu sendiri
Semuanya kau yang berperan penuh......Dan memang begitulah semestinya......
Dan ketika keluargamu meragukan kekuatan kita, bukankah kau yang harus menjelaskannya?
Dan ketika keluargamu masih ”gelap” atas perjalanan kita , bukankah kau yang harus menerangkannya?
Dan ketika keluargamu tidak cukup percaya akan keyakinan kita, bukankah kau yang harus meyakinkannya?
Tapi mengapa akhirnya diujung penentuan kita justru kau membebankan keputusan ditanganku?
Tapi mengapa ketika diujung penentuan kita, kau ”meminta” aku untuk memperjuangkan kita?
Disaat aku berpikir bahwa kau seharusnya bisa menyelesaikannya sendiri.....
Ditengah kepercayaanku yang sangat penuh padamu untuk ”menegakkan” kita dengan usahamu sendiri......
Aku sadar pernah meninggalkanmu.....Aku sadar sering melukaimu.....Aku sadar pernah membuangmu.....
Aku sadar sering menyakitimu......Tapi saat itu apa yang harus aku pertahankan dari kita sementara hubungan kita tidak pernah berstatus?
Seharusnya kau tahu kenapa dulu aku ”berjalan” dengan orang lain sebelum setahun terakhir keseriusan kita. Itu bukan karena aku benar-benar ingin pergi darimu tapi karena kau tidak pernah ”gamblang” mengungkapkan hatimu padaku sebelum akhirnya kau ”sanggup” membuka mulutmu untuk dengan jelas menyuratkannya.
Seharusnya kau tahu alasan sebenarnya ketika aku pernah lari dari jangkauanmu dan lari dari perhatianmu. Itu hanya karena aku mencoba untuk ”setia” pada pilihanku saat itu. Lelaki yang lebih ”berwujud”, tidak semu sepertimu. Lelaki yang lebih ”berani” menguraikan perasaannya padaku, tidak pengecut sepertimu. Lelaki yang ”nyata”, tidak ”patung” sepertimu. Apa salah aku memberi ”kesempatan” pada lelaki lain sementara kau tak pernah bisa menggunakan kesempatan yang ada?
Seharusnya kau paham bahwa sikapku yang menjauh dari hidupmu hanya karena aku harus ”loyal” dengan pria pilihanku saat itu. Aku tak pernah bisa untuk ”mendua” ketika aku sudah tegas memilih.
Seharusnya kau tahu mengapa aku ”bersama” dengan orang lain sebelum kau menyatakan ”inginmu” padaku. Itu bukan karena aku tidak menghargai setiap perhatianmu dan semua kebaikanmu, bukan pula karena aku perempuan jahat yang ”suka” mempermainkan perasaan lelaki, tapi aku adalah perempuan yang tak mungkin meraba hatimu sesukaku sekalipun kau menunjukkan lewat sikapmu. Meskipun kau mengganggap aku tahu hatimu tapi aku hanya bisa berpura-pura ”gelap” sebelum kau bisa membuyarkannya.
Kau sendiri yang meyakinkanku bahwa kau menafikan semua masa lalu itu ketika kau memutuskan untuk memilihku.....
Jatuh bangunnya kita adalah suatu perjalanan.......Dan perjalanan itu sepantasnya kau pahami, kau sadari, kau maklumi dan kau yakini sebagai bekal untuk meyakinkan keluargamu, bukan tergoyah oleh pendapat dan opini diluar ”kita” yang tidak tau banyak tentang ”kita”. Hanya kita yang tahu tentang kita. Dan ketika kau tak mampu menjelaskan ”kita”, maka kau kuanggap kalah. ”Kelelakianmu” kunyatakan layak dipertanyakan.
Keputusanku untuk membatalkan ”kita” memang beraroma emosi.......
Permohonanmu agar aku tak pergi, tak bisa mencabut ”kecewa”ku.......
”Permintaanmu” tak pernah sanggup memasuki ruang logikaku......
Keinginanku untuk bersamamu tak dapat menenggalamkan amarahku......
Untuk mentoleransi KERAGUAN DIUJUNG PENENTUAN.......
3:50 PM
Posted In
ABOUT DOUBT
Edit This
Kau adalah pribadi terindah yang pernah kukenal....
Tapi kau juga pribadi terbodoh yang kutemui....
Kau adalah lelaki yang paling tinggi menjunjungku
Tapi kau juga lelaki terlemah yang akhirnya menjatuhkanku
Kau adalah pribadi terbaik yang pernah kutahu
Tapi kau juga pribadi tertolol yang pernah singgah
Kau adalah lelaki terbersih yang setia meluruskanku
Tapi kau juga lelaki terjahat yang mengecewakanku
Aku, kau sebutkan sebagai wanita pertamamu....
Aku, kau akui telah mengambil hatimu sejak pertama kita bertemu....
Kau, sekalipun bukan pria pertamaku tapi kuharapkan menjadi lelaki terakhirku....
Kau, meskipun belum mencuri cintaku, tapi telah mencuri sayangku....
Ketika kau ”memintaku”, kau terlihat begitu yakin. Dan akupun memiliki keyakinan yang sama denganmu....
Ketika langkah yang kau ambil telah menuju ”dermaga” perjalanan, kita dipaksa untuk ”bersiap” menghadapi keadaan. Keadaan untuk berpikir kedepan.
Arah kebersamaan kita mengharuskan untuk melibatkan keluarga lebih dan lebih dalam. Keadaanku yang jauh darimu, tidak mendukung ”kelancaran” yang kita harapkan. Kau memang sangat mampu ”bercampur” hangat dengan keluargaku. Tak butuh waktu untuk aku sanggup menangkap kasihsayangmu pada keluargaku. Kasih sayang yang sama dengan yang kau berikan padaku. Itu karena kau dapat mendekatkan diri pada keluargaku dengan ”intensitas” yang fleksibel karena berada dikota yang sama. Sementara aku?.....Kita belum mampu ”mencampur”kan aku pada keluargamu lebih dalam. Hal yang seharusnya tidak KITA abaikan.
”Pengetahuan” keluargamu tentangku yang terbatas memaksa mereka untuk ”mengoreknya” darimu. ”Kebutaan” mereka tentangku menyeret mereka untuk tak mau mengalami kegagalan yang sama seperti ”kejadian” kakakmu. Dan disitulah awal KEBODOHANmu.......
Keputusanmu untuk memilikiku selamanya, tidak kau ”sinkron”kan dengan keluargamu. Bibir mereka memang meng”iya”kan kita, tapi seharusnya kau bisa melihat ”tanda-tanda” yang tak sehat, sehingga kau tidak ”ceroboh” bertindak. ”Ceroboh” karena menyiapkan semua ”persiapan” kita tanpa campur tangan keluargamu. Entah ketololan apa yang kau lakukan............
Keluargamu mungkin masih BUTA tentangku, meskipun telah mengetahui keberadaanku dihidupmu dari dulu. Tapi KAU? Kau tidak buta tentangku, lalu mengapa kau tak cukup kuat untuk mampu menyembuhkan KEBUTAAN mereka?
Sebenarnya aku memahami keluargamu atas sikap mereka. Pengalaman pahit kakakmu telah mendorong mereka untuk bisa mengambil pelajaran. Aku tahu mereka hanya ingin diberikan ”ruang” dan ”waktu” untuk sepenuhnya mengenalku. Kalaupun aku memutuskan perpisahan abadi itu karena kekecewaanku padamu.....
Kau, aku anggap sebagai orang sangat jujur....Lalu mengapa ketika melamarku kau meyakinkan aku bahwa keluargamu telah memberikan ”lampu hijau”? Keteledoran yang berbuah fatal.
Jika orang sejujur kau saja bisa melukaiku lalu pada lelaki mana aku bisa MEMPERCAYAKAN HIDUPKU?