ABOUT MY MOTHER
8:13 PM Posted In ABOUT MY FAMILY Edit This 1 Comment »Ibu rumah tangga. Itulah adalah status pekerjaan ibuku. Tak ada yang istimewa. Tapi bagiku cukup istimewa. Bayangkan saja, melakukan aktivitas dan rutinitas yang sama selama puluhan tahun. Bagiku itu tidak mudah. Meskipun akupun memiliki rutinitas kekantor sehari-hari tapi aktivitas yang dikerjakan pastinya tidak pernah sama. Selalu ada hal yang baru, mengerjakan dokumen baru, bahan baru, tantangan baru, ilmu baru dan semua yang serba tidak monoton. Karena dunia kerja memang cukup dinamis.
Setiap pekerjaan ada seninya dan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda, termasuk ”pekerjaan” yang digeluti ibuku.
Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga meskipun terlihat sederhana tapi sebenarnya sangat kompleks. Sepintas lalu mungkin hampir semua wanita memiliki basic sebagai ibu rumah tangga, setidaknya kemampuan alamiah dan dorongan kodrati sudah tertanam pada setiap wanita. Tapi dimataku pekerjaan itu belum tentu bisa dijalankan dengan BAIK oleh semua wanita. Karena diperlukan bumbu bumbu seperti ketulusan, kesabaran, pengabdian dan tentu saja keterampilan, meskipun tak memerlukan pendidikan khusus untuk itu.
Sepengetahuanku, aktivitas ibuku tak beda dengan ibu rumah tangga yang lain. Memasak, mencuci, pergi ke pasar, menyapu, menyetrika dan semua hal yang berbau pekerjaan rumah tangga lainnya. Dulu sewaktu seluruh anggota keluarga masih kumpul semua, memang sempat menggunakan jasa pembantu untuk hal-hal tertentu, tapi itupun tidak berlangsung lama. Tapi sejak isi rumah mulai berkurang, jasa pembantu sudah tidak dirasakan perlu lagi.
Dulu ketika aku dan kakakku kuliah dan terbang ke Bandung, pekerjaan ibuku adalah meng”handle” dua lelaki dirumahku, bapakku dan adikku. Sekarang setelah adikku juga kuliah dan tidak bisa lagi ”stay” di Cirebon, praktis tugas ibuku hanya mengurus suaminya ”the one and only” alias bapakku, setelah ketiga anaknya beterbangan menepak sayap.
Aku mulai memahami kenapa ibuku sekarang selalu girang kalau aku pulang ke Cirebon. Maklumlah demam ”kesepian” mulai sering melanda ibuku sejak ditinggal adikku, sang anak cowok satu-satunya yang merupakan anak bungsu kecintaannya itu. Sayangnya, ”cabut”nya adikku dari rumah untuk kuliah tak beda jauh dengan kepindahan aku kepuncak. Lokasiku yang sekarang menyebabkan aku tidak bisa lagi leluasa pulang kerumah, karena jarak puncak-cirebon yang lumayan jauh.
Ibuku memang wanita biasa, seperti kebanyakan ibu rumah tangga lainnya. Yang berbeda adalah keinginannya yang cukup besar agar kedua anak perempuannya tidak hanya berkutat dirumah. Apalagi kedua putrinya memiliki prestasi akademis yang cukup lumayan sejak kecil (he...he...). Dimatanya, melayani dan mengurus keluarga adalah mulia, tapi beliau berharap anaknya menjadi wanita cerdas yang produktif, mandiri, ”berisi” otaknya, memiliki karir diluar rumah, menghasilkan uang sendiri, dan intinya adalah tidak bergantung pada laki-laki. Mungkin karena beliau merasa sepanjang hidupnya hanya menerima uang dari suami. Tangan dibawah tak pernah menjadi lebih baik daripada tangan diatas. Hal itu memang benar terwujud, meskipun karirku dan kakakku terbilang biasa-biasa saja tapi itu sudah membuatnya bangga.
Setiap pekerjaan ada seninya dan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda, termasuk ”pekerjaan” yang digeluti ibuku.
Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga meskipun terlihat sederhana tapi sebenarnya sangat kompleks. Sepintas lalu mungkin hampir semua wanita memiliki basic sebagai ibu rumah tangga, setidaknya kemampuan alamiah dan dorongan kodrati sudah tertanam pada setiap wanita. Tapi dimataku pekerjaan itu belum tentu bisa dijalankan dengan BAIK oleh semua wanita. Karena diperlukan bumbu bumbu seperti ketulusan, kesabaran, pengabdian dan tentu saja keterampilan, meskipun tak memerlukan pendidikan khusus untuk itu.
Sepengetahuanku, aktivitas ibuku tak beda dengan ibu rumah tangga yang lain. Memasak, mencuci, pergi ke pasar, menyapu, menyetrika dan semua hal yang berbau pekerjaan rumah tangga lainnya. Dulu sewaktu seluruh anggota keluarga masih kumpul semua, memang sempat menggunakan jasa pembantu untuk hal-hal tertentu, tapi itupun tidak berlangsung lama. Tapi sejak isi rumah mulai berkurang, jasa pembantu sudah tidak dirasakan perlu lagi.
Dulu ketika aku dan kakakku kuliah dan terbang ke Bandung, pekerjaan ibuku adalah meng”handle” dua lelaki dirumahku, bapakku dan adikku. Sekarang setelah adikku juga kuliah dan tidak bisa lagi ”stay” di Cirebon, praktis tugas ibuku hanya mengurus suaminya ”the one and only” alias bapakku, setelah ketiga anaknya beterbangan menepak sayap.
Aku mulai memahami kenapa ibuku sekarang selalu girang kalau aku pulang ke Cirebon. Maklumlah demam ”kesepian” mulai sering melanda ibuku sejak ditinggal adikku, sang anak cowok satu-satunya yang merupakan anak bungsu kecintaannya itu. Sayangnya, ”cabut”nya adikku dari rumah untuk kuliah tak beda jauh dengan kepindahan aku kepuncak. Lokasiku yang sekarang menyebabkan aku tidak bisa lagi leluasa pulang kerumah, karena jarak puncak-cirebon yang lumayan jauh.
Ibuku memang wanita biasa, seperti kebanyakan ibu rumah tangga lainnya. Yang berbeda adalah keinginannya yang cukup besar agar kedua anak perempuannya tidak hanya berkutat dirumah. Apalagi kedua putrinya memiliki prestasi akademis yang cukup lumayan sejak kecil (he...he...). Dimatanya, melayani dan mengurus keluarga adalah mulia, tapi beliau berharap anaknya menjadi wanita cerdas yang produktif, mandiri, ”berisi” otaknya, memiliki karir diluar rumah, menghasilkan uang sendiri, dan intinya adalah tidak bergantung pada laki-laki. Mungkin karena beliau merasa sepanjang hidupnya hanya menerima uang dari suami. Tangan dibawah tak pernah menjadi lebih baik daripada tangan diatas. Hal itu memang benar terwujud, meskipun karirku dan kakakku terbilang biasa-biasa saja tapi itu sudah membuatnya bangga.
1 comment:
Gratis Sepanjang Masa
Suatu sore, seorang anak remaja menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah mengeringkan tangannya dengan celemek, ia pun membaca tulisan itu dan inilah isi tulisannya..
Untuk memotong rumput, 2 Dinar
Untuk membersihkan kamar tidur, 1 Dinar
Untuk menjaga adik, 1/2 Dinar
Untuk buang sampah, 1/2 Dinar
Untuk nilai yang bagus, 3 Dinar
Untuk menyapu halaman, 1/2 Dinar
Jadi, jumlah utang ibu minggu ini seluruhnya adalah 8 1/2 Dinar.
Sambil tersenyum sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap.
Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu, lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya dan inilah yang ia tuliskan..
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Mengobati dan mendoakanmu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku.. dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah gratis
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata sambil menatap wajah ibunya ia pun berkata, "Bu, aku sayang sekali sama ibu." Kemudian ia mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf besar: "LUNAS"
(Buletin B-WARA, Baitulmaal Bank Muamalat Jawa Barat, edisi September 2004)
Smg bmnft!
30 Agt 2008
Post a Comment