DIVORCE CASE
8:05 PM Posted In ABOUT RESEARCH Edit This 1 Comment »Dari hasil observasi penulis tingkat awal tentang kasus perceraian yang terjadi dimasyarakat, umumnya disebabkan oleh faktor - faktor berikut : 1. Alasan ekonomi, 2. Tingkat kesetiaan (WIL / PIL), 3. Ketidakcocokan, 4. KDRT, 5. Kelabilan (Pernikahan dini), 6. Faktor keluarga.
”Perceraian”.....Satu kata yang bukan lagi merupakan hal yang aneh dikehidupan kita, meskipun masih selalu terlihat ”tabu” untuk kultural masyarakat kita. Rasanya semua orang juga akan mengamini bahwa meskipun ”perceraian” dihalalkan tapi merupakan hal yang dibenci Allah dan tidak direstui sebagai jalan terbaik oleh agama manapun, sudut pandang manapun. Zaman memang semakin gila. Tapi perceraian tetap saja menjadi ”momok” yang menyeramkan dan kita selalu terdorong untuk ”antipati” terhadapnya.
Alasan ekonomi merupakan hal yang paling sering dijadikan latar belakang tercetusnya perceraian. Terdengar sangat manusiawi dan cukup masuk akal, meskipun tak akan pernah ada alasan yang dapat dibenarkan untuk suatu ”perceraian”. Kasus perceraian untuk alasan ini sangat beragam. Umumnya pihak wanita atau pihak istri yang mengajukan tuntutan perceraian. Tapi tidak tertutup kemungkinan sebaliknya. Nampaknya keras dunia, logika dan realita semakin menunjukkan ”gigi”nya tatkala kehidupan rumah tangga harus dikorbankan karena alasan ekonomi.
Tingkat kesetiaan yang rendah dari pasangan suami istri merupakan alibi yang paling tidak dapat ditoleransi, tidak dapat diterima dan tidak dapat dimaafkan. Dalam kasus ini umumnya pihak lelaki menjadi ”biang keladi” dalam merusak kesucian mahligai rumah tangga. Memang tidak dapat digeneralisasi bahwa lelaki selalu ”identik” dengan sifat buruknya yang ”sulit setia”, karena virus itu bisa milik siapa saja dengan gender apa saja. Namun jika dikalkulasi dan dibuat ”summary”, rasanya kita semua dapat melihat faktanya langsung dimasyarakat. Wanita lebih sering menjadi korban tingkah suami yang bermain ”api”, bermain lidah, bermain hati dan semua penyulut konflik rumah tangga yang berbau pengkhianatan. Banyak faktor yang menyebabkan ”kesetiaan” menjadi pudar dari suatu pasangan, dari mulai faktor ”bakat selingkuh”, ketidakpuasaan akan pasangan dari berbagai aspek, faktor lingkungan, kesenangan dan hawa nafsu sampai faktor ”kebosanan” pada pasangan. Ketika kesetiaan tidak lagi dipuja, dipelihara, diagungkan dan dijaga kelestariannnya dalam berumahtangga niscaya bahteranya akan sulit dipertahankan.
Alasan ketidakcocokan sering dijadikan dalih yang paling ”mudah” untuk mengungkapkan adanya ketidaknyamanan dalam pernikahan. Sedikit mengada-ada dan lumayan bodoh ketika alasan ketidakcocokan dialami oleh pasangan yang sudah menjalin masa perkenalan dan pendekatan (pacaran) dalam waktu yang cukup lama. Manusia memang sangat bisa dimungkinkan memiliki sifat tersembunyi atau karakter yang tak mudah tersurat dan tersirat karena sifat manusia yang amat kompleks. ”Ketidakcocokan” merupakan alibi yang paling ”klise” ketika pasangan suami istri memutuskan berpisah. Karena pada dasarnya tidak akan pernah ada dua karakter manusia yang benar-benar cocok atau ”compatible”. Semuanya bergantung dari bagaimana setiap pasangan menyikapi setiap perbedaan menjadi sesuatu yang indah dan dijadikan alat untuk saling ”melengkapi”. Sikap saling menghargai, saling mengerti dan saling memaklumi merupakan kunci utama untuk menghindarkan alasan ini muncul ditengah pernikahan.
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) menjadi salah satu penyebab perceraian. Kekerasan yang terjadi dapat berupa fisik maupun kekerasan non fisik. Kekerasan verbal maupun non verbal. Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari kekerasan yang “nyata” seperti kekerasan yang melukai fisik sampai kekerasan yang “tak nyata” yang melukai batin. Perselingkuhan dapat menjadi salah satu contoh kekerasan psikis. Yang sangat konyol adalah ketika banyak kasus kekerasan fisik dilakukan suami pada istrinya. Suatu ironi yang mengerikan dan menyedihkan karena pria “obvious” ditakdirkan memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih kuat dari wanita. Suatu perbuatan yang memalukan kodrat karena hakikatnya lelaki adalah pelindung dan pengayom perempuan.
Kelabilan (Pernikahan dini) ”ikut-ikutan” menjadi salah satu penyebab diantara sekian banyaknya alasan ditempuhnya perceraian. “Kegagapan” finansial dan ketidaksiapan mental merupakan faktor utama yang berperan.
”Perceraian”.....Satu kata yang bukan lagi merupakan hal yang aneh dikehidupan kita, meskipun masih selalu terlihat ”tabu” untuk kultural masyarakat kita. Rasanya semua orang juga akan mengamini bahwa meskipun ”perceraian” dihalalkan tapi merupakan hal yang dibenci Allah dan tidak direstui sebagai jalan terbaik oleh agama manapun, sudut pandang manapun. Zaman memang semakin gila. Tapi perceraian tetap saja menjadi ”momok” yang menyeramkan dan kita selalu terdorong untuk ”antipati” terhadapnya.
Alasan ekonomi merupakan hal yang paling sering dijadikan latar belakang tercetusnya perceraian. Terdengar sangat manusiawi dan cukup masuk akal, meskipun tak akan pernah ada alasan yang dapat dibenarkan untuk suatu ”perceraian”. Kasus perceraian untuk alasan ini sangat beragam. Umumnya pihak wanita atau pihak istri yang mengajukan tuntutan perceraian. Tapi tidak tertutup kemungkinan sebaliknya. Nampaknya keras dunia, logika dan realita semakin menunjukkan ”gigi”nya tatkala kehidupan rumah tangga harus dikorbankan karena alasan ekonomi.
Tingkat kesetiaan yang rendah dari pasangan suami istri merupakan alibi yang paling tidak dapat ditoleransi, tidak dapat diterima dan tidak dapat dimaafkan. Dalam kasus ini umumnya pihak lelaki menjadi ”biang keladi” dalam merusak kesucian mahligai rumah tangga. Memang tidak dapat digeneralisasi bahwa lelaki selalu ”identik” dengan sifat buruknya yang ”sulit setia”, karena virus itu bisa milik siapa saja dengan gender apa saja. Namun jika dikalkulasi dan dibuat ”summary”, rasanya kita semua dapat melihat faktanya langsung dimasyarakat. Wanita lebih sering menjadi korban tingkah suami yang bermain ”api”, bermain lidah, bermain hati dan semua penyulut konflik rumah tangga yang berbau pengkhianatan. Banyak faktor yang menyebabkan ”kesetiaan” menjadi pudar dari suatu pasangan, dari mulai faktor ”bakat selingkuh”, ketidakpuasaan akan pasangan dari berbagai aspek, faktor lingkungan, kesenangan dan hawa nafsu sampai faktor ”kebosanan” pada pasangan. Ketika kesetiaan tidak lagi dipuja, dipelihara, diagungkan dan dijaga kelestariannnya dalam berumahtangga niscaya bahteranya akan sulit dipertahankan.
Alasan ketidakcocokan sering dijadikan dalih yang paling ”mudah” untuk mengungkapkan adanya ketidaknyamanan dalam pernikahan. Sedikit mengada-ada dan lumayan bodoh ketika alasan ketidakcocokan dialami oleh pasangan yang sudah menjalin masa perkenalan dan pendekatan (pacaran) dalam waktu yang cukup lama. Manusia memang sangat bisa dimungkinkan memiliki sifat tersembunyi atau karakter yang tak mudah tersurat dan tersirat karena sifat manusia yang amat kompleks. ”Ketidakcocokan” merupakan alibi yang paling ”klise” ketika pasangan suami istri memutuskan berpisah. Karena pada dasarnya tidak akan pernah ada dua karakter manusia yang benar-benar cocok atau ”compatible”. Semuanya bergantung dari bagaimana setiap pasangan menyikapi setiap perbedaan menjadi sesuatu yang indah dan dijadikan alat untuk saling ”melengkapi”. Sikap saling menghargai, saling mengerti dan saling memaklumi merupakan kunci utama untuk menghindarkan alasan ini muncul ditengah pernikahan.
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) menjadi salah satu penyebab perceraian. Kekerasan yang terjadi dapat berupa fisik maupun kekerasan non fisik. Kekerasan verbal maupun non verbal. Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari kekerasan yang “nyata” seperti kekerasan yang melukai fisik sampai kekerasan yang “tak nyata” yang melukai batin. Perselingkuhan dapat menjadi salah satu contoh kekerasan psikis. Yang sangat konyol adalah ketika banyak kasus kekerasan fisik dilakukan suami pada istrinya. Suatu ironi yang mengerikan dan menyedihkan karena pria “obvious” ditakdirkan memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih kuat dari wanita. Suatu perbuatan yang memalukan kodrat karena hakikatnya lelaki adalah pelindung dan pengayom perempuan.
Kelabilan (Pernikahan dini) ”ikut-ikutan” menjadi salah satu penyebab diantara sekian banyaknya alasan ditempuhnya perceraian. “Kegagapan” finansial dan ketidaksiapan mental merupakan faktor utama yang berperan.
1 comment:
Terlepas dari beberapa faktor tersebut, ketika jalan menuju-Nya dirasakan tak bisa tertempuh dengan rumah tangga yang ada, kesendirian kadang lebih mengasyikkan, loh!...
Wallahua'lam!...
..., dibenci namun sekaligus merupakan solusi...
Tuhan, apa yang Kau "sembunyikan"?...
Post a Comment