SOSOK TUA DISUDUT PAGI
4:48 PM Posted In ABOUT STRUGGLE Edit This 1 Comment »Pagi ini masih terlalu dini. Pagi itu masih terlalu buta. Buta sekali hingga membutakan mata kita untuk dapat menangkap sesosok perempuan sangat tua disudut bangunan itu. Pagi memang belum lagi pagi, masih terlalu gelap sampai menggelapkan mata kita untuk menyadari ada setubuh pejuang tua telah membuka matanya lebar. Ditengah sebagian besar manusia yang masih terlelap dalam mimpinya, masih merebahkankan raganya dalam rehat, masih membiarkan kelopak matanya tertutup rapat dengan manja.
Dibelahan pagi yang luas dan hening, terpetik suasana ramai yang memang sudah sangat biasa ditempat itu. Bangunan tua itu berwujud pasar. Ditempat berkumpulnya penjual dan pembeli itulah sesosok tua itu mengais rejeki. Tempat itu sudah menjadi rumah kedua untuknya. Tempat dia menyandarkan hidup pada kekuatan tubuhnya. Tubuh yang seharusnya tidak lagi menanggung beban seberat itu. Tubuh yang tak selayaknya masih merasakan kerasnya hidup yang semakin keras ini.
Lampu-lampu malam masih menyala terang karena matahari masih betah bersarang diperaduannya. Benderangnya menjadi cahaya bagi langkah sang nenek yang perlahan namun pasti. Kulit keriputnya seolah tak menangkap udara yang masih dingin. Kedua matanya seolah siap menangkap setiap arti perjuangan hidup. Penciumannya sama sekali tak merasakan aroma kebosanan akan hidup. Pendengarannya masih sigap untuk menyerap suara-suara sumber rejekinya. Kedua kakinya berjalan menghampiri mobil-mobil bak yang berdatangan membawa tumpukan sayur-sayuran segar berbagai jenis. Tanpa menunggu aba-aba, tubuh rentanya segera menawarkan dan memberikan punggungnya untuk mengangkut tumpukan sayuran itu. Ternyata pemandangan itu sudah sangat biasa. Bukan hitungan tahun, tapi puluhan tahun aktivitas itu dijalaninya. Sulit dibayangkan bahwa kakinya yang kecil mampu melangkah dengan rapih ditengah himpitan beban berat dipunggungnya. Bolak-balik sang nenek memikul ”bawaan” itu dari mobil bak diluar pasar dan mengantarkannya kepenjual-penjual sayuran yang berada didalam pasar. Tak terlihat lelah. Apalagi menyerah. Tak terlihat peluh. Apalagi mengeluh.
Orang muda berusaha itu biasa. Orang muda berjuang itu keharusan. Tapi ketika tubuh tua itu masih harus bekerja keras, setengah hatiku tidak bisa menerima. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tanganku terlalu kecil untuk bisa merangkul banyak orang yang ingin aku rangkul. Aku hanya dapat mengalirkan sekuncup doa...............
Dibelahan pagi yang luas dan hening, terpetik suasana ramai yang memang sudah sangat biasa ditempat itu. Bangunan tua itu berwujud pasar. Ditempat berkumpulnya penjual dan pembeli itulah sesosok tua itu mengais rejeki. Tempat itu sudah menjadi rumah kedua untuknya. Tempat dia menyandarkan hidup pada kekuatan tubuhnya. Tubuh yang seharusnya tidak lagi menanggung beban seberat itu. Tubuh yang tak selayaknya masih merasakan kerasnya hidup yang semakin keras ini.
Lampu-lampu malam masih menyala terang karena matahari masih betah bersarang diperaduannya. Benderangnya menjadi cahaya bagi langkah sang nenek yang perlahan namun pasti. Kulit keriputnya seolah tak menangkap udara yang masih dingin. Kedua matanya seolah siap menangkap setiap arti perjuangan hidup. Penciumannya sama sekali tak merasakan aroma kebosanan akan hidup. Pendengarannya masih sigap untuk menyerap suara-suara sumber rejekinya. Kedua kakinya berjalan menghampiri mobil-mobil bak yang berdatangan membawa tumpukan sayur-sayuran segar berbagai jenis. Tanpa menunggu aba-aba, tubuh rentanya segera menawarkan dan memberikan punggungnya untuk mengangkut tumpukan sayuran itu. Ternyata pemandangan itu sudah sangat biasa. Bukan hitungan tahun, tapi puluhan tahun aktivitas itu dijalaninya. Sulit dibayangkan bahwa kakinya yang kecil mampu melangkah dengan rapih ditengah himpitan beban berat dipunggungnya. Bolak-balik sang nenek memikul ”bawaan” itu dari mobil bak diluar pasar dan mengantarkannya kepenjual-penjual sayuran yang berada didalam pasar. Tak terlihat lelah. Apalagi menyerah. Tak terlihat peluh. Apalagi mengeluh.
Orang muda berusaha itu biasa. Orang muda berjuang itu keharusan. Tapi ketika tubuh tua itu masih harus bekerja keras, setengah hatiku tidak bisa menerima. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tanganku terlalu kecil untuk bisa merangkul banyak orang yang ingin aku rangkul. Aku hanya dapat mengalirkan sekuncup doa...............
1 comment:
So touching!... not only for the idea/plot of the story but also the way you describe the "dramatic" situation of old woman with her "bakul" on her back in early morning. ..., far behind your talkative "sharp-tongued" attitude, in real, you are highly sensitive as well, ya!... yes, you are..
hiks.. hiks... hiks....
Post a Comment