10:29 AM
Posted In
ABOUT LIFE
Edit This
Hidupku kini adalah mengalir……Natural tapi terkadang artifisial. Sederhana tapi terkadang kompleks. Kehidupanku adalah pembelajaranku. Pembelajaranku adalah pengalamanku. Pengalamanku adalah kisahku. Kisahku adalah perjalananku. Perjalananku adalah jatuh dan bangunku. Jatuh dan bangunku adalah warnaku. Warnaku adalah tawa dan sedihku. Tawa dan sedihku adalah ekspresiku. Ekspresiku adalah karakterku. Karakterku adalah kekuatanku. Kekuatanku adalah ketegaranku. Ketegaranku adalah keceriaanku. Keceriaanku adalah pencitraanku. Pencitraanku adalah kedinamisanku. Kedinamisanku adalah pelangiku. Pelangiku adalah langkahku. Langkahku adalah kepercayaan diriku. Kepercayaan diriku adalah kemampuanku. Kemampuanku adalah pengetahuanku. Pengetahuanku adalah ilmuku. Ilmuku adalah otakku. Otakku adalah takdirku. Takdirku adalah realitaku. Realitaku adalah kerikilku. Kerikilku adalah sayapku. Sayapku adalah hidupku. Hidupku adalah gelombangku. Gelombangku adalah kerumitanku. Kerumitanku adalah hatiku. Hatiku adalah kelemahanku. Kelemahanku adalah logikaku. Logikaku adalah kebingunganku. Kebingunganku adalah kegagapanku. Kegagapanku adalah kebodohanku. Kebodohanku adalah manusiawiku. Manusiawiku adalah keplin-plananku. Keplin-plananku adalah keraguanku. Keraguanku adalah emosiku. Emosiku adalah egoisku. Egoisku adalah kemauanku. Kemauanku adalah kebebasanku. Kebebasanku adalah kenyataanku. Kenyataanku adalah.....hidupku yang kubiarkan mengalir..........
10:16 AM
Posted In
ABOUT STRUGGLE
Edit This
“Laskar Pelangi” !! sebuah kalimat singkat yang cukup fenomenal....Tidak hanya novelnya yang sukses besar, tapi juga ”pengejawantahannya” dalam bentuk karya ”audiovisual” berupa film yang akhirnya juga mendulang sukses yang sama. Keraguan beberapa orang pencinta novel Laskar Pelangi akan kemampuan dan kelihaian sineas Indonesia dalam ”menterjemahkan” dan menuangkan ”arti” serta ”jiwa” yang kental tersurat dan tersirat dalam novel karya Andrea Hirata itu, akhirnya sedikit banyak terbantahkan dengan kesanggupan Mira Lesmana dan Riri Reza ”sang empunya” penggarap film Laskar Pelangi dalam menciptakan sebuah karya film yang mampu menyamai ”skor” karya novelnya yang oleh sebagian orang dinilai ”extraordinary”.
Disebut sebagai novel yang ”tak biasa” karena dinilai begitu ”inspiratif”, menggugah dan menyentuh. Faktanya ternyata memang karya novel tersebut telah sanggup merasuki dan menyentil ”semangat perjuangan”, ”sisi kemanusiaan” dan ”sudut nurani”. Makna yang terukir dalam novel tersebut telah mampu menyihir ”soul” yang kuncup menjadi mekar dengan menyemburkan aroma kebencian pada KEBODOHAN, kebencian akan keterbelakangan dan kemalasan. Kata-kata yang terangkai dalam novel tersebut juga telah mampu menggambarkan esensi dari pengabdian dan ketulusan serta menabur benih pengorbanan dan cinta kasih.
”Booming” novel Laskar Pelangi yang ”diaransemen” dalam bentuk berbeda menjadi sebuah karya film juga telah berhasil dikemas menjadi tontonan yang menarik dan tidak sekedar ”saduran” karena sanggup ”menghidupkan” aura yang tersebar dalam novelnya. Meskipun tidak sepenuhnya dapat mewakili keseluruhan deskripsi yang meluncur bebas dalam kalimat yang tergores dalam novelnya, namun film Laskar Pelangi mampu merepresentasikan inti ceritanya. Kemunculan film Laskar Pelangi disadari telah mampu menyedot perhatian masyarakat yang haus akan tayangan yang edukatif dan inovatif. Terbukti sudah bahwa ternyata kita masih sangat ”lapar” untuk menikmati karya anak bangsa berbobot yang diharapkan dapat meningkatkan bobot setiap penikmatnya. Tokoh dan pemeran-pemerannya yang multiusia juga telah ikut membantu kesuksesan film tersebut, karena ”anak-anak” yang biasanya ”kebingungan” untuk mencari bahan dan objek tontonan dibioskop, kini berbondong-bondong ikut merasakan”kehebohan” Laskar Pelangi.
Antusias yang sangat tinggi dalam menikmati film Laskar Pelangi dapat dijadikan parameter bahwa masyarakat akan dan telah bosan bergumul dengan tayangan tidak bermutu yang jauh dari realitas, berbau imitasi, tidak otentik, destruktif dan tidak rasional.
Kehadiran Laskar Pelangi telah menggiring keingintahuan positif dan memunculkan ”euforia” yang bermanfaat.
EUFORIA Laskar Pelangi menjadi ajang untuk mendengungkan kembali euforia dalam menyelimuti hidup dengan PERJUANGAN.
EUFORIA Laskar Pelangi menjadi arena dan salah satu sarana untuk menghidupkan kembali euforia dalam manciptakan KEBANGKITAN.
Laskar Pelangi diakui dapat menjadi “bengkel” bagi onderdil hati yang penat, menjadi ”rumah sakit” untuk raga-raga yang disfungsi, menjadi ”taman bunga” bagi jiwa-jiwa yang layu, sebagai ”pembangkit” untuk jiwa-jiwa yang sakit, dan sebagai ”langit” bagi pemikiran-pemikiran yang sempit. Tidak hanya itu, karya tersebut juga sanggup menjelma sebagai ”penggugah” bagi orang-orang yang kalah, kalah dalam menghadapi hidup, kalah dalam mematikan keterpurukan, kalah dalam menyikapi cobaan, kalah dalam mentoleransi kerumitan, kalah dalam membasmi kegelapan, kalah dalam memaknai anugerah dan bersyukur, serta kalah dalam mengalahkan setiap bentuk kesulitan.