ABOUT MY FATHER

8:14 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Kami memanggilnya ”bapak”, padahal aku merasa panggilan ”ayah” lebih keren. Tapi sekarang aku lebih suka memanggilnya ”babeh”.
Dengan tampang yang sedikit garang, tak jarang temanku yang mengira kalau bapakku adalah tentara. Wajar saja, kumis yang agak lebat memang nyaris tak pernah absen dari wajahnya. ”Seram” itu kata yang pernah terlontar menurut pengakuan beberapa temanku sewaktu sekolah. Bisa jadi itu merupakan senjata dan strategi bapakku untuk menghalau para cowok mendekati dua putrinya semasa sekolah, tapi toh buktinya kedua putrinya memang tidak pernah ”pacaran” sewaktu masih kumpul dengan orangtua.
Karakter keras diwajahnya sedikit banyak merepresentasikan karakter sifatnya. Tapi semakin usianya bertambah, ”keras”nya semakin berkurang. Dulu semasa kedua anak perempuannya masih kecil (sampai SMU kita masih dianggap kecil), tentu saja seorang ”bapak” selalu memiliki hak apapun untuk mengatur anaknya. Tapi tidak pernah lagi kurasakan itu setelah aku sudah bisa mandiri dikedua kakiku sendiri.
Beliau seorang Pegawai Negeri Sipil. Abdi pemerintah yang lurus, jujur, sederhana, cenderung polos, dan rajin. Saking rajinnya, setahuku tak pernah kulihat bapakku ”absen” masuk kantor kecuali benar-benar sakit. Dan itu dia terapkan pada anak-anaknya. Tapi sayangnya tidak menetes sempurna padaku.
Beliau selalu membanggakan kecerdasan anaknya sebagai titisan dan warisannya (kecuali si bungsu he...he....). Maklumlah meskipun otak kami tak terlalu spesial tapi semasa kami kecil sudah cukup membuat bapakku ”terkenal” karena tak terhitung ”dipanggil” sekolah lantaran prestasi anaknya.
Tidak aneh kalau bapakku terkadang ingin sekali melihat anak bungsunya mengikuti kedua kakaknya dalam bidang akademis. Memang kuakui, sampai sekarang belum berhasil. ”But who knows”.
Bapakku sedikit ”jago” tidur. Dirumah lebih sering ber”action” laksana tarzan, karena tidak kuat panas. Tapi anehnya kadang-kadang juga tidak kuat dingin.
Sifat ”jago” tidurnya lumayan berkorelasi dengan pola hidupnya yang ”nihil” olahraga. Satu-satunya olahraganya adalah catur. Olahraga yang bagiku tidak mendorong kesehatan fisik. Padahal aku ingin setidaknya bapakku itu mengikuti olahraga ringan ”senam” seperti ibuku, atau olahraga apa saja, yang penting baik buat kesehatan. Ingin sekali saja melihat bapakku berolahraga, meskipun itu hanya berjalan kaki keliling kompleks dipagi hari. Tapi impianku itu tak pernah terwujud.
Sebenarnya pola hidupnya sangat sehat (kecuali antiolahraga) seperti tidak merokok, menghindari makanan yang mengandung kolesterol dan hobi minum air putih. Beliau lebih memilih menyingkirkan semua yang serba nikmat yang serba tak sehat.
Beliau sangat ”kreatif”. Benda tak terpakai bisa disulap menjadi sesuatu yang terpakai. Barang rumah yang rusak, mayoritas bisa diperbaikinya. Kemampuannya merakit sesuatu menjadi berguna merupakan kelebihan yang menguntungkan buat ibuku. Semua jenis perkakas dimilikinya, seperti layaknya tukang bangunan atau kolektor. Sayangnya tingkat kreativitasnya yang tinggi sama sekali tidak menurun pada anak lelaki satu-satunya.
Pendidikannya yang sarjana mendorong kami ketiga anaknya untuk memiliki gelar akademis yang baik. Berhubung indikator kesuksesan anaknya dilihat setelah menyelesaikan tugasnya untuk beres kuliah lalu mendapatkan pekerjaan maka hanya adikku yang belum dapat dinilai sukses atau tidak. Makanya yang menjadi sasaran empuk untuk melancarkan aksi ”memberi petuah” hanya tinggal keadikku. Cuma adikku yang masih bisa menjadi ”bulan-bulanan” nasihatnya. Karena entah mengapa, seiring dengan bertambahnya usiaku, bapak lebih menghargai dan menghormatiku sebagai sosok pribadi wanita mandiri. Meskipun sifat melindunginya tidak pernah hilang. Bahkan untuk hal-hal tertentu yang dimataku beliau masih berhak ”complain” padaku, toh tidak beliau lakukan.
Dilihat dari kesetiaan dan pengabdian pada keluarga, bapakku sangat ”jempolan”. Sepintas memang pantas menjadi anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), tapi aku menemukan ada faktor lain yang melatari awetnya pernikahan keduaorangtuaku. Bukan ”takut” tapi menjunjung wanita. ”TAK PERNAH BOSAN” pada istri, itu merupakan faktor utama. ”Menghormati” pasangan juga merupakan hal penting lainnya. Pertengkaran dan keributan itu adalah hal yang wajar dalam setiap rumah tangga, tapi bagaimana bapakku menyikapinya, itu yang luar biasa. Kalau ibuku lagi marah dan ”cuap-cuap”, bapakku lebih memilih diam. Soalnya berdasarkan penglihatanku, kalau sekali saja bapakku ”ngomong” atau ”jawab” saat ibuku sedang panas, maka emosi ibuku malah semakin meledak. Nah, resep diam dan menerima ocehan istri adalah resep mujarab untuk meredakan setiap amarah dan percekcokan yang mewarnai perjalanan rumah tangga mereka.
Orang pernah bilang padaku bahwa kebanyakan pria mengalami masa puber kedua, tapi nyatanya tak pernah kutemukan masa itu pada bapakku. Dimatanya hanya ada satu wanita dalam hidupnya, yaitu ibuku. Indah kan.........Meskipun sejak dahulu mereka sama sekali tak terlihat sebagai pasangan suami istri yang romantis, tapi toh mereka berdua abadi dalam membangun dan menjaga ikatan pernikahan mereka sampai akhirnya sekarang sudah menjadi kakek dan nenek dari seorang cucu.

1 comment:

Budi Wahyu Wibowo's Blog said...

Brarti beliau sudah menguasai ilmu "Kecerdasan Mendengar",
Listening Intelligent.

Aku tadinya meragukan isi VCD Listening Intelligent ini,
terutama pembicara kedua.. Tapi ternyata, aku jadi malu sendiri
setelah kupaksakan diri menonton VCD itu. Ternyata aku
masih memiliki kesombongan. Untung bisa kukalahkan kesombongan
itu karena yg merekomendasikan VCD berdurasi 2 jam itu adl kawan
baikku yg aku ketahui kredibilitasnya cukup baik.

Aku copy dan aku file-kan dalam harddisk-ku.

Merupakan hal membahagiakan bila berkesempatan membagikannya...

Tentunya ilmu hanya datang pada org yg memintanya..
Tentunya ilmu hanya datang pada org yg memintanya..
Tentunya ilmu hanya datang pada org yg memintanya..

Aku memberikannya gratis.


Smg bmanfaat!
30 Agt 2008