TIPS MENGHADAPI INTERVIEW KERJA

5:57 PM Posted In Edit This 0 Comments »
1. Siapkan mental dan percaya diri anda. Tempatkan kepercayaan diri anda dalam porsi yang tepat. Jangan krisis percaya diri, jangan pula PD berlebihan. Resapilah bahwa ”percaya diri” merupakan awal dari kesuksesan interview kerja anda. Karena percaya diri akan membuat langkah anda lebih mantap. Percaya diri akan membuat wajah anda lebih tegak. Percaya diri akan membuat anda yakin pada kelebihan anda.
2. Siapkan materi interview anda. Meskipun pertanyaan wawancara tidak bisa ditebak, tapi setidaknya jangan biarkan otak anda kosong. Jika waktu anda ”mepet”, pelajarilah bahan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan diwawancara. Banyaklah membaca untuk mengisi otak anda dan pelajarilah apa yang bisa anda pelajari. Tapi jangan pula memaksakan diri. Pertanyaan bisa diluar dari spesifikasi ilmu anda, tetapi dengan anda menerapkan tips no.1, anda bisa menghadapinya dengan lebih baik.
3. Berikan penampilan luar terbaik anda. Gunakanlah busana yang rapih, sopan tapi tetap menarik. Tidak dapat dipungkiri bahwa bagusnya ”first impression” yang diperoleh dari tampilan anda akan memberikan kesan awal yang positif. Busana yang rapih atau tidak kusut akan mencerminkan kerapihan anda dalam bekerja. Busana yang sopan dan resmi atau formal, selain menghargai diri anda juga akan sangat menghargai mereka yang akan anda hadapi (pewawancara). Busana yang menarik akan merefleksikan anda sebagai pribadi yang tidak hangat, menyena
4. Jangan berlebihan dengan dandanan anda. Berdandanlah dengan senatural mungkin dan tidak “menor”. Hindari warna pakaian dan sepatu yang mencolok. Usahakan tampil elegan dengan sederhana. Hindari pula pemakaian aksesoris yang berlebihan.
5. Gunakanlah bahasa yang baik dan benar dalam menjawab pertanyaan selama interview, agar dapat dipahami dengan mudah oleh pewawancara anda. Jagalah intonasi bicara anda dengan rapih agar jawaban anda tersampaikan dengan lancar dan maksud anda dapat tertangkap dan terfasilitasi dengan baik.
6. Dalam berbicara, biasakanlah menatap mata orang yang bersangkutan. Jangan biarkan mata anda tidak fokus, apalagi “jelalatan” atau “belanja”.
7. Tunjukkan sisi positif anda tanpa terlalu menutupi kekurangan anda. Setiap jawaban anda akan sangat berharga untuk penilaian mereka. Tunjukkan pula optimisme dan kemampuan anda dalam menghadapi setiap masalah dan kendala. Jangan tampilkan keragu-raguan dalam jawaban anda, karena akan merefleksikan pribadi anda.
8. Kondisikan anda dalam situasi ”sersan” serius tapi santai. Tetaplah menjaga diri anda untuk tidak terbawa suasana tegang. Jangan biarkan anda dalam tekanan. Usahakan untuk rileks tanpa mengurangi keseriusan. Ketenangan anda akan mempengaruhi jawaban anda. Ketenangan akan mengkondusifkan otak dan pikiran anda untuk bekerja teratur dan lancar.

SMOKING HABIT

5:57 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Hasil penelitian di Universitas Harvard dan Universitas San Diego menyebutkan bahwa keputusan berhenti merokok bukan keputusan pribadi, tetapi keputusan kelompok; perokok cenderung berhenti merokok secara bersama dalam sebuah kelompok. Mereka tidak berhenti satu per satu.
Subyek penelitian adalah perokok dan bukan perokok di Amerika Serikat beserta komunitas disekitarnya, seperti keluarga, tetangga, rekan kerja, dan teman serta temannya teman.
Hasil penelitian yang telah diterbitkan dijurnal “The New England Journal of Medicine”, Mei 2008, menunjukkan, perokok cenderung berhenti merokok jika teman, keluarga, atau tetangganya juga berhenti merokok. Artinya, keputusan berhenti merokok bukan keputusan pribadi, tetapi lebih merupakan keputusan bersama dalam suatu kelompok atau komunitas.
Pengaruh sosial yang kuat bukan hanya mempengaruhi keputusan berhenti merokok, tetapi juga mempengaruhi keputusan untuk mulai merokok. Sebagai contoh, orang mulai merokok ketika masa remaja akibat dorongan teman-teman disekolah.
Keputusan merokok lebih didorong oleh pengaruh sosial. Dari penelitian tersebut ditemukan kemungkinan seorang merokok akan turun 25 persen jika saudara kandungnya berhenti merokok, turun 36 persen jika temannya berhenti merokok, dan turun 67 persen jika pasangan hidupnya berhenti merokok.

MAFIA PERADILAN.........MAFIA KEJAKSAAN

5:56 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Akhir- akhir ini gedung bundar Kejaksaan Agung menjadi sorotan khalayak ramai. Tapi sayangnya bukan karena prestasinya tapi sorotan tentang aroma ”bau busuk” didalamnya yang terkuak. Tepatnya mulai awal bulan maret kemarin, yaitu sejak jaksa Urip Tri Gunawan yang menyelidiki kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) tertangkap tangan oleh KPK beserta uang sebesar 660.000 dolar US yang senilai dengan 6,1 miliar rupiah dari Artalyta Suryani. Sungguh jumlah uang yang luar biasa besar!!!!!! Ditengah kondisi perekonomian masyarakat yang morat-marit dan compang-camping, para pejabat negara dengan seenaknya menyalahgunakan jabatan untuk mengeruk kekayaan, dengan menganiaya sumpah mereka dan membunuh kebenaran. Aku ”speachless” dibuatnya. Suatu ironi yang menyedihkan.
Masih jelas dibenak dan ingatan kita bagaimana mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat kecil berdemonstrasi dibulan Mei, untuk meneriakkan bahwa kenaikan BBM hanya akan menambah beban rakyat dan semakin mencekik kehidupan rakyat kecil, tiba-tiba awal Juni ini kita dikagetkan dengan ”mafia-mafia” kejaksaan yang bermunculan meramaikan proses peradilan Artalyta Suryani.
Sebenarnya sudah bisa aku duga bahwa akan banyak nama yang akan terkait akibat tertangkapnya sang penerima suap (Urip Tri Gunawan) dan pemberi suap (Artalyta Suryani).
Dalam sidang di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan terdakwa Artalyta Suryani, diputar rekaman percakapan via telepon antara terdakwa dengan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kemas Yahya Rahman dan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Untung Udji Santoso. Meskipun aku termasuk orang yang ”bolot” tapi sebodoh-bodohnya aku bisa menangkap dengan jelas adanya ”relasi” atau kedekatan para jaksa itu dengan sang terdakwa, padahal itu jelas-jelas melanggar ketentuan. Yang membuatku bertambah geli adalah melihat ”kekocakan” pembelaan mereka berkaitan dengan pembicaraan telepon itu. Semua alibi-alibi mereka bagiku sama sekali tidak masuk akal, semua itu malah membuat mereka seperti BADUT. Badut-badut peradilan itu sibuk bersilat lidah, tapi tak sedikitpun membuatku bergeming. Aku dan semua masyarakat yang menyimak kasus ini mungkin hanya bisa tersenyum sinis melihat ”tikus-tikut” kejaksaan itu tiba-tiba menjadi selebritis gedung bundar.
Sepertinya Kejaksaan Agung harus sungguh-sungguh bekerja keras untuk bisa mengembalikan citra dan kepercayaan masyarakat yang sudah tercoreng. Jampidsus Kemas Yahya Rahman yang merupakan atasan Urip Tri Gunawan memang sudah dicopot dari jabatannya, tapi hanya dimutasi, karena proses peradilan yang masih berjalan. Entah revolusi sistem apa yang bisa merombak kekacauan yang terjadi.
Kita semua hanya bisa berharap semoga tak ada lagi skenario kotor yang melingkupi lembaga peradilan itu. Masyarakat sudah jenuh membaca indikasi ”kenakalan” di dunia peradilan di tanah air tercinta ini. Memperbaiki MORAL memang bukan perkara mudah. Apalagi bila budaya kotor itu sudah menjadi tradisi kultural.
Sebenarnya bukan pertama kali ini saja tindakan ”jualbeli” wewenang dan jabatan peradilan terkuak ke area publik. Kita mungkin masih ingat kasus Mantan Dirut Jamsostek yang membeberkan bahwa dia sudah memberi uang jaksa senilai 600 juta, atau kasus Adelin Lis yang divonis bebas dari dakwaan pembalakan liar yang telah merugikan negara ratusan miliar rupiah.
Mungkin masih banyak lagi ”borok-borok” peradilan dinegeri kita ini. Keadilan begitu mudah mejadi arena transaksi. Kebenaran begitu mudah diputarbalikkan semudah membalik telapak tangan.

PEROKOK, MEROKOK, ROKOK........LINGKARAN IRRASIONAL

5:55 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Merokok......Sepertinya sudah merupakan aktivitas lumrah dilingkungan kita. Objeknya adalah rokok. Subjeknya adalah perokok. Keburukannya adalah tak terhitung. Kebaikannya adalah basi. Basi membicarakan untung ruginya. Basi mengangkat tentang bahayanya. Tapi tak akan pernah basi untuk mengurangi dan menghilangkan adiksinya. Justru anda akan menjadi selangkah lebih maju bila berpikir untuk lepas dari jeratannya.
Merokok. Terutama dilakukan oleh kaum adam, para lelaki yang ingin disebut sebagai pria. Jumlah para pelakunya bukannya berkurang malah semakin bertambah. Semakin rusaklah ”ekosistem” kita ini. Kalau bicara tentang rokok, merokok atau perokok, rasanya kita semua sependapat bahwa anda akan kesulitan menemukan sisi positif dari ketiga istilah tadi. Bahkan para perokok itu sendiri juga pasti sangat setuju dan mengiyakannya. Kita semua juga pasti sependapat kalau tak ada gunanya bicara tentang ”jeleknya” merokok didepan seorang perokok. Buang-buang energi. Karena tidak akan berimbas apa-apa pada kebiasaan buruknya itu. Semuanya harus dikembalikan pada kesadaran, keinginan dan motivasi setiap individu perokok untuk BERHENTI MEROKOK.
Saking banyaknya sisi negatif dari merokok, penulis sampai bingung harus memulainya darimana. Kalau mulai dari bahayanya bagi kesehatan, sepertinya sudah terlalu populer, malah membosankan. Karena hampir seisi dunia ini juga tahu kalau rokok adalah ”racun” bagi tubuh. Dengan merokok berarti perokok ”meracuni” tubuhnya sendiri.
Begitu banyak daftar penyakit-penyakit yang dicetuskan akibat lingkaran ”candu” yang konon katanya bisa membuat orang tidak berpikir rasional. Tidak rasional dengan membiarkan ”racun” mengalir bebas ditubuhnya. Tidak rasional untuk mengikhlaskan ”racun” menggerogoti raganya. Tidak rasional dengan tidak menghentikan ”racun” beterbangan dilogikanya. Semua ketidakrasionalan tentang rokok dan merokok menjadi sangat rasional untuk sang perokok. Akan selalu dipaksa rasional untuk suatu kepuasan. Tidak ada yang irrasional untuk suatu kenikmatan. Kenikmatan yang semu. Tapi kenikmatan yang sangat nyata bagi para penikmatnya, bagi para korban candunya.
Begitu kuat efek ketagihan yang disebabkannya membuat para perokok mengalami kesulitan untuk keluar dari lingkaran itu. Padahal pengetahuan tentang bahaya merokok lengkap dengan ”seabrek” penyakit yang disebabkannya sudah sangat ”familiar” dimasyarakat. Dalam waktu 1 menit saja, tanpa berpikir panjang anda sudah dapat dengan mudah menyebutkan kerugian-kerugian merokok, dan itu tidak akan dapat anda lakukan ketika diminta untuk menyebutkan keuntungannya.
Manfaat merokok hanya dirasakan subjektif para perokok itu sendiri saja. Meskipun sebenarnya mereka tahu tak pernah ada manfaat bila dilihat dari semua sudut keilmuan dan kerasionalan. Mereka tahu kalau mereka sedang merusak tubuh mereka. Namun berusaha seolah-olah tidak peduli untuk menyadari jika sebenarnya tubuh mereka berteriak atau menangis karenanya. Tubuh yang merupakan hadiah dan anugerah luar biasa dari Tuhan. Anugerah yang harus dirawat dan dijaga. Kebayang kan bagaimana kompleknya Tuhan menciptakan tubuh kita ini, dari mulai organ dalam, organ luar, organ besar bahkan organ sekecil apapun memiliki funginya yang luar biasa untuk menjadikannya sempurna dan dapat bekerja dengan baik. Teknologi secangih apapun tidak akan bisa menggantikan kerumitan ”komposisi” tubuh kita ini. Lalu apa pantas manusia dengan seenaknya saja merusaknya hanya karena alasan-alasan yang sama sekali tidak prinsipil.
Pencandu mencandu candu. Selalu butuh ”extra” kemauan untuk bisa kuat keluar dari sesuatu yang beraroma ”candu”. Tidak hanya niat semata, tapi praktek nyata............................(read ”ABOUT STOP SMOKING)

THE SMOKERS DAN PARADIGMA INDIVIDUALISTIS

5:54 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Aku sebenarnya tak pernah membenci the smokers. Tidak mungkin kita bisa membenci orang hanya karena kebiasaannya merokok. Tidak pantas kita menilai buruk orang hanya karena kecanduannya pada rokok. Tidak selayaknya juga kita tidak menghargai hak orang lain. Merokok memang hak setiap manusia diseluruh muka bumi ini. Dan sejak kita kecil saja sudah diajari nilai-nilai untuk menghargai hak orang lain. Tapi sebaliknya, apakah kita boleh membiarkan hak kita diambil oleh orang lain? Apakah kita juga pantas berdiam diri melihat hak kita dirampas oleh orang lain? Hak untuk menghirup udara bersih. Hak untuk menghuni bumi yang lebih sehat. Hak untuk menghela nafas dengan bebas.
Mungkin terlalu jauh kalau kita membicarakan tentang udara global, karena terlalu banyak faktor yang terkait didalamnya. Aku juga tidak akan mengangkat udara regional. Tapi hanya membicarakan tentang udara lokal. Meskipun sebenarnya udara adalah gas yang akan selalu menjadi global karena sifatnya yang ”mobile”. Aku hanya akan mengambil contoh sederhana. Ketika kita berada dikendaraan umum yang merupakan sarana PUBLIK. Alangkah terpujinya jika semua orang memperhatikan kepentingan publik. Alangkah indahnya jika semua orang memikirkan kenyamanan publik. Semua yang beraroma publik adalah semua yang berbau kebersamaan, umum dan kolektif. Bukan pribadi atau golongan. Dengan merokok ditempat-tempat publik seperti kendaraan umum maka orang itu telah melanggar hak orang lain. Tapi sebaliknya naluri kita dalam memerangi para perokok juga terhambat oleh hak setiap orang untuk merokok. Karena dilema itulah, akhirnya pemerintah (meskipun baru satu pemerintah daerah) turun tangan untuk ambil bagian dalam ”menenggelamkan” penggunaan hak pribadi yang merugikan hak pribadi lainnya. ”Membunuh” kebebasan yang tidak bertanggung jawab. Dan merokok adalah kebebasan yang tidak bertanggung jawab pada kepentingan publik. Maka semua tempat publik menjadi sasaran penegakan ”peraturan” yang sayangnya masih bersifat sangat ”mentah”. ”Mentah” karena kekuatan hukumnya masih sangat lemah. ”Mentah” karena kurang sosialisasi, minim ketegasan, serta nyaris tanpa pelaksanaan apalagi pengawasan. Padahal dibeberapa negara sudah menerapkan larangan merokok ditempat-tempat umum atau area publik. Kebijaksanaan untuk tidak merokok ditempat umum didasarkan pada fakta yang menyebutkan bahwa asap rokok bukan saja berbahaya bagi perokoknya sendiri tetapi juga sangat beresiko bagi ”penghisap rokok sekunder” (”second hand”). ibu2 yang sedang mengandung
Kebiasaan merokok sudah berkembang menjadi PENYAKIT INDIVIDUALISTIS. Paradigma itu muncul karena karena ”para perokok ditempat umum” tidak pernah memposisikan orang lain sebagai bagian publik. Mereka hanya mementingkan kenikmatan pribadinya. Mereka menarik dan menceburkan individu-individu yang bertindak sebagai ”perokok pasif” untuk turut merasakan toksisitas yang diakibatkan dari rokok yang mereka hisap.
Area publik tidak akan pernah menjadi area individu, sehingga individualistis harus disingkirkan dalam koridor yang bersifat publik. Apakah ibu-ibu hamil yang rentan rokok tidak boleh berada di lingkungan publik? apakah orang-orang dengan penyakit asma yang sensitif rokok tidak boleh menggunakan kendaraan umum? apakah anak-anak yang seharusnya masih ”bersih” juga harus terkontaminasi bila berada difasilitas dan tempat umum? Apakah orang sehat sekalipun tidak boleh untuk tetap mencintai kesehatannya?

ABOUT STOP SMOKING

5:53 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Suatu ironi dimasyarakat. Ketika kesehatan menjadi sesuatu yang sangat mahal. Ketika uang tak seharusnya terbuang sia-sia untuk hal yang tak berfaedah. Ketika udara bersih menjadi pemandangan yang langka. Ketika sikap saling peduli seharusnya lebih ditumbuhsuburkan. Ketika kenikmatan sepantasnya tidak mengindikasikan pembunuhan......pembunuhan ”sel-sel” tubuh. Pembunuhan karakter ”jaringan” tubuh. Penikmat rokok masih asyik dengan kenikmatannya. Kenikmatan yang mungkin memang nikmat untuknya. Tapi mungkin saja tidak untuk orang lain disekitarnya. Tidak untuk anak-anak dengan tubuhnya yang masih rentan, tidak untuk janin yang masih tertidur diperut ibunya. Tidak untuk paru-paru diseluruh dunia. Tidak untuk kesehatan jiwa raga. Tidak untuk kesehatan publik.
Dari observasi penulis, sebenarnya cukup banyak para perokok yang memiliki keinginan untuk berhenti merokok. Emang sih semua yang berawal dengan niat yang baik dipercaya akan membuahkan hasil yang baik. Tapi semulia apapun niat jika tidak diwujudkan akan sangat sia-sia. Niat baik itu hanya akan tetap teronggok sebagai sebuah keinginan. Keinginan tetap menjadi sebuah keinginan, bila tidak dibuktikan dengan tindakan. Tindakan yang tegas pada diri sendiri. Tindakan yang keras, dan usahakan konsisten tanpa kompromi. That’s about STOP SMOKING. Karena menanggalkan semua yang bersifat “adiksi” harus berazaskan prinsip yang kuat. Meninggalkan semua yang bernafaskan “candu” memerlukan dasar yang mantap. TOTAL, tidak boleh setengah-setengah. Hanya dengan ketotalan itulah maka adiksi itu bisa dikalahkan. Hanya dengan keyakinan maka candu itu bisa disingkirkan.
About stop smoking......Just about MOTIVATION. Kunci keberhasilan untuk berhenti merokok yaitu memiliki motivasi yang kuat. Apapun motivasinya, apapun yang melatarbelakanginya, apapun yang mendorongnya, pastinya semuanya harus dimanfaatkan sebagai pemacu, pemicu dan pendongkrak untuk lepas dari rokok.
About stop smoking…..Not just about AWARENESS. Karena kesadaran bahaya merokok sudah menjadi wacana yang teramat popular. Tidak pernah menjadi klasik. Tapi toh kepopuleran keburukan merokok belum cukup bisa mementalkan para penikmatnya. Para pemujanya masih intens menjaga “keintiman” dengan barang yang dianggap mereka menjadikannya “lengkap”.
About stop smoking......There is WILLPOWER. Kekuatan kemauan untuk melawan keraguan. Kekuatan kemauan untuk membuang kenikmatan. Kekuatan kemauan untuk mematahkan kesakitan. Kekuatan kemauan untuk menampilkan diri sebagai pemenang, yang menang mengalahkan ketidaknyamanan ketika harus meninggalkan kebiasaan merokok. Kekuatan kemauan ketika harus memutuskan ”kekasih” hidupnya.
About stop smoking…..Is about COMMITMENT. Komitmen menjaga kesehatan. Komitmen untuk mencintai hidup. Komitmen untuk mensyukuri setiap denyut jantung sebelum kerja jantung “terancam” karena rokok. Komitmen untuk menikmati setiap hela nafas sebelum paru-parumu mengalami “disfungsi” karena rokok. Komitmen untuk memuja setiap aliran darahmu sebelum darahmu “terkontaminasi” oleh rokok. Komitmen adalah tanggung jawab. Tanggung jawab pada-Nya untuk merawat setiap detail dan jengkal anugerahNya. Tanggung jawab kepada-Nya untuk tidak merusak maha karya merakit dan merancang “sistem” tubuh kita.

NIKOTIN DAN ROKOK

5:52 PM Posted In Edit This 0 Comments »
NIKOTIN merupakan senyawa turunan piridin yang terdapat sebagai alkaloida pada daun tembakau (Nicotiana tabacum). Nikotin diikat pada reseptor –N di Susunan Saraf Pusat dan Susunan Saraf Perifer dan menghasilkan efek terhadap otak, jantung, pembuluh, saraf, lambung-usus, otot kerangka dan organ lainnya.
Asap rokok mengandung banyak sekali unsur dan salah satu yang terpenting adalah senyawa Nikotin. Dalam asap sigaret, nikotin ini tersuspendir pada partikel-partikel TER untuk kemudian diserap dari paru ke dalam darah dengan cepat sekali.
NIKOTIN DAN KANKER
Nikotin merupakan zat yang bersifat karsinogenik, yaitu zat yang dapat menyebabkan kanker. Nikotin dalam rokok bertanggung jawab untuk lebih kurang 30% dari semua kematian akibat kanker.
NIKOTIN DAN JANTUNG
Nikotin berkhasiat vasokonstriksi sehingga dapat memicu terjadinya serangan jantung. Merokok juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya “Aterosklerosis” (kerusakan dinding pembuluh) dan “Angina Pectoris” (Nyeri hebat pada dada). Asap rokok yang mengandung karbonmonoksida (CO) memperkecil penyerapan oksigen diparu-paru, karena CO mengikat hemoglobin lebih cepat dan lebih kuat daripada Oksigen, sehingga penyerapan O2 sangat dikurangi.
Radikal bebas dari rokok menyebabkan elastisitas pembuluh darah menurun dan terbentuk “plak” pada liang arteri sehingga terjadi penyumbatan pembuluh darah. Penyumbatan pembuluh darah menyebabkan jantung tidak menerima cukup darah (dan Oksigen) sehingga dapat menyebabkan “infark jantung” (trombosis koroner = serangan jantung). Akibatnya jantung sulit menerima darah, zat-zat gizi dan oksigen dan bisa menyebabkan jaringan menjadi mati karena tidak menerima “makanan”. Fatalnya bisa menimbulkan “gagal jantung”.
NIKOTIN DAN HIPERTENSI
Nikotin memperkuat kerja jantung dan menciutkan arteri kecil hingga sirkulasi darah berkurang dan Tekanan Darah menjadi meningkat. Terjadinya hipertensi juga didorong oleh terjadinya pengerasan pembuluh (atheroschlerosis) yang juga disebabkan karena kebiasaan merokok.
NIKOTIN DAN SALURAN PERNAFASAN
Nikotin dan rokok merupakan salah satu perusak sistem pernafasan karena penyakit akut dan kronis yang ditimbulkannya seperti asma, bronchitis, emfisema paru sampai kanker paru-paru.
Rokok mengandung zat toksik yang menstimulisasi enzim enastase, yang merombak serat-serat elastin dalam dinding gelembung paru, sehingga kekenyalannya menurun. Akhirnya, terjadi kelainan irreversible dalam bentuk fibrosis dan destruksi dari dinding gelembung tersebut bersama pembuluh darahnya, yang berakibat terganggunya secara permanen fungsi paru-paru. Merokok juga mencetuskan Radikal Bebas (FR = Free Radicals) yang bisa menyebabkan “stress oksidatif” yaitu bila terjadi terlalu banyak FR sedangkan antioksidan faal (alamiah) tidak mencukupi lagi untuk menginaktifkannya. Epitel paru-paru dengan bulu-bulu getar (cilia) akan dirusak dan sel-sel lendir justru bertambah banyak.
NIKOTIN DAN SSP
Nikotin memiliki sifat merangsang terhadap SSP dan menyebabkan euforia serta menghilangkan perasaan mengantuk. Nikotin yang diabsorpsi dapat menimbulkan tremor tangan dan kenaikan kadar berbagai hormon dan neurohormon ”Dopamin” didalam plasma. Berdasarkan rangsangannya terhadap ”chemoreceptor trigger zone” dari sumsum tulang (medulla oblongata) dan stimulasinya dari refleks vagal, Nikotin dapat menyebabkan mual dan muntah.
Dilain pihak, Nikotin meningkatkan daya ingat, perhatian, dan kewaspadaan, mengurangi sifat agresi serta menurunkan berat badan akibat penekanan nafsu makan dan meningkatnya pengeluaran energi.
Pada ”Nikotin dan Jantung” infark jantung yang terjadi juga bisa menimpa otak, sehingga terjadi ”infark otak” (stroke) akibat terjadinya gangguan pembuluh darah.

MEDICINE FOR SMOKING CESSATION

5:51 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Bicara tentang merokok berarti bicara tentang kebiasaan yang mengarah pada suatu ketergantungan. Hal itulah yang menyebabkan para perokok menemui banyak kendala untuk berhenti merokok.
Faktor pendukung utama untuk “smoking cessation” telah disebutkan pada artikel “ABOUT STOP SMOKING”. Faktor pendorong utama itu adalah MOTIVATION, AWARENESS, WILLPOWER dan COMMITMENT.
Selain faktor alamiah tersebut, juga ada jenis obat-obat tertentu yang berguna untuk membantu proses penghentian merokok. Bahkan dirancang dengan berbagai jenis bentuk sediaan, tidak hanya tablet biasa tapi juga tablet hisap, tablet kunyah, tablet lepas lambat, dan plester / transdermal.
Untuk jenis obat non-nikotin, sebagai berikut :
1. Buprion HCl (ZYBAN®) terdapat dalam bentuk sediaan “Sustained-Release tablet” atau tablet lepas lambat.
2. Varenicline tartrate (CHAMPIX®) tersedia dalam bentuk tablet dengan dosis 0,5 mg dan 1,0 mg.
Mekanismenya berdasarkan “blocking” efek nikotin, yaitu dengan cara mencegah nikotin menempel pada reseptornya diotak. Dengan menghalangi nikotin melekat pada reseptornya maka nikotin tidak akan memberikan daya kerjanya. Karena Varenicline tartrate termasuk non-nikotin maka zat aktif ini tidak bersifat adiksi.
Untuk jenis nikotin :
1. NICOTINELL® TTS, yaitu Nikotin dalam bentuk plester.
2. NICODERM® CQ (Nicotine Transdermal system), nikotin terabsorpsi melalui kulit.
3. NICORETTE®, Nikotin dalam bentuk sediaan “chewing gum” atau tablet kunyah,
4. COMMIT® (Nicotine polacrilex lozenge), yaitu Nikotin yang dibuat dalam bentuk sediaan tablet hisap, dimana nikotin terabsorpsi melalui rongga mulut. Dosis obat sebesar 2,0 dan 4,0 mg.

Semua obat-obat ini juga berperan untuk mengurangi gejala ”withdrawal” yang umumnya terjadi bila rokok dihentikan.

ADIKSI ROKOK

5:50 PM Posted In Edit This 0 Comments »
KETERGANTUNGAN adalah suatu keadaan fisik dan atau psikis, yang diakibatkan oleh interaksi antara suatu makhluk hidup dan zat kimia tertentu. Ditandai dengan perilaku yang terdorong oleh suatu keinginan untuk terus-menerus mengkonsumsi zat tersebut. Pada taraf ketergantungan tertentu, maka bila penggunaannya dihentkan, akan muncul gejala yang tidak enak. Ketergantungan lebih tinggi tingkatnya dari HABITUASI. Berlainan dengan ketergantungan, pada habituasi seseorang dapat menghentikan kebiasaannya tanpa menimbulkan konsekuensi yang parah. Untuk menggambarkan tingkat ketergantungan yang cukup hebat digunakan istilah ADIKSI.
Ketergantungan terhadap rokok dibagi menjadi ketergantungan fisik dan ketergantungan psikis. Ketergantungannya disebabkan oleh suatu zat NIKOTIN (baca artikel ”NIKOTIN)
Ketergantungan fisik bercirikan terjadinya ”gejala abstinensi” fisik bila penggunaan rokok dihentikan dan terkadang menimbulkan ”rebound” yang berlebihan. Ketergantungan fisik terjadi karena adanya suatu TOLERANSI. Toleransi nikotin dimaksudkan sebagai kecenderungan untuk secara progresif meningkatkan dosis untuk mencapai efek semula.. Penyebab utamanya adalah terjadinya adaptasi dari sel-sel sistem saraf terhadap daya kerja sebagai respons biokimiawi. Ketergantungan fisik maupun toleransi terhadap nikotin merupakan mekanisme “penyesuaian diri” sel-sel tubuh sebagai akibat didudukinya reseptor nikotin secara terus-menerus.
Sindrom penarikan (”withdrawal symptoms”) terjadi bila dilakukan penghentian secara mendadak pada pemakaian rokok (nikotin) yang sudah dalam taraf adiksi kuat atau efeknya dihambat oleh suatu obat antagonis. Sindrom penarikan mengakibatkan timbulnya suatu rangkaian gejala yang tidak enak pada tubuh, dapat berbeda-beda pada setiap individu.
Ketergantungan psikis bercirikan terjadinya ”gejala abstinensi” psikis bila pemakaian rokok dihentikan, karena telah terjalin suatu ikatan psikis yang kuat antara perokok dengak rokok. Nikotin dalam rokok dapat mencetuskan timbulnya ketergantungan psikis bila digunakan secara kontinu. Ketergantungan psikis itu umumnya disebabkan karena nikotin dalam rokok tersebut dapat memberikan efek-efek seperti memberikan perasaan nyaman, menghilangkan ketegangan atau mengurangi kecemasan, menimbulkan perasaan meningkatnya kemampuan fisik maupun mental dan efek-efek lainnya.

SERBA PRAKTIS “TUMIS” ALA DINI

5:48 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Bagi anda yang paling malas ”ribet-ribet” masak karena alasan ketidakpraktisan, tapi ingin tetap mementingkan kesehatan dan nilai gizi dari semua yang anda konsumsi, maka anda harus mencoba resep praktis ala “Dini”. Kalau anda cermat maka anda akan menemukan pola memasak yang sederhana tapi nikmat dan lezat. Anda tidak perlu pusing dengan mencari bahan dan bumbu memasak yang banyak atau segan dengan cara pembuatannya yang merepotkan.
Dengan resep-resep praktis ini anda tidak perlu bingung ingin memasak apa, karena dari resep berikut ini bisa dikembangkan menjadi banyak sekali variasi sesuai keinginan anda. Mulailah mencoba memasak sendiri, karena tingkat kebersihannya akan lebih bisa anda jamin.

TUMIS-TUMISAN (DUO BAWANG)
Anda semua pasti tahu kalau tumis-tumisan adalah masakan yang paling praktis. Tanpa ada bumbu yang harus anda haluskan. Nah, untuk anda yang ingin sekali memasak tapi mau ”instan” yang sehat, alternatif masakan-masakan ini patut dicoba. Bumbu utamanya hanya 2 : BAWANG PUTIH dan BAWANG MERAH (Bawang bombay lebih jarang penggunaannya). Bumbu selebihnya tergantung selera dan keinginan anda. Jika anda suka pedas, pastinya tambahan cabe merah, cabe rawit atau cabe hijau pastilah akan sangat menggugah selera. Perlu dipahami pula bahwa bumbu dasar yang lain seperti garam, pecin/penyedap rasa dan gula (gula pasir/gula merah) adalah 3 bumbu yang digunakan pada mayoritas masakan anda (untuk penyedap rasa usahakan penggunaannya seminimal mungkin/sedikitttt saja, dan penambahan gula tergantung kesukaan anda akan rasa ”manis”). Karena ke-3 bumbu tadi pasti sudah ada didapur anda, maka tidak perlu anda pikirkan. Yang perlu anda cari hanya bahan utamanya dan tentunya DUO BAWANG tadi, itupun komposisi atau banyaknya penggunaan DUO BAWANG itu tidak akan saya jabarkan disini, karena itu tergantung selera anda. Untuk saya misalnya yang sangat menyukai bawang putih, maka saya selalu menambahkan bawang putih lebih, lagipula bagus untuk kesehatan. Pokoknya resepnya singkat tanpa mencantumkan ”banyaknya” penggunaan bahan.
1. Tumis Udang
- Bersihkan UDANG.
- Tumis irisan (Bawang putih + Bawang merah) + Cabe merah + Cabe hijau besar.
- Tambahkan sedikit Daun salam + Sereh + Laos yang dimemarkan. + sedikit air.
- Masukkan Udang. Tambahkan garam + penyedap + kecap manis.

2. Tumis Tempe
- Potong-potong TEMPE (bentuk dadu / agak memanjang terserah aja.).Goreng setengah matang.
- Tumis irisan Bawang putih + Bawang merah + Cabe merah + Cabe rawit (semakin banyak semakin mantap!!!!!) + sedikit air + garam + gula merah + Daun salam + kecap manis + Tempe.

3. Tumis Hati Ampela
- HATI AMPELA direbus, lalu dipotong dadu. Air rebusannya ambil sedikit.
- Potong-potong Daun bawang. (Gunakan daun bawang yang cukup banyak)
- Tumis irisan (Bawang putih + Bawang merah) + Cabe rawit, + sedikit air rebusan + garam + penyedap + gula + kecap manis.

4. Tumis Kangkung Telur Puyuh
Tumis irisan Bawang putih, Bawang merah, Cabe merah, Cabe rawit. + Terasi + air + garam + gula + kecap + Daun salam + Tomat + Kangkung yang sudah dipotong-potong + Telur puyuh yang sudah direbus dan dikupas.

5. Tumis Teri Kacang
Tumis irisan Bawang putih, Bawang merah, Cabe merah. + sedikit air + garam + gula + Daun salam + Kecap + Teri & Kacang.

6. Tumis Tahu
- Potong-potong TAHU (bentuk dadu atau tergantung selera). Goreng setengah matang.
- Tumis irisan Bawang putih + Bawang merah + Cabe merah + Cabe rawit (semakin banyak semakin mantap!!!!!) + sedikit air + garam + gula merah + Daun salam + kecap manis + irisan kasar Daun bawang + Tahu.

SERBA IKAN ALA DINI

5:47 PM Posted In Edit This 0 Comments »
1. Ikan Bandeng Cabe
- Ikan Bandeng dibersihkan dan dipotong-potong sesuai selera, lalu digoreng.
- Tumis irisan (Bawang putih + Bawang merah) + (Cabe rawit + Cabe merah, semakin banyak semakin mantap!!!!!) + air sedikitttt + garam + gula merah + irisan Tomat + Ikan

2. Ikan Mas Bumbu Kuning (Pesmol)
- Ikan Mas dibersihkan, digoreng utuh.
- Haluskan bumbu : Kunyit, Ketumbar, Kemiri, Jahe, Bawang putih, Bawang merah + garam.
- Tumis bumbu halus, tambahkan air sedikitttt + gula + irisan Tomat dan Daun Bawang + Cabe rawit utuh, masukkan Ikan Mas.

3. Ikan Gurame Asam Manis / Ikan Nila Asam Manis
- Ikan Gurame / Nila dibersihkan, diambil dagingnya saja. Potong daging ikan menjadi kotak kecil (sesuai selera), lalu digoreng dengan larutan Tepung terigu yang dicampur dengan bumbu halus Bawang putih + Ketumbar + Garam).
Sisa kerangka ikan dengan kepalanya digoreng.
- Saus : Blender Tomat + Cabe merah dengan air. Tumis irisan Bawang putih + Bawang merah + Bawang bombay + gula + hasil blender + larutan tepung aci (untuk mengentalkan) + saos tomat.
- Susun Ikan yang sudah digoreng tepung diatas kerangka ikan. Sajikan bersama saos asam manisnya.

4. Ikan Bandeng Pindang
- Rebus Ikan Bandeng dengan Daun salam dan Sereh (1).
- Tumis irisan Bawang putih, Bawang merah, Tomat, Cabe merah, Cabe rawit utuh, (Jahe + Laos + Kunyit) yang dimemarkan. Masukkan ke dalam (1) + garam + penyedap + gula merah + kecap.

SERBA PRAKTIS KOMBINASI BAWANG PUTIH DAN MERICA

5:32 PM Posted In Edit This 0 Comments »
1. Daging Kecap
Memarkan Bawang putih >>, cincang halus lalu ditumis + Merica bubuk + irisan Tomat + Daun Salam + garam + penyedap << + gula merah + Daging kambing yang sudah direbus + Kecap. Sajikan dengan taburan Bawang merah goreng.
2. Perkedel Kentang
- Kentang dipotong melintang menjadi beberapa bagian, digoreng dan dihaluskan.
- Haluskan Bawang putih + Merica + garam + sedikittt penyedap + gula merah.
- Kentang halus dicampurkan dengan bumbu halus + Daging cincang + Telur (bisa juga ditambah Bawang merah goreng). Bentuk adonan bulat pipih / bulat memanjang / bebas.
- Celupkan setiap perkedel ke dalam kocokan telur sebelum digoreng.
3. Bihun Goreng (+ Sayur-sayuran sesuai selera, semakin banyak sayur semakin sehat)
- Layukan Bihun.
- Iris sayuran : Wortel, Caisim, Kol, Daun bawang.
- Haluskan Bawang putih + Merica + Kemiri dikit + garam, lalu ditumis + air sedikit + gula merah + Sayuran + Bihun + kecap manis.
4. Baso Kuah
- Haluskan Bawang putih + Merica. Tumis sampai harum.
- Panaskan air di panci (untuk kuah) + Tumisan Bawang putih & Merica + Masako/Royco + Daun bawang + Seledri + Baso. Biarkan mendidih. Kuah telah siap.
- Pelengkap baso tergantung selera : mie, bihun, tauge, caisim (dicampurkan dengan kuahnya setiap akan dihidangkan saja). Utk rasa pedas, + cabe rawit yang telah direbus.
5. Mie Goreng / Kwetiau Goreng (+ Sayuran dan Isi lainnya sesuai selera)
- Layukan Mie / Kwetiau.
- Haluskan Bawang putih + Merica + garam.
- Iris sayuran : Wortel, Caisim, Kol, Daun bawang.
- Iris Baso / Sosis / Jamur / Irisan Daging Ayam / Udang, tergantung selera.
- Tumis bumbu yang sudah dihaluskan + air sedikit + gula + Sayuran + Baso (atau isi lainnya tergantung selera) Mie / Kwetiau + kecap manis.
6. Cap cay (+ Sayuran dan Isi lainnya sesuai selera)
Tumis Bawang putih cincang. + Merica + irisan cabe rawit + air + garam + gula + kecap + Sayuran (Wortel, Caisim, Kol, Kembang kol, Daun bawang, Tomat) + Udang / Jamur / Baso (bisa di + Telur untuk mengentalkan)
7. Ca Brokoli Saus Tiram (+ Sayuran dan Isi lainnya sesuai selera)
- Siangi Brokoli dan seduh dengan air mendidih
- Tumis Bawang putih cincang, Bawang Bombay + Merica. Masukkan Brokoli + air + Saus tiram + Kecap + sedikit Minyak wijen.

SERBA IKAN ALA DINI

5:22 PM Edit This 0 Comments »
1. Ikan Bandeng Cabe
- Ikan Bandeng dibersihkan dan dipotong-potong sesuai selera, lalu digoreng.
- Tumis irisan (Bawang putih + Bawang merah) + (Cabe rawit + Cabe merah, semakin banyak semakin mantap!!!!!) + air sedikitttt + garam + gula merah + irisan Tomat + Ikan
2. Ikan Mas Bumbu Kuning (Pesmol)
- Ikan Mas dibersihkan, digoreng utuh.
- Haluskan bumbu : Kunyit, Ketumbar, Kemiri, Jahe, Bawang putih, Bawang merah + garam.
- Tumis bumbu halus, tambahkan air sedikitttt + gula + irisan Tomat dan Daun Bawang + Cabe rawit utuh, masukkan Ikan Mas.
3. Ikan Gurame Asam Manis / Ikan Nila Asam Manis
- Ikan Gurame / Nila dibersihkan, diambil dagingnya saja. Potong daging ikan menjadi kotak kecil (sesuai selera), lalu digoreng dengan larutan Tepung terigu yang dicampur dengan bumbu halus Bawang putih + Ketumbar + Garam).
Sisa kerangka ikan dengan kepalanya digoreng.
- Saus : Blender Tomat + Cabe merah dengan air. Tumis irisan Bawang putih + Bawang merah + Bawang bombay + gula + hasil blender + larutan tepung aci (untuk mengentalkan) + saos tomat.
- Susun Ikan yang sudah digoreng tepung diatas kerangka ikan. Sajikan bersama saos asam manisnya.
4. Ikan Bandeng Pindang
- Rebus Ikan Bandeng dengan Daun salam dan Sereh (1).
- Tumis irisan Bawang putih, Bawang merah, Tomat, Cabe merah, Cabe rawit utuh, (Jahe + Laos + Kunyit) yang dimemarkan. Masukkan ke dalam (1) + garam + penyedap + gula merah + kecap.

SERBA PRAKTIS KOMBINASI BAWANG PUTIH DAN MERICA

5:19 PM Edit This 0 Comments »
1. Daging Kecap
Memarkan Bawang putih >>, cincang halus lalu ditumis + Merica bubuk + irisan Tomat + Daun Salam + garam + penyedap << + gula merah + Daging kambing yang sudah direbus + Kecap. Sajikan dengan taburan Bawang merah goreng.
2. Perkedel Kentang
- KENTANG dipotong melintang menjadi beberapa bagian, digoreng dan dihaluskan.
- Haluskan Bawang putih + Merica + garam + sedikittt penyedap + gula merah.
- Kentang halus dicampurkan dengan bumbu halus + Daging cincang + Telur (bisa juga ditambah Bawang merah goreng). Bentuk adonan bulat pipih / bulat memanjang / bebas.
- Celupkan setiap perkedel ke dalam kocokan telur sebelum digoreng.
3. Bihun Goreng (+ Sayur-sayuran sesuai selera, semakin banyak sayur semakin sehat)
- Layukan BIHUN.
- Iris sayuran : Wortel, Caisim, Kol, Daun bawang.
- Haluskan Bawang putih + Merica + Kemiri dikit + garam, lalu ditumis + air sedikit + gula merah + Sayuran + Bihun + kecap manis.
4. Baso Kuah
- Haluskan Bawang putih + Merica. Tumis sampai harum.
- Panaskan air di panci (untuk kuah) + Tumisan Bawang putih & Merica + Masako/Royco + Daun bawang + Seledri + Baso. Biarkan mendidih. Kuah telah siap.
- Pelengkap baso tergantung selera : mie, bihun, toge, cesin (dicampurkan dengan kuahnya setiap akan dihidangkan saja). Untuk rasa pedas, tambahkan cabe rawit yang telah direbus.
5. Mie Goreng / Kwetiau Goreng (+ Sayuran dan Isi lainnya sesuai selera)
- Layukan Mie / Kwetiau.
- Haluskan Bawang putih + Merica + garam.
- Iris sayuran : Wortel, Caisim, Kol, Daun bawang.
- Iris Baso / Sosis / Jamur / Irisan Daging Ayam / Udang, tergantung selera.
- Tumis bumbu yang sudah dihaluskan + air sedikit + gula + Sayuran + Baso (atau isi lainnya tergantung selera) Mie / Kwetiau + kecap manis.
6. Cap cay (+ Sayuran dan Isi lainnya sesuai selera)
- Tumis Bawang putih cincang. + Merica + irisan cabe rawit + air + garam + gula + kecap + Sayuran (Wortel, Caisim, Kol, Kembang kol, Daun bawang, Tomat) + Udang / Jamur / Baso (bisa di + Telur untuk mengentalkan)
7. Ca Brokoli Saus Tiram (+ Sayuran dan Isi lainnya sesuai selera)
- Siangi brokoli dan seduh dengan air mendidih
- Tumis Bawang putih cincang, Bawang Bombay + Merica. Masukkan Brokoli + air + Saus tiram + Kecap + sedikit Minyak wijen.

PEPES LEZAT ALA DINI

5:17 PM Posted In Edit This 0 Comments »
1. Pepes Udang
- Dihaluskan/blender : Bawang merah, Bawang putih, Cabe merah, Kemiri, Ketumbar dikit, Jahe, Laos, Sereh .
- Tumis bumbu halus + Udang + irisan Tomat + Telur + garam + gula pasir + penyedap <<.
- Bersihkan daun pisang yang sudah dipotong-potong, beri daun salam dan sereh disetiap daun pisang sebagai alas hasil tumis. Dikukus sebentar lalu panggang/bakar.
2. Pepes Jamur Kancing
- Tumis : Irisan Bawang putih >>, Bawang merah + Cabe merah (bisa ditambah cabe rawit bila ingin pedas) + Daun salam + Sereh + penyedap + gula pasir (+ Tomat juga boleh). Masukkan Jamur + Telur.
- Bersihkan daun pisang yang sudah dipotong-potong, beri daun salam dan sereh disetiap daun pisang sebagai alas hasil tumis. Dikukus sebentar lalu panggang/bakar.

APOTEKER…….APOTEKER

5:03 PM Posted In Edit This 2 Comments »
I guess everyone know what’s mean of “Apoteker”….but I wrong….Not everyone really2 know with this profession......
This my profession, and I proud of this….or try to proud, because not easy for me to through this education he….he…...
Tidak mudah untukku karena aku orang yang sedikit rajin dan banyak malas untuk urusan TEKUN belajar….Orang bilang kita akan menikmati apa yang kita pelajari kalau kita menyukai dan mencintainya (kata orang bijak) atau ada istilah “tak kenal maka tak sayang”..…Tapi tetap saja “not easy things for me”…Bagiku bukan hal yang mudah pada awalnya untuk melewati proses menjadi APOTEKER…Pendidikan untuk akhirnya disebut apoteker aku lewati selama kurang lebih 6 tahun. 5 tahun untuk pendidikan farmasi yang mengantarkan aku mendapatkan embel-embel “S.Si” (Sarjana Science) dibelakang namaku, hadiah titel untuk sarjana farmasi yang kata orang penciptanya atau sejarahnya termasuk dalam ruang lingkup ilmu pasti (semua yang serba pasti2 lebih mantep kan!), that’s way jurusan kuliahku yaitu jurusan Farmasi masuk kedalam Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Alkisah dulu berasa keren jadi orang science karena dikira cerdas dan pasti “smart”. Yah orang2 jadul bilang sih diprediksi otaknya pasti encer, padahal tidak berlaku 100% coy, perkecualian untukku yang viscositas otakku kadang2 terasa semakin bertambah seiring dengan bertambahnya waktu dan usia (Nah loh ngerti ga neh everybody tentang istilah viscositas, kalau orang science pasti tau he2, ga ko I guess banyak orang yang paham meski bukan orang science, istilah umum kan yee...kalo ga tau tanya aku he2, aq jelaskan sekalian aq kasih rumus2 nya..…gratis). Actually, bisa aku simpulkan bahwa siapa aja yang mau menempuh pendidikan sarjana farmasi tidak hanya dibutuhkan ketertarikan semata. Tapi lebih dari itu yang terpenting adalah KETELITIAN. Nah, yang satu itu itu merupakan myweakness point. Ketelitian teramat penting karena mayoritas ilmu-ilmu farmasi menuntut kita untuk cermat berpikir, tidak salah menghitung, tepat menakar, teliti mencampur. Ketelitian aku anggap sebagai faktor bawaan, sedangkan aku orang yang bawaannya lebih sering ceroboh. Faktor lain yang lebih penting adalah KETEKUNAN, kalau faktor yang satu ini sih merupakan kunci yang paling umum untuk dapat sukses disemua hal. Apapun bidang yang kita geluti kalau mau tekun pasti bisa berhasil, setuju?.
Aku sempat surprise melihat teman-teman sejawatku hampir 99% memiliki basic otak yang cerdas. Fenomena itu sempat membuat aku takut. Tidak hanya itu, mayoritas mereka juga memiliki tingkat KERAJINAN yang cukup tinggi. Lengkaplah penderitaanku. Bagi mereka yang rajin dan tekun aja masih dibilang susah, apalagi untuk orang santai sepertiku yang agak alergi untuk baca buku2 pintar kefarmasian. Bukan salahku kalau aku sering mendadak ”ngantuk” membaca buku2 pintar itu. Salah buku2 pintar itu kenapa tebalnya bisa dijadikan bantal atau guling yang begitu lihai menjadi ”penggoda” untuk tertidur. Belum lagi otakku yang terkadang mendadak amnesia kalau terlalu banyak beban teori-teori yang menumpuk diotakku he...he...Repot kan........
Lulus sarjana farmasi tak membuatku bisa langsung ”santai“ dan ”lepas”. Karena masih ada satu step lagi yang harus aku selesaikan. Yaitu pendidikan profesi Apoteker yang kalau ”mulus” bisa ditempuh hanya dengan 1 tahun saja (Kecuali dinyatakan lain....). Kalau yang merasa sudah cukup dengan sarjana farmasinya, memang tidak ada kewajiban untuk melanjutkan kuliah lagi. Tapi hampir 98%nya melanjutkan sampai pendidikan profesi. Mungkin karena dirasa belum ”afdol” atau ”tangggung”. Semua yang serba lengkap pasti lebih baik kan? Dan semua yang serba setengah-setengah biasanya kurang memuaskan. Sebenarnya tidak sulit melewati pendidikan profesi Apoteker yang setahun itu. Yang sulit dan terkenal menyeramkan adalah ujian apotekernya. Bikin kita semua ”merinding disco”. Tapi akhirnya semua bisa aku lewati dengan sukses, bahkan memberikan hasil akhir yang sangat memuaskan, meskipun harus banyak ”jatuh bangun” dalam perjalanannya. Tentu saja aku merasa aneh dengan keberhasilan itu, karena aku memiliki banyak julukan yang beraroma negatif. Jago terlambat masuk kelas, miss lazy, jago nyontek tugas2 kuliah, (tapi nyontek tugas doank lho, kalau ujian sih jarang tuch, kecuali kepepet........)
Sekarang 4 tahun sudah aku bekerja diduniaku. Dunia kerja yang sesuai dengan ilmuku. Terasa tak sia-sia ”terseok-seoknya” aku dulu, karena ilmunya terpakai juga, setidaknya dunia pekerjaanku tidaklah melenceng dari dunia yang kepelajari.
Meskipun terlambat menyadarinya, but finally I know exactly about ”apoteker”, that’s way I choose this profession for my future, my life….Sarana aq menggunakan otakku alias memanfaatkan anugerah otak (yang sedikit cerdas tapi banyak bolot) dengan sebaik2nya sehingga ga kosong tapi penuh dengan ilmu, sarana aq mengais rejeki alias mencari duit dengan spesifikasi ilmuku ini (yang sedikit gampang tapi banyak bikin pusing kalau lagi mentok), sarana aq bersosialisasi alias mengenal orang-orang baru (tapi kadang2 aq merasa dunia farmasi begitu sempit, meskipun ada jargon “dunia tak selebar daun kelor”) dan sarana aq memuaskan kebutuhan jiwaku alias meningkatkan kepercayaan diriku, cieeee……....
Btw kemarin ada teman lamaku yang menanyakan isi zat aktif dari suatu nama produk dagang. Nama produknya terdengar masih baru. Belum terlalu familiar, maklum saja ratusan nama dagang produk baru bermunculan dan kita tidak mungkin menghafal nama dagang, yang kita pelajari adalah nama ingredientnya atau nama zat aktifnya. Terpaksalah aku harus menengok buku pintar untuk mengetahui isinya. Banyak sih nama dagang yang jelas bisa merepresentasikan isi yang terkandung didalamnya, tapi tak sedikit pula yang tidak terlalu berkorelasi dengan isinya. Yah begitulah masih banyak orang-orang yang menyamakan kita dengan asisten apoteker yang pada jago menghapal nama-nama merk dagang. Itulah juga mungkin yang menjadi salah satu alasan sekarang ada peraturan yang mengharuskan untuk mencamtumkan nama zat aktif tepat dibawah pencantuman nama dagang disetiap bentuk kemasannya.
Btw lagi dengan profesiku sekarang aku juga selalu dijuluki “tukang obat” oleh teman-temanku yang tidak sebidang denganku……..(yah mas2 mba2 kalo cuma mau jadi tukang obat mah kaga usah cape-cape kali yaaaa…….)

LANGITKU ATAPKU

4:56 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Malam sudah sangat larut ketika bis yang membawaku dari Bandung memasuki terminal harjamukti, the only one bus terminal di kota Cirebonku tercinta. Meskipun kampung halamanku ini terkenal panas, tapi angin malamnya cukup bisa membuatku kembali ”segar” setelah lama tertidur diperjalanan dengan dinginnya yang tidak menusuk tapi lumayan merayap menggelitik kulit wajahku. Aku memang terlalu terlambat sampai di Cirebon, biasanya paling lambat jam 11 malam tapi kali ini jam 12 malam aku baru sukses menginjakkan kaki di myhometown. Sebenarnya tak ada masalah buatku mau nyampe di Cirebon semalam apapun, toh orangtuaku dengan sigap langsung menjemput anak mereka the one and only. Penumpang yang turun bersamaku sudah tidak banyak lagi, karena sudah berhamburan sebelum tiba di terminal yang merupakan pool terakhir bis ini.
Aku berjalan dengan santai sambil mencoba menikmati hawa Cirebon di tengah malam. Biasanya aku berjalan cepat bahkan langsung berlari kedepan pos polisi yang berada dipintu keluar terminal sisi samping, tempat biasa bapak dan ibu menunggu aku. Tapi kali ini aku malas berjalan cepat, alasannya karena kali ini ”bawaanku” lumayan banyak. Tas ransel dipunggungku yang cukup berat ini memaksa kakiku untuk tidak dapat bergerak bebas.
Sebenarnya suasana terminal sudah lumayan sepi tapi seketika bisa langsung menjadi ramai jika ada bis yang baru datang. Maklumlah, bis-bis yang memasuki terminal selalu menjadi sasaran pengejaran para tukang becak yang saling berebut penumpang. Termasuk bisku tadi. Baru saja memasuki terminal, langsung diserbu para penggemar. Para tukang becak itu begitu semangat berlari dan tak lelah menawarkan jasanya. Wajah mereka begitu antusias setiap melihat ada objek empuk yang datang. Sayangnya, bis yang aku tumpangi sudah sepi penumpang ketika tiba diterminal. Aku pun bisa segera menangkap raut muka kekecewaan mereka ketika melihat hanya sedikit sasaran yang bisa ”ditembak”. Kalau saja aku sampai di Cirebon siang atau sore, aku pasti akan dengan senang hati memanfaatkan tawaran mereka untuk mengantarkanku sampai rumah. Namun berhubung aku selalu tiba di Cirebon malam hari, alhasil orangtuaku tidak pernah memberikan izin untuk naik kendaraan umum.
Kadang-kadang mereka juga pantang menyerah. Tidak cukup sekali aku harus menolak tawaran mereka. Bahkan ada diantara mereka yang terus ”menguntit” aku. Akhirnya setelah aku jelaskan kalau sudah ada yang menjemput, barulah mereka menyingkir.
Pemandangan ini sebenarnya sudah sangat tidak asing buatku. Tapi yang membuatnya tak biasa untukku karena saat itu jam 12 malam. Waktu dimana sebagian orang sudah terlelap dipembaringannya, sementara mereka masih ”aktif” mencari rejeki untuk sesuap nasi. Untuk keluarga mereka. Untuk menyambung hidup. Mereka adalah segelintir orang yang mencoba terus bertahan ditengah kerasnya kehidupan.
Sambil masih mempertahankan langkah ”lemot”ku, mataku tiba-tiba tertuju pada sesosok tubuh tua yang sedang terlelap tidur dibecaknya. Sangat tua. Rambutnya putih. Badannya terlihat sangat renta. Dia tertidur dengan pulasnya tanpa terganggu oleh aktivitas rekannya yang masih mencari ”mangsa”. Entah kenapa hatiku selalu lemah kalau melihat ”manula” yang seolah terlantar dan ditelantarkan dunia. Tapi aku begitu tertegun melihat tidurnya yang teramat nyenyak. Begitu menikmati, seolah tanpa beban. Seolah tak perlu memikirkan apa yang akan terjadi esok. Meskipun hanya beratapkan langit dalam tidurnya. Ataukah memang langit ini sudah menjadi rumahnya?
Andaikan mereka-mereka itu boleh memilih, tentu tak akan pernah mau mengambil pilihan hidup seperti yang mereka jalani sekarang. Tapi hidup harus bisa menerima apapun. Orang harus menyayangi hidup. Hidup untuk berjuang. Dan aku melihat perjuangan-perjuangan mereka ditengah malam dengan BERATAPKAN LANGIT.

MEETING……….OH MEETING

4:55 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Rapat istilah bahasa indonesianya dan kita lebih suka menggunakan istilah meeting ketimbang rapat, lebih keren gitu deh…..Tapi istilah meeting memang lebih populer, kalo kata rapat berasa jadul, lebih cocok dipakai untuk rapat RT atau RW he…he….
Diadakan setiap satu minggu sekali. Rentang waktu itu dirasa lebih dari cukup untuk melihat dan memantau perkembangan pekerjaan yang berjalan dari tiap-tiap bagian atau departemen yang tentunya memiliki tugas dan kewajiban masing-masing sesuai dengan job descriptionnya.
Khusus membahas meeting diperusahaanku, diadakannya rutin setiap hari rabu, kecuali ada hal-hal tertentu yang menyebabkan meeting berpindah hari (cuma penundaan meeting doank) atauuuuu (ini bagian yang paling banyak disuka) ditiadakan karena alasan-alasan tertentu misalnya karena para manager tidak masuk atau ada urusan yang lain misalnya ada tamu penting or keluar pabrik.
Maklumlah meskipun peserta rapat adalah apoteker semua (kecuali manajer tehnik) tapi kalau para apoteker senior alias para manager tidak ada maka rapat ditiadakan, karena “kita” masih dikategorikan apoteker-apoteker muda meskipun umurnya sudah tidak muda-muda amat (“kita” adalah password untuk apoteker penghuni mess “single only”)

Sebenarnya tujuan meeting itu pastilah baik. Setiap permasalahan bisa dibahas secara terbuka, yang berarti penyelesaiannya bisa lebih baik dan cepat, setiap peserta meeting juga bisa sumbang pikiran atau mengeluarkan pendapatnya dengan bebas (kalau yang punya keberanian atau cukup PD dengan pendapatnya). Tapi tentu saja “bebas” yang bertanggung jawab.

Tidak tahu juga sebab dan sejarahnya kenapa para peserta rapat (kecuali bos tentunya) agak girang kalau kebetulan tidak rapat. Mungkin karena meeting identik dengan “kaku”, “serius”, “formal” dan berbau “pertanggungjawaban” yang ujung-ujungnya beban bagi beberapa peserta meeting. Sebenarnya kalau untukku pribadi tidak pernah ada masalah dengan yang namanya “meeting”, tapi harus aku akui bahwa meeting yang sekarang berkembang menjadi mulai “tidak sehat”.
Meeting yang sudah biasa kami lakukan, entah darimana awalnya menjadi tidak sesehat dulu lagi. Padahal dulu meeting merupakan kegiatan yang cukup asyik buatku. Tapi aku ragukan itu sekarang. Karena meeting yang dulunya merupakan pemacu atau pendorong kualitas kerja sekaligus bisa dijadikan tolak ukur output perusahaan dari berbagai sudut (itulah kenapa yang paling getol meeting adalah “bos”, karena tentunya menguntungkan perusahaan) telah menjadi arena saling menjatuhkan. Memang tidak seekstrim benar-benar menjatuhkan, tapi unsur “saling menyalahkan” atau “saling menyudutkan” sudah menjadi pemandangan tidak sedap yang terjadi dibeberapa kali meeting akhir-akhir ini, dan bukan tidak mungkin menjadi “habit”. Sebenarnya memang tidak selalu terjadi disetiap meeting, tapi aura meeting dirasakan mulai kelabu dan menjadi momok yang kurang menyenangkan bagi beberapa peserta meeting.

Hal seperti itu sebenarnya sangat lumrah di dunia kerja manapun. Tapi tetap saja ini membuatku jengah. Bila kembali ke basic-nya manusia yang umumnya cenderung melindungi diri dan semua yang serba menguntungkan bagi dirinya sendiri, hal itu memang wajar. Tapi ”awan” dimeeting mulai membuat ”kita” merasa tidak nyaman. Bahkan akhirnya ”hawa panas” output dari meeting terbawa hingga urusan kerjaan sehari-hari. Tidak sehat kan? Karena tentunya akan mempengaruhi hasil pekerjaan.
Istilah senioritas yang awalnya tidak berlaku diperusahaanku, kini mulai terasa. Hal tersebut tidak terlalu berimpact padaku, mungkin karena bidang atau departemenku dikantor ini. Tapi lumayan berpengaruh pada rekanku beberapa apoteker muda yang lain. Tak banyak yang bisa ”kita” lakukan, tapi aku tetap berharap kekompakan ”kita” tetap teguh tidak tergoyahkan oleh apapun. Karena sejak awal ”kita” memang menginginkan ”udara” yang sehat untuk kita bernafas setiap hari diperusahaan ini.

Kalau dulu “alergi” meeting lebih murni karena penyakit manusiawi yang lebih sering menyerang para senior kita seperti sindrom “malas ngobrol dengan bos”, “enggan berdebat dengan bos, dan “ogah disuguhi pekerjaan atau menambah kerjaan”. Bukan berarti “kita” tidak mempunyai atau mengalami sindrom itu, tapi mungkin karena kita yang muda-muda masih mempunyai semangat yang lebih besar, masih haus akan ilmu dan wawasan, dan lebih mempunyai banyak harapan untuk kemajuan perusahaan. Bukan berarti juga mengecilkan semangat para senior, buktinya ditempat kerjaku dulu justru para senior-seniornya yang lebih semangat, sangat getol lembur, bekerja tak kenal waktu dan semua yang berbau loyalitas tinggi. Dari hal ini sepertinya kondisi perusahaan adalah hal utama yang menjadi “precursor” tinggi tidaknya loyalitas para pegawainya. Bukankah timbalbalik perusahaan merupakan dasar yang sangat penting?. Jika saja semua perusahaan memegang teguh istilah “simbiosis mutualisme” maka “para orang atas” dan “orang dibawahnya” akan saling memberikan penghargaan dalam bentuknya masing-masing. Atau bukankan semua itu tergantung pada setiap individunya itu sendiri?
Entahlah.....Yang jelas aroma saling melempar kesalahan adalah aroma getir yang paling tidak aku sukai dalam meeting, karena alangkah celakanya jika hal tersebut sampai bisa merugikan orang lain. Dan alangkah bodohnya jika hal-hal yang sebenarnya bisa didiskusikan diluar meeting harus terexpose dimeeting. Karena ”bos” sebagai peserta meeting bisa dengan cepat menangkap kesalahan anak buahnya, dan itu bisa terpatri dan terukir sebagai catatan hitam. Hal yang benar saja bisa mejadi salah dimata bos, apalagi hal yang salah. Itulah mengapa setiap wacana yang keluar dimeeting yang menyangkut ”kelangsungan” orang lain harus merupakan wacana yang bertanggung jawab. Kecuali jika”bos” bisa melihat gelagat tidak sehat itu dengan bijaksana dan tidak terlalu mudah terprovokasi oleh opini salah satu pihak. Opini adalah opini, opini belum tentu adalah fakta, fakta berdasarkan kebenaran, kebenaran muncul karena kejujuran, dan kejujuran muncul karena kebersihan hati. Opini bisa berbeda-beda karena salah paham, opini bisa berbeda karena kurang komunikasi. Akhirnya ilmu berkomunikasi dirasakan menjadi hal yang sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman apapun. Selain kemampuan komunikasi, kemampuan mengolah emosi juga merupakan faktor yang sangat penting, karena salah ucap bisa menyebabkan hal yang fatal, yang disengaja maupun tidak disengaja. Kita tidak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi disetiap meeting, karena emosi yang keluar dimeeting juga tidak pernah bisa diterka kapan dan kenapa tersulut, bisa karena masalah antar personal, murni masalah kerja, bahkan masalah pribadi yang harusnya menjadi konsumsi pribadi juga bisa terbawa kedunia kantor. Untuk urusan mengolah komunikasi dan emosi, aku pribadi juga masih harus banyak belajar. Kadang-kadang karena bingung dengan kondisi meeting yang mulai berapi, biasanya aku cuma bertindak sebagai ”penonton”.

Hawa yang tidak kondusif dalam meeting sangatlah tidak cantik dimata semua orang. Suara-suara sengau yang tidak merdu itu seharusnya tidak akan terjadi jika saja masing-masing personal tidak selalu merasa lebih benar apalagi paling benar diantara yang lain. Sikap saling mau mendengarkan pendapat, siap menerima kritikan, ikhlas mendapatkan masukan, dan sikap saling menghargai adalah kunci dari hubungan kerja yang positif. Aku hanya bisa berharap semoga bara-bara yang pernah muncul tidak terbakar, semoga air bisa mendinginkan kepala dan memadamkan bara itu sehingga tidak terpecik menjadi api. Karena sebenarnya dibalik ”panas”nya meeting, kita semua para peserta rapat selalu ”hangat” bila diluar rapat. Kapan saja dan dimana saja kami semua bisa tertawa bersama-sama, tersenyum bersama-sama dan bercanda bersama. Hal apapun diluar pekerjaan bisa menjadi topik menarik obrolan kami. Semoga lembaran momen-momen indah yang kami lewati bisa menjadi ”alarm” untuk mengingatkan kami semua akan indahnya persaudaraan, eloknya silahturahmi dan rindangnya kebersamaan dan kekompakan...........

PREBIOTIK DAN PROBIOTIK

4:53 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Prebiotik dan Probiotik. Dua kata itu cukup mirip dalam pelafalan, tapi memiliki wujud yang jauh berbeda. Yang satu merupakan sejenis “hewan, sedangkan yang satunya lagi merupakan produk tumbuh-tumbuhan. Mau tahu tentang keduanya? Itu sangat bermanfaat karena keduanya berguna untuk memelihara kesehatan tubuh.
Gabungan Prebiotik dan Probiotik disebut sinbotik. Keduanya memegang peranan dalam menciptakan kesehatan saluran cerna pada khususnya dan kesehatan tubuh pada umumnya. Menjaga kesehatan saluran cerna menjadi penting karena ditempat itulah terjadi penguraian bahan makanan untuk akhirnya diserap nutrisinya. Nah, penyerapan nutrisi disaluran cerna berguna sebagai sumber tenaga, daya tahan tubuh, dan untuk anak-anak penting bagi proses pertumbuhan.
Tahukah anda bahwa diusus terdapat milyaran bahkan trilyunan mikroba?
Secara sederhana dikelompokkan sebagai bakteri baik dan bakteri jahat. Bakteri-bakteri itu hidup dalam keseimbangan. Jika kesimbangan terganggu, bakteri jahat alias bakteri patogen (penyebab penyakit) meningkat, maka kesehatan orang yang bersangkutan akan terganggu.
Ingin tahu apa manfaat Prebiotik dan Probiotik?.......Next time yah……..

Ruang Kantorku

4:51 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Meja dan kursi terhimpit rak dan lemari
Laptop dan printer terhimpit buku dan dokumen
Dua perangkat telepon teronggok diperaduannya
Tumpukan binder berbaris dirumah mungilnya

Sepatu bersembunyi disudut bawah meja
Kotak sampah terdiam disalah satu sudut ruang
Gelas air minum berdiri disudut kiri meja
Dus unit box terjejer rapi disudut kanan meja

Pinsil menari-nari diatas kertas
Kalkulator meringis terinjak jari jemari
Mouse berdansa diatas mousepad
Kalender duduk tersenyum diujung meja

Gunting dan lem kadang-kadang bertamu
Pembolong kertas dan staples tak segan bergabung
Spidol warna begitu senang dapat memberi pelangi
Penggaris tak enggan untuk ikut berpesta

Lantai putih marmer diantara dinding kaca dan dinding tembok
Udara sejuk berputar diantara daun pintu dan daun jendela
Suara dering telepon memecah diantara kesunyian dan keheningan
Derai tawa sesama rekan terurai diantara keseriusan dan kehangatan

Bentangan gunung tampak dari balik daun jendela…….
Hamparan kabut tak segan melambai mengetuk jendela.........



SOSOK TUA DISUDUT PAGI

4:48 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Pagi ini masih terlalu dini. Pagi itu masih terlalu buta. Buta sekali hingga membutakan mata kita untuk dapat menangkap sesosok perempuan sangat tua disudut bangunan itu. Pagi memang belum lagi pagi, masih terlalu gelap sampai menggelapkan mata kita untuk menyadari ada setubuh pejuang tua telah membuka matanya lebar. Ditengah sebagian besar manusia yang masih terlelap dalam mimpinya, masih merebahkankan raganya dalam rehat, masih membiarkan kelopak matanya tertutup rapat dengan manja.
Dibelahan pagi yang luas dan hening, terpetik suasana ramai yang memang sudah sangat biasa ditempat itu. Bangunan tua itu berwujud pasar. Ditempat berkumpulnya penjual dan pembeli itulah sesosok tua itu mengais rejeki. Tempat itu sudah menjadi rumah kedua untuknya. Tempat dia menyandarkan hidup pada kekuatan tubuhnya. Tubuh yang seharusnya tidak lagi menanggung beban seberat itu. Tubuh yang tak selayaknya masih merasakan kerasnya hidup yang semakin keras ini.
Lampu-lampu malam masih menyala terang karena matahari masih betah bersarang diperaduannya. Benderangnya menjadi cahaya bagi langkah sang nenek yang perlahan namun pasti. Kulit keriputnya seolah tak menangkap udara yang masih dingin. Kedua matanya seolah siap menangkap setiap arti perjuangan hidup. Penciumannya sama sekali tak merasakan aroma kebosanan akan hidup. Pendengarannya masih sigap untuk menyerap suara-suara sumber rejekinya. Kedua kakinya berjalan menghampiri mobil-mobil bak yang berdatangan membawa tumpukan sayur-sayuran segar berbagai jenis. Tanpa menunggu aba-aba, tubuh rentanya segera menawarkan dan memberikan punggungnya untuk mengangkut tumpukan sayuran itu. Ternyata pemandangan itu sudah sangat biasa. Bukan hitungan tahun, tapi puluhan tahun aktivitas itu dijalaninya. Sulit dibayangkan bahwa kakinya yang kecil mampu melangkah dengan rapih ditengah himpitan beban berat dipunggungnya. Bolak-balik sang nenek memikul ”bawaan” itu dari mobil bak diluar pasar dan mengantarkannya kepenjual-penjual sayuran yang berada didalam pasar. Tak terlihat lelah. Apalagi menyerah. Tak terlihat peluh. Apalagi mengeluh.
Orang muda berusaha itu biasa. Orang muda berjuang itu keharusan. Tapi ketika tubuh tua itu masih harus bekerja keras, setengah hatiku tidak bisa menerima. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tanganku terlalu kecil untuk bisa merangkul banyak orang yang ingin aku rangkul. Aku hanya dapat mengalirkan sekuncup doa...............

TIGA HATI

4:44 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Kau menemukanku lagi dan aku menemukanmu lagi, dalam waktu yang tidak tepat.............

Tahun telah berganti tahun ketika mataku secara tidak sengaja menangkap sosok tak asing yang sedang tersenyum menatapku. Sesaat setelah aku menangkap pandangan itu, aku tersenyum simpul. Sorot mata itu tidak asing untukku. Guratan wajah yang tidak asing untukku. Bahkan senyum itupun sangat tidak asing untukku. Semuanya pernah ada dalam hari-hariku. Dimasa lalu. Aku membiarkan langkahku terhenti dan membiarkan langkahmu yang perlahan namun pasti datang menghampiriku. Satu kalimat pertama yang kau ucapkan setelah pandangan kita sudah bertemu sangat dekat adalah ”Apa kabar?”. Kalimat selanjutnya mengalir dan mengalir begitu saja. Masih sama seperti dulu, percakapan kita selalu hangat dan renyah.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Waktu terus berjalan seiring dengan kedekatan kita yang berjalan cepat. Tidak ada hari yang bersih dari komunikasi antara kita berdua. Sejujurnya aku mampu menangkap sinyal yang berbeda dari ke”agresif”anmu kali ini. Kau sedikit lebih berani dibanding dulu meskipun tidak pernah bisa menyembunyikan sifat aslimu yang pemalu dan terkadang dingin. Kau terlihat jauh lebih percaya diri dibandingkan kau yang kukenal dulu. Mungkin karena kini kau sudah jauh lebih matang dari segala hal. Tidak membutuhkan waktu lama untuk kita kembali dekat. Mungkin karena kita memang pernah dekat....Dahulu.....Hanya saja kala itu tak pernah ada ”momen” yang tepat untuk kita dalam pengungkapan kejujuran ”rasa”, hingga akhirnya kita berpisah tanpa pesan. Berpisah kota, berpisah dunia.......Bodohnya kita tidak pernah memanfaatkan tekhnologi komunikasi untuk ”melacak” satu sama lain. Kesibukan kita pada dunia baru membuat kita sama-sama menghilang.
Pertemuan kita menjahit kembali kenangan-kenangan kebersamaan pertemanan yang pernah terputus. Setiap pertemuan selalu bermakna, bahkan menjadi suatu ”adiksi”. Obrolanmu masih gurih dan kenyal. Gaya bicaramu masih asyik tapi begitu sederhana. Bahasamu masih ”cuek” tapi tetap santun, lembut tapi sangat lelaki, terkadang menggelitik tapi serius. Kau tetap mengguratkan kau yang dulu. Kau yang menyenangkan. Sampai akhirnya kau merusaknya dengan sangat tidak menyenangkan. Kau mengungkapkan keberadaan ”dia” tepat bersamaan dengan ketika kau ingin menjadikan ”kita’ satu. Suatu kejadian yang teramat langka bagiku.
Sudah bisa kutebak bahwa cepat atau lambat kau akan ”menembak”ku. Dan akhirnya hari itu tiba. Pernyataanmu dan pertanyaanmu menjadi satu. Hal yang kau akui pernah ingin kau lakukan dulu sekali. Sinar matamu melukiskan harapanmu yang besar untuk sebuah jawabanku yang sesuai dengan keinginanmu. Tapi belum lagi sempat aku menjawab, kau mengungkap suatu kejujuran. Kejujuran bahwa kau tidak sedang sendiri. Kau telah bersama yang lain. Kau telah dimiliki perempuan lain, meskipun entah berapa kadar kepemilikannya. Sesaat itu juga, aku tidak bisa menutupi aku yang memang aku. Aku yang terlalu ekspresif untuk memendarkan apa yang ada. Adanya aku saat itu adalah aku yang kecewa. Aku yang marah. Aku yang sangat membencimu. Aku yang berlalu dari hadapanmu, untuk tak mau membiarkan diriku lebih lama ”tercebur” dalam suasana yang panas.
Sudah kuduga apa yang akan kau lakukan untuk menyikapi keadaan ini. Kau tak lelah dan tak pernah berhenti menghubungiku. Semua sarana untuk meninggalkan pesan telah kau lakukan untuk mengeluarkan isi hatimu. Atau hanya untuk membuat hatiku lebih baik?. Semua kalimat yang kau tuliskan hanya memiliki satu inti. Ungkapan bahwa kau tidak ingin kehilangan aku lagi. Untuk yang keduakali. Suatu pembelaan yang cantik. Namun tetap saja klise bagiku.
Hari berganti hari. Dan akhirnya daya tahanku runtuh juga. Amarah yang sempat memuncak itu perlahan mereda. Mungkin karena aku sudah cukup lama mengenal pribadimu. Kau orang yang baik. Semua orang juga mengakuinya. Dan kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Seharusnya aku tidak bisa memaafkan apupun dan karena alasan apapun itu yang berbentuk ketidakjujuran. Dan kau telah ”telak” membohongiku. Anehnya semua alasanmu perlahan-lahan memasuki ruang pikirku. Tapi kau memang benar, kita mungkin tidak akan pernah bisa dekat seperti kemarin jika saja kutahu keberadaan ”dia”. Aku pasti akan sangat menjaga jarak denganmu kalau saja aku tahu lebih awal. Entah kenapa hati kecilku akhirnya bisa mentolerirmu. Aku merasa menjadi perempuan yang bodoh. Tapi lebih bodoh lagi jika aku terus marah padamu. Marahku tidak bisa menampik kenyataan yang sudah terjadi. Kenyataan bahwa kita dipertemukan kembali. Kenyataan kau mengulurkan hatimu dan aku meyambutnya. Kenyataan bahwa kau sudah terlanjur ”menitipkan” hatimu pada hati yang lain. Kenyataan bahwa kita sudah menikmati kebersamaan kita yang manis.
Dilema itu muncul. Terkadang aku merasa harus mengagungkan harga diri dengan mempertahankan kemarahan ini, tapi disisi lain aku juga merasa tidak mungkin membiarkan amarah berkecamuk berkepanjangan dibatin ini, karena itu hanya akan menunjukkan bahwa aku memang sangat mengharapkanmu. Aku tak mau kau menganggap besarnya emosiku ini berkorelasi dengan besarnya ”rasa” yang sudah terlanjur tumbuh.
Aku merasa harus bisa menang mengalahkan amarah ini. Dan akhirnya kitapun bertemu dalam hawaku yang sudah tidak berselimut ”api”. Kali ini kau tak lagi memberikan terlalu banyak alibimu. Mungkin karena alibi-alibimu itu sudah banyak yang aku muntahkan, meskipun banyak pula yang kutelan. Kuakui bahwa kau memang sudah terlalu mahir membaca diriku. Hingga kau sampai harus membohongiku untuk sekedar mengambil hatiku. Hati yang tidak akan pernah bisa kau ambil jika saja aku lebih dini mengetahui keberadaannya. Kali ini kau pun lagi-lagi menunjukkan kemahiranmu membaca sikapku, dengan wacanamu yang masih berani mengungkapkan ”pertanyaan”. Pertanyaan itu masih ”setia” dalam bentuk pertanyaan, karena belum ada jawaban apapun dariku. Kau masih konsisten berkutat pada keinginanmu untuk menjadikan dirimu sebagai pendampingku. Walaupun itu berarti kau harus melepaskan ”dia”. Yah, kau dengan yakin menegaskanku bahwa kau memang ingin berpisah dengannya. Kau memberikan alasan yang hanya bermotif untuk menenangkanku. Bahwa kalaupun realita yang ada mengharuskan kau dan dia sudah tidak bisa bersama lagi, itu bukan karena diriku, tapi memang itu yang terbaik untuk dia. Kau tidak ingin menyakitinya lebih dalam dengan membohongi kenyataan bahwa hatimu tidak memiliki rasa yang cukup kuat padanya dan kau belum bisa membuka hatimu lebar-lebar untuknya. Alibimu kali ini sangat berani dan cukup manis. Tapi tetap saja sangat pahit dan beraroma pengkhianatan, karena sebelum aku muncul kau masih bersamanya. Sebuah cerita cinta yang usang dan basi. Tapi aku tidak pernah menyangka harus mengalaminya sendiri. Kau mencoba memanfaatkan ”keperempuananku”. Tapi senjata terakhirmu itu malah membuatku kecewa padamu. Untung saja aku sudah jauh mengenal pribadimu sebelum ”tragedi” ini terjadi, sehingga aku tidak bisa menghakimimu sepenuhnya bersalah. Sebenarnya aku percaya padamu. Sangat percaya. Kau tak pernah mencatat sejarah kebohongan dalam pertemanan kita, kecuali ”keterlambatan”mu mengungkapkan dia. Dan ”keterlambatan”mu itu aku catat sebagai cacat. Namun entah mengapa ”cacat”mu tidak bisa menutupi pesonamu. Kau tetap mempesonakan banyak orang dengan daya tarikmu. Meskipun dimataku pesona itu telah kau kacaukan tapi harus aku akui pesonamu belumlah luntur karena semua ini. Mungkin hal ini bukan sebuah tragedi dalam perjalanan hidupmu tapi merupakan tragedi bagiku. Aku berharap hanya mengalaminya sekali dalam lembaran kisahku. Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau menjadi perempuaan ketiga bagi perempuan manapun. Meskipun kau sudah dan selalu menyangkal keberadaanku sebagai pemicu goyahnya hatimu padanya. Bahkan menyingkirkan keberadaan dirinya dari hatimu. Kau masih teguh dengan pendirianmu untuk meyakinkanku seolah-olah dia hanya mengetuk hatimu sesaat dan tidak pernah berhasil memasuki ruang hatimu secara utuh. Sayangnya aku juga tetap teguh pada pendirianku menganggap dia pasti tidak sekedar ”mampir” dihidupmu, meskipun tidak pernah kau iyakan dalam pengakuanmu. Yang ada dalam inti ungkapanmu justru hanya tentang keyakinanmu bahwa keraguanmu padanya sudah hadir dibenakmu sebelum aku benar-benar hadir dihidupmu.
Aku berusaha bersikap bijak tapi tetap saja tindakan yang konyol. Dengan sedikit ancaman, aku meminta padamu untuk tidak memutuskan dia. Setidaknya beri waktu untuk ”kekagetan” kita. Bisa saja semua ini hanya ”euforia”mu atau justru emosimu yang gegabah. Hati bisa berubah, meskipun tidak sepantasnya. Dengan tidak menunjukkan ekspresi kekecewaanku, aku memintamu untuk menjadikan situasi kita tidak rumit. Mungkin memang bukan hal yang rumit bagimu tapi sangat rumit bagiku. Kau meluncurkan jalan keluar yang terbaik hanya menurut jalan pikiranmu saja. Tidak menurutku. Aku perempuan yang sudah menjadi wanita. Wanita yang bisa merasakan hati wanita lain. Wanita yang sudah seharusnya menggunakan logika, meskipun tidak bisa sepenuhnya. Wanita yang sudah tidak sepantasnya lagi mengalami cinta buta atau dibutakan cinta. Dengan tenang aku merangkai kalimat yang bisa masuk keotakmu dengan cepat. Karena aku tahu terkadang kalimatku mudah membuat orang pusing. Tapi kali ini aku berusaha berucap singkat dan jelas. Bahwa kita lebih baik tetap memposisikan diri sebagai teman. Sama seperti dulu, kemarin, hingga hari dimana kau menyatakan perasaanmu padaku. Kali ini akulah yang berusaha memanfaatkan sifat aslimu yang sebenarnya paling susah menyakiti orang. Untuk itulah aku meminta bahkan dengan sedikit memaksa dirimu untuk mentoleransi keadaan ini dengan membiarkan kita apa adanya sebagai teman dan mempertahankan dia sebagai kekasihmu. Sejujurnya, aku tidak tahu apakah tindakanku ini benar atau salah tapi setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan saat itu. Aku bahkan tetap berusaha menampilkan adanya diriku yang selalu ceria, meskipun hatiku sangat tidak ceria. Aku bisa membaca kekecewaan yang tertulis jelas diraut wajahmu yang sebenarnya sangat teduh. Aku tahu kau masih bingung. Untuk itulah aku segera mengambilalih kebingunganmu dengan melanjutkan kalimatku dengan lebih lugas. Bahwa sebaiknya kita tidak perlu berhubungan atau bertemu lagi sampai kau sanggup meluluskan permintaanku. Mulutmu akhirnya mengeluarkan ekspresinya lagi. Meskipun ekspresi yang penuh tekanan. Kau mau merestui mauku. Itu kalimat yang aku tangkap keluar dari bibirmu dengan hanya sedikit nyawa hingga hampir tak terdengar. Hanya dengan cara itulah aku memperbolehkan kita untuk masih bisa saling berhubungan. Tidak ada yang salah dengan berteman. Untuk itulah kita masih bisa berteman, itu pikirku kala itu. Seharusnya orang berteman tanpa syarat. Tapi diakhir pembicaraan kita, aku masih meminta syarat padamu. Kalaupun kurang bagus disebut syarat, anggaplah itu suatu permohonan. Agar kau tidak mengungkap keberadaanku yang selalu kau yakini sudah masuk ke dalam hatimu. Kau hanya boleh menyibak diriku pada dia dengan menyebut statusku sebagai teman. Teman yang tidak pernah kau tawarkan cinta. Teman yang tidak pernah kau berikan perhatian dengan rasa. Sebutlah aku sebagai teman lama. Yang menjadi teman baru. Hanya itu. Tidak lebih.
Waktu berjalan begitu cepat. Dalam perkembangannya ternyata kita tenggelam pada situasi yang kurasakan tidak sehat. Aku tidak menyangka begitu sulitnya lepas dari perhatianmu. Kita masih ”rajin” berhubungan meskipun tidak pernah menyinggung soal hati. Kau membuatku terjebak dalam pertemanan kita yang semu. Pertemanan yang palsu. Karena kita tetap bukanlah teman. Teman yang jujur teman, hakikatnya tidak menggunakan hati. Dan kita secara sembunyi-sembunyi namun terang-terangan melibatkan ”hati” dalam pertemanan ini. Kau memaksaku terkubang dalam pertempuran ”tiga hati”. Kau, aku dan dia. Ingin aku keluar dari lingkaran itu. Namun kesendirianku saat itu membuatnya tak mudah. Tak mudah untuk membuangmu begitu saja. Kau adalah satu-satunya teman lelaki terdekatku yang ”rutin” mengisi hari-hariku. Menemani penatku dalam aktivitas. Menemani sepiku dalam rehat. Menemani setiap sedihku. Mendengarkan setiap ceritaku. Mendengarkan setiap keluhku. Mendengarkan setiap kebahagiaanku.
Aku kini berada diujung limit. Aku tidak bisa lagi membiarkan diriku berkutat dalam ketidakjujuran. Aku juga tidak bisa membiarkan dirimu bersahabat dengan kebohongan. Membohongi dirimu sendiri. Membohongi dirinya.
Sekali lagi pertahananku runtuh. Namun kali ini runtuh untuk tegar. Aku tidak mau lebih lama lagi berada dilingkaran yang ”sakit” ini. Aku memutuskan untuk mengetahui ”dia”. Sosok yang tidak pernah kuketahui dengan jelas. Kadang aku tidak mau peduli siapa dia. Kadang aku begitu peduli padanya. Tak banyak yang kuketahui tentangnya karena kaupun begitu enggan membicarakannya. Sampai akhirnya acara pernikahan temanmu yang juga temanku, ingin kujadikan momen untuk mengetahui seperti apa dirinya. Aku memintamu untuk mempertemukan aku dan dia. Aku sudah menduga pada awalnya kau pasti akan menolak kemauanku. Tapi lagi-lagi aku berhasil memaksakan kehendakku padamu. Kau tidak berkutik, meskipun terlihat begitu banyak pertanyaan berterbangan dikepalamu.
Hari itu aku datang keacara teman kita bersama temanku. Mataku mencoba menerawang isi gedung untuk dapat menemukan sosokmu. Tapi kau belum hadir. Sesaat setelah aku bercengkerama dengan teman-temanku, kau akhirnya muncul bersama seorang perempuan. Entah mengapa mataku seakan tak mau lepas dari objek itu. Kini tatapanku terfokus pada perempuan disebelahmu. Sudah bisa dipastikan dialah perempuan yang selalu membuatku menjadi perempuan yang jahat. Ternyata dia seorang yang manis. Wajahnya tidak terlalu berekspresi meskipun sesekali tersenyum. Kelopak mataku tiba-tiba enggan berkedip melihat kau dan dia. Bagaimana kalian berjalan, bagaimana kau memperlakukan dia dan bagaimana dia memperlakukan dirimu. Pertemuan yang hanya sekali ini memang tidak bisa mewakili. Namun aku bisa merasakan kesabarannya menghadapimu. Meskipun kau bersikap ”dingin” padanya tapi dia sepertinya sudah sangat terbiasa dengan dinginmu itu. Aku memang tidak bisa menangkap kehangatan sepasang kekasih dari ”gesture” kau dan dia. Tapi aku bukan hakim atas apapun. Dan aku tidak punya hak untuk menentukan nilai kau dan dia.
Pandanganku tiba-tiba pecah ketika teman-teman disebelahku memanggilmu agar ikut bergabung bersama untuk sekedar ”reuni kecil”. Aku merasa kikuk dalam sekejap. Kau tersenyum membalas sahutan teman-teman kita sembari berjalan kearah ”gerombolan”ku. Seketika kau sampai, seketika itu pula kau menyodorkan tanganmu bersalaman dengan mereka, tentu saja termasuk bersalaman denganku. Kau memanfaatkan adegan itu untuk melemparkan tatapan yang menohok kemataku. Aku tidak tahu maknanya. Atau aku hanya berpura-pura gagap menangkap sinyalmu. Seketika itu pula mereka memojokkanmu untuk memperkenalkan ”dia” yang ada disebelahmu kepada mereka semua. Tak dapat dielakkan lagi, tanganku dan tangannya saling berpelukan. Aku tertegun merasakan kelembutan tangannya. Tercetus ”minder” sesaat, karena kedua tanganku tidak memiliki kelembutan itu. Aku dan dia saling mengguratkan senyum. Suasana berubah sedikit ”gaduh” dengan keramaian kecil dari obrolan sekelompok teman yang memang sangat jarang bertemu itu. Diselingi gelak tawa. Kau dan mereka begitu larut dalam kehangatan yang tercipta. Tapi tidak bisa menutupi ekspresimu yang tidak lepas. Ada guratan ”pressure” diwajahmu.
Aku putuskan untuk pergi dari kumpulan ini. Aku berusaha menikmati acara dengan menghampiri sudut-sudut gedung yang lain bersama temanku. Tapi ternyata itu malah membuatku merasa ganjil. Itu karena aku terlalu sering merasakan sepasang mata yang seolah-olah mengulitiku. Ingin rasanya aku memaki kebodohanmu karena kau banyak meluncurkan tatapanmu kearahku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berharap agar kau tidak melakukan ketololan apapun. Kau tak sepantasnya melakukan itu. Aku tahu sisi hatimu ingin memperlihatkannya pada semua orang kenyataan hatimu, tapi kau juga tahu aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu bila kau benar-benar melakukannya. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa kau adalah kau yang pasti mampu mempertahankan sikapmu yang bijak. Bijak untuk tidak akan menunjukkan yang tidak perlu dipertunjukkan. Bijak untuk menyadari bahwa tidak akan pernah ada saat yang tepat untuk mempertunjukkan realita hatimu didepan orang lain. Hanya kita berdua yang tahu. Dan kita harus pandai menyimpannya.
Seiring dengan tidak pudarnya keaktifan pandanganmu padaku, aku memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Kau sangat kusesali karena kau yang kukenal adalah kau yang selalu menghargai orang lain. Sudah sangat jelas ada sosok disebelahmu yang patut kamu hargai harga dirinya dan kamu lindungi perasaannya. Aku sedih melihat sedikit perubahanmu itu. Padahal kalau kau tidak bisa menghargainya berarti kau juga tidak menghargaiku.
Semalaman aku berpikir. Keputusan harus dibuat. Aku....Hanya aku yang bisa meluruskan semua kebengkokan ini. Dan ingin kumantapkan bahwa keputusan harus kuambil. Tapi kapasitas otakku membuatku ”lemot” berpikir. Keputusan yang berat. Dalam konteks cinta lelaki dan perempuan, seharusnya hanya mengikat dua hati. Karena ruang hati tidak akan cukup luas untuk menampung lebih dari satu cinta. Nyata-nyata kau sudah masuk ke dalam hatiku, meskipun belum lagi menetap. Pertimbangan hati dan logika. Keduanya saling bertabrakan. Keduanya saling bersebrangan. Jika mempertimbangkan hatiku, aku pasti membiarkanmu menetap untuk tidak sekedar singgah di dalam hati ini. Menetap dengan leluasa. Karena hati ini memang sedang kosong. Bukankah semua orang berhak bahagia? Dan aku juga memiliki hak itu. Tak ada yang salah jika aku menerimamu, karena aku sedang berada dalam statusku yang ”sendiri”. Apalagi aku baru saja sembuh dari lukaku. Luka yang masih membutuhkan perawatan. Dan aku yakin kau bisa merawatnya dengan baik. Kau hadir dengan indahnya kasih sayang yang baru saja hilang dari hidupku. Tidak pernah ada kewajiban yang mengharuskanku untuk memperhatikan ”dia”. Kau yang selama ini kukenal adalah kau yang tidak pernah memperjuangkan cinta. Dan ketika kini ku melihat kau memperjuangkannya, apakah adil untukmu bila aku tidak menghargai perjuanganmu? Itu bila hatiku yang berbicara. Hati yang sedang membutuhkan tambatan. Tapi logikaku berkata sebaliknya. Aku tidak boleh bersikap egois menghadapi cinta. Cinta yang sudah termiliki orang lain adalah cinta yang tak layak untuk diraih. Bagaimana bila aku memposisikan diriku sebagai ”dia”?. Logikaku juga tidak mungkin menerima dirimu yang begitu mudah goyah hanya karena kehadiranku. Bukankah aku harus mencari lelaki yang kuat?. Lelaki yang kuat menjaga hatinya. Usia kita bukan lagi saatnya berhubungan dengan nuansa main-main atau ”iseng” dan kenyataannya kau menerima dia disisimu sebelum kehadiranku. Aku tak pernah tahu alasan apa yang membuat kalian bisa bersama. Aku juga tidak mungkin lebih lama bertahan dalam hubungan ini. Gelap tanpa harapan, tanpa masa depan. Meskipun harapan itu ada ditanganku, aku yang bisa membuatnya menjadi penuh harapan. Meskipun aku tahu kau bisa memberikanku masa depan, tapi masa depan yang dimulai dengan sesuatu yang salah bukankah tidak baik? Sekalipun kau selalu berusaha tidak pernah melibatkan ”kesalahan” padaku, tapi aku tetap merasa bersalah. Dimataku, aku berada diantara kau dan dia. Dimatamu, dialah yang berada diantara kau dan aku. Pertarungan hati dan logika ini benar-benar menyita pikiranku. Ingin aku meyakini bahwa tak ada yang bersalah antara kita. Aku, kau dan dia. Aku dan kamu pun tidak pernah minta dipertemukan. Takdirlah yang telah mengantarkan kita pada pertemuan.
Sebenarnya aku tak ingin mengulur waktu lebih lama untuk membuat semuanya menjadi ”clear”. Aku hanya perlu menunggu kau menghubungiku, karena aku tahu pasti banyak yang ingin kau bicarakan tentang kita. Mencari ”solusi” terbaik untuk hati sangat tidak mudah. Aku tidak pernah tahu apa aku bisa menghadapimu. Yang aku tahu aku harus menutupi baik-baik kerapuhanku. Aku masih diliputi kebimbangan ketika akhirnya kau menghubungiku. Dugaanku tak keliru. Kau meminta kita untuk bertemu.
Akhirnya kita bertemu lagi ditempat ”kita”. Belum lagi mulut aktifku ini terbuka. Kau sudah terlebih dahulu membuka percakapan. Percakapan yang ”to the point”. Kali ini kau yang memohon padaku. Kau merasa selama ini sudah berusaha memenuhi keinginanku dan sekarang giliranku mengabulkan permohonanmu. Kau memang masih belum merusak permohonanku dan kepercayaanku untuk tidak ”mengungkap” aku padanya. Kini ternyata kau sudah ingin menyerah kalah. Kau tak sanggup lagi menahan kebohongan hati. Bendunganmu telah luluh lantah. Aku sangat sedih melihatmu harus begini. Ternyata kau tak setegar yang aku bayangkan. Kau ingin segera membuat semua kegelapan ini menjadi terang benderang. Kau ingin menyulap semua kebohongan menjadi kejujuran. Aku membaca jelas kelelahanmu atas ”tiga hati” ini. Dengan terbata-bata kau mengungkapkan keinginanmu untuk bisa menjadikan ”dua” yang ”tiga” itu. Hanya dua. Kau dan Aku. Kau ingin melepaskan dia untuk bersamaku. Bersama dalam proporsi yang kau inginkan, kebersamaan yang bukan sebagai teman.
Tanpa disadari aku meneteskan airmata. Bahkan airmataku ini tak bisa berhenti. Kenyataan bahwa aku menyayangimu, kau pasti tahu itu. Untuk itu aku tidak bisa egois. Aku sedih melihatmu terlihat ”capek” untuk semua ini. Aku dapat merasakan lelahmu. Dan yang membuatku bertambah sedih adalah ketidakmampuanku untuk memenuhi permohonanmu. Aku minta maaf. Kalimat itu meluncur dengan segenap ketulusanku. Aku bosan minta maaf, meskipun hanya lebih sering di dalam hati, tapi ternyata aku kembali dan kembali mengucapkan maaf. Apa aku adalah orang yang mudah berbuat kesalahan sehingga harus terus meminta maaf. Kita berdua mungkin saja sama-sama bersalah. Tapi biarkan aku yang memohon maafmu. ”Maaf” karena aku harus tegas dan keras padamu. Tegas untuk menolakmu. Keras untuk melatihmu kuat.
Kali ini aku hanya bisa berusaha ”extra” untuk meyakinkanmu bahwa untuk menyelesaikan semua ini, harus ada yang mengalah. Yang menjadikan ”tiga” adalah diriku. Kalaupun ada yang harus terlempar dari ”tiga”, itu harus aku. Dia seorang yang manis, andai saja dia tidak semanis itu. Aku tidak menyangka ternyata kau yang kunilai pandai ternyata tidak sepandai yang kubayangkan, karena kau tak pandai menjaga hatimu untuknya. Semua alibimu aku resapi. Tapi apapun itu alasanmu, logikaku tetap bejalan di”rel”nya.
Aku ingin melihatmu damai. Untuk itu aku putuskan untuk pergi secara konsisten.
Aku belum pernah melihat tanganmu bergetar. Dan aku jelas melihatnya saat ini. Aku cukup mengenalmu untuk cukup mengenalku. Aku pasti berusaha untuk memenuhi keinginanku sampai benar-benar berhasil. Keinginanku kali ini adalah seutuhnya menyingkir dari hidupmu. Keinginanku adalah sungguh-sungguh menghilang dari hari-harimu.
Sedih kita begitu jelas. Kesedihanku yang utama adalah kenyataan bahwa untuk bertemanpun kita tidak diperbolehkan oleh logika. Kepedihanku yang terbesar adalah kehilangan salah satu teman terbaikku. Sampai kapanpun dimataku kau tetap orang baik diluar kesalahanmu tentang ”tiga hati” ini. Aku berusaha meyakinkan dirimu dan diriku bahwa kau pasti bisa memberikan ”space” lebih banyak untuk dia bersemayam dihatimu.
Kalaupun bukan dia, siapapun dia yang akan kau simpan setulusnya dihatimu, kuharap dia akan membuatmu bahagia. Karena kau pantas mendapatkannya.

”Tiga hati” adalah suatu pengalaman dan pembelajaran ”lagi” dalam hidupku. Juga pembelajaran untuk semua orang. Siapapun dan dimanapun. Aku tidak pernah mengerti mengapa harus terlalu banyak pelajaran yang aku terima untuk aku bisa lulus dan mahir melewati hidup? Padahal aku tetap saja tidak pernah bisa lihai menjalaninya dengan mulus.
”Tiga hati” semoga hanya sekali ini saja aku mengalaminya. Berharap tak akan pernah terulang. Karena kita hanya punya satu hati. Jikapun ingin kita berikan, tentunya hanya bisa diberikan pada ”satu” hati yang lain. Sepatutnya kita menjaga kesucian hati dengan hanya mengkontaminasikannya oleh ”satu” hati yang lain.
”Tiga hati”, catatan hidup yang memaksaku untuk mencatatnya dalam lembaran kisahku. Kita semua hanya punya satu hati dan sepantasnya kita merawatnya dengan baik. Catatan ”Tiga hati”adalah sebuah harapan agar dapat memperlakukan hati dengan lebih adil, untuk itulah aku menulisnya.

9:43 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Bijaksanamu membuatku luluh
Santun jiwamu membuatku damai
Tutur katamu membuatku teduh
Derma hatimu membuatku tertegun

Penggubahan diriku adalah karenamu
Penggenapan diriku adalah olehmu
Pengagungan cintaku adalah cintamu
Pencapaian citaku adalah hadirmu...

Kau mematikan keakuan diriku
Kau meredupkan egoisku
Aku tak lagi menjadi Aku
Ketika Aku menjadi Kita

9:37 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Dulu kau selalu bermukim dihatiku
Kini kau telah erat menggenggam tanganku
Dulu ku selalu kagumimu
Kini kau telah dihadapanku

Dulu ku selalu impikanmu
Kini kau setia berada disisiku
Dulu ku ingin menggapaimu
Tapi kini justru aku melepaskanmu……..

Sesungguhnya rasa ini masih utuh….
Utuh seperti awal kita bertemu
Tidak pernah berkurang dan terkikis…
Tapi kebersamaan tak bisa berlanjut
Keadaan dan keinginan tak sejalan
Kenyataan dan harapan tak serangkai
Ku sesali perpisahan ini
Tapi itu yang harus terjadi…….

9:36 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Kau pernah berdenyut dinadiku
Kau pernah berdetak dijantungku
Kau pernah bersemayam dijiwaku
Kau pernah mengisi penuh hidupku

Ku pernah bersemi dihatimu
Ku pernah berada dipikirmu
Ku pernah mengalir didarahmu
Ku pernah tertulis disuratanmu

Kusimpan memori itu……
Memori kebersamaan kita….

Kenangan indah kita
Bergandengan tangan, beriringan berjalan
Tertawa bersama, tersenyum berdua….
Kenangan kelam kita
Lelah melawan hati, letih menahan tangis,
Memendam rindu, mendustai diri…..
Bergulat dengan rasa, berperang dengan gelora….
Semua cerita ini…bagian kisah diri…..
Yang tak akan pernah hilang dari perjalanan langkah
Mencari cinta sejati……

9:34 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Waktu hidupku pernah penuh terisi olehmu
Terlalu banyak detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun
Yang kita lewatkan bersama…..

Terlalu banyak senyum, tangis, tawa, airmata
Bahagia, sedih, keceriaan dan keterpurukan
Yang kita alami berdua…..

Tak terhitung banyaknya rasa yang pernah kita punya
Rasa benci dan sayang, rasa rindu dan marah yang bisa berganti
Hanya dalam hitungan detik……

Saat itu kita terlalu labil untuk menyikapi setiap masalah
Kala itu kita terlalu sering dikalahkan emosi dan membuang logika
Masa itu kita terlalu goyah oleh hembusan angin dan terpaan gelombang

Kekuatanmu mempertahankanku dan ketakutanku menghadapi kesendirian
Membuat kita begitu sulit berpisah…
Namun juga begitu mudah retak oleh setitik kesalahan
Sampai akhirnya kita menyerah…….

9:33 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Kau adalah orang pertama yang membuat aku menyadari
betapa jahat dan egoisnya diriku….

Kehausanku pada sosok lembut, santun, berkharisma telah memaksa hatiku
untuk mengagumimu……

Bersamamu adalah saat dimana aku tau
begitu mudah orang menyukaimu dan begitu mudah orang membenciku

Berjalan disampingmu buatku bersyukur karena banyak yang harapkannya
Berada disisimu buatku tersanjung karena banyak yang mendambakannya

Genggaman tanganmu membuatku yakin kau menginginkanku
Waktumu untukku membuatku merasa kau ingin berharga dimataku

Segala pesonamu, wibawamu, kerendahan hatimu…
membuat orang melihat banyak kebaikan didirimu
memaksa orang sulit menemukan keburukan dirimu
Namun aku begitu mudah menemukannya……
Kelemahanmu adalah ketidakmampuanmu mempertahankan diriku

Kelembutan pribadimu, keindahan kalbumu
Keteduhan wajahmu dan hangatnya keberadaanmu
Tidak pernah dan belum dapat tergantikan…..

Hal yang kebenci pada dirimu adalah ”ketidakpercayaan dirimu”
Yang akhirnya mengalahkan kelebihan dirimu
Dan menghilangkan kekuatan untuk dapat mengukuhkan serta menguatkanmu
Untuk satu kata CINTA…..

9:31 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Ku terbangun dari mimpi buruk
Mimpi buruk yang nyata
Kesendirian yang senang menghampiriku
Kehangatan yang selalu menjauhiku

Kusadar artimu saat kutinggalkan
Kutau maknamu sesaat setelah perpisahan

Kurusak kebersamaan kita
Kurobek keindahan kita
Egoku telah menyakitimu
Amarahku menghancurkanmu

Dian yang menyala menghanguskan hati
Airmata yang menetes melelehkan rasa

Aku yang melukaimu
Tapi aku yang lebih terluka
Aku yang mengoyak
Aku pula yang terkoyak
Maafmu kuharapkan…….
Untuk tidak membenciku……

9:30 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Ceriaku tak utuh tanpamu
Senyumku tak tulus karena hilangmu
Tawaku tak lagi jujur dengan pergimu
Hatiku hampa sejak lepaskanmu

Malam menjadi saksi…..
Butiran airmata yang menetes….
Aku yang menerbangkan cinta kita tapi aku pula yang menangis
Malam menjadi saksi…..
Kekosongan hatiku didalam keheningan
Betapa kesombonganku telah menghanguskan kasih kita

Ketika kau ada ku tak pernah menghayatimu
Ketika kau setia mungkin ku tak menyadarinya
Ketika kau tulus kerap ku tak hargaimu

Kegagalan ini membuatku yakin
Aku manusia jahat
Aku terlalu bodoh untuk tak menjagamu
Saat kau ada hanya untukku…….

9:30 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Sesaat kau pergi, benak terhenyak
Hasrat hati ingin menarikmu kembali
Tapi waktu telah bicara
Kenyataan telah terbaca..…

Kerasku tak sanggup kau lunakkan
Auraku tak mampu kaucerahkan
Jiwamu jiwaku tak bisa tersatukan
Oleh cinta yang ada…..

Rasa kita sesungguhnya indah
Aku tau itu dan kau pun menyadarinya
Kita selalu menjaga cinta kita
Bahkan dimenit perpisahan……
Matamu masih memancarkan kasih
Hatiku masih memendarkan sayang
Bahkan didetik perpisahan……

9:28 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Hadirmu membuat hati terusik
Hati yang telah terisi namun kosong

Hangatmu memaksa jiwa tersentuh
Jiwa yang kokoh namun rapuh

Adamu mencipta rasa berkembang
Rasa yang tak pernah jelas tambatan

Tulusmu menyentuh raga tergetar
Getaran yang tak sepantasnya kurasakan

Uluran tanganmu mendorong jemariku tergerak
Sementara lenganku sesungguhnya telah tersandar
Sandaran yang nyata tapi terkadang semu
Perasaan yang tumbuh tapi terkadang padam

Ingin kuraihmu dan lepaskannya
Asa ingin menggapaimu dan tinggalkannya
Tapi rasa belum menetap
Tuk bisa berharap
Memilih satu untuk abadi
Meyakini satu untuk selamanya….

9:23 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Sejuta indah saat kau singgah
Singgah untuk tidak berlalu begitu saja
Singgah untuk selalu ada
Ada menjaga hatiku

Terbentuk makna saat kau datang
Datang membuka mimpiku
Mengetuk beku rasaku
Menyibak tabir sendiriku

Paragraf baru hidupku kan kurangkai
Alinea baru kujelang
Bait-bait cinta kutuliskan
Untuk tak terhenti sebelum berkembang
Untuk tak padam sebelum bersinar
Untuk tak berakhir sebelum benar-benar dimulai….
Dimulai cerita baru hatiku yang mulai letih memulai….
Dimulai kisah baru hatiku yang sejujurnya takut untuk memulai….

8:57 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Entah apa yang terjadi dengan hatiku
Entah apa yang tersembunyi dibalik kisah cintaku
Perjalanannya terlalu sulit kumengerti
Misterinya tak dapat kupecahkan

Galau jiwaku menghadapi kegagalan
Yang terulang dan kembali terulang
Putus asa, letih dan diselimuti pertanyaan
Tanya yang tak kudapatkan jawabnya

Layu hatiku oleh keadaan
Kalah hatiku oleh kenyataan
Kenyataan yang tak sesuai dengan harapku
Realita yang tak pernah berpihak padaku

Kelu lidahku menahannya bergerak
Untuk menyuarakan kejujuran rasa
Beku hatiku masih enggan mencair
Sementara waktu tak mau menungguku…..

8:56 PM Edit This 0 Comments »
Kelembutanmu menghaluskanku
Ketegasanku mengokohkan mu
Adamu kusyukuri
Adaku kausyukuri

Kau cairkan bekuku
Kau dinginkan panasku
Kau luruskan belokku
Kau tegakkan goyahku

Dusta hidup tak butuh Cinta
Jujur kita merindu Cinta
Tak ingin lagi kusendiri
Berdua denganmu, impian yang nyata…

8:54 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Engkaulah Sahabat setiaku…..
Engkaulah Teman kekalku …..
Kau Kekasih hatiku……
Kau Pujaan jiwaku……

Cintamu seputih awan
Cintaku sebulat bulan
Kepastian cinta kudapatkan
Kemurnian cinta telah kuraih

Ikrar sehidup semati kan terucap
Saling mendampingi telah terpatri
Awal yang tak berakhir
Permulaan yang tak berujung

8:52 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Rindangnya dedaunan tak seteduh cintamu
Sinarnya matahari tak sehangat kasihmu
Sepoinya angin tak selembut hadirmu
Binarnya matamu sebening sayangmu

Kau cerahkan Auraku
Kau mekarkan pucuk bungaku
Kau arahkan mata angin tujuanku
Kau suburkan Cinta Kita

Keyakinan Kita untuk bersatu
Seyakin perjuangan Kita untuk berpadu
Setegar Cinta Kita yang tak akan goyah
Oleh terpaan badai gelombang………


 

8:51 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Arti dirimu begitu kuyakini
Maknamu sangat kurasakan
Nilaimu tak akan terhitung
Hargamu tak bisa terbeli….

Lukisan cinta kita kuaskan
Tinta kasih sayang kita penakan
Cinta kita saling memberi dan menerima
Cinta kita saling mengisi dan melengkapi

Engkau garisan tanganku
Engkau guratan ragaku
Kini kita menuju pelabuhan terakhir…
Cinta kita yang tak akan pernah berakhir…


By Dini Dwiyanti

8:50 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Engkau hilangkan rasa sendiriku
Engkau kaburkan rasa takutku
Engkau hapuskan rasa sepiku
Engkau tiadakan rasa gundahku

Kau berikan aku kekuatan
Kau suguhkan aku kenyamanan
Kau taburkan kasih sayang…..
Kau hadirkan keindahan

Tiadamu membuatku rindu
Adaku membuatmu utuh..…..
Cinta kita saling melengkapi
Rasa kita membuat kita SATU….


 

8:48 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Putih cinta kita adalah suci
Hitam tak mampu menodainya
Biru hatiku karena merindumu
Hijau dengan keteduhanmu

Mataku ingin selalu melihatmu
Mata hati selalu dekat denganmu
Kakiku ingin selalu melangkah kearahmu
Tanganku ingin selalu menggapaimu

Semua tak lagi hanya harapan
Ketika penyatuan kita menjadi nyata
Kita akan membuatnya abadi
Keindahan yang sejati…….…….




By Dini Dwiyanti

8:47 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Ku tak menjadi diriku yang sekarang, tanpa dirimu
Kau bukan dirimu yang kini, tanpa diriku
Hatiku terketuk oleh adamu
Hatimu terpenuhi oleh hadirku

Butuh waktu untuk kita menyadari
Tak butuh waktu kita meyakini
Bahwa kau dan aku……….
Saling membutuhkan………

Peleburan cinta dua hati
Dua rasa satu keyakinan
Adamu adaku ingin bersatu
Bersama untuk selamanya……



By Dini Dwiyanti 11 Mei 06

8:45 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Cintaku tak akan salah
Cintamu adalah benar
Cinta kita adalah nyata…
Sayang kita begitu tulus…

Ruang hati tak lagi kosong
Kini penuh terisi olehmu
Tak bisa lagi terisi……..
Oleh cinta yang lain……

Kita ingin berjalan searah
Kita ingin melangkah bergandengan
Hilangkan semua tembok penghalang
Penyatuan kasih kita yang putih


By Dini Dwiyanti 11 Mei 06

8:42 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Bulan bintang bagian dari malam
Kau bagian dari hidupku
Matahari bagian dari siang
Aku adalah bagian dari hidupmu

Kau sisi lain hidupku yang berharga
Sisi lain itu akan menjadi utuh…...
Dengan meleburnya dua hidup
Dengan bertalinya dua helai rasa

Tawa, lara pernah kita lewati
Senyum, airmata sudah kita alami
Terhitung waktu yang telah kita jalani
Namun tak terhitung waktu kedepan yang akan kita selami
bersama dalam Cinta…….