CATATAN DITENGAH OKTOBER
7:53 PM Posted In ABOUT LIFE Edit This 2 Comments »Oktober lalu adalah oktober yang mungkin menjadi oktober paling bersejarah dalam hidupku. Sepatutnya tak akan akan pernah lepas dari memori. Selayaknya akan menjadi catatan kelabu dalam warna-warni hidupku. Seharusnya tidak akan pernah terpisah dalam lembaran kisahku. Hingga kapanpun.........Tapi tekadku terlalu membara untuk menghapus kenangan ini. Tidak mudah, itu pasti. Butuh kerja keras, itu jelas. Semoga tak sampai menguras tenagaku. Semoga tak sampai mengikis tubuhku yang sudah kecil ini. Semoga tak sampai menyita pikiranku. Semoga tak sampai mengambil ceriaku. Semoga tak sampai mencuri tawaku.......Itu doaku kala itu.
Oktober yang berat. Oktober yang hitam. Tapi aku adalah aku......Aku pasti bisa melewati semua ini dengan tegar. Aku pasti dapat melalui situasi ini dengan tegap. Aku pasti dapat menjalani ini dengan baik. Aku pasti bisa melalukan yang lalu untuk kedepan. Aku pasti bisa. Itu yang selalu aku dengungkan dalam telingaku. Aku hidupkan dalam setiap nafasku. Aku alirkan dalam setiap nadiku. Aku denyutkan dalam setiap detak jantungku. Keyakinan itu tak sia-sia. Terbukti sudah. Tiga bulan berlalu. Aku masih bisa menampilkan senyum terbaikku. Aku masih mencintai ekspresi renyahku. Aku selalu bisa memberikan celoteh ramaiku. Aku masih setia dengan wajah yang kuukir gembira. Aku masih menyayangi duniaku yang ”hidup”. Aku masih identik dengan kerianganku yang berisik.
Sebenarnya aku tidak ingin membuktikan kekuatanku, karena aku tidak sekuat itu. Banyak yang meyakini aku ekspresif. Namun aku berharap tidak untuk setiap inchi kesedihanku. Tak terelakan, itu sering. Aku menangis jika aku ingin menangis. Aku tidak pernah benci menangis. Yang kubenci adalah kesulitanku untuk menghentikan airmataku jika aku mulai menangis. Untuk itu kucoba untuk menghindari aura-aura yang beraroma pedih. Aku selalu berusaha untuk menghindari apapun yang bisa mengingatkanku pada kenangan itu. Aku berangan untuk membuang irisan-irisan itu tanpa luka yang membekas. Dan itu memang sulit. Aku berusaha tanpa memaksa. Karena kuyakin waktu akan membantuku dengan tulus dan senang hati untuk mengikisnya.
Catatan ditengah oktober. Catatan yang tidak sanggup kutulis dibulan oktober. Bahkan belum sanggup kurangkai disatu dan dua bulan setelahnya. Bukan karena aku tak mampu, tapi karena aku tak mau.
Aku jatuh, bukan yang pertama. Namun jatuh kala itu sangat berbeda. Jatuh kala itu teramat sakit. Terlalu sakit. Itu karena aku jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Ketika angan dan mimpi melayang disepasang layang-layang kertas kita. Layang-layang yang sudah kita terbangkan begitu tinggi, tapi kertasnya tak mampu menahan angin yang terlalu kencang menerpa. Ketika janji telah terukir manis disepasang cincin. Ketika rencana telah tersusun rapi diujung nyata. Ketika harapan indah menutupi semua keraguan. Ketika kebodohanmu menghancurkan semuanya.....Luka yang sangat tidak biasa. Lubangnya begitu menganga. Goresannya terukir jelas. Sobekannya terlalu dalam. Cederanya terlalu merusak. Tapi hanya kala itu. Karena hidup terlalu berharga untuk ditangisi hanya karenanya. Hidup terlalu bernilai untuk disesali hanya karena satu tragedi. Tragedi yang ingin kusihir menjadi kekuatan. Kekuatan disetiap menit, jam, hari dan setiap bulan yang kulewati.
Catatan ditengah oktober. Catatan yang akan selalu kuingat sebagai ”prestasi”. Prestasi dalam memaknai hidup. Prestasi dalam menunjukkan kedewasaan ditengah kekanakanku. Prestasi dalam memunculkan ketegaranku ditengah kerapuhanku. Prestasi dalam menutupi lukaku dengan sukaku.
Catatan ditengah oktober. Catatan yang tergores dalam langkahku sebagai ”kegagalan. Kegagalan dalam mengalahkan egoku. Kegagalan dalam mengatur amarahku. Kegagalan dalam baktiku pada orangtuaku. Kegagalan untuk memaafkan. Kegagalan untuk ”memberi”.
Catatan ditengah oktober. Catatan yang kusuratkan untuk menyemangati jati diri. Catatan yang kutuangkan agar aku ”rajin belajar”. Catatan yang kusematkan agar ku tidak malas memaknai hidup. Catatan yang kutorehkan untuk menghitung peristiwa dalam perjalanan hidupku.
Oktober yang berat. Oktober yang hitam. Tapi aku adalah aku......Aku pasti bisa melewati semua ini dengan tegar. Aku pasti dapat melalui situasi ini dengan tegap. Aku pasti dapat menjalani ini dengan baik. Aku pasti bisa melalukan yang lalu untuk kedepan. Aku pasti bisa. Itu yang selalu aku dengungkan dalam telingaku. Aku hidupkan dalam setiap nafasku. Aku alirkan dalam setiap nadiku. Aku denyutkan dalam setiap detak jantungku. Keyakinan itu tak sia-sia. Terbukti sudah. Tiga bulan berlalu. Aku masih bisa menampilkan senyum terbaikku. Aku masih mencintai ekspresi renyahku. Aku selalu bisa memberikan celoteh ramaiku. Aku masih setia dengan wajah yang kuukir gembira. Aku masih menyayangi duniaku yang ”hidup”. Aku masih identik dengan kerianganku yang berisik.
Sebenarnya aku tidak ingin membuktikan kekuatanku, karena aku tidak sekuat itu. Banyak yang meyakini aku ekspresif. Namun aku berharap tidak untuk setiap inchi kesedihanku. Tak terelakan, itu sering. Aku menangis jika aku ingin menangis. Aku tidak pernah benci menangis. Yang kubenci adalah kesulitanku untuk menghentikan airmataku jika aku mulai menangis. Untuk itu kucoba untuk menghindari aura-aura yang beraroma pedih. Aku selalu berusaha untuk menghindari apapun yang bisa mengingatkanku pada kenangan itu. Aku berangan untuk membuang irisan-irisan itu tanpa luka yang membekas. Dan itu memang sulit. Aku berusaha tanpa memaksa. Karena kuyakin waktu akan membantuku dengan tulus dan senang hati untuk mengikisnya.
Catatan ditengah oktober. Catatan yang tidak sanggup kutulis dibulan oktober. Bahkan belum sanggup kurangkai disatu dan dua bulan setelahnya. Bukan karena aku tak mampu, tapi karena aku tak mau.
Aku jatuh, bukan yang pertama. Namun jatuh kala itu sangat berbeda. Jatuh kala itu teramat sakit. Terlalu sakit. Itu karena aku jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Ketika angan dan mimpi melayang disepasang layang-layang kertas kita. Layang-layang yang sudah kita terbangkan begitu tinggi, tapi kertasnya tak mampu menahan angin yang terlalu kencang menerpa. Ketika janji telah terukir manis disepasang cincin. Ketika rencana telah tersusun rapi diujung nyata. Ketika harapan indah menutupi semua keraguan. Ketika kebodohanmu menghancurkan semuanya.....Luka yang sangat tidak biasa. Lubangnya begitu menganga. Goresannya terukir jelas. Sobekannya terlalu dalam. Cederanya terlalu merusak. Tapi hanya kala itu. Karena hidup terlalu berharga untuk ditangisi hanya karenanya. Hidup terlalu bernilai untuk disesali hanya karena satu tragedi. Tragedi yang ingin kusihir menjadi kekuatan. Kekuatan disetiap menit, jam, hari dan setiap bulan yang kulewati.
Catatan ditengah oktober. Catatan yang akan selalu kuingat sebagai ”prestasi”. Prestasi dalam memaknai hidup. Prestasi dalam menunjukkan kedewasaan ditengah kekanakanku. Prestasi dalam memunculkan ketegaranku ditengah kerapuhanku. Prestasi dalam menutupi lukaku dengan sukaku.
Catatan ditengah oktober. Catatan yang tergores dalam langkahku sebagai ”kegagalan. Kegagalan dalam mengalahkan egoku. Kegagalan dalam mengatur amarahku. Kegagalan dalam baktiku pada orangtuaku. Kegagalan untuk memaafkan. Kegagalan untuk ”memberi”.
Catatan ditengah oktober. Catatan yang kusuratkan untuk menyemangati jati diri. Catatan yang kutuangkan agar aku ”rajin belajar”. Catatan yang kusematkan agar ku tidak malas memaknai hidup. Catatan yang kutorehkan untuk menghitung peristiwa dalam perjalanan hidupku.
2 comments:
Duh!.. gak nyangka....
Dengan keceriaan yang selalu terpasang di raut wajah dan celoteh 'kaleng pecah', tersimpan jg moment biru. Dalem. Sangat dalam, aku yakin itu.., or, jangan-jangan keceriaan dan "kebisingan"mu itu berawal untuk memanipulasi keadaan yang biru itu, hiks..hiks..hiks...
Anyway, live goes on, ...and surely, you know what to do as everybody should've ever been in such a moment... Many could work it out with 'new sphere'.. Fresher, brighter, even. Jyoo!...
Suatu waktu, kawanku bilang, "The most precious one is the one you abandoned behind. You only know it when you have lost it. And fools always regret."
"Apa yang salah?" tanyaku.
"Tidak ada yang salah atau benar. Hanya mungkin kamu selalu menganggap apa yang telah hilang itu selalu yang paling berharga dalam hidupmu." jawabnya dengan tegas.
Dia pun melanjutkan, "Most people only count what had lost, not what they have today."
"You can't hold many things at a time. hold what you need and then release it when the next one comes."
Post a Comment