FENOMENA POLIGAMI

8:07 PM Posted In Edit This 2 Comments »
Wacana poligami yang merupakan wacana yang sudah usang nampaknya telah memaksaku untuk akhirnya mengungkapkan opiniku menanggapi fenomena itu. Fenomena klasik tapi tetap menggelitik.
Opini hanyalah sekedar opini. Tidak harus selalu benar. Semua orang bebas mengeluarkan pendapatnya dalam koridor pemikirannya.
”Issue” poligami dianggap menjadi suatu kewajaran oleh sebagian lelaki yang memanfaatkan ”kebolehan” perbuatan itu dalam agama. Mereka seolah-olah menampik alasan sebenarnya kenapa ”kebolehan” itu ada.
Poligami menjadi fakta yang sangat tidak elegan ketika digunakan untuk hal-hal yang melenceng dari hakikat poligami sebenarnya. Suatu realitas yang ”miris” ketika hak lelaki atas perempuan ditempatkan terlalu tinggi melebihi kemampuan lelaki itu untuk menghargai perempuan dalam perspektif keadilan dan kemanusiaan.
”Kebolehan” belum bisa dan tidak akan bisa menjadi suatu tradisi rasional jika selalu ada pihak yang ”teraniaya” dan ”tersakiti”.
Suatu kondisi yang kritis ketika komoditas ”perasaan” perempuan digadaikan. Suatu polemik yang memprihatinkan ketika hak-hak wanita begitu mudah diabaikan.
Adanya tendensi kesalahan ”penafsiran” ditengarai menjadi penyebab mengapa poligami dijadikan alasan untuk seenaknya ”memperistri” perempuan yang dikehendaki. Apalagi latar belakang keinginan untuk ”menikah lagi” banyak yang perlu dipertanyakan. Yang lebih konyol adalah ketika kekurangan dan ketidaksempurnaan istri digunakan sebagai senjata untuk ”mendapatkan” perempuan lain. Apakah ketidaksempurnaan hanya boleh dimiliki oleh lelaki dan apakah kesempurnaan harus mutlak dimiliki oleh perempuan? Apakah ’hak” hanya dipunyai oleh lelaki dan apakah perempuan hanya mempunyai kewajiban? Apakah itu yang disebut adil? Hanya logika sehat yang bisa menjawabnya dengan sehat.
Perspektif yang salah dalam membaca makna poligami menjadikannya tak lebih sebagai bentuk penindasan terhadap perempuan. Secara fakta, kuantitas perempuan sangat jauh lebih banyak daripada lelaki. Begitu banyak wanita ”bertebaran”. Tapi apakah itu dapat dijadikan alibi untuk ”memungut” dua, tiga, atau empat selain ”satu” istrinya. Keinginan suami untuk berpoligami tak jarang memaksa mahligai rumah tangga hancur dan dikorbankan, karena akan sangat sulit untuk wanita manapun menerima kenyataan bahwa cinta dan perhatian suaminya harus dibagi pada wanita lain.
Poligami mungkin tidak akan menjadi ikon penindasan dalam perusakan ”hati” wanita jika semua wanita memiliki kemuliaan untuk benar-benar ”ikhlas”. Tapi apakah kemuliaan hati seorang wanita pantas dihadiahkan pada pria yang menyalahgunakan ”keikhlasan” itu untuk sebuah kata ”kesenangan”.
Tak jarang pula poligami dijadikan ”dalih” untuk melindungi diri dari dosa. Memang tidak salah. Tapi bukankah akan sangat berdosa ketika perlakuan itu ditimpakan pada seorang istri yang telah mengabdi, mendampingi dan melayani dengan tulus? Tanpa disadari atau tidak, poligami merupakan salah satu bentuk ”penganiayaan”. Dan apakah penganiayaan menjadi hal yang disahkan oleh agama? Apakah ketidakadilan menjadi perbuatan yang tidak berdosa?

2 comments:

adjis said...

Menarik, meski anehnya, selalu saja ketika isu poligami yang -pasti saja, menyeret isu gender mengemuka, saya mencium 'aroma orientalis-sekular' memojokkan Islam disamping hijab/jilbab dan teroris (fundamentalisme). Bahkan khusus untuk issue poligami ini mereka menunjuk nabi sebagai 'don juan' kontra suri teladan (NA'UDZU BILLAH!!)
Terlepas dari beberapa gelintir kenyataan bahwa poligami sebagai satu dari sekian 'solusi sosial' dari keadaan darurat memang masih jauh untuk bisa meyakinkan pandangan umum bahwa ia benar untuk itu adanya. Karena image yang terlanjur melekat adalah, syahwat, anti kesetaraan gender, 'penindasan', dll.

"Maaf mbak, aku mlenceng dulu sedikit, neh,... Gapapa, kan?"
"Oh, rapopo mas, monggo.."

Masalahnya, ada pada 'rasa keagamaan' saya. Setiap kali isu poligami muncul setiap saat itu pula islam sebagai agama dipandang barat secara sinis dalam 'memperlakukan' perempuan sementara dibelakang peradaban yang diagungkannya mereka menikmati banyak perempuan dengan budaya 'percobaan' hubungan pra-nikah/free sex. lalu setelah puas dan jenuh, barulah mencari 'tempat landas' ber-rumah tangga. Itupun masih diselingi beberapa 'keisengan' lain.

Benar bahwa islam memberikan 'kelonggaran' tertulis bagi laki-laki untuk 'bergagah-gagahan' dengan empat istri sekaligus. Tapi keadilan sebagai syarat mutlak untuk itu, sejujurnya, membuat kelonggaran itu sebagai ke'Maha Humor'annya pencipta -meminjam istilah Emha. Karena posibilitas manusia biasa sedikit sekali yang mampu untuk itu kecuali orang-orang yang ‘isham.
Adapun ada beberapa muslim yang memanfaatkan ayat ini (QS An-Nisa, 4: 2-3) dengan cara “serampangan” anggap itu sebagai “para oknum” yang semoga kembali tercerahkan!
Namun tendensi orientalis-sekular menyerang 'wahyu', seolah poligami adalah pola hidup yg dibolehkan –malah dianjurkan oleh Islam terlanjur masuk dalam kerangka berpikir bangsa yang dibangun berkiblat ke barat ini. Modernisasi yang terpeleset Westernisasi. Emasnsipasi menderu melibas nilai dan tradisi. Resmilah poligami sebagai 'simbol' penindasan gender menyeruak. Islam bukan 'solusi' bagi perempuan feminis.
Mereka –dan juga “para oknum” itu tentunya, tak melihat 'Penerapan' poligami oleh Nabi sendiri yang dilakukan ketika Siti Khadijah telah wafat. Selain itu, poligami yang beliau lakukan melalui berbagai pertimbangan kompleks. Sosial, budaya, politik, ekonomi, etc -sekedar menyebut faktor yang berkembang pada masa itu.
'Nyinyir' juga kl saya paparkan 'budaya' yg berkembang pd masa itu dan akan terlalu panjang untuk sebuah 'komentar' -ngeles, neh!
Anyway, Selama berpegang pada nilai-nilai 'proporsional' tentang ideologi/ibadah, sosial, ekonomi itu sah-sah saja dari pribadi masing-masing karena poligami sendiri lebih bersifat -sekali lagi, pengalaman subyektif masing-masing rumah tangga namun ketika syahwat yang mengendarai?.... Wallahua'lam. Rasa keadilan selalu memberi ruang pada relativitas seperti halnya dg 'rasa' hati yg terus berfluktuasi..
Sebelum saya tutup komentar ini, saya ingin mengutip tulisan Faqihuddin Abdul Kodir di Kompas Mei 2003 (Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah):
“Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: "Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga."”
..., dan bacaan lebih lanjut tentang poligami, dll: "RUMAH TANGGA NABI MUHAMMAD SAW [Baitun Nubuwwah]", PENULIS: H.M.H. AL HAMID AL HUSAINI
Mbak Dini –yang mulai jadi bloggaholic, benar (hehehe…) Opini hanya opini dan justifikasi menjadi sesuatu yang prematur disini.
..., dan Allah tentu yang maha mengetahui akan segala sesuatu...

Budi Wahyu Wibowo's Blog said...

Wah.. emang kebanyakan fenomenanya gak bagus. Walau ada juga yg bagus.

Kata my beloved-'ulama:
Pelaku poligami itu ada tiga kategori:
1. Org yg banyak ilmunya
2. Org yg banyak hartanya
3. Orang gila
(karena ilmu tak banyak, harta tak banyak, tapi mau berpoligami)

Hihihi.. bisa aja deh!

Mungkin aja kategori ke-3 yg banyak terjadi di kita ya.. tul gak?

Merupakan hal manusiawi kita menolak yg tidak menguntungkan kita.
Merupakan hal wajar jika kita marah atas perlakuan lelaki poligamers.

Ketika yang disahkan Islam berkebalikan dengan keinginan kita, bagaimana
sikap kita sebagai seorang muslim?

Islamnya yg salah atau kitanya yg ..................

"Islam itu tinggi dan tidak ada yg melebihi ketinggiannya." (al hadits)

Yakinilah, itu yg terbaik, BENARKANlah namun jika kita tidak sanggup, jujur saja
bahwa kita tidak sanggup. Ini manusiawi bukan.. Islam adalah dienul haq
yang paling sempurna (tentu paling manusiawi bukan?)

Tentunya suami yg baik akan selalu mempertimbangkan kesanggupan istrinya.
Tentunya suami yg baik akan meminta pertimbangan orang berilmu (ulama)
yang dipercayainya.
Tentunya suami yg baik akan bisa membuktikan dulu kalau ia akan sanggup
(berusaha) adil, terutama urusan finansial.

Istri Haddad Alwi pernah bilang: "Silakan saja bila suami saya berpoligami,
asalkan niatnya membantu, dan harus janda. Janda ini membuktikan niat
untuk membantu."
Haddad Alwi kemudian berkata: "Apa kamu tidak sakit? [hati]"
Ia menjawab: "Tentu saja sakit, tapi dunia sementara dan akhirat
itu kekal abadi."
Haddad Alwi tersenyum saja dan tetap beristri satu.

Ulama kita sebenernya kaya-raya lho Din, cuma kebanyakan di-wakaf-kan
setelah memenuhi kebutuhan keluarganya, tentunya. 'Ulama yg miskin
sangat sedikit. Kebanyakan ulama juga BANYAKnya istrinya satu.
Yg istrinya dua sedikit sekali, cuma byk terekspos azza..
Mereka berdalih: "Nabi Muhammad saw istrinya cuma satu saat bersama
Khadijah. Sepeninggal Khadijah, barulah ada perintah legal dari
Alloh untuk berpoligami."

Jadi, memusuhi ajaran poligami tentunya memusuhi 'The Messenger'-nya, Muhammad
saw. Tentu ini NOT GOOD FOR YOUR HEALTH!
Sikap kita yang tidak ingin dipoligami ya tinggal bilang saja ke ulama yang
dipercaya suami kita, bahwa: "Saya tidak sanggup dipoligami." Beres dah!

"Tapi kyai, saya mau dan SIAP di-'poligaya' kalo malem ama misua"
hihihi...

Tentunya suami yg baik akan selalu mempertimbangkan kesanggupan istrinya.
Tentunya suami yg baik akan meminta pertimbangan orang berilmu (ulama)
yang dipercayainya.
Tentunya suami yg baik akan bisa membuktikan dulu kalau ia akan sanggup
(berusaha) adil, terutama urusan finansial.
Tentunya ISTRI YG BAIK akan lebih menggunakan logika Ilahiah dibanding
logika kebanyakan masyarakat.

Akhir kata, coba lihat
Quran Surat 2: AlBaqoroh: ayat 286 (ayat trakhir)
(Q, 2/286) -> Isinya? GARANSI dari Alloh untuk manusia dalam hidupnya
-> "Bacalah.. bacalah.. bacalah.. ucap Malaikat Jibril kepada
Muhammad bin Abdullah (sblm jd Nabi)."
-> Bisa jadi ayat ini diturunkan Alloh pada Din karena usaha Din
membuat blog ini. Maka BACALAH! It's not take a lot of time lho..

Smg bmanfaat!
24 Agt 2008