KERAGUAN DIBALIK KEBUTAAN

3:50 PM Posted In Edit This 1 Comment »
Kau adalah pribadi terindah yang pernah kukenal....
Tapi kau juga pribadi terbodoh yang kutemui....
Kau adalah lelaki yang paling tinggi menjunjungku
Tapi kau juga lelaki terlemah yang akhirnya menjatuhkanku

Kau adalah pribadi terbaik yang pernah kutahu
Tapi kau juga pribadi tertolol yang pernah singgah
Kau adalah lelaki terbersih yang setia meluruskanku
Tapi kau juga lelaki terjahat yang mengecewakanku

Aku, kau sebutkan sebagai wanita pertamamu....
Aku, kau akui telah mengambil hatimu sejak pertama kita bertemu....
Kau, sekalipun bukan pria pertamaku tapi kuharapkan menjadi lelaki terakhirku....
Kau, meskipun belum mencuri cintaku, tapi telah mencuri sayangku....

Ketika kau ”memintaku”, kau terlihat begitu yakin. Dan akupun memiliki keyakinan yang sama denganmu....
Ketika langkah yang kau ambil telah menuju ”dermaga” perjalanan, kita dipaksa untuk ”bersiap” menghadapi keadaan. Keadaan untuk berpikir kedepan.
Arah kebersamaan kita mengharuskan untuk melibatkan keluarga lebih dan lebih dalam. Keadaanku yang jauh darimu, tidak mendukung ”kelancaran” yang kita harapkan. Kau memang sangat mampu ”bercampur” hangat dengan keluargaku. Tak butuh waktu untuk aku sanggup menangkap kasihsayangmu pada keluargaku. Kasih sayang yang sama dengan yang kau berikan padaku. Itu karena kau dapat mendekatkan diri pada keluargaku dengan ”intensitas” yang fleksibel karena berada dikota yang sama. Sementara aku?.....Kita belum mampu ”mencampur”kan aku pada keluargamu lebih dalam. Hal yang seharusnya tidak KITA abaikan.

”Pengetahuan” keluargamu tentangku yang terbatas memaksa mereka untuk ”mengoreknya” darimu. ”Kebutaan” mereka tentangku menyeret mereka untuk tak mau mengalami kegagalan yang sama seperti ”kejadian” kakakmu. Dan disitulah awal KEBODOHANmu.......
Keputusanmu untuk memilikiku selamanya, tidak kau ”sinkron”kan dengan keluargamu. Bibir mereka memang meng”iya”kan kita, tapi seharusnya kau bisa melihat ”tanda-tanda” yang tak sehat, sehingga kau tidak ”ceroboh” bertindak. ”Ceroboh” karena menyiapkan semua ”persiapan” kita tanpa campur tangan keluargamu. Entah ketololan apa yang kau lakukan............

Keluargamu mungkin masih BUTA tentangku, meskipun telah mengetahui keberadaanku dihidupmu dari dulu. Tapi KAU? Kau tidak buta tentangku, lalu mengapa kau tak cukup kuat untuk mampu menyembuhkan KEBUTAAN mereka?

Sebenarnya aku memahami keluargamu atas sikap mereka. Pengalaman pahit kakakmu telah mendorong mereka untuk bisa mengambil pelajaran. Aku tahu mereka hanya ingin diberikan ”ruang” dan ”waktu” untuk sepenuhnya mengenalku. Kalaupun aku memutuskan perpisahan abadi itu karena kekecewaanku padamu.....
Kau, aku anggap sebagai orang sangat jujur....Lalu mengapa ketika melamarku kau meyakinkan aku bahwa keluargamu telah memberikan ”lampu hijau”? Keteledoran yang berbuah fatal.
Jika orang sejujur kau saja bisa melukaiku lalu pada lelaki mana aku bisa MEMPERCAYAKAN HIDUPKU?