GORESAN SEPTEMBER
2:16 PM Posted In ABOUT LIFE Edit This 0 Comments »
Aku tak menyangka akhirnya kesombonganku runtuh juga….Meskipun sedikit, tak banyak….Tapi itu sudah bisa membuatku bernafas lega....Karena aku sudah mulai bisa “menetralisir” pikiranku yang sangat jarang memiliki kemampuan untuk “berkompromi”. Kompromi dengan kenyataan, kompromi dengan keadaan. Kompromi dengan realita yang seolah-olah mengaturku.
Dulu, keputusanku untuk tidak bisa ”berkompromi” dengan kebodohanmu membuatku kehilanganmu selamanya. Aku membatalkan rencana pernikahan kita tanpa suatu kompromi. Aku menghempaskan semua angan kita tanpa suatu kompromi. Suatu kekerasan hati yang berbuah penyesalan. Penyesalan yang sepantasnya memberiku banyak pelajaran. Pembelajaran yang seharusnya tidak dilewatkan dan disia-siakan dengan percuma. Pembelajaran diluar semua teori-teori ”science” yang pernah kukuliti hingga diluar kepala, meskipun sekarang sudah banyak hilang dari memori. Tapi memori tentang kita masih memiliki ”space” yang belum bisa tergusur oleh segala jenis peraturan tentang kebersihan dan ketertiban otak.
Banyak saat, kejadian, peristiwa yang ”melibatkan” kebodohanku yang teramat sangat. Kebodohan yang akhirnya aku jadikan isu dan polemik untuk mulai meragukan ”kepandaian otakku” yang kini sering kupertanyakan, karena ketidakmampuannya dalam ”memfilter” apa yang harus dan tidak harus aku lakukan. Apa yang pantas dan tidak pantas aku lakukan.
”Kau” aku masih suka memanggilmu dengan sebutan kau bukan ”Dia”.
”Dia” adalah kata yang kugunakan untuk dia-dia yang ”tak sengaja hadir” dan ”kuhadirkan” untuk menggantikan posisimu. ”Dia-dia”, Jamak? Iya. Karena tidak hanya ada satu dia. Tapi kejamakan itu masih saja membuatku ”gagu” untuk dapat membunuh keangkuhanku. Keangkuhanku untuk bisa ”mentolerir” dia-dia yang tak sesempurna dirimu.
Sempurna? ”Tak pernah ada manusia yang sempurna”, suatu ungkapan klise yang sering memancing kita untuk menjadi orang bijak ditengah ”kebijakan” yang sering tak bisa seiring sejalan dengan ”nafsu”. Nafsu untuk hanya mendapatkan ”kesempurnaan” dalam kacamata manusia, norma, lingkungan, persepsi, budaya, tradisi dan nilai kepatutan sekumpulan ekosistem tempat kita hidup, bernafas, bersosialisasi dan berinteraksi.
Penilaian ”Kau yang sempurna” seharusnya kujadikan bahan ujian yang dapat membuatku ”naik kelas” dalam realistis hidup, karena sesungguhnya kau juga begitu tidak sempurna dengan bukti dan fakta yang menganga tentang ketololanmu yang tidak bisa ”berkompromi” dengan diriku yang kala itu hanya mengagumimu dan membutuhkanmu. Kekagumanku dan pemujaanku akan kebaikanmu yang berhasil dianalisa oleh laboratorium hatiku memberikan hasil kadar sempurna 100% ternyata BELUM cukup mampu memunculkan ”hasrat” untuk mencintaimu. BELUM adalah kata yang tepat, karena ”hasrat” itu aku yakini pasti akan tumbuh subur jika kupupuk dan kusirami dengan ”rajin”. Sesaat itu aku menjadi begitu membenci satu kata. Yaitu ”cinta”. Kata yang kau tuntut aku ucapkan untukmu hanya SEKALI saja. Sekali untuk selamanya. Entah kenapa diriku mesti terlalu jujur untuk tidak mau mengungkapkan kata yang belum kuyakini betul eksistensinya. Kata yang begitu sombongnya aku simpan rapat dan aku jaga untuk tidak mudah keluar dari bibirku. Aku terlalu sering menggunakan kata BODOH untuk menggambarkanmu dalam ”perkara” yang satu ini, tapi sesungguhnya aku juga memiliki kebodohan yang sama denganmu ketika aku tak mau mengobral kata cinta mengapa juga air mata terlalu mudah mengalir setiap menyadari kehilanganmu. Rapuhku melawan setiap bentuk emosi yang tersenggol sensitivitas hatiku dalam memaknai kepergianmu yang mungkin telah kelelahan menghadapiku.
Dia yang pertama adalah dia yang hadir setelah kau terbang oleh angin kehidupan. Dia yang bukan orang asing untukku. Dia yang pernah satu keluarga denganku dalam konteks ”alumni sekolah”. Dia yang ramah dan menyenangkan. Dia yang kocak dan menggelitik. Dia yang supel dan penghidup suasana. Dia yang “smart” dan “cerah”. Suatu deskripsi yang cukup mempesona. Tapi kehadirannya yang TEPAT setelah kepergianmu membuatku selalu menjadikan kau sebagai pembanding. Meskipun beberapa “kriteria”ku telah jelas menempel pada dirinya.
Saat itu bayang-bayangmu masih terlalu “kental” menghinggapiku, hingga mejadikan dirimu “kiblat” dan “parameter” pria yang layak dikasihi. Bahkan mampu menodai dan merancukan pemahaman sikap “subjektivitas” dan “objektivitas” dalam menilai dia. Aku masih belum sanggup mengencerkanmu dalam cairan otakku dan mengikiskanmu dalam setiap neuron sarafku. Saat itu aura indahmu masih mengkabuti ruang pikiranku dalam konsentrasi tinggi.
Semua mata yang melihat “bahasa tubuh” dia dalam “hadir” dan “menyusup” dihidupku memaknainya dengan arti yang seragam. Arti suatu pengharapan untuk dapat menyelinap dan masuk dalam rongga-rongga hampaku. Semua waktunya yang dia sisihkan untukku. Semua perhatian yang dia curahkan dalam setiap hari-hariku. Semua tentang “semua” yang dia lakukan telah memancingku untuk “menerawang” hatiku. Hasilnya : dia hadir memberi “hidup” baru, tapi belum sanggup sedikit saja mematikan hidupmu dikepalaku. Sangat tidak mungkin mematikan sosokmu dihidupku, aku tak bisa dan belum bisa menemukan lelaki yang sanggup mematikanmu, karena itu aku hanya butuh yang SEDIKIT saja bisa membantu usahaku dalam “menyicil” proyekku untuk menipiskanmu dalam langkahku. Kugunakan alasan beragam untuk memberikan penjelasan pada orang-orang terdekatku untuk memahami penyebab kepergian “dia” yang mungkin letih menyerbu hatiku dengan hatinya, yang sesungguhnya tak pernah “tersurat” jelas dalam kalimat meskipun sangat jelas “tersirat” dalam sikap.
Dia yang kedua adalah “dia” yang kusimpan rapih dalam cerita hidupku. Disimpan untuk dihilangkan dan dihapus secara perlahan namun pasti. Hanya “terukir“ dalam tulisanku. “Kekosongan”ku yang nyata saat itu menyebabkan “dia” bisa masuk dalam hidupku dengan mudah. Apalagi “dia” yang memang “menarik” juga lagi-lagi bukan orang asing bagiku. “Dia” mengulurkan tangannya dengan hangat ditengah kejenuhanku bergumul dalam “performance”mu yang semu. Bahkan “dia” dengan sangat “gamblang” menyatakan keinginannya untuk menjadi orang “terpenting” dalam hidupku.
Dunia yang berhubungan dengan “kata yang pernah kubenci” kembali tidak berpihak padaku ketika kenyataan memaksaku untuk melepaskanmu dalam “bongkahan” prinsipku yang tak ingin menyakiti sesosok wanita yang ternyata telah lebih dulu hadir menemanimu meskipun belum terikat. Padahal realita yang ada saat itu adalah aku merasakan makna kehadiran “dia” telah nyata mengisiku dengan suatu pertanda yang baik yaitu menerima indahnya dengan mulus tanpa membandingkan dengan indahmu. “Kriteria”ku juga telah ”otentik” terformasi dalam sosok “dia”. Tapi egoku kali ini terkalahkan oleh suatu “etika” dalam menempatkan hati.
Aku lagi dan lagi harus berjibaku dengan satu kata ”melepaskan”. Harus ”melepaskan”. Karena aku tidak ingin menjalin ”relationship” dalam bentuk apapun dengan orang yang telah berhasil mencuri hatiku.
Dia yang ketiga adalah ”dia” yang asing. Satu-satunya kata “dia” yang merupakan orang “asing” dalam hidupku. Dia yang sangat jauh dari ”kriteria”ku. Tidak satupun dari penampilannya yang ”menarik”. Yang MENARIK perhatianku justru karena ”dia” dapat memberiku banyak ”peluang” untuk melancarkan aksi dan kebiasaan burukku dalam ”mencaci” orang dalam konteks yang tentu saja kuselimuti dan kusetting ”bercanda” tapi ”bicara fakta”.
Gairah nakalku dalam menjatuhkan orang lagi-lagi menjadi ter”ekspose” ketika semua yang ada pada sosok dirinya ”memancing” untuk itu. Begitu banyak objek dan ”bahan” yang menempel pada ”dia” dapat aku cetuskan dan kusaranakan untuk melancarkan proyek ”hina dina” tak lebih dalam rangka ”kepuasaan”ku, menggelak tawaku sendiri atau sekedar menghilangkan penatku. Anehnya tindakan ”penghinaan” yang kadang-kadang menjadi kegiatan biasa untukku menjadi suatu ”tradisi” ketika berinteraksi dengan dia yang nampaknya juga sangat ”pasrah” dengan ”penjatuhan” dirinya. Nampaknya ”dia” yang ini memang ”dia” yang murni menarik perhatianku justru karena ”asing”nya dan ”image” dirinya yang sangat mudah untuk DIANIAYA. Kegemaranku ”menonjok” orang tidak akan terakomodasikan bila tidak berhadapan dengan “korban” yang “strategis”. Dan ”dia” adalah sosok yang teramat asyik untuk kupaksa ”berkaca”. Nampaknya aku begitu senang memaksa orang seperti ”dia” untuk ”berkaca” untuk menutupi diriku yang juga memang sangat malas ”berkaca”.
Entah apa yang membuat “dia” yang masih “orang baru” dalam “list” temanku menjadi “seru” untuk ”kusentil”. Mungkin karena memang sejak pertama kali bertemu ”dia” begitu gampang dibuat ”kikuk”, dibuat ”bungkam” tapi ingin ”teriak”, ”diam” atau sekedar ”menahan” tapi terkadang ”berontak”, campuran ekspresi yang ”bodoh” itu yang kusuka meskipun akhirnya aku tahu ”dia” bukan orang yang ”kosong” otak. Tapi toh kepuasanku terkadang tersalurkan tatkala melihat makhluk ”pria” kubuat ”speechless” dan menyerah kalah.
Perjalanan waktu memaksaku untuk kehilangan satu persatu ”teman” berbagi. Kehilangan karena kodrati. Dimiliki atau Memiliki. Dua pilihan itu telah mengantarkanku secara alamiah dipaksa untuk kehilangan ”teman”. Dan dia ”tiba-tiba” terbidik untuk kujadikan sasaran ”keluh kesah”ku meskipun awalnya ”gambling” untukku, apakah ”dia” dapat menjadi ”oknum” yang kubutuhkan itu.
Dia yang awalnya hanya kujadikan ”objek penganiayaan” malah berdwi fungsi menjadi ”tong sampah”ku ketika ingin bercerita tentang ”hidup”. Kesenangan berbagi, terbahak, atau sekedar ”rewind” atau ”recollect” kisah diri yang jika terluncur dari mulut dan kepalaku tak akan bisa cukup untuk kujadikan novel hingga puluhan jilid.
Dia dapat menjadi ”pendengar” yang baik yang mampu ”menyamai” posisi temanku yang sudah lebih dulu dan lebih lama menjadi pendengar setiaku. Dan ketika posisiku kini terkadang dituntut dan tertuntut untuk menjadi pendengar untuk mendengarkan temanku maka aku membutuhkan pendengar yang lain untuk mendengarkanku. Kau adalah ”orang asing” yang tak sengaja ”muncul” namun memberikan ”ide” untukku agar dapat kuformat menjadi teman baruku ditengah kelangkaan teman yang kadang kubutuhkan.
Ternyata sosok yang awalnya akan kujadikan ”mainan” baruku ternyata tak sepenuhnya hanya bisa dijadikan ”objek”. ”Dia” ternyata menjadi sosok yang lumayan ”berisi” dengan pola pemikirannnya dan bahan pembicaraannya yang cukup renyah untuk aku ”tindaklanjuti”. Tak butuh waktu lama untukku dapat merasa ”terkoneksi” dengan ”dia”. Meskipun begitu banyak ”polaku” yang sangat tidak sejalan dengan ”polanya”. Justru dengan perbedaan itu dapat terlihat sisi penyikapan yang lain, yaitu ”menghargai perbedaan” itu. Meskipun terkadang aku tetap selalu ”protes” jika ”kebiasaan buruknya” mulai menggangguku atau menggelitikku untuk tak bisa ”diam”. Kebiasaannya memang sangat banyak yang tidak ”masuk” dalam kewajaranku, dan ”dia” cukup demokratis meskipun lebih sering tak peduli. Kenyataannya ”cerewetku” yang notabene untuk kebaikannya sendiri itu hanya terbang melayang tanpa sempat sebentar saja singgah ditelinganya.
”Dia” tak memiliki kesulitan untuk dapat menangkap sinyal lincahku dalam berdebat dan berargumen dalam banyak ”wacana”. Bahkan terkadang wacana itu menjadi lebih luas dan ”beragam” dari yang biasa terangkat dalam acara ”gossip”ku dengan teman-temanku. Dia bisa menjelma menjadi ”recorder” jejak langkahku yang terkadang tak bisa ”menggelinding” dalam obrolan dengan teman-teman kantor. Cetusannya dapat segera kusambar dan cetusanku juga dapat dengan mudah dia tangkap. Semua ”topik” dapat dijadikan ”materi” celotehan yang cukup menarik. Suatu interaksi komunikasi yang ”dua arah”, meskipun tak selalu ”searah setujuan” tak selalu ”seiya sekata”. Banyak pertentangan dan kadang ”debat kusir”. Toh, perbedaan-perbedaan itu menggiring kita pada obrolan yang sehat dan dinamis, saling bersilat kata dan kalimat, terkadang menyebalkan tapi terkadang menyenangkan. Satu hal yang pasti adalah bahwa ”dia” dapat memposisikanku sebagai ”manusia” wajar meskipun dengan beribu dan bertumpuk cerita kompleks. Setidaknya ”dia” masih ”tahan” mendengarkan semua cerita-ceritaku yang tidak penting sekalipun. Dia mampu menyikapi setiap keluh kesah dan kebisinganku, meskipun tidak selalu, karena acap kali ”dia” melakukan aksi ”geleng kepala”. Tak jarang keherananmu padaku membuatku merasa menjadi manusia yang aneh ditengah kewajaran, ”kelurusan” dan ”kemudahan”ku dalam sisi kehidupan yang lain. Tapi setidaknya ”dia” cukup mampu menghargai ”pundi-pundi” sisi kemanusiaanku, selayaknya teman-temanku yang sudah lama kukenal dan mengenalku.
Aku hanya memiliki kriteria tunggal dalam memilih teman yaitu ”berisi”, dan ”dia” setidaknya memiliki itu. Mungkin karena usianya yang memang sudah sangat pantas memahami, mengalami, memaknai, mendalami, menjalani dan menyikapi segala sesuatu dengan bijak, meskipun ”bijak” masih belum ”identik” dengannya bahkan masih sangat ”jauh panggang dari api” ketika akhirnya aku tahu masa lalunya.
Aku sempat terhentak dan ingin memcampakkannya dalam daftar ”temanku” saat ”history”nya tercuat. Bagiku pengalaman hidupnya itu terlalu ”mengerikan” dan ”menyeramkan”. Apalagi aku masih ”sangat amat” ALERGI dengan sosok pria ”labil”, sekalipun hanya sebagai teman. Kegagalan ”kelelakiannya” yang terulang hingga dua kali membuatku terperangah dengan sosoknya yang seharusnya sudah pantas menjadi ”imam”. ”Penolakanku” pada ”dia” saling tarik-menarik dengan ”penerimaanku” atas ”kesalahan”. Manusia memang rentan berbuat ”kesalahan”. Dan ”kesalahan” bisa mudah ”dikonsumsi” dan dibuat oleh semua manusia, termasuk aku. Tapi rasanya untuk jenis ”kesalahan” yang ”dia” lakukan, masih sangat rentan ”pencibiran”. Suatu bentuk ”kesalahan” yang sulit diterima sebagian orang. Aku belum bisa menangkap sinyal ”kebodohan”nya mengapa dia bisa ”mengulang” kesalahan. Nampaknya dia termasuk lelaki yang masih mudah diatur ”api” dan belum sigap ”memanage” emosi, padahal usianya sudah cukup tertuntut untuk itu.
Sisi penolakanku memang lebih menonjol bahkan sempat tak ada ”maklum” untuk itu. Tapi pertemanan yang sudah terlanjur berjalan mengalirkan realita untuk tidak membuangnya dan menjadikannya ”kakak laki-laki” yang tak pernah kumiliki dengan ”hitamnya” yang sudah cukup membuat dia ”tersudut” dalam lembah ketidakpercayaan diri. Hal yang terpenting adalah dia begitu menyadari kesalahannya itu. ”That’s the point”. Meskipun tak pernah ada yang tahu apakah besarnya penyesalannya itu bisa dia ”alihkan” dalam bentuk semangat ”pembenahan diri” dan ”pembersihan diri”nya. Padahal sangat berkorelasi antara penyesalan dan penggubahan. Apalah artinya ”penyesalan” tanpa ”perbaikan”. Kalaupun akhirnya aku tidak men”stop” pertemanan dan ”mengalirkan” hubungan, hanya dengan satu harapan bisa berbuat sesuatu buat orang lain yang notabene cukup ”rusak” dimataku. Meskipun aku tidak pernah tahu caranya, karena aku bukan ”ketok magic”. Pada akhirnya aku masih belum cukup ”berani” dan tidak pernah memiliki ”kapasitas” untuk ”membangunkannya”.
Aku selalu dan selalu ”gatal” ingin mengoreksi kehidupannya yang dikacamataku sangat ”weird” meskipun sebenarnya juga SANGAT BANYAK yang aku harus koreksi dari hidupku sendiri. Tapi fakta bahwa aku tak pernah memiliki teman ”seganjil” dia membuatku ingin ”menggenapkannya” menjadi ”lelaki” yang lebih baik meskipun tidak mungkin bisa aku lakukan selama ”dia” hanya berkubang pada ”keminderannya”, bermesraaan dengan ”kesukaannya”, dan berkutat dengan ”keras kepalanya” tanpa bangkit agar bisa sedikit saja mengurangi egonya untuk hanya hidup di ”jalan” yang dia mau tanpa berkompromi dengan orang lain.
Aura ”gelap” dan sedikit ”sesat” yang sempat terukir diawan sosoknya pernah membuat aku ”takut” tapi ternyata justru terkadang membuatku menjadi ”leluasa” untuk bercerita apapun tanpa berpikir tentang ”etika”, ”batasan” atau ”barrier” yang pantas atau tidak untuk aku ”share”. Pribadinya yang ”ganjil” justru membuatku ”bebas” mengemukakan wacana untuk terlempar tanpa perlu ”diedit”. Penerimaan dia yang natural atas naik-turun, sedih-bahagia, jatuh-bangun, airmata-tawaku telah menyicil kedekatanku dengan dia, disadari maupun tidak disadari.........
Sedikit ”perasaan” aneh secara lamban merangkak ketika ”dia” memberikan perhatian lebih dengan meluangkan waktu dan harinya untuk sekedar menemaniku dalam beberapa ”momen”. Aku ingin berpura-pura buta, seperti halnya ketika ”dia-dia” yang lain juga melakukan hal yang sama. Tapi hasilnya memang memiliki ”satu garis” yang sama. Ada sesuatu dibalik perhatiannya. Aku bosan dicap ”pura-pura bodoh”, ”gagap” dan ”lamban” dalam menanggapi ”perhatian” yang diberikan ”lelaki”. Tapi untuk ”perhatian”nya padaku masih belum pantas dan terlalu dini untuk aku ”tafsir” berlebih karena hanya ”ada” ketika aku membutuhkannya. Akupun tahu ”dia’ tidak akan memiliki keberanian untuk keluar dari ”belenggu” yang dia ciptakan sendiri. Kenyataannya ”kakak” sekaligus ’kakek” yang mulanya hanya kujadikan ”tong sampah” INSTAN masih kuanggap teman tanpa pernah menutup pintu untuk kemungkinan apapun yang Tuhan tentukan untukku.
Yang jelas kini dia sudah tahu ”penerimaanku” padanya, dengan ”sedikit” harapan agar ”dia” mau menjadi manusia yang lebih baik. Pemakluman dan penerimaanku padanya merupakan ”indikator” bahwa aku ternyata adalah ”aku” yang tidak lagi menempatkan diriku seperti puteri dinegeri dongeng yang menanti uluran tangan dari seorang pangeran yang SEMPURNA...........
Dulu, keputusanku untuk tidak bisa ”berkompromi” dengan kebodohanmu membuatku kehilanganmu selamanya. Aku membatalkan rencana pernikahan kita tanpa suatu kompromi. Aku menghempaskan semua angan kita tanpa suatu kompromi. Suatu kekerasan hati yang berbuah penyesalan. Penyesalan yang sepantasnya memberiku banyak pelajaran. Pembelajaran yang seharusnya tidak dilewatkan dan disia-siakan dengan percuma. Pembelajaran diluar semua teori-teori ”science” yang pernah kukuliti hingga diluar kepala, meskipun sekarang sudah banyak hilang dari memori. Tapi memori tentang kita masih memiliki ”space” yang belum bisa tergusur oleh segala jenis peraturan tentang kebersihan dan ketertiban otak.
Banyak saat, kejadian, peristiwa yang ”melibatkan” kebodohanku yang teramat sangat. Kebodohan yang akhirnya aku jadikan isu dan polemik untuk mulai meragukan ”kepandaian otakku” yang kini sering kupertanyakan, karena ketidakmampuannya dalam ”memfilter” apa yang harus dan tidak harus aku lakukan. Apa yang pantas dan tidak pantas aku lakukan.
”Kau” aku masih suka memanggilmu dengan sebutan kau bukan ”Dia”.
”Dia” adalah kata yang kugunakan untuk dia-dia yang ”tak sengaja hadir” dan ”kuhadirkan” untuk menggantikan posisimu. ”Dia-dia”, Jamak? Iya. Karena tidak hanya ada satu dia. Tapi kejamakan itu masih saja membuatku ”gagu” untuk dapat membunuh keangkuhanku. Keangkuhanku untuk bisa ”mentolerir” dia-dia yang tak sesempurna dirimu.
Sempurna? ”Tak pernah ada manusia yang sempurna”, suatu ungkapan klise yang sering memancing kita untuk menjadi orang bijak ditengah ”kebijakan” yang sering tak bisa seiring sejalan dengan ”nafsu”. Nafsu untuk hanya mendapatkan ”kesempurnaan” dalam kacamata manusia, norma, lingkungan, persepsi, budaya, tradisi dan nilai kepatutan sekumpulan ekosistem tempat kita hidup, bernafas, bersosialisasi dan berinteraksi.
Penilaian ”Kau yang sempurna” seharusnya kujadikan bahan ujian yang dapat membuatku ”naik kelas” dalam realistis hidup, karena sesungguhnya kau juga begitu tidak sempurna dengan bukti dan fakta yang menganga tentang ketololanmu yang tidak bisa ”berkompromi” dengan diriku yang kala itu hanya mengagumimu dan membutuhkanmu. Kekagumanku dan pemujaanku akan kebaikanmu yang berhasil dianalisa oleh laboratorium hatiku memberikan hasil kadar sempurna 100% ternyata BELUM cukup mampu memunculkan ”hasrat” untuk mencintaimu. BELUM adalah kata yang tepat, karena ”hasrat” itu aku yakini pasti akan tumbuh subur jika kupupuk dan kusirami dengan ”rajin”. Sesaat itu aku menjadi begitu membenci satu kata. Yaitu ”cinta”. Kata yang kau tuntut aku ucapkan untukmu hanya SEKALI saja. Sekali untuk selamanya. Entah kenapa diriku mesti terlalu jujur untuk tidak mau mengungkapkan kata yang belum kuyakini betul eksistensinya. Kata yang begitu sombongnya aku simpan rapat dan aku jaga untuk tidak mudah keluar dari bibirku. Aku terlalu sering menggunakan kata BODOH untuk menggambarkanmu dalam ”perkara” yang satu ini, tapi sesungguhnya aku juga memiliki kebodohan yang sama denganmu ketika aku tak mau mengobral kata cinta mengapa juga air mata terlalu mudah mengalir setiap menyadari kehilanganmu. Rapuhku melawan setiap bentuk emosi yang tersenggol sensitivitas hatiku dalam memaknai kepergianmu yang mungkin telah kelelahan menghadapiku.
Dia yang pertama adalah dia yang hadir setelah kau terbang oleh angin kehidupan. Dia yang bukan orang asing untukku. Dia yang pernah satu keluarga denganku dalam konteks ”alumni sekolah”. Dia yang ramah dan menyenangkan. Dia yang kocak dan menggelitik. Dia yang supel dan penghidup suasana. Dia yang “smart” dan “cerah”. Suatu deskripsi yang cukup mempesona. Tapi kehadirannya yang TEPAT setelah kepergianmu membuatku selalu menjadikan kau sebagai pembanding. Meskipun beberapa “kriteria”ku telah jelas menempel pada dirinya.
Saat itu bayang-bayangmu masih terlalu “kental” menghinggapiku, hingga mejadikan dirimu “kiblat” dan “parameter” pria yang layak dikasihi. Bahkan mampu menodai dan merancukan pemahaman sikap “subjektivitas” dan “objektivitas” dalam menilai dia. Aku masih belum sanggup mengencerkanmu dalam cairan otakku dan mengikiskanmu dalam setiap neuron sarafku. Saat itu aura indahmu masih mengkabuti ruang pikiranku dalam konsentrasi tinggi.
Semua mata yang melihat “bahasa tubuh” dia dalam “hadir” dan “menyusup” dihidupku memaknainya dengan arti yang seragam. Arti suatu pengharapan untuk dapat menyelinap dan masuk dalam rongga-rongga hampaku. Semua waktunya yang dia sisihkan untukku. Semua perhatian yang dia curahkan dalam setiap hari-hariku. Semua tentang “semua” yang dia lakukan telah memancingku untuk “menerawang” hatiku. Hasilnya : dia hadir memberi “hidup” baru, tapi belum sanggup sedikit saja mematikan hidupmu dikepalaku. Sangat tidak mungkin mematikan sosokmu dihidupku, aku tak bisa dan belum bisa menemukan lelaki yang sanggup mematikanmu, karena itu aku hanya butuh yang SEDIKIT saja bisa membantu usahaku dalam “menyicil” proyekku untuk menipiskanmu dalam langkahku. Kugunakan alasan beragam untuk memberikan penjelasan pada orang-orang terdekatku untuk memahami penyebab kepergian “dia” yang mungkin letih menyerbu hatiku dengan hatinya, yang sesungguhnya tak pernah “tersurat” jelas dalam kalimat meskipun sangat jelas “tersirat” dalam sikap.
Dia yang kedua adalah “dia” yang kusimpan rapih dalam cerita hidupku. Disimpan untuk dihilangkan dan dihapus secara perlahan namun pasti. Hanya “terukir“ dalam tulisanku. “Kekosongan”ku yang nyata saat itu menyebabkan “dia” bisa masuk dalam hidupku dengan mudah. Apalagi “dia” yang memang “menarik” juga lagi-lagi bukan orang asing bagiku. “Dia” mengulurkan tangannya dengan hangat ditengah kejenuhanku bergumul dalam “performance”mu yang semu. Bahkan “dia” dengan sangat “gamblang” menyatakan keinginannya untuk menjadi orang “terpenting” dalam hidupku.
Dunia yang berhubungan dengan “kata yang pernah kubenci” kembali tidak berpihak padaku ketika kenyataan memaksaku untuk melepaskanmu dalam “bongkahan” prinsipku yang tak ingin menyakiti sesosok wanita yang ternyata telah lebih dulu hadir menemanimu meskipun belum terikat. Padahal realita yang ada saat itu adalah aku merasakan makna kehadiran “dia” telah nyata mengisiku dengan suatu pertanda yang baik yaitu menerima indahnya dengan mulus tanpa membandingkan dengan indahmu. “Kriteria”ku juga telah ”otentik” terformasi dalam sosok “dia”. Tapi egoku kali ini terkalahkan oleh suatu “etika” dalam menempatkan hati.
Aku lagi dan lagi harus berjibaku dengan satu kata ”melepaskan”. Harus ”melepaskan”. Karena aku tidak ingin menjalin ”relationship” dalam bentuk apapun dengan orang yang telah berhasil mencuri hatiku.
Dia yang ketiga adalah ”dia” yang asing. Satu-satunya kata “dia” yang merupakan orang “asing” dalam hidupku. Dia yang sangat jauh dari ”kriteria”ku. Tidak satupun dari penampilannya yang ”menarik”. Yang MENARIK perhatianku justru karena ”dia” dapat memberiku banyak ”peluang” untuk melancarkan aksi dan kebiasaan burukku dalam ”mencaci” orang dalam konteks yang tentu saja kuselimuti dan kusetting ”bercanda” tapi ”bicara fakta”.
Gairah nakalku dalam menjatuhkan orang lagi-lagi menjadi ter”ekspose” ketika semua yang ada pada sosok dirinya ”memancing” untuk itu. Begitu banyak objek dan ”bahan” yang menempel pada ”dia” dapat aku cetuskan dan kusaranakan untuk melancarkan proyek ”hina dina” tak lebih dalam rangka ”kepuasaan”ku, menggelak tawaku sendiri atau sekedar menghilangkan penatku. Anehnya tindakan ”penghinaan” yang kadang-kadang menjadi kegiatan biasa untukku menjadi suatu ”tradisi” ketika berinteraksi dengan dia yang nampaknya juga sangat ”pasrah” dengan ”penjatuhan” dirinya. Nampaknya ”dia” yang ini memang ”dia” yang murni menarik perhatianku justru karena ”asing”nya dan ”image” dirinya yang sangat mudah untuk DIANIAYA. Kegemaranku ”menonjok” orang tidak akan terakomodasikan bila tidak berhadapan dengan “korban” yang “strategis”. Dan ”dia” adalah sosok yang teramat asyik untuk kupaksa ”berkaca”. Nampaknya aku begitu senang memaksa orang seperti ”dia” untuk ”berkaca” untuk menutupi diriku yang juga memang sangat malas ”berkaca”.
Entah apa yang membuat “dia” yang masih “orang baru” dalam “list” temanku menjadi “seru” untuk ”kusentil”. Mungkin karena memang sejak pertama kali bertemu ”dia” begitu gampang dibuat ”kikuk”, dibuat ”bungkam” tapi ingin ”teriak”, ”diam” atau sekedar ”menahan” tapi terkadang ”berontak”, campuran ekspresi yang ”bodoh” itu yang kusuka meskipun akhirnya aku tahu ”dia” bukan orang yang ”kosong” otak. Tapi toh kepuasanku terkadang tersalurkan tatkala melihat makhluk ”pria” kubuat ”speechless” dan menyerah kalah.
Perjalanan waktu memaksaku untuk kehilangan satu persatu ”teman” berbagi. Kehilangan karena kodrati. Dimiliki atau Memiliki. Dua pilihan itu telah mengantarkanku secara alamiah dipaksa untuk kehilangan ”teman”. Dan dia ”tiba-tiba” terbidik untuk kujadikan sasaran ”keluh kesah”ku meskipun awalnya ”gambling” untukku, apakah ”dia” dapat menjadi ”oknum” yang kubutuhkan itu.
Dia yang awalnya hanya kujadikan ”objek penganiayaan” malah berdwi fungsi menjadi ”tong sampah”ku ketika ingin bercerita tentang ”hidup”. Kesenangan berbagi, terbahak, atau sekedar ”rewind” atau ”recollect” kisah diri yang jika terluncur dari mulut dan kepalaku tak akan bisa cukup untuk kujadikan novel hingga puluhan jilid.
Dia dapat menjadi ”pendengar” yang baik yang mampu ”menyamai” posisi temanku yang sudah lebih dulu dan lebih lama menjadi pendengar setiaku. Dan ketika posisiku kini terkadang dituntut dan tertuntut untuk menjadi pendengar untuk mendengarkan temanku maka aku membutuhkan pendengar yang lain untuk mendengarkanku. Kau adalah ”orang asing” yang tak sengaja ”muncul” namun memberikan ”ide” untukku agar dapat kuformat menjadi teman baruku ditengah kelangkaan teman yang kadang kubutuhkan.
Ternyata sosok yang awalnya akan kujadikan ”mainan” baruku ternyata tak sepenuhnya hanya bisa dijadikan ”objek”. ”Dia” ternyata menjadi sosok yang lumayan ”berisi” dengan pola pemikirannnya dan bahan pembicaraannya yang cukup renyah untuk aku ”tindaklanjuti”. Tak butuh waktu lama untukku dapat merasa ”terkoneksi” dengan ”dia”. Meskipun begitu banyak ”polaku” yang sangat tidak sejalan dengan ”polanya”. Justru dengan perbedaan itu dapat terlihat sisi penyikapan yang lain, yaitu ”menghargai perbedaan” itu. Meskipun terkadang aku tetap selalu ”protes” jika ”kebiasaan buruknya” mulai menggangguku atau menggelitikku untuk tak bisa ”diam”. Kebiasaannya memang sangat banyak yang tidak ”masuk” dalam kewajaranku, dan ”dia” cukup demokratis meskipun lebih sering tak peduli. Kenyataannya ”cerewetku” yang notabene untuk kebaikannya sendiri itu hanya terbang melayang tanpa sempat sebentar saja singgah ditelinganya.
”Dia” tak memiliki kesulitan untuk dapat menangkap sinyal lincahku dalam berdebat dan berargumen dalam banyak ”wacana”. Bahkan terkadang wacana itu menjadi lebih luas dan ”beragam” dari yang biasa terangkat dalam acara ”gossip”ku dengan teman-temanku. Dia bisa menjelma menjadi ”recorder” jejak langkahku yang terkadang tak bisa ”menggelinding” dalam obrolan dengan teman-teman kantor. Cetusannya dapat segera kusambar dan cetusanku juga dapat dengan mudah dia tangkap. Semua ”topik” dapat dijadikan ”materi” celotehan yang cukup menarik. Suatu interaksi komunikasi yang ”dua arah”, meskipun tak selalu ”searah setujuan” tak selalu ”seiya sekata”. Banyak pertentangan dan kadang ”debat kusir”. Toh, perbedaan-perbedaan itu menggiring kita pada obrolan yang sehat dan dinamis, saling bersilat kata dan kalimat, terkadang menyebalkan tapi terkadang menyenangkan. Satu hal yang pasti adalah bahwa ”dia” dapat memposisikanku sebagai ”manusia” wajar meskipun dengan beribu dan bertumpuk cerita kompleks. Setidaknya ”dia” masih ”tahan” mendengarkan semua cerita-ceritaku yang tidak penting sekalipun. Dia mampu menyikapi setiap keluh kesah dan kebisinganku, meskipun tidak selalu, karena acap kali ”dia” melakukan aksi ”geleng kepala”. Tak jarang keherananmu padaku membuatku merasa menjadi manusia yang aneh ditengah kewajaran, ”kelurusan” dan ”kemudahan”ku dalam sisi kehidupan yang lain. Tapi setidaknya ”dia” cukup mampu menghargai ”pundi-pundi” sisi kemanusiaanku, selayaknya teman-temanku yang sudah lama kukenal dan mengenalku.
Aku hanya memiliki kriteria tunggal dalam memilih teman yaitu ”berisi”, dan ”dia” setidaknya memiliki itu. Mungkin karena usianya yang memang sudah sangat pantas memahami, mengalami, memaknai, mendalami, menjalani dan menyikapi segala sesuatu dengan bijak, meskipun ”bijak” masih belum ”identik” dengannya bahkan masih sangat ”jauh panggang dari api” ketika akhirnya aku tahu masa lalunya.
Aku sempat terhentak dan ingin memcampakkannya dalam daftar ”temanku” saat ”history”nya tercuat. Bagiku pengalaman hidupnya itu terlalu ”mengerikan” dan ”menyeramkan”. Apalagi aku masih ”sangat amat” ALERGI dengan sosok pria ”labil”, sekalipun hanya sebagai teman. Kegagalan ”kelelakiannya” yang terulang hingga dua kali membuatku terperangah dengan sosoknya yang seharusnya sudah pantas menjadi ”imam”. ”Penolakanku” pada ”dia” saling tarik-menarik dengan ”penerimaanku” atas ”kesalahan”. Manusia memang rentan berbuat ”kesalahan”. Dan ”kesalahan” bisa mudah ”dikonsumsi” dan dibuat oleh semua manusia, termasuk aku. Tapi rasanya untuk jenis ”kesalahan” yang ”dia” lakukan, masih sangat rentan ”pencibiran”. Suatu bentuk ”kesalahan” yang sulit diterima sebagian orang. Aku belum bisa menangkap sinyal ”kebodohan”nya mengapa dia bisa ”mengulang” kesalahan. Nampaknya dia termasuk lelaki yang masih mudah diatur ”api” dan belum sigap ”memanage” emosi, padahal usianya sudah cukup tertuntut untuk itu.
Sisi penolakanku memang lebih menonjol bahkan sempat tak ada ”maklum” untuk itu. Tapi pertemanan yang sudah terlanjur berjalan mengalirkan realita untuk tidak membuangnya dan menjadikannya ”kakak laki-laki” yang tak pernah kumiliki dengan ”hitamnya” yang sudah cukup membuat dia ”tersudut” dalam lembah ketidakpercayaan diri. Hal yang terpenting adalah dia begitu menyadari kesalahannya itu. ”That’s the point”. Meskipun tak pernah ada yang tahu apakah besarnya penyesalannya itu bisa dia ”alihkan” dalam bentuk semangat ”pembenahan diri” dan ”pembersihan diri”nya. Padahal sangat berkorelasi antara penyesalan dan penggubahan. Apalah artinya ”penyesalan” tanpa ”perbaikan”. Kalaupun akhirnya aku tidak men”stop” pertemanan dan ”mengalirkan” hubungan, hanya dengan satu harapan bisa berbuat sesuatu buat orang lain yang notabene cukup ”rusak” dimataku. Meskipun aku tidak pernah tahu caranya, karena aku bukan ”ketok magic”. Pada akhirnya aku masih belum cukup ”berani” dan tidak pernah memiliki ”kapasitas” untuk ”membangunkannya”.
Aku selalu dan selalu ”gatal” ingin mengoreksi kehidupannya yang dikacamataku sangat ”weird” meskipun sebenarnya juga SANGAT BANYAK yang aku harus koreksi dari hidupku sendiri. Tapi fakta bahwa aku tak pernah memiliki teman ”seganjil” dia membuatku ingin ”menggenapkannya” menjadi ”lelaki” yang lebih baik meskipun tidak mungkin bisa aku lakukan selama ”dia” hanya berkubang pada ”keminderannya”, bermesraaan dengan ”kesukaannya”, dan berkutat dengan ”keras kepalanya” tanpa bangkit agar bisa sedikit saja mengurangi egonya untuk hanya hidup di ”jalan” yang dia mau tanpa berkompromi dengan orang lain.
Aura ”gelap” dan sedikit ”sesat” yang sempat terukir diawan sosoknya pernah membuat aku ”takut” tapi ternyata justru terkadang membuatku menjadi ”leluasa” untuk bercerita apapun tanpa berpikir tentang ”etika”, ”batasan” atau ”barrier” yang pantas atau tidak untuk aku ”share”. Pribadinya yang ”ganjil” justru membuatku ”bebas” mengemukakan wacana untuk terlempar tanpa perlu ”diedit”. Penerimaan dia yang natural atas naik-turun, sedih-bahagia, jatuh-bangun, airmata-tawaku telah menyicil kedekatanku dengan dia, disadari maupun tidak disadari.........
Sedikit ”perasaan” aneh secara lamban merangkak ketika ”dia” memberikan perhatian lebih dengan meluangkan waktu dan harinya untuk sekedar menemaniku dalam beberapa ”momen”. Aku ingin berpura-pura buta, seperti halnya ketika ”dia-dia” yang lain juga melakukan hal yang sama. Tapi hasilnya memang memiliki ”satu garis” yang sama. Ada sesuatu dibalik perhatiannya. Aku bosan dicap ”pura-pura bodoh”, ”gagap” dan ”lamban” dalam menanggapi ”perhatian” yang diberikan ”lelaki”. Tapi untuk ”perhatian”nya padaku masih belum pantas dan terlalu dini untuk aku ”tafsir” berlebih karena hanya ”ada” ketika aku membutuhkannya. Akupun tahu ”dia’ tidak akan memiliki keberanian untuk keluar dari ”belenggu” yang dia ciptakan sendiri. Kenyataannya ”kakak” sekaligus ’kakek” yang mulanya hanya kujadikan ”tong sampah” INSTAN masih kuanggap teman tanpa pernah menutup pintu untuk kemungkinan apapun yang Tuhan tentukan untukku.
Yang jelas kini dia sudah tahu ”penerimaanku” padanya, dengan ”sedikit” harapan agar ”dia” mau menjadi manusia yang lebih baik. Pemakluman dan penerimaanku padanya merupakan ”indikator” bahwa aku ternyata adalah ”aku” yang tidak lagi menempatkan diriku seperti puteri dinegeri dongeng yang menanti uluran tangan dari seorang pangeran yang SEMPURNA...........