KERAGUAN DIUJUNG PENYATUAN

4:02 PM Posted In Edit This 0 Comments »
Jangka waktu selama 9 tahun kau mengenalku ternyata masih belum membuatmu ’pandai’ untuk memahamiku.......
Lamanya perjalanan pertemanan kita ternyata masih membuatmu ’gagap’ mengerti sifatku.......
Kau seharusnya tahu kekerasan batuku yang bisa muncul kapan saja. Kau semestinya sudah hafal dengan ketinggian egoku yang bisa hadir sesukanya.
Selama 8 tahun aku memang hanya menganggapmu teman, tak pernah lebih. Kau adalah teman yang ”ada” jika aku membutuhkanmu. Ketika aku sedang sedih dan galau. Ketika aku sedang jatuh dan rapuh.

Saat aku membiarkan persahabatan kita berjalan jauh melebihi batas teman. Saat aku membiarkan hatiku tersentuh oleh semua kebaikanmu. Saat kita memutuskan untuk selalu bersama. Saat aku mengizinkan kau untuk ”memintaku” pada orangtuaku. Saat perjalanan kita sudah beberapa langkah lagi berujung diPENYATUAN. Mengapa kau masih saja selalu memintaku untuk sekedar mengatakan satu kalimat bahwa aku mencintaimu.....Suatu pertanyaan bodoh yang anehnya tak pernah mau aku jawab.....Suatu permintaan bodoh yang tak seharusnya lagi kau pinta setelah aku sudah mempersilahkanmu ’bicara’ pada orangtuaku. Suatu pertanyaan yang tak aku pedulikan ditengah skema dan rencana pernikahan yang kau gadangkan untuk kita. Suatu pertanyaan yang selalu aku abaikan.....
Kau membuatku amat kecewa. Aku tak menyangka jika keliaranku membuatmu ragu akan perasaan yang aku punya untukmu. Aku memang tidak pernah membalas semua pernyataan-pernyataan cintamu. Aku memang tidak pernah menanggapi pertanyaanmu yang satu itu. Tapi seharusnya kau tahu kalau pernyataan perasaanku tidaklah menjadi penting setelah aku sudah memutuskan akan mempercayakan sisa hidupku padamu.
Aku memang belum mencintaimu, tapi kau seharusnya bisa membaca rasa ’sayang’ku....Mencintai dan menyayangi adalah dua kata yang berbeda untukku.
Apa salah jika aku belum memiliki ’cinta’ itu. Apa salah menjadi orang yang terlalu jujur. Aku tidak bisa mengatakan kata itu karena aku memang belum memilikinya, tapi aku yakin akan bisa memilikinya untukmu. Sepenuhnya untukmu. Itu janjiku, atas nama surgaku. Karena kau kupilih sebagai penuntun kearah surga-Nya.

Ketika keraguanmu padaku akhirnya ’menular’ pada keluargamu. Aku semakin merasa tersudut. Aku merasa harga diriku sebagai perempuan ”dewasa” telah dihempaskan.
Ketika KERAGUAN tentang penyatuan kita tiba-tiba ”merayap” dikeluargamu, kau seperti manekin culun yang kebingungan.
Ketika KERAGUAN tentang keseriusan kita tiba-tiba ”menghinggapi” keluargamu, kau seperti lelaki yang tiba-tiba kehilangan kelelakiannya.
Ketika KERAGUAN tentang perjalanan kita tiba-tiba ”menghinggapi” keluargamu, kau sekejap itu menjadi boneka tolol yang mudah dikendalikan oleh perubahan ekosistemmu.
Ketika KERAGUAN tentang kemantapan kita tiba-tiba ”menghantui” keluargamu, kau berubah wujud menjadi lelaki terlemah yang berkutat dengan kebodohannya.

Ketika kau memintaku untuk memperjuangkan kita didepan orangtuamu. Seharusnya aku mau membantumu. Tapi kau dan keluargamu telah melukai harga diriku. Harga diri yang kuhargai sangat mahal untuk sekedar mentoleransi keadaanmu yang sebenarnya juga sedang tersudut kala itu. Maaf jika aku tidak menggubris permintaanmu untuk menghilangkan egoku.
Jika kau membaca tulisan ini, kau tentu masih ingat kalimat-kalimat terakhirmu sebelum aku memilih untuk melepaskanmu; tak lebih dari permohonan dan permohonan agar menunjukkan rasaku padamu pada keluargamu, demi KITA.....demi KITA.....demi KITA......
Suatu permohonan terbodoh yang pernah ditujukan padaku.

Keyakinanmu padaku kau suratkan dengan keberanianmu melibatkan keluargaku dan keluargamu dalam rencana-rencana indah dalam otakmu. Rencana indah tapi belumlah rapih. Belum rapih ketika begitu mudahnya keraguanmu padaku muncul ditengah-tengah ”persiapan” kita yang sudah terlalu jauh.
Kau dan keluargamu masih menganggap ”mauku” padamu sebagai suatu ”kompromi”.......
Kau dan keluargamu masih menilai ”iyaku” padamu sebagai keterpaksaan karena waktu dan keadaan.....
Kau dan keluargamu menyangka ”rasaku” padamu tidak cukup kuat dan belum cukup teruji......
Kau dan keluargamu mengira ”hatiku” padamu masih terlalu rapuh dan lemah.......

Keluargamu....Aku tak bisa menyalahkan semua KERAGUAN mereka padaku. Tapi kamu.....Aku tak akan pernah bisa memaklumimu karena MERAGUKAN keputusanku menerimamu.....
Aku memang kekanakan, tapi kau adalah orang TERBODOH didunia yang hanya dapat menaksir keseriusanku sebagai suatu PERMAINAN anak kecil......
Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu bukan karena menyakitiku tapi karena menyakiti orangtuaku......

Ketika ”penundaan” rencana penyatuan kita dianggap sebagai solusi temporari oleh keluargamu, maka ”pembatalan” mutlak aku putuskan sebagai ”final decision”.......Tidak ada kata maaf bagiku atas kejadian itu........

No comments: