PEROKOK, MEROKOK, ROKOK........LINGKARAN IRRASIONAL

5:55 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Merokok......Sepertinya sudah merupakan aktivitas lumrah dilingkungan kita. Objeknya adalah rokok. Subjeknya adalah perokok. Keburukannya adalah tak terhitung. Kebaikannya adalah basi. Basi membicarakan untung ruginya. Basi mengangkat tentang bahayanya. Tapi tak akan pernah basi untuk mengurangi dan menghilangkan adiksinya. Justru anda akan menjadi selangkah lebih maju bila berpikir untuk lepas dari jeratannya.
Merokok. Terutama dilakukan oleh kaum adam, para lelaki yang ingin disebut sebagai pria. Jumlah para pelakunya bukannya berkurang malah semakin bertambah. Semakin rusaklah ”ekosistem” kita ini. Kalau bicara tentang rokok, merokok atau perokok, rasanya kita semua sependapat bahwa anda akan kesulitan menemukan sisi positif dari ketiga istilah tadi. Bahkan para perokok itu sendiri juga pasti sangat setuju dan mengiyakannya. Kita semua juga pasti sependapat kalau tak ada gunanya bicara tentang ”jeleknya” merokok didepan seorang perokok. Buang-buang energi. Karena tidak akan berimbas apa-apa pada kebiasaan buruknya itu. Semuanya harus dikembalikan pada kesadaran, keinginan dan motivasi setiap individu perokok untuk BERHENTI MEROKOK.
Saking banyaknya sisi negatif dari merokok, penulis sampai bingung harus memulainya darimana. Kalau mulai dari bahayanya bagi kesehatan, sepertinya sudah terlalu populer, malah membosankan. Karena hampir seisi dunia ini juga tahu kalau rokok adalah ”racun” bagi tubuh. Dengan merokok berarti perokok ”meracuni” tubuhnya sendiri.
Begitu banyak daftar penyakit-penyakit yang dicetuskan akibat lingkaran ”candu” yang konon katanya bisa membuat orang tidak berpikir rasional. Tidak rasional dengan membiarkan ”racun” mengalir bebas ditubuhnya. Tidak rasional untuk mengikhlaskan ”racun” menggerogoti raganya. Tidak rasional dengan tidak menghentikan ”racun” beterbangan dilogikanya. Semua ketidakrasionalan tentang rokok dan merokok menjadi sangat rasional untuk sang perokok. Akan selalu dipaksa rasional untuk suatu kepuasan. Tidak ada yang irrasional untuk suatu kenikmatan. Kenikmatan yang semu. Tapi kenikmatan yang sangat nyata bagi para penikmatnya, bagi para korban candunya.
Begitu kuat efek ketagihan yang disebabkannya membuat para perokok mengalami kesulitan untuk keluar dari lingkaran itu. Padahal pengetahuan tentang bahaya merokok lengkap dengan ”seabrek” penyakit yang disebabkannya sudah sangat ”familiar” dimasyarakat. Dalam waktu 1 menit saja, tanpa berpikir panjang anda sudah dapat dengan mudah menyebutkan kerugian-kerugian merokok, dan itu tidak akan dapat anda lakukan ketika diminta untuk menyebutkan keuntungannya.
Manfaat merokok hanya dirasakan subjektif para perokok itu sendiri saja. Meskipun sebenarnya mereka tahu tak pernah ada manfaat bila dilihat dari semua sudut keilmuan dan kerasionalan. Mereka tahu kalau mereka sedang merusak tubuh mereka. Namun berusaha seolah-olah tidak peduli untuk menyadari jika sebenarnya tubuh mereka berteriak atau menangis karenanya. Tubuh yang merupakan hadiah dan anugerah luar biasa dari Tuhan. Anugerah yang harus dirawat dan dijaga. Kebayang kan bagaimana kompleknya Tuhan menciptakan tubuh kita ini, dari mulai organ dalam, organ luar, organ besar bahkan organ sekecil apapun memiliki funginya yang luar biasa untuk menjadikannya sempurna dan dapat bekerja dengan baik. Teknologi secangih apapun tidak akan bisa menggantikan kerumitan ”komposisi” tubuh kita ini. Lalu apa pantas manusia dengan seenaknya saja merusaknya hanya karena alasan-alasan yang sama sekali tidak prinsipil.
Pencandu mencandu candu. Selalu butuh ”extra” kemauan untuk bisa kuat keluar dari sesuatu yang beraroma ”candu”. Tidak hanya niat semata, tapi praktek nyata............................(read ”ABOUT STOP SMOKING)

No comments: