ABOUT ME, IN MY FAMILY............
8:11 PM Posted In ABOUT MY FAMILY Edit This 0 Comments »Sebagai anak tengah, yaitu anak kedua dari tiga bersaudara. Sama seperti kakak dan adikku, menghabiskan masa kecil dan pendidikan hingga SMA di Cirebon. Mulai berpisah dengan orangtua sejak kuliah di UNPAD Jatinangor. Setelah itu tak pernah lagi kembali ke Cirebon untuk menetap. Nyaris tak pernah singgah di Cirebon lebih dari satu minggu, kecuali lebaran idul fitri. Tak heran kalau ibuku sering ”merengek-rengek” supaya anak perempuannya yang satu ini lebih sering pulang menjenguk mereka dikampung halaman, sekedar untuk istirahat, “nginep” di rumah orangtua (tidur dikamarku yang kutiduri sejak kecil), berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Diantara anak yang lain, aku memang bisa disebut sebagai anak yang paling “ngilang”. Aku dianggap anak yang paling aktif “terbang”. 7 tahun di Bandung (tepatnya Jatinagor he....he…), 1,5 tahun di Jakarta dan sudah 1,5 tahun aku dipuncak, tempat kerjaku sekarang.
Tak terasa sudah 10 tahun aku hidup sendiri, berpisah dari keluarga. Tapi baru 4 tahun aku benar-benar menjadi seorang perempuan MANDIRI, karena 6 tahun kuliah tak kuanggap sebagai kemandirian karena masih “fully” bergantung “sumbangan uang” dari orangtuaku.
Semasa sekolah hingga SMA bisa dibilang termasuk anak yang kurang gaul dan rajin berkutat dengan pelajaran, karena aktivitas rutinnya cuma sekolah, langsung pulang kerumah, les, privat, sekolah, les dan hanya itu-itu saja. Makanya lumayan kaget ketika harus berpisah dengan orangtua tanpa pengawasan. Tidak aneh kalau tiba-tiba berubah dan masa kuliah dikenal menjadi mahasiswa pemalas.
Dulu sewaktu ujian apoteker, aku pernah bilang pada ibuku ingin sekali menjadi ”real pengangguran” untuk beberapa waktu setelah lulus. Kelelahan kuliah membuatku ingin langsung pulang ke Cirebon untuk sekedar menikmati “kerehatan” dan “menyusu” pada ibuku. Sebagai anak bungsu yang “ngga jadi”, wajarlah kalau aku adalah anak yang paling lama “menyusu”. Kalau aku tidak salah ingat ketika aku sudah duduk dibangku SD pun aku masih menyusu pada ibuku, sampai akhirnya adikku lahir.
Alasanku untuk “istirahat” karena melihat kakakku yang juga sempat menganggur tiga bulan setelah lulus kuliah, sambil menunggu mendapatkan pekerjaan. Tapi ternyata keinginanku itu jauh panggang dari api. Belum lagi wisuda apoteker, aku sudah diterima kerja disebuah perusahaan farmasi di Bandung atas bantuan dosen pembimbing skripsiku. Setelah aku resmi dinyatakan lulus apoteker, beberapa hari setelahnya aku “langsung” merasakan yang namanya bekerja didunia industri ditengah teman-temanku yang masih merasakan euphoria kelulusan.
Berbeda dengan kakakku yang semasa kuliah tidak pernah pacaran, aku dua kali pacaran. Tidak berlebihan kan....Baru setelah kerja kakakku mengalami pacaran dan akhirnya menikah, sedangkan aku semasa kerja dua kali pacaran. Masih lumrah kan.....Diakui atau tidak, mereka, lelaki yang pernah dekat denganku, adalah pewarna hidupku. Tidak hanya warna suka, tapi juga warna duka. Semuanya berkesan. Karena semuanya berperan dalam hidupku. Disadari atau tidak, mungkin aku tidak akan menjadi aku yang sekarang tanpa mereka. Karena sedikit banyak mereka telah banyak memberi corak dalam naik turun hidupku, jatuh bangun langkahku. Mereka juga telah memunculkan karakter-karekter baru padaku. Aku pernah menjadi orang yang paling jahat dalam hidup mereka, begitupun sebaliknya. Aku pernah menjadi orang yang berarti dalam hidup mereka, begitupun sebaliknya. Dengan sifat-sifat mereka yang sangat berbeda, telah memaksaku untuk tahu rasanya menyayangi, membenci, merindu, membodohi diri. Hanya kekuatanku yang merupakan hadiah Sang Khalik yang membuatku tetap berdiri tegak sampai sekarang. Hanya kehangatan dan kedamaian keluarga yang membuatku selalu fokus dan bertanggung jawab.
Prioritasku kini adalah keinginanku untuk membahagiakan keluargaku dan melihat senyum orangtuaku. Karena aku selalu merasa belum berbuat banyak untuk mereka............
Diantara anak yang lain, aku memang bisa disebut sebagai anak yang paling “ngilang”. Aku dianggap anak yang paling aktif “terbang”. 7 tahun di Bandung (tepatnya Jatinagor he....he…), 1,5 tahun di Jakarta dan sudah 1,5 tahun aku dipuncak, tempat kerjaku sekarang.
Tak terasa sudah 10 tahun aku hidup sendiri, berpisah dari keluarga. Tapi baru 4 tahun aku benar-benar menjadi seorang perempuan MANDIRI, karena 6 tahun kuliah tak kuanggap sebagai kemandirian karena masih “fully” bergantung “sumbangan uang” dari orangtuaku.
Semasa sekolah hingga SMA bisa dibilang termasuk anak yang kurang gaul dan rajin berkutat dengan pelajaran, karena aktivitas rutinnya cuma sekolah, langsung pulang kerumah, les, privat, sekolah, les dan hanya itu-itu saja. Makanya lumayan kaget ketika harus berpisah dengan orangtua tanpa pengawasan. Tidak aneh kalau tiba-tiba berubah dan masa kuliah dikenal menjadi mahasiswa pemalas.
Dulu sewaktu ujian apoteker, aku pernah bilang pada ibuku ingin sekali menjadi ”real pengangguran” untuk beberapa waktu setelah lulus. Kelelahan kuliah membuatku ingin langsung pulang ke Cirebon untuk sekedar menikmati “kerehatan” dan “menyusu” pada ibuku. Sebagai anak bungsu yang “ngga jadi”, wajarlah kalau aku adalah anak yang paling lama “menyusu”. Kalau aku tidak salah ingat ketika aku sudah duduk dibangku SD pun aku masih menyusu pada ibuku, sampai akhirnya adikku lahir.
Alasanku untuk “istirahat” karena melihat kakakku yang juga sempat menganggur tiga bulan setelah lulus kuliah, sambil menunggu mendapatkan pekerjaan. Tapi ternyata keinginanku itu jauh panggang dari api. Belum lagi wisuda apoteker, aku sudah diterima kerja disebuah perusahaan farmasi di Bandung atas bantuan dosen pembimbing skripsiku. Setelah aku resmi dinyatakan lulus apoteker, beberapa hari setelahnya aku “langsung” merasakan yang namanya bekerja didunia industri ditengah teman-temanku yang masih merasakan euphoria kelulusan.
Berbeda dengan kakakku yang semasa kuliah tidak pernah pacaran, aku dua kali pacaran. Tidak berlebihan kan....Baru setelah kerja kakakku mengalami pacaran dan akhirnya menikah, sedangkan aku semasa kerja dua kali pacaran. Masih lumrah kan.....Diakui atau tidak, mereka, lelaki yang pernah dekat denganku, adalah pewarna hidupku. Tidak hanya warna suka, tapi juga warna duka. Semuanya berkesan. Karena semuanya berperan dalam hidupku. Disadari atau tidak, mungkin aku tidak akan menjadi aku yang sekarang tanpa mereka. Karena sedikit banyak mereka telah banyak memberi corak dalam naik turun hidupku, jatuh bangun langkahku. Mereka juga telah memunculkan karakter-karekter baru padaku. Aku pernah menjadi orang yang paling jahat dalam hidup mereka, begitupun sebaliknya. Aku pernah menjadi orang yang berarti dalam hidup mereka, begitupun sebaliknya. Dengan sifat-sifat mereka yang sangat berbeda, telah memaksaku untuk tahu rasanya menyayangi, membenci, merindu, membodohi diri. Hanya kekuatanku yang merupakan hadiah Sang Khalik yang membuatku tetap berdiri tegak sampai sekarang. Hanya kehangatan dan kedamaian keluarga yang membuatku selalu fokus dan bertanggung jawab.
Prioritasku kini adalah keinginanku untuk membahagiakan keluargaku dan melihat senyum orangtuaku. Karena aku selalu merasa belum berbuat banyak untuk mereka............
No comments:
Post a Comment