PERNIKAHAN DINI

8:06 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Terdefinisi sebagai pernikahan yang dilakukan di usia ”dini”. Usia yang dianggap masih terlalu muda untuk mengarungi sebuah ikatan suci yang dinamakan PERNIKAHAN.
Pernikahan dini selama ini selalu identik dengan latar belakang ”kecelakaan”. Seolah-olah hanya merefleksikan suatu jalan yang harus ditempuh sebagai suatu ”konsekuensi” dari suatu ”kekhilafan”. Seakan-akan merepresentasikan suatu ikatan pernikahan yang ”terpaksa” atau ”dipaksakan” hanya untuk menutupi dan menambal sulam ”kesalahan” yang sudah ”terlanjur” dibuat. Bahkan masyarakat dengan mudah merekam pernikahan dini sebagai pernikahan yang sangat ”rentan” kegagalan, atau begitu mudah diprediksi akan ”berhenti” ditengah jalan. Namun bukan berarti bisa dipastikan pernikahan yang dikesankan ”dadakan” itu selalu ”terhempas” dan ”tersungkur”. Faktor keluarga menjadi faktor yang teramat penting untuk men”support” pernikahan dengan modus ini. Memang terdengar ”merepotkan”. Tapi dalam beberapa kasus, penulis menemukan bahwa peran orangtua dengan dukungan ”ekonomi” terbukti mampu mempertahankan keutuhan pernikahan dini. Sangat lucu melihat mereka-mereka yang masih menjelma sebagai ”benalu” ketika pernikahan sudah dijalani, tapi apa lacur, faktanya aroma ”ketidaksiapan” sudah sangat kental tercium sejak ikatan itu diresmikan. Tak aneh pula jika kebanyakan orang mudah meragukan ”kelanggengan” pernikahan dini karena tanpa dukungan lingkungan dan orang-orang terdekat, tak sedikit yang akhirnya harus ”menyerah”.
Pada kenyataan yang lain, tak jarang pula ditemukan pernikahan dini yang didasari oleh niat yang “jujur” dan ”bersih”. Terdengar sebagai wacana yang mewakili tindakan sangat ”berani”. Bagaimana tidak, kemampuan finansial masih jauh, kesiapan mental juga masih dipertanyakan, kedewasaan bertindak masih diragukan, kemandirian masih belum tergapai, dan kematangan berpikir masih belum terkantongi.
Umur memang tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator untuk mencerminkan “kedewasaan” dan ”kematangan” seseorang. Toh pernikahan orang dewasa pada usia kematangannya pun belum bisa dijamin 100% “keamanannya”. Semua berpulang pada individunya masing-masing. Semua orang memiliki sisi kedewasaan dan kekanakan yang tidak dapat diterka.
Pernikahan identik dengan “tanggung jawab”. Dan usia dini memiliki kecenderungan “miskin” tanggung jawab. Tetapi karena usia tak dapat digunakan sebagai ukuran dan tolak ukur tinggi rendahnya tangung jawab seseorang, maka banyak pula orang dewasa yang “kaya” umur tapi “miskin” tanggung jawab. Pada akhirnya, ada opini yang berkembang tentang “pernikahan dini” bergantung sepenuhnya dari karakter dan pribadi yang menjalankannya, sehingga tak melulu diwarnai ”kegagapan”.
Fenomena pernikahan dini sebenarnya sangat beragam diluar dari faktor ”accident”. Dengan alasan yang bermacam-macam, lingkungan yang beragam dan kondisi yang beragam.
Ada yang ”murni” karena faktor kurangnya pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan berkorelasi dengan kebodohan dan kebodohan umumnya identik dengan kemiskinan. Kondisi seperti itu biasanya menjauhkan pola pikir tentang kemajuan. Penulis sebagai seorang perempuan, dapat dengan mudah menemukan realita dimasyarakat yang melukiskan sempitnya kehidupan perempuan-perempuan yang sempit pengetahuan dan minim pendidikan. Diusia-usia yang masih sangat belia, perempuan-perempuan itu sudah “menggendong” anaknya. Tidak ada yang salah dengan cuplikan itu. Itulah kesederhanaan hidup. Kesederhanaan “otak”, keterkungkungan “wawasan”, krisis kemandirian, dan kecenderungan kebergantungan pada lelaki lebih tinggi. Perempuan dengan segenap kesederhanaan “daya” itu akan sangat dirugikan ketika dimanfaatkan oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab.
Pernikahan dini ada juga yang dialami oleh beberapa pasangan muda yang dijodohkan oleh orang tua mereka (Seperti cerita jaman orang tua kita he...he....).
Ada pula yang karena latar belakang keyakinan dengan prinsip menikah muda atau menikah ”cepat” lebih baik daripada memperbanyak dosa. Mereka meyakini pernikahan akan senantiasa membawa ketenangan hati, kedamaian dan berkah tersendiri, sekalipun pada prakteknya banyak yang perlu diperjuangkan. Mereka meyakini pernikahan sebagai suatu bentuk keindahan yang nyata bukan semu, dan suatu kebaikan yang tidak perlu ditunda.
Apapun persepsi tentang pernikahan dini, esensi yang harus tertangkap adalah inti dari ”pernikahan”. Suatu keputusan yang mudah buat sebagian orang dan akan sangat sulit untuk sebagian orang lainnya. Sistematika dan problema pernikahan yang ”multikompleksitas” memaksa orang untuk melakukannya dalam waktu yang tepat dan kesiapan dari ”multikomponen”.
Jika konsep pernikahan dini masih diragukan sebagian orang, itu sangat dimaklumi. Karena semua yang berbau ”terlalu dini” mencerminkan ketidaksiapan. Tak dapat dipungkiri bahwa usia dini juga berbanding lurus dengan ”kelabilan”. Jiwa anak muda memiliki tendensi “bergejolak”. Gejolak anak muda masih kental dengan ikon “freedom”, masih aktif bersenang senang dan cenderung gagap dalam memaknai kedewasaan, menentukan sikap, mengambil keputusan, me”manage” emosi dan menegakkan logika.


No comments: