MEETING……….OH MEETING

4:55 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Rapat istilah bahasa indonesianya dan kita lebih suka menggunakan istilah meeting ketimbang rapat, lebih keren gitu deh…..Tapi istilah meeting memang lebih populer, kalo kata rapat berasa jadul, lebih cocok dipakai untuk rapat RT atau RW he…he….
Diadakan setiap satu minggu sekali. Rentang waktu itu dirasa lebih dari cukup untuk melihat dan memantau perkembangan pekerjaan yang berjalan dari tiap-tiap bagian atau departemen yang tentunya memiliki tugas dan kewajiban masing-masing sesuai dengan job descriptionnya.
Khusus membahas meeting diperusahaanku, diadakannya rutin setiap hari rabu, kecuali ada hal-hal tertentu yang menyebabkan meeting berpindah hari (cuma penundaan meeting doank) atauuuuu (ini bagian yang paling banyak disuka) ditiadakan karena alasan-alasan tertentu misalnya karena para manager tidak masuk atau ada urusan yang lain misalnya ada tamu penting or keluar pabrik.
Maklumlah meskipun peserta rapat adalah apoteker semua (kecuali manajer tehnik) tapi kalau para apoteker senior alias para manager tidak ada maka rapat ditiadakan, karena “kita” masih dikategorikan apoteker-apoteker muda meskipun umurnya sudah tidak muda-muda amat (“kita” adalah password untuk apoteker penghuni mess “single only”)

Sebenarnya tujuan meeting itu pastilah baik. Setiap permasalahan bisa dibahas secara terbuka, yang berarti penyelesaiannya bisa lebih baik dan cepat, setiap peserta meeting juga bisa sumbang pikiran atau mengeluarkan pendapatnya dengan bebas (kalau yang punya keberanian atau cukup PD dengan pendapatnya). Tapi tentu saja “bebas” yang bertanggung jawab.

Tidak tahu juga sebab dan sejarahnya kenapa para peserta rapat (kecuali bos tentunya) agak girang kalau kebetulan tidak rapat. Mungkin karena meeting identik dengan “kaku”, “serius”, “formal” dan berbau “pertanggungjawaban” yang ujung-ujungnya beban bagi beberapa peserta meeting. Sebenarnya kalau untukku pribadi tidak pernah ada masalah dengan yang namanya “meeting”, tapi harus aku akui bahwa meeting yang sekarang berkembang menjadi mulai “tidak sehat”.
Meeting yang sudah biasa kami lakukan, entah darimana awalnya menjadi tidak sesehat dulu lagi. Padahal dulu meeting merupakan kegiatan yang cukup asyik buatku. Tapi aku ragukan itu sekarang. Karena meeting yang dulunya merupakan pemacu atau pendorong kualitas kerja sekaligus bisa dijadikan tolak ukur output perusahaan dari berbagai sudut (itulah kenapa yang paling getol meeting adalah “bos”, karena tentunya menguntungkan perusahaan) telah menjadi arena saling menjatuhkan. Memang tidak seekstrim benar-benar menjatuhkan, tapi unsur “saling menyalahkan” atau “saling menyudutkan” sudah menjadi pemandangan tidak sedap yang terjadi dibeberapa kali meeting akhir-akhir ini, dan bukan tidak mungkin menjadi “habit”. Sebenarnya memang tidak selalu terjadi disetiap meeting, tapi aura meeting dirasakan mulai kelabu dan menjadi momok yang kurang menyenangkan bagi beberapa peserta meeting.

Hal seperti itu sebenarnya sangat lumrah di dunia kerja manapun. Tapi tetap saja ini membuatku jengah. Bila kembali ke basic-nya manusia yang umumnya cenderung melindungi diri dan semua yang serba menguntungkan bagi dirinya sendiri, hal itu memang wajar. Tapi ”awan” dimeeting mulai membuat ”kita” merasa tidak nyaman. Bahkan akhirnya ”hawa panas” output dari meeting terbawa hingga urusan kerjaan sehari-hari. Tidak sehat kan? Karena tentunya akan mempengaruhi hasil pekerjaan.
Istilah senioritas yang awalnya tidak berlaku diperusahaanku, kini mulai terasa. Hal tersebut tidak terlalu berimpact padaku, mungkin karena bidang atau departemenku dikantor ini. Tapi lumayan berpengaruh pada rekanku beberapa apoteker muda yang lain. Tak banyak yang bisa ”kita” lakukan, tapi aku tetap berharap kekompakan ”kita” tetap teguh tidak tergoyahkan oleh apapun. Karena sejak awal ”kita” memang menginginkan ”udara” yang sehat untuk kita bernafas setiap hari diperusahaan ini.

Kalau dulu “alergi” meeting lebih murni karena penyakit manusiawi yang lebih sering menyerang para senior kita seperti sindrom “malas ngobrol dengan bos”, “enggan berdebat dengan bos, dan “ogah disuguhi pekerjaan atau menambah kerjaan”. Bukan berarti “kita” tidak mempunyai atau mengalami sindrom itu, tapi mungkin karena kita yang muda-muda masih mempunyai semangat yang lebih besar, masih haus akan ilmu dan wawasan, dan lebih mempunyai banyak harapan untuk kemajuan perusahaan. Bukan berarti juga mengecilkan semangat para senior, buktinya ditempat kerjaku dulu justru para senior-seniornya yang lebih semangat, sangat getol lembur, bekerja tak kenal waktu dan semua yang berbau loyalitas tinggi. Dari hal ini sepertinya kondisi perusahaan adalah hal utama yang menjadi “precursor” tinggi tidaknya loyalitas para pegawainya. Bukankah timbalbalik perusahaan merupakan dasar yang sangat penting?. Jika saja semua perusahaan memegang teguh istilah “simbiosis mutualisme” maka “para orang atas” dan “orang dibawahnya” akan saling memberikan penghargaan dalam bentuknya masing-masing. Atau bukankan semua itu tergantung pada setiap individunya itu sendiri?
Entahlah.....Yang jelas aroma saling melempar kesalahan adalah aroma getir yang paling tidak aku sukai dalam meeting, karena alangkah celakanya jika hal tersebut sampai bisa merugikan orang lain. Dan alangkah bodohnya jika hal-hal yang sebenarnya bisa didiskusikan diluar meeting harus terexpose dimeeting. Karena ”bos” sebagai peserta meeting bisa dengan cepat menangkap kesalahan anak buahnya, dan itu bisa terpatri dan terukir sebagai catatan hitam. Hal yang benar saja bisa mejadi salah dimata bos, apalagi hal yang salah. Itulah mengapa setiap wacana yang keluar dimeeting yang menyangkut ”kelangsungan” orang lain harus merupakan wacana yang bertanggung jawab. Kecuali jika”bos” bisa melihat gelagat tidak sehat itu dengan bijaksana dan tidak terlalu mudah terprovokasi oleh opini salah satu pihak. Opini adalah opini, opini belum tentu adalah fakta, fakta berdasarkan kebenaran, kebenaran muncul karena kejujuran, dan kejujuran muncul karena kebersihan hati. Opini bisa berbeda-beda karena salah paham, opini bisa berbeda karena kurang komunikasi. Akhirnya ilmu berkomunikasi dirasakan menjadi hal yang sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman apapun. Selain kemampuan komunikasi, kemampuan mengolah emosi juga merupakan faktor yang sangat penting, karena salah ucap bisa menyebabkan hal yang fatal, yang disengaja maupun tidak disengaja. Kita tidak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi disetiap meeting, karena emosi yang keluar dimeeting juga tidak pernah bisa diterka kapan dan kenapa tersulut, bisa karena masalah antar personal, murni masalah kerja, bahkan masalah pribadi yang harusnya menjadi konsumsi pribadi juga bisa terbawa kedunia kantor. Untuk urusan mengolah komunikasi dan emosi, aku pribadi juga masih harus banyak belajar. Kadang-kadang karena bingung dengan kondisi meeting yang mulai berapi, biasanya aku cuma bertindak sebagai ”penonton”.

Hawa yang tidak kondusif dalam meeting sangatlah tidak cantik dimata semua orang. Suara-suara sengau yang tidak merdu itu seharusnya tidak akan terjadi jika saja masing-masing personal tidak selalu merasa lebih benar apalagi paling benar diantara yang lain. Sikap saling mau mendengarkan pendapat, siap menerima kritikan, ikhlas mendapatkan masukan, dan sikap saling menghargai adalah kunci dari hubungan kerja yang positif. Aku hanya bisa berharap semoga bara-bara yang pernah muncul tidak terbakar, semoga air bisa mendinginkan kepala dan memadamkan bara itu sehingga tidak terpecik menjadi api. Karena sebenarnya dibalik ”panas”nya meeting, kita semua para peserta rapat selalu ”hangat” bila diluar rapat. Kapan saja dan dimana saja kami semua bisa tertawa bersama-sama, tersenyum bersama-sama dan bercanda bersama. Hal apapun diluar pekerjaan bisa menjadi topik menarik obrolan kami. Semoga lembaran momen-momen indah yang kami lewati bisa menjadi ”alarm” untuk mengingatkan kami semua akan indahnya persaudaraan, eloknya silahturahmi dan rindangnya kebersamaan dan kekompakan...........

No comments: