KERAGUAN DIUJUNG PENENTUAN
4:01 PM Posted In ABOUT DOUBT Edit This 0 Comments »
Aku mungkin bisa saja sedikit memaklumi KERAGUANmu padaku.....
Tapi aku sulit memaafkan KERAGUANmu padaku karena muncul disaat yang tidak tepat.....
Kau ”memintaku” pada keduaorangtuaku atas keinginanmu sendiri
Kau ”meminta” aku untuk mendampingi hidupmu selamanya atas kesadaranmu sendiri
Kau ”memohon” aku menjadi milikmu karena hasratmu sendiri
Kau ”memasukkan” aku ke dalam hatimu karena nalurimu sendiri
Kau ”mengungkapkan” rasamu padaku berdasarkan logikamu sendiri
Kau ”mengisi” pikiranmu tentangku atas inisiatifmu sendiri
Semuanya kau yang berperan penuh......Dan memang begitulah semestinya......
Dan ketika keluargamu meragukan kekuatan kita, bukankah kau yang harus menjelaskannya?
Dan ketika keluargamu masih ”gelap” atas perjalanan kita , bukankah kau yang harus menerangkannya?
Dan ketika keluargamu tidak cukup percaya akan keyakinan kita, bukankah kau yang harus meyakinkannya?
Tapi mengapa akhirnya diujung penentuan kita justru kau membebankan keputusan ditanganku?
Tapi mengapa ketika diujung penentuan kita, kau ”meminta” aku untuk memperjuangkan kita?
Disaat aku berpikir bahwa kau seharusnya bisa menyelesaikannya sendiri.....
Ditengah kepercayaanku yang sangat penuh padamu untuk ”menegakkan” kita dengan usahamu sendiri......
Aku sadar pernah meninggalkanmu.....Aku sadar sering melukaimu.....Aku sadar pernah membuangmu.....
Aku sadar sering menyakitimu......Tapi saat itu apa yang harus aku pertahankan dari kita sementara hubungan kita tidak pernah berstatus?
Seharusnya kau tahu kenapa dulu aku ”berjalan” dengan orang lain sebelum setahun terakhir keseriusan kita. Itu bukan karena aku benar-benar ingin pergi darimu tapi karena kau tidak pernah ”gamblang” mengungkapkan hatimu padaku sebelum akhirnya kau ”sanggup” membuka mulutmu untuk dengan jelas menyuratkannya.
Seharusnya kau tahu alasan sebenarnya ketika aku pernah lari dari jangkauanmu dan lari dari perhatianmu. Itu hanya karena aku mencoba untuk ”setia” pada pilihanku saat itu. Lelaki yang lebih ”berwujud”, tidak semu sepertimu. Lelaki yang lebih ”berani” menguraikan perasaannya padaku, tidak pengecut sepertimu. Lelaki yang ”nyata”, tidak ”patung” sepertimu. Apa salah aku memberi ”kesempatan” pada lelaki lain sementara kau tak pernah bisa menggunakan kesempatan yang ada?
Seharusnya kau paham bahwa sikapku yang menjauh dari hidupmu hanya karena aku harus ”loyal” dengan pria pilihanku saat itu. Aku tak pernah bisa untuk ”mendua” ketika aku sudah tegas memilih.
Seharusnya kau tahu mengapa aku ”bersama” dengan orang lain sebelum kau menyatakan ”inginmu” padaku. Itu bukan karena aku tidak menghargai setiap perhatianmu dan semua kebaikanmu, bukan pula karena aku perempuan jahat yang ”suka” mempermainkan perasaan lelaki, tapi aku adalah perempuan yang tak mungkin meraba hatimu sesukaku sekalipun kau menunjukkan lewat sikapmu. Meskipun kau mengganggap aku tahu hatimu tapi aku hanya bisa berpura-pura ”gelap” sebelum kau bisa membuyarkannya.
Kau sendiri yang meyakinkanku bahwa kau menafikan semua masa lalu itu ketika kau memutuskan untuk memilihku.....
Jatuh bangunnya kita adalah suatu perjalanan.......Dan perjalanan itu sepantasnya kau pahami, kau sadari, kau maklumi dan kau yakini sebagai bekal untuk meyakinkan keluargamu, bukan tergoyah oleh pendapat dan opini diluar ”kita” yang tidak tau banyak tentang ”kita”. Hanya kita yang tahu tentang kita. Dan ketika kau tak mampu menjelaskan ”kita”, maka kau kuanggap kalah. ”Kelelakianmu” kunyatakan layak dipertanyakan.
Keputusanku untuk membatalkan ”kita” memang beraroma emosi.......
Permohonanmu agar aku tak pergi, tak bisa mencabut ”kecewa”ku.......
”Permintaanmu” tak pernah sanggup memasuki ruang logikaku......
Keinginanku untuk bersamamu tak dapat menenggalamkan amarahku......
Untuk mentoleransi KERAGUAN DIUJUNG PENENTUAN.......
Tapi aku sulit memaafkan KERAGUANmu padaku karena muncul disaat yang tidak tepat.....
Kau ”memintaku” pada keduaorangtuaku atas keinginanmu sendiri
Kau ”meminta” aku untuk mendampingi hidupmu selamanya atas kesadaranmu sendiri
Kau ”memohon” aku menjadi milikmu karena hasratmu sendiri
Kau ”memasukkan” aku ke dalam hatimu karena nalurimu sendiri
Kau ”mengungkapkan” rasamu padaku berdasarkan logikamu sendiri
Kau ”mengisi” pikiranmu tentangku atas inisiatifmu sendiri
Semuanya kau yang berperan penuh......Dan memang begitulah semestinya......
Dan ketika keluargamu meragukan kekuatan kita, bukankah kau yang harus menjelaskannya?
Dan ketika keluargamu masih ”gelap” atas perjalanan kita , bukankah kau yang harus menerangkannya?
Dan ketika keluargamu tidak cukup percaya akan keyakinan kita, bukankah kau yang harus meyakinkannya?
Tapi mengapa akhirnya diujung penentuan kita justru kau membebankan keputusan ditanganku?
Tapi mengapa ketika diujung penentuan kita, kau ”meminta” aku untuk memperjuangkan kita?
Disaat aku berpikir bahwa kau seharusnya bisa menyelesaikannya sendiri.....
Ditengah kepercayaanku yang sangat penuh padamu untuk ”menegakkan” kita dengan usahamu sendiri......
Aku sadar pernah meninggalkanmu.....Aku sadar sering melukaimu.....Aku sadar pernah membuangmu.....
Aku sadar sering menyakitimu......Tapi saat itu apa yang harus aku pertahankan dari kita sementara hubungan kita tidak pernah berstatus?
Seharusnya kau tahu kenapa dulu aku ”berjalan” dengan orang lain sebelum setahun terakhir keseriusan kita. Itu bukan karena aku benar-benar ingin pergi darimu tapi karena kau tidak pernah ”gamblang” mengungkapkan hatimu padaku sebelum akhirnya kau ”sanggup” membuka mulutmu untuk dengan jelas menyuratkannya.
Seharusnya kau tahu alasan sebenarnya ketika aku pernah lari dari jangkauanmu dan lari dari perhatianmu. Itu hanya karena aku mencoba untuk ”setia” pada pilihanku saat itu. Lelaki yang lebih ”berwujud”, tidak semu sepertimu. Lelaki yang lebih ”berani” menguraikan perasaannya padaku, tidak pengecut sepertimu. Lelaki yang ”nyata”, tidak ”patung” sepertimu. Apa salah aku memberi ”kesempatan” pada lelaki lain sementara kau tak pernah bisa menggunakan kesempatan yang ada?
Seharusnya kau paham bahwa sikapku yang menjauh dari hidupmu hanya karena aku harus ”loyal” dengan pria pilihanku saat itu. Aku tak pernah bisa untuk ”mendua” ketika aku sudah tegas memilih.
Seharusnya kau tahu mengapa aku ”bersama” dengan orang lain sebelum kau menyatakan ”inginmu” padaku. Itu bukan karena aku tidak menghargai setiap perhatianmu dan semua kebaikanmu, bukan pula karena aku perempuan jahat yang ”suka” mempermainkan perasaan lelaki, tapi aku adalah perempuan yang tak mungkin meraba hatimu sesukaku sekalipun kau menunjukkan lewat sikapmu. Meskipun kau mengganggap aku tahu hatimu tapi aku hanya bisa berpura-pura ”gelap” sebelum kau bisa membuyarkannya.
Kau sendiri yang meyakinkanku bahwa kau menafikan semua masa lalu itu ketika kau memutuskan untuk memilihku.....
Jatuh bangunnya kita adalah suatu perjalanan.......Dan perjalanan itu sepantasnya kau pahami, kau sadari, kau maklumi dan kau yakini sebagai bekal untuk meyakinkan keluargamu, bukan tergoyah oleh pendapat dan opini diluar ”kita” yang tidak tau banyak tentang ”kita”. Hanya kita yang tahu tentang kita. Dan ketika kau tak mampu menjelaskan ”kita”, maka kau kuanggap kalah. ”Kelelakianmu” kunyatakan layak dipertanyakan.
Keputusanku untuk membatalkan ”kita” memang beraroma emosi.......
Permohonanmu agar aku tak pergi, tak bisa mencabut ”kecewa”ku.......
”Permintaanmu” tak pernah sanggup memasuki ruang logikaku......
Keinginanku untuk bersamamu tak dapat menenggalamkan amarahku......
Untuk mentoleransi KERAGUAN DIUJUNG PENENTUAN.......
No comments:
Post a Comment